Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ricuh
Pagi harinya sekitar jam sembilan,Sasa dan keluarganya sudah tiba di rumah Kara. Tak seperti biasanya yang hanya mengenakan kaos dan celana pendek santai, kali ini kakak Sasa itu terlihat lebih dewasa dengan balutan jas formal yang ia kenakan. Sasa juga terlihat cantik dengan gaunnya. Petugas KUA beserta ustad di lingkungan mereka juga sudah turut hadir, beruntung akibat campur tangan kakek Kara semua bisa dipersiapkan dengan cepat meskipun mendadak.
“Kak udah hapal belum? Perlu Sasa kasih contekan nggak? Sasa udah download nih teks ijab kabulnya.” Bisik Sasa.
“Diem!” Dirga meletakan telunjuknya di bibir dengan serius membuat adiknya seketika bungkam.
“Sasa mau ke Kaleng aja kalo gitu.” Gadis itu berlalu dari deretan orang tua yang berjajar di sana.
“Kaleng...” teriaknya di depan pintu kamar Kara yang terbuka. Sasa mendadak jadi anggun dan tak berteriak lagi saat melihat sosok yang sedang merias wajah Kara. “Eh ada calon mama mertua.” Ucapnya lirih. “Pagi, tante Raya...” sapanya kemudian.
“Pagi juga, Sasa cantik.” Balas Raya dengan senyum ramahnya. Dia memang di hubungi Jesi malam tadi untuk merias Kara.
“Kaleng deg degan apa gimana? Kok keliatannya pucat?” Sasa mengomentari wajah pucat Kara yang belum di poles lipstik.
“Bukan deg degan, Cin. Gue sakit, meriang nih efek ujan-ujanan. Semalem aja kagak bisa tidur.” Balas Kara lemah.
“Tuh kan Sasa bilang juga apa! Mandi dulu abis ujan-ujanan malah Cuma ganti baju doang.” Cibir Sasa.
“Tante, Bang Tama ikut nggak? Kok tadi Sasa nggak liat di bawah?” tanyanya pada Raya.
“Ikut, tapi lagi pergi dulu. Ngambil hadiah tante buat Kara. Tadi pas berangkat tokonya belum buka.”
“Oh..” Sasa menganggukkan kepalanya. “Kaleng masih sakit nggak?”
“Dikit. Kleyengan ini kepala gue, Cin.” Balas Kara.
“Tante, Kalo gitu Sasa di rias kayak Kaleng juga dong. Buat pengantin cadangan gitu, jadi kalo Kaleng ntar pusing nggak bisa ikut ijab kabul tinggal diganti sama Sasa. Ntar Kak Dirga di ganti sama Bang Tama. Simpel lah bisa diatur, supaya petugas KUA yang sudah terlanjur datang nggak nganggur.” Ucap Sasa enteng.
“Hah?” Kuas lipstik yang sedang dipegang Raya sampe terjatuh karena terkejut dengan ocehan gadis yang mengaku sebagai calon mantunya.
“Haduh Tante sampe jatuh itu kuasnya. Biar Sasa ambilin.” Sasa melangkah menghampiri Raya dan Kara dan mengambil kuas lipstik di samping kursi Kara.
“Nggak usah, cantik. Biar tante pake kuas yang baru aja, itu udah jatuh. Kotor.” Namun Raya tetap menerima kuas yang terlanjur diambil oleh Sasa dan meletakkannya di tempat terpisah.
“Udah lo mending duduk jauh-jauh, Cin. Kalo nggak lo tidur aja sana biar nggak ganggu. Make up gue bisa nggak selesai-selesai kalo lo caper mulu sama Tante Raya.” Ucap Kara sambil mengibaskan tangannya.
Sasa mundur perlahan sambil cemberut. Dia duduk di ranjang Kara dan mencibirnya seraya melihat pantulan calon kakak iparnya di dalam cermin.
“mentang-mentang udah pada mau nikah kesana kemari Sasa dicuekin. Awas aja ntar kalo abis nikah pada ribut, nggak bakal Sasa bantuin.”
