Kanaya harus rela kehilangan impiannya untuk melanjutkan studinya keluar negeri karena harus menggantikan kakak sepupunya menikah dengan seorang pria bernama Bryan Anugerah yang merupakan CEO dari perusahaan Anugerah Group.
Bryan yang masih mencintai mantan calon istrinya itu sudah menyatakan bahwa tidak akan pernah mencintai Kanaya.
Namun seiring berjalannya waktu perasaan Bryan mulai berubah kepada Kanaya.
Mampukah Bryan mencuri hati Kanaya?
Dan berhasil kah Kanaya mempertahankan tembok dihatinya untuk tidak jatuh hati kepada Bryan?
Yuk Langsung saja baca kisah Bryan dan Kanaya di Love Me Honey
Happy reading ..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri_tidur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
...24...
Setelah melakukan perjalanan udara selama beberapa jam, akhirnya Bryan tiba di Negara Paman Sam, Amerika Serikat. Bryan yang merasa lelah telah melakukan perjalanan selama berjam-jam dari Indonesia ke Amerika memutuskan untuk langsung menuju hotel bintang lima yang memang sudah disiapkan untuk Bryan.
Sesampainya dihotel Bryan langsung masuk ke kamar untuk membersihkan dirinya dan setelah itu Bryan membaringkan tubuhnya diatas kasur. Saat Bryan tengah berbaring dia mengambil ponselnya yang ada diatas nakas disamping kasur, lalu dibukanya layar ponsel itu dan tampak lah walpaper dengan foto Kanaya bersama dengan dirinya,melihat itu sebuah senyuman terlukis di wajah tampan Bryan.
Lalu tiba-tiba Bryan kepikiran untuk melakukan panggilan video dengan Kanaya, walaupun Bryan sebenarnya tau kalau di Indonesia saat ini sudah malam hari “siapa tau Kanaya belum tidur, ga ada salahnya kan aku coba hubungi dia dulu” batin Bryan, kemudian membuka kontak diponselnya lalu mencari nama “istriku”
Panggilan terhubung selama beberapa detik, namun belum ada jawaban juga dari Kanaya, hingga akhirnya saat Bryan ingin untuk mengakhiri panggilan itu karena berfikir Kanaya sudah tertidur tiba-tiba saja terdengar suara Kanaya
“hallo” ucap Kanaya
dengan suara yang serak dari seberang sana, namun tampilan video tersebut hanya terlihat gelap karena Kanaya yang awalnya memang sudah tertidur hanya mengira itu panggilan biasa dan langsung meletakkan ponselnya dibagian telinga dan menjawab panggilan itu dengan posisi yang setengah sadar.
“nay ponselnya jangan diletakin ditelinga, aku jadi gak bisa liat kamu” ucap Bryan
“ih kakak ngapain si nelpon tengah malam gini, ganggu tidur aja” rengek Kanaya yang masih memejamkan matanya karena merasa masih terlalu mengantuk
“aku cuma mau ngabarin kamu, kalau aku baru aja sampai di Amerika”
“iya kak iya, besok aku bakalan sampein ke papa mama, udah itu ajakan, aku matiin ya telponnya soalnya aku ngantuk banget nih”
“jangan dimatiin ponselnya letakin aja di hadapan kamu nanti aku yang matiin dari sini, aku mau mastiin kamu itu benar-benar tidur dan gak lagi nonton drama korea” ucap Bryan
“is iyaiya bawel amat si” ucap Kanaya lalu dengan gerakan malas Kanaya menarik sebuah bantal kehadapannya kemudian meletakkan ponselnya dengan posisi tegak setelah itu Kanaya langsung kembali memejamkan matanya untuk memasuki dunia mimpi yang tadinya sempat tertunda.
Sedangkan Bryan hanya menatap layar ponsel yang menampilkan Kanaya yang sedang tertidur dengan pulasnya. Selama hampir sejam Bryan memandangi Kanaya melalui ponselnya hingga tiba-tiba asisten Jo mengetuk pintu dan mengatakan agar Bryan segera bersiap pergi ke anak cabang perusahaan Anugerah Group untuk melihat persiapan akhir dari acara launching tersebut.
“selamat malam sayang, tidur yang nyenyak” ucap Bryan
lalu memberikan kecupan dilayar ponselnya dan mengakhiri panggilan tersebut. Kanaya yang sedang tertidur samar-samar mendengar Bryan mengatakan sayang kepadanya namun dia tidak mengambil pusing dan hanya menganggap kalau dirinya sedang bermimpi, karena tidak mungkin Bryan memanggil dirinya dengan sebutan sayang, apalagi yang Kanaya tau kalau Bryan itu masih mencintai kak Rima.
