Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 Ini Benar-benar dekat
Alea melanjutkan membuat sarapan dan sudah hampir 30 menit Dharma tidak kembali, sementara Alea sudah menyajikan menu sarapan cukup spesial di atas meja makan. Raidan masih tetap berada di rumah tersebut dengan fokus pada pekerjaannya.
Pranggg ......
Raidan kaget mendengar suara benda jatuh cukup keras membuatnya menoleh kearah dapur, benar terjadi sesuatu di sana bagaimana gelas pecah karena tidak sengaja disenggol Alea.
"Astaga..." lirih Alea.
"Auhhhh!" saat kakinya ingin melangkah mengambil sesuatu dan tidak sengaja telapak kakinya menginjak pecahan kaca itu.
"Alea kamu baik-baik saja?" Raidan buru-buru ke dapur untuk memastikan keadaan Alea.
"Are you oke?" tanya Raidan terlihat begitu khawatir.
"Hmmmm, aku terlalu ceroboh dengan tidak sengaja menyenggol gelas dan akhirnya pecah pelan, lalu kecerobohan kau tidak berhenti sampai di situ sampai membuat telapak kakiku ikut terluka," ucap Alea.
Mendengar perkataan yang terdengar begitu lirih membuat Raidan tiba-tiba saja berjongkok. Alea cukup kaget dengan apa yang dilakukan pria tersebut, ternyata sedang memeriksa telapak kakinya yang mengeluarkan darah dan bahkan Raidan juga mencampur dengan pelan bekas pecahan kaca yang menempel itu.
"Issss....."lirih Alea kesakitan dan refleks memegang begitu sangat kuat bahwa Raidan.
"Maaf ....," ucap Raidan.
"Tidak apa-apa," jawab Alea.
Raidan kembali berdiri dan membawa Alea untuk duduk di sofa.
"Tunggu sebentar di sini," ucap Raidan begitu lembut berbicara membuat Alea menganggukkan kepala.
Raidan mengambil alih untuk membersihkan kaca-kaca yang berserakan di lantai, menyapu dan kemudian membuang sampahnya ke dalam tong sampah.
Sejak tadi Alea memperhatikan pergerakan Raidan sampai Raidan kembali menghampiri Alea dan tidak lupa membawa kotak obat.
Raidan tampak berjongkok dan meletakkan telapak kaki itu di atas pahanya. Raidan tidak perlu banyak berbicara dan langsung mengobati luka tersebut dengan sangat lembu.
Alea hanya memperhatikan bagaimana pergerakan dari Raidan, sejak tadi tampak hati-hati dalam menyentuh telapak kakinya itu. Raidan mengangkat kepala sehingga membuat mata mereka saling bertemu.
"Makasih," ucap Alea.
Raidan menganggukkan kepala, melanjutkan pengobatan itu dengan mengalihkan pandangannya kembali fokus pada telapak kaki itu dan sementara Alea masih terus melihat Raidan.
Wajah tampan itu semakin penuh kharismatik Alea memejamkan mata tiba-tiba saja terbayang bagaimana pria tampan itu berada di atas tubuhnya penuh dengan keringat memberikan kenikmatan kepadanya sampai-sampai membuat Alea tersadar dengan menggoyang-goyangkan kepalanya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Raidan ternyata menyadari tingkah Alea.
"Oh iya, aku baik-baik saja," Alea menjawab dengan cepat.
Raidan tidak menanggapi lagi dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang hanya tinggal memberi perban pada telapak kaki itu.
"Kenapa tiba-tiba jantung ku berdebar begitu kencang, aku juga seketika menjadi gugup dan salah tingkah, ada apa ini sebenarnya? Apa aku tidak berlebihan bereaksi seperti ini," batin Alea dengan penuh kebingungan dan tidak mengerti apa yang terjadi padanya.
"Sudah selesai, jika langsung diberi obat seperti ini maka lukanya akan secepatnya semua," ucap Raidan.
"Oh benarkah, makasih kamu langsung bertindak," ucap Alea terlihat semakin gugup dan bahkan matanya tidak berani melihat Raidan.
Seketika terjadi kecanggungan diantara keduanya, Raidan juga sudah tidak tahu harus melakukan apa-apa yang membuatnya langsung duduk, Raidan juga mendadak begitu gugup.
"Hmmm, mas Dharma lama sekali keluarnya," ucap Alea dengan wajahnya memerah.