“Tante, aslinya Kaleng sama Kakaknya Sasa itu kan bocil. Dikit-dikit berantem, Tan. Stres deh ngimbangin mereka, Tan. Makanya orang tua pada nyerah dan disuruh nikah aja. Beda lagi kalo Sasa, aku mah orangnya dewasa jadi kalo Tante punya mantu kayak Sasa dijamin nggak bakalan stres deh.” Sasa masih terus mengoceh di belakang sana, dia terus membanggakan dirinya sendiri sambil mengamati wanita yang sudah ia keep jadi mertuanya kelak. Jangankan kelak, dijadiin mantunya sekarang juga Sasa tak keberatan.
Sesekali Raya memperhatikan sekilas Sasa dari dalam cermin, gadis itu terlihat tak masalah meskipun sejak tadi berbicara tanpa ada yang membalasnya. Dia terus bercerita dan membanggakan dirinya sendiri dengan wajah tanpa dosa dan begitu ceria. Dari awal mula bertemu Tama dijajanin sampe dibeliin tas semua ia ceritakan, tentunya dengan versi Sasa yang membuat Raya tersenyum. Mengingat semua yang diceritakan Sasa berbanding terbalik dengan versi putranya yang mengaku dipalak jajan, nemenin ngabisin es krim yang kayak lagi dengerin radio butut, dipalak tas, mendadak jadi sopir hingga banyak lainnya.
“Tante, Bang Tama sering cerita soal Sasa nggak? Dia pasti suka kan sama Sasa, Tante?”
“Tante ih...” rengeknya karena tak mendapat tanggapan, “Ih Tante malah senyum doang.”
“Pernah lah, Tama itu selalu cerita semua sama Tante. Katanya Sasa manis.” Jawab Raya jujur, meski tak sepenuhnya. Karena kata Tama, Sasa itu manis tapi ngeselin dan selalu bikin repot.
“Wah beneran, Tan?” Sasa langsung beranjak menghampiri Raya yang mengangguk mengiyakan.
“Ma, ini hadiahnya.” Tama yang baru saja masuk ingin langsung pergi begitu melihat ada Sasa di samping mamanya, namun telat gadis itu sudah melihat kedatangannya dan langsung menghampiri. Seperti biasa tangannya langsung nyangsang di lengan kiri Tama.
“Abang...Sasa nyariin dari tadi loh...”
“Nggak nanya!” balas Tama.
“Ya sekedar info aja gitu.”
Belum selesai kehebohan Sasa bertemu Tama, dua sahabat Kara yang baru saja datang juga membuat suasana semakin gaduh.
“Gila lo, Ra. Beneran lo sama Dirga mau kawin? Gue kira papi lo yang mau kawin lagi.” Ucap Selvia.
“Nikah, Sel. Bukan kawin.” Ralat Dila.
“Elah sama aja, Dil!”
“Beda lah kalo kawin kan bikin anak, kalo nikah yang ada sah sahnya.”
“Udah ah susah ngomong sama lo. Beneran lo nikah, Ra? Lo nggak hamil kan?” cecar Selvia.
“Nggak, nggak mungkin lo hamil. Dirga masih waras, dia nggak mungkin kayak gitu. Lagian dua minggu lalu lo masih datang bulan, gue inget. Tapi gue masih nggak ngerti kok bisa kalian mendadak nikah gini? Terus sekolah ntar gimana?”
“Jangan bilang kalo lo berdua ketauan ngelakuin adegan dua satu plus?” tebak Selvia.
“Sembarang aja kalo ngomong! Gini-gini gue soleha.” Sela Kara yang sudah tak tahan mendengar Selvia yang mendadak cerewet.
“Tapi Kaleng sama Kak Dirga ketahuan sama Sasa, kiss kiss... makanya dikawinin. Eh nikahin! Kata papi sama daddy takut pada kebablasan.” Celoteh Sasa yang langsung nyambung aja.
Dila dan Selvia yang sedari tadi terlalu sibuk dengan Kara sampai tak sadar jika di ruangan itu ada tiga orang lain. Keduanya melihat pada Sasa sekilas.
“Siapa?” tanyanya pada Kara.
“Si micin, adeknya Dirga. Masak lo lupa sih!” jawab Kara.
“Ya ampun... lo micin Sasa? pangling gue kalo lo dandan gini.” Ledek Selvia. Mereka memang pernah bertemu beberapa kali saat main ke rumah Kara.
“Sasa jadi cantik yah, Kak? Kata Bang Tama, Sasa ini manis loh.” Jawabnya penuh percaya diri.