“Hoamm” Kanaya bangun dari tidurnya sambil merentangkan kedua tangan untuk meregangkan otot-ototnya. Tiba – tiba Kanaya teringat kalau semalam Bryan meneleponnya, lalu Kanaya pun mengambil ponsel yang ada diatas nakas untuk mengecek daftar panggilan namun tidak dia temukan nama Bryan “suamiku” ucap Kanaya yang melihat nama kontak itu yang menjadi nama teratas dalam daftar panggilan di ponselnya.
Seingat Kanaya dia tidak pernah memberikan nama kontak seperti itu di ponselnya kemudian ingatan Kanaya kembali mengulang kejadian saat dalam perjalanan ke bandara kemarin Bryan meminta ponsel Kanaya untuk mengubah walpaper ponselnya namun tak hanya itu ternyata Bryan juga mengganti nama kontaknya di ponsel Kanaya.
“dasar CEO alay” ucap Kanaya sambil tersenyum lalu kembali mengganti nama kontak Bryan menjadi Om CEO tapi Kanaya masih tetap membiarkan foto mereka berdua terpasang menjadi wallpaper diponselnya.
Kanaya mencoba untuk mengingat kembali pembicaraan mereka semalam, namun yang dia ingat hanyalah Bryan mengatakan kalau dia sudah sampai dan selebihnya dia tidak mengingat lagi apa yang dikatakan oleh Bryan karena semalam dia benar-benar sangat mengantuk.
“tau ah gelap” ucap Kanaya yang tidak bisa mengingat pembicaraan mereka semalam lalu bangkit dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.
“pagi ma, pa,kak” ucap Kanaya saat sampai diruang makan,
“pagi sayang”
“pagi dek” jawab papa dan Tomy.
“gimana suami kamu, dia sudah sampai di Amerika?” tanya papa kepada Kanaya
“udah pa, tadi malam kak Bryan udah ngabarin aku pa” jawab Kanaya
“syukurlah kalau begitu” ucap papa
“kapan suami kamu pulang nak?” tanya mama
“Kanaya gak tau ma, orang kak Bryan gak ada bilang dia berapa lama disana”
“loh kamu gak tanya?”
“enggak ma” jawab Kanaya dengan polosnya.
“sekali lagi kalau suami pergi kerja keluar kota atau keluar negeri itu ditanya berapa lama perginya, begitu baru namanya istri yang perhatian”
“iya ma iya”
“mau dikasih perhatian sebanyak apapun ma, kak Bryan bakalan tetap mencintai kak Rima dan bukan aku” ucap Kanaya dalam hati
“awas lo dek sekarang lagi zamannya pelakor, entar kalau kamu gak kasi perhatian sama kak Bryan, dianya malah selingkuh sama pelakor terus kamunya ditinggalin” ucap Kevin menakuti adiknya.
“iya kalau dia selingkuh, tinggal cerai aja” jawab Kanaya
“husst gak boleh ngomong begitu” ucap papa yang tidak suka mendengar omongan yang keluar dari mulut putrinya.
“maafin Kanaya pa, tapi saat kak Rima nantinya kembali Kanaya memang harus bercerai dengan kak Bryan” ucap Kanaya dalam hati.
“dek, Bryan nanti udah pulangkan saat pesta pernikahan kakak?” tanya Tomy,
“emm nanti aku pastiin dulu ya kak sama kak Bryan” jawab Kanaya
“oke dek, oh ya pa ma, tadi Tari telfon aku katanya pakaian seragam buat pesta pernikahan aku udah selesai dan udah bisa dicoba biar mastiin pakaiannya udah pas atau belum, papa dan mama kapan bisa buat nyobain pakaiannya?” tanya Tomy
“emm kita tunggu Bryan saja pulang, supaya kita bisa sama-sama buat nyobain pakaiannya” ucap papa
“baiklah pa kalau gitu nanti aku kabarin Tari lagi, dek jangan lupa nanti kalau kamu udah pastiin Bryan kapan pulang kabarin kakak ya, biar kita bisa atur jadwal ulang sama desainernya” ucap Tomy
“iyaiya kak” jawab Kanaya.
Setelah selesai sarapan Kanaya kembali ke kamarnya untuk mangambil tas dan juga laptopnya. Saat Kanaya tengah memasukkan laptopnya ke dalam tas tiba-tiba saja ada sebuah notifikasi yang masuk, lalu Kanaya membuka ponselnya terlihat sebuah pesan yang berisi “selamat pagi” dari nomor yang tidak dikenal dan Kanaya hanya mengabaikan pesan itu, kemudian Kanaya teringat sesuatu yang tadi dibicarakan saat mereka sarapan. Lalu Kanaya pun mengetikkan sebuah pesan kepada Bryan “kakak kapan pulang?”.
...----------------...