NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: suandra

Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.

Sejak saat itu, dunia Arga berubah.

Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.

Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.

Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Pelarian di Atas Darah dan Besi

Sektor 7 berubah menjadi neraka yang terkunci. Saat pintu baja menutup, suara mekanisme pengunci hidrolik bergema seperti vonis mati. Arga bisa merasakan napas Sari yang pendek dan gemetar di pundaknya. Gadis itu sangat ringan, namun bagi Arga, Sari adalah seluruh dunia yang harus ia lindungi dengan sisa nyawanya.

"Tembak!" perintah komandan pasukan berjubah abu-abu.

Kilatan energi biru meluncur dari moncong senjata mereka. Arga tidak lagi melompat panik. Dengan ketenangan seorang Master Muda, ia menggunakan teknik Resonansi Ruang. Ia bergerak satu langkah ke samping, membiarkan aliran udara dari peluru energi itu menyapu rambutnya, lalu ia menghentakkan kaki kanannya ke lantai laboratorium yang basah oleh cairan kimia.

Brak!

Ubin beton terangkat, menciptakan barikade instan. Arga menggunakan momentum itu untuk meluncur ke arah lorong ventilasi utama yang lebih besar. Ia tidak bisa lewat pintu depan; itu adalah bunuh diri.

“Inang, fokuskan energi ke kaki! Kita harus menembus dinding luar di Sektor Pembuangan!” Macan Kencana memberikan panduan taktis, bukan lagi sekadar hasutan amarah.

"Aku tahu!" geram Arga.

Ia berlari menyusuri lorong sempit yang dipenuhi pipa uap panas. Di belakangnya, suara sepatu bot pasukan Mahesa terdengar makin mendekat. Sari mencengkeram erat kerah jaket Arga, matanya terpejam rapat.

"Arga... mereka terlalu banyak," bisik Sari lemah.

"Jangan lihat ke belakang, Sari. Percayalah padaku," sahut Arga.

Tiba-tiba, dari arah depan, dinding besi meledak. Muncul sosok petarung elit lainnya—bukan Barata, melainkan seorang pria dengan luka bakar di wajahnya yang membawa pedang plasma pendek. Ini adalah salah satu letnan kepercayaan keluarga Adiraja.

"Kau tidak akan keluar dari sini hidup-hidup, Arga!" teriak pria itu sembari mengayunkan pedangnya.

Arga tidak berhenti. Ia justru mempercepat larinya. Saat pedang plasma itu menebas secara horizontal, Arga melakukan gerakan slide di bawah kaki pria itu sambil tetap mendekap Sari dengan satu tangan. Dengan tangan lainnya, ia menghantam lutut sang letnan dengan pukulan pendek yang mengandung getaran Mustika.

Krak!

Suara tulang pecah terdengar nyata. Letnan itu tumbang, dan Arga terus melaju menuju area pembuangan limbah. Di sana, sebuah kipas raksasa berdiameter lima meter berputar dengan kecepatan tinggi, menghalangi jalan menuju dunia luar.

Arga berhenti di depan kipas itu. Di belakangnya, pasukan Mahesa mulai mengepung dari kedua sisi lorong. Tidak ada jalan keluar lain.

"Arga, kita terjebak!" Sari mulai terisak.

Arga menatap kipas raksasa itu, lalu menatap matanya sendiri yang tercermin di bilah baja yang berputar. Ia harus melepaskan kekuatan Mustika secara maksimal untuk menghentikan putaran mesin ini, namun risikonya adalah ia akan pingsan setelahnya.

“Lakukan, Inang. Aku akan menjaga kesadaranmu selama sepuluh detik setelah ini. Itu waktu yang kau punya untuk keluar!”

Arga mengangguk. Ia menurunkan Sari sejenak, menaruhnya di sudut yang aman. Ia berdiri menghadap kipas raksasa tersebut, merentangkan tangannya. Aura emas pekat meledak dari dadanya, membentuk siluet kepala macan raksasa di belakang tubuhnya.

"Hancur!" teriak Arga.

Ia memukul poros tengah kipas tersebut dengan seluruh berat badannya yang telah disinkronkan dengan energi Mustika. Terjadi benturan logam yang memekakkan telinga. Kipas itu berhenti seketika, bilah-bilahnya melengkung dan patah, menciptakan lubang besar yang menuju ke arah rawa-rawa di luar fasilitas Sektor 7.

Arga segera menyambar Sari kembali. "Sekarang!"

Ia melompat keluar tepat saat pasukan Mahesa melepaskan tembakan beruntun. Mereka mendarat di atas tanah berlumpur yang berbau kimia, jauh di bawah fasilitas tersebut. Hujan mulai turun kembali, membasuh darah yang menetes dari luka-luka Arga.

Arga terus berlari menembus hutan beton yang mati, menjauhi cahaya lampu sorot Sektor 7. Ia baru berhenti saat mereka tiba di sebuah gubuk tua di tepi rel kereta api yang sudah tidak terpakai.

Ia merebahkan Sari di atas tumpukan jerami kering. Arga jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdenyut sangat lambat, efek dari penggunaan kekuatan maksimal tadi.

"Kita... kita aman untuk sementara," bisik Arga sebelum kepalanya tertunduk lemas.

Sari merangkak mendekati Arga, memeluk pria itu dengan sisa tenaganya. Di tengah kegelapan dan hujan yang menderu, Arga menyadari bahwa babak baru dalam hidupnya telah dimulai. Ia telah menyelamatkan Sari, namun ia telah menyatakan perang terbuka terhadap Jagat Mahesa dan seluruh elit Jakarta.

Di Sektor 7, Jagat Mahesa berdiri di tepi lubang kipas yang hancur. Ia melihat ke arah kegelapan tempat Arga menghilang. Di sampingnya, Linda Rajendra tampak cemas.

"Tuan, dia melarikan diri bersama gadis itu. Bagaimana jika dia membeberkan semuanya?" tanya Linda.

Jagat Mahesa tersenyum dingin. "Biarkan dia. Dia baru saja membawa umpan yang paling sempurna untukku. Dengan adanya gadis itu di sisinya, Arga memiliki titik lemah yang sangat nyata. Sekarang, umumkan kepada seluruh jaringan kita: Berikan hadiah seratus miliar bagi siapa pun yang membawa kepala Arga Satria—hidup atau mati."

Perburuan nasional telah resmi dimulai. Dan kali ini, tidak ada tempat bagi Arga untuk bersembunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!