"Mungkin pembicaraannya cukup panjang," jawab Raidan.
"Ya mungkin saja," sahut Alea.
"Hmmmm, bagaimana kalau kita sarapan terlebih dahulu, jika sarapannya dingin bahkan sudah tidak enak lagi," ucap Alea.
"Tidak apa-apa jika kita makan terlebih dahulu tanpa menunggu Dharma?" tanya Raidan.
"Tidak apa-apa menurutku," jawab Alea dengan tersenyum, tidak masalah sama sekali.
"Baiklah, aku juga sudah sudah lapar," ucap Raidan ternyata setuju begitu saja.
Alea menganggukkan kepala dan keduanya langsung menuju meja makan.
"Cobalah ini?" Alea ternyata melayani Raidan dengan sangat baik menyiapkan makanan tersebut dengan meletakkan di atas piringnya.
Keduanya mulai menikmati sarapan mereka sembari mengobrol, keduanya terlihat benar-benar sangat santai dan bahkan sudah tidak canggung lagi, sementara Dharma tidak kembali juga dan entahlah berapa lama dia pergi bersama dengan klien tersebut.
Sudah pukul 11 siang, Alea berada di dapur terlihat membersihkan dapur dan sementara Raidan sudah tidak berada di rumahnya.
Ting.
Suara pintu apartemen terbuka membuat Alea melihat kearah pintu dan ternyata Dharma akhirnya kembali juga, tetapi Alea kembali mengalihkan pandangannya dengan melanjutkan pekerjaan.
"Sayang!" sapa Dharma.
Alea tidak merespon panggilan tersebut membuat Dharma menghampiri Alea dan memeluknya dari belakang dengan menempelkan kepalanya pada leher Alea.
Alea tampak risih dan bahkan menghindari, tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli pada Dharma.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Dharma dengan suaranya lembut.
Alea melepaskan tangan Dharma dari pinggangnya bergerak untuk menyusun piring.
"Sayang kamu mengacuhkan suami kamu yang baru saja pulang dan padahal sejak tadi aku berbicara dengan kamu," ucap Dharma membuat Alea menghentikan langkah dengan berhadapan dengan Dharma, melihat Dharma dengan serius.
"Mengacuhkan, apa kata-kata itu tidak cocok untuk aku yang harus mengatakan kepada kamu, bagaimana mungkin kamu tiba-tiba muncul dan mengatakan hal seperti itu dan sebelumnya kamu menyuruhku membuat sarapan, membiarkan sarapan itu dingin dan makan sendirian," ucap Alea mengungkapkan rasa marahnya kepada sang suami.
"Sayang tadi ....."
"Apalagi hah! pergi sebentar dan nyatanya baru kembali saat ini," Alea memotong kalimat tersebut.
Dharma menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan kemudian mendekatkan dirinya pada Alea.
"Maafkan aku, pertemuan dengan klien benar-benar tidak terduga dan banyak hal yang harus dibicarakan. Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu menunggu," ucap Dharma membujuk istrinya itu agar tidak marah lagi.
"Mengangkat telepon orang lain kamu sangat cepat dan mengangkat telepon istri kamu begitu lama, kamu punya ponsel dan bisa mengabariku bahwa kamu sepertinya tidak akan pulang dalam waktu dekat. Agar aku tidak menunggu dan semuanya sia-sia," ucap Alea.
"Oke-oke aku benar-benar minta maaf dan aku janji kejadian ini tidak akan terulang lagi, sayang kamu mengatakan diri bagaimana jika aku sudah dihadapkan dengan pekerjaan, fokusku benar-benar hanya pekerjaan saja!" ucap Dharma terus berusaha untuk meyakinkan istrinya.
"Aku tahu itu, tetapi saat ini kamu sudah menikah dan kamu mengatakan bahwa aku yang paling penting dan nyatanya!" tegas Alea.
Dharma mencoba untuk tenang dengan menarik nafas tanpa mempertahan ke depan, memegang kedua tangan Alea dengan kepalanya sedikit menunduk agar wajah mereka sejajar.
"Maaf ya...." Dharma hanya bisa meminta maaf dengan penuh kelembutan menatap mata penuh dengan amarah itu.
"Janji tidak akan mengulangi hal itu lagi dan tidak akan membuat kamu marah-marah," lanjut Dharma dengan bujuk rayunya.
Bersambung.....