NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Pendekar Pedang Naga Bumi: Jejak Darah Di Tanah Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
​Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perburuan tujuh pedang naga part 8

Jauh dari tanah Jawa, di sebuah benteng terapung yang selalu diselimuti badai abadi, berdirilah markas besar organisasi misterius yang menyebut diri mereka sebagai "The Sovereigns of the Dragon" (Para Penguasa Naga).

​Di dalam aula utama yang megah dan gelap, hanya diterangi oleh obor-obor api biru, seorang pria duduk di atas takhta yang terbuat dari tulang belulang makhluk purba. Wajahnya tertutup bayangan tudung jubahnya, namun aura kehadirannya begitu menekan hingga udara di sekitarnya terasa berat.

​Kabar dari Barat

​Seorang utusan berjubah hitam berlutut di hadapannya, mempersembahkan sebuah peti panjang yang memancarkan cahaya keemasan yang kini mulai ternoda oleh garis-garis hitam.

​"Lapor, Tuan Agung," suara sang utusan bergetar. "Pedang Naga Cahaya, Excalibur, telah berhasil kami rebut dari Kingdom of England. Pemiliknya telah binasa."

​Sang Pemimpin Agung mengulurkan tangannya yang pucat, menyentuh hulu Excalibur. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan ambisi kelam. Namun, sedetik kemudian, ia menghentakkan tangannya ke meja batu hingga retak.

​"Aku senang dengan keberhasilan ini," suaranya berat dan bergema. "Tapi aku juga kecewa. Seharusnya Pedang Naga Bumi adalah yang pertama berada di atas meja ini! Mengapa kelompok Ryuichi begitu lambat? Apakah mereka lupa bahwa Naga Bumi adalah kunci untuk menstabilkan energi naga-naga lainnya?"

​Ia berdiri, menatap jendela besar yang menghadap ke arah samudra luas. "Rupanya pemilik Pedang Naga Bumi di Jawa itu bukan pendekar sembarangan. Jika Minamoto no Ryuichi sampai terdesak, berarti naga yang ia hadapi telah menemukan wadah yang sangat kuat."

​Di sekeliling aula itu, berdiri enam kursi kosong lainnya yang melambangkan kekuatan utama organisasi ini. Organisasi ini bukanlah sekumpulan tentara biasa, melainkan aliansi para pendekar sakti paling berbahaya dari berbagai belahan dunia—mulai dari pembunuh bayaran Persia, penyihir hitam dari Afrika, hingga ksatria pemberontak dari Eropa.

​Visi mereka sederhana namun mengerikan: Kekuasaan melalui jalan pintas. Dengan menyatukan tujuh pedang naga, mereka tidak perlu lagi membangun kerajaan selama puluhan tahun; mereka hanya perlu satu malam untuk menghancurkan peradaban dan menulis ulang sejarah dunia sesuai kehendak mereka.

​"Panggil utusan cadangan," perintah Sang Pemimpin Agung. "Kirim bantuan ke Nusantara jika Ryuichi gagal dalam tiga hari ke depan. Aku tidak peduli jika separuh pulau itu harus tenggelam, yang aku inginkan hanyalah Pedang Naga Bumi!"

Sementara itu di pulau Jawa Setelah guncangan sukma dari Antaboga mereda, suasana di lereng Gunung Penanggungan menjadi sangat genting. Matahari mulai terbenam, menyisakan semburat merah yang tampak seperti darah di cakrawala—sebuah pertanda buruk bagi mereka yang memahami firasat alam.

​"Kita tidak bisa berlama-lama di sini," ujar Ki Ageng Bang Wetan memecah keheningan. "Gubuk ini sudah ditandai. Jika mereka gagal semalam, mereka akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar, mungkin membawa sisa dari ketujuh pendekar Jepang itu atau bahkan utusan langsung dari organisasi pusat mereka."

​Lin Feng mengangguk mantap. "Benar, Ki Ageng. Kita harus membawa Pedang Naga Bumi ini ke tempat yang lebih aman. Kekuatan satu pedang mungkin tidak cukup jika mereka mengeroyok kita dengan kekuatan global."

​Rangga Satya Anugara melangkah maju, ia membentangkan peta kulit yang diambil dari kantong pinggangnya. "Mas Lin, jalan utama menuju ibu kota Trowulan pasti sudah diawasi oleh kaki tangan ninja-ninja itu. Mereka memiliki mata-mata di setiap gerbang kadipaten. Jika kita lewat jalur biasa, kita akan terjebak dalam jebakan mereka."

​"Lalu, lewat mana kita harus bergerak, Rangga?" tanya Joko yang masih sedikit gemetar namun mulai memberanikan diri.

​"Kita akan mengambil jalur tikus melalui Hutan Tarik," jawab Rangga tegas. "Hutan itu lebat dan penuh dengan rawa. Hanya orang-orang pesisir dan penduduk asli yang tahu jalan setapaknya. Dari sana, kita bisa masuk ke Trowulan melalui gerbang belakang yang dijaga oleh pasukan khusus Bhayangkara. Aku punya kenalan di sana, seorang sersan yang berhutang nyawa padaku."

​Lin Feng menatap Pedang Naga Bumi yang terbungkus kain. "Tujuan kita bukan hanya bersembunyi. Kita harus bertemu dengan Mahapatih Gajah Mada. Hanya dialah yang memiliki wewenang untuk menggerakkan intelijen seluruh Nusantara guna memantau pergerakan mereka."

​Ki Ageng Bang Wetan masuk ke dalam gubuk dan keluar membawa sebuah bungkusan kecil. "Ini adalah minyak atsiri khusus untuk menyamarkan bau keringat dan hawa murni kalian. Para ninja itu melacak kita melalui energi dan bau tubuh. Oleskan ini pada nadi kalian."

​Saat mereka bersiap, Joko tampak sibuk mengemasi sisa ubi dan beberapa potong bambu runcing yang ia buat sendiri. "Meskipun aku tidak punya pedang naga, setidaknya aku tidak akan membiarkan mereka menangkapku tanpa perlawanan!" ucapnya mencoba menghibur diri sendiri.

​Lin Feng tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Joko. "Keberanianmu adalah kekuatan kita juga, Joko."

​Tepat saat bulan mulai menampakkan diri, keempatnya mulai bergerak meninggalkan lereng gunung. Mereka bergerak dalam formasi: Rangga di depan sebagai penunjuk jalan, Lin Feng dan Joko di tengah, dan Ki Ageng Bang Wetan di belakang untuk menghapus jejak kaki mereka menggunakan ilmu batinnya.

​Namun, tanpa mereka sadari, jauh di atas dahan pohon beringin tua yang mereka lewati, sebuah bayangan hitam dengan topeng iblis yang retak mengawasi dengan mata merah menyala. Minamoto no Ryuichi belum menyerah. Meskipun terluka, ia terus membuntuti dengan nafas yang berbau racun Orochi.

​Di belakangnya, Hattori no Hanzo muncul dari kegelapan. "Mereka menuju Trowulan, Ryuichi-sama. Apakah kita cegat sekarang?"

​"Jangan," desis Ryuichi. "Biarkan mereka masuk ke Hutan Tarik. Di sana, kegelapan adalah sekutu kita. Dan beri tahu Genji, siapkan racun di setiap sumber air yang mungkin mereka datangi. Aku ingin melihat naga bumi itu merayap di tanah sebelum aku memenggal kepalanya."

1
anggita
like iklan👍👆 moga novelnya lancar jaya.
anggita
ilmu Tiongkok vs Nusantara Jawa🔥
anggita
ada cerita sejarahnya juga... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!