Selvia hanya tersenyum menanggapi jawaban Sasa, ia malah fokus pada lelaki yang tangannya di gandeng Sasa.
“Gue baru nyadar ada lo juga, Tam. Ngapain lo disini? Uji kekuatan hati?” lanjutnya.
“Bang Tama kesini katanya pengen sekalian dinikahin sama Sasa.” Celetuk Sasa.
Tama langsung menampol gemas bibir yang suka ngomong asal jeplak itu, “Seenaknya aja lo kalo ngomong!”
“Sakit ih! Jangan pake tangan dong nampolnya, pake bibir bisa kali.” Protes Sasa.
“Ya ampun pengen gue lakban deh bibir lo!” gemas Tama.
“Gue kesini nganterin nyokap.” Ucap Tama pada Selvia, dia menunjuk Raya yang berada di samping Kara. “Mama gue temen kuliah mami nya Kara.” Lanjutnya.
“Oh gitu.” Selvia dan Dila lanjut mengenalkan diri dan menyalami Raya.
“Tante, yang barusan itu Sasa cuma bercanda. Sasa masih suci kok, belum terjamah sedikit pun. Baru kena dikit doang sama Bang Tama.” Menyadari Raya masih disana, Sasa buru-buru membersihkan nama baiknya yang asal ceplos tadi.
“Kena dikit apaan? Gue nggak pernah ngapa-ngapain lo yah, bocil. Jangan suka ngarang!”
“Lah waktu itu kita ciuman loh. Masa nggak inget sih, Bang? Waktu pulang beli kado ulang tahun Kaleng, Bang Tama kan nyicipin boba yang Sasa beli. Itu kan sedotannya bekas Sasa, jadi secara tidak langsung kita ini udah ciuman.” Jelas Sasa yang membuat Selvia menahan tawa.
“Dasar bocil!” Tama mencubit gemas kedua pipi Sasa.
“Jangan cubit-cubit ntar cinta.” Ucap Sasa.
“Buset receh amat adeknya Dirga. Kakaknya kayak kulkas ngapa adeknya kayak kompor. Kebanyakan main sama lo yah, Ra?” sindir Selvia.
“Salah asuh itu bocah.” Timpal Dila, “Hati-hati loh, Tam. Itu bocah adeknya Dirga, kalo lo demen kagak bakal direstuin sama kakaknya. Mending Sama gue aja, jomblo. Tapi kita HTS aja yah, soalnya kalo pacaran takut putus.” Lanjut si jomblo bahagia yang menentang keras pacaran.
“Nggak bisa gitu dong, Kak Dila. Bang Tama udah fix calon suami Sasa. Tante Raya aja udah ngasih restu kok, yah kan Tan?”
“Ma, aku ke bawah aja lah.” Pamit Tama, dekat dengan Sasa membuatnya ketar ketir tak jelas. Ocehan gadis itu suka seenaknya main ngaku-ngaku, tapi mau dimarahin juga dia tak mampu. Wajahnya terlalu manis.
“Sasa ikut!” dengan cepat dia menyusul Tama dan seperti biasa tangannya itu tak bisa jauh-jauh dari lengan Tama.
Tama melangkah cepat, tapi tetap saja lengannya tertahan oleh jemari kecil Sasa yang nyantol tanpa izin. Gadis itu selalu begitu—datang tanpa aba-aba, ribut tanpa rem, lalu pergi sambil ninggalin rasa aneh yang susah dijelasin.
Ia melirik ke samping, mendapati Sasa masih nyengir puas seolah baru memenangkan satu ronde kehidupan. Tama menghela napas pelan. Capek sih, batinnya, tapi kalo bocil ini tiba-tiba nggak ada, kayaknya malah sepi.
Dan entah sejak kapan, Tama berhenti menepis. Karena mungkin, di balik semua ocehan absurd itu, Sasa sudah keburu jadi bagian kecil yang tak sengaja ia jaga.
yang senyam senyum
ke tawa ngakak
geleng-geleng kepala
senyum lagi
ngakak lagi
ampe aku baca pagi-pagi depan paksu, malah di curigai 🤣🤣🤣🤣
ini semua karena micin, yang gurih, gemes dan genes🤣
awas aja kalau bang tam tam hanya becandain anak orang🙄
sabar ya sa