NovelToon NovelToon
The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

Status: tamat
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action / Tamat
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.

Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.

Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.

Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Api di desa bayangan

Jalan setapak yang menghubungkan Cānglóng Pài dengan dunia luar bukan jalan yang mudah—bukan karena bahaya, tapi karena pilihan . Setiap belokan adalah percabangan antara kembali ke tempat aman atau melangkah lebih jauh ke dalam yang tidak diketahui. Setiap pohon yang rindang bisa menjadi tempat persembunyian atau jebakan. Setiap suara di semak bisa menjadi hewan atau mata yang mengamati.

Fengyin dan Yuelan berjalan selama dua hari. Dua hari yang penuh dengan keheningan yang diberikan , bukan dipaksakan—keheningan di mana mereka belajar satu sama lain, belajar bersama , belajar menjadi lebih dari dua orang yang kebetulan berbagi tujuan.

Yuelan mengajarkan Fengyin tentang tanaman—yang bisa dimakan, yang bisa menyembuhkan luka kecil, yang harus dihindari karena bisa membuat gatal selama seminggu. Fengyin mengajarkan Yuelan tentang jejak—cara membaca bekas kaki di tanah, cara mengetahui berapa lama seseorang lewat, cara menghilangkan jejak sendiri dengan bantuan Yǐng.

Mereka berbicara tentang hal-hal kecil: makanan favorit, mimpi aneh, kenangan masa kecil yang lucu atau malu. Mereka tidak berbicara tentang ketakutan—tapi ketakutan itu ada , di setiap jeda napas, di setiap tatapan ke timur di mana awan hitam selalu menggumpal di atas gunung yang lebih tinggi.

Pada malam kedua, mereka berkemah di tepi sungai kecil—bukan Yínliú, tapi anak sungainya, yang lebih tenang, lebih aman , lebih dekat dengan desa-desa yang mereka ingin lindungi.

"Besok," kata Yuelan, menatap api unggun yang mereka buat dengan Huǒ yang dikendalikan Fengyin—kecil, terkontrol, tersembunyi . *"Besok kita sampai di Kampung Daun Bayangan. Atau apa yang tersisa dari desamu."

Fengyin mengangguk. Tidak tidur—tidak bisa, meski tubuhnya lelah. Pikirannya terus berputar, merencanakan, memprediksi . Apa yang akan mereka temukan? Apa yang harus mereka lakukan? Bagaimana cara mengintai tanpa terlihat, mengumpulkan informasi tanpa menjadi target?

"Kamu takut," kata Yuelan. Bukan pertanyaan.

"Aku selalu takut," jawab Fengyin, jujur. "Takut bukan kelemahan. Takut adalah... adalah pengingat. Pengingat bahwa apa yang kita lakukan penting. Bahwa kita punya sesuatu untuk hilangkan ."

Dia menatap api, melihat wajah Gu Yanqing di antara bara-bara merah—kakek yang pertama, yang kedua, yang mungkin sama saja di mata takdir.

"Gu Yanqing pernah bilang," lanjut Fengyin, suaranya pelan, hanya untuk Yuelan dan malam, "bahwa keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah melakukan yang benar meski kita takut. Aku... aku mencoba menjadi berani. Setiap hari. Setiap langkah."

Yuelan tidak menjawab. Dia hanya bergeser lebih dekat, bahu mereka bersentuhan, dan bersama-sama menatap api hingga padam.

Kampung Daun Bayangan—Yinye Cun —tidak lagi sama.

Fengyin melihatnya dari lereng, dari tempat persembunyian di antara pohon-pohon bambu, dan hatinya... hancur bukan karena kehilangan, tapi karena pengakuan . Pengakuan bahwa dia telah pergi terlalu lama, bahwa dia telah meninggalkan, bahwa dia telah mengabaikan apa yang menjadi miliknya.

Asap. Bukan asap tungku—tapi asap hangus . Dari rumah-rumah di tepi desa, yang kini menjadi puing-puing hitam. Dari ladang-ladang yang dibakar, dari pohon-pohon yang menjadi tiang-tiang api, dari segala sesuatu yang pernah dikenalnya.

Tapi desa belum sepenuhnya hancur. Bagian tengah—di mana rumah ayahnya, rumah ibunya, rumah keluarganya —masih berdiri. Masih utuh. Masih... dikepung .

Karena di alun-alun desa, di tempat biasanya para petani berkumpul untuk berbagi cerita sebelum senja, kini berdiri mereka. Pasukan Sekte Naga Hitam—tidak banyak, tidak seperti yang pernah dilihat Fengyin di Kampung Awan Kasih, tapi cukup . Dua puluh prajurit, dengan zirah hitam yang menyerap cahaya, dengan kristal-kristal yang berputar pelan di punggung mereka—hijau, biru, merah, kuning, putih. Tidak hitam. Tidak Yǐng. Tidak legenda .

Tapi di depan mereka, di atas anak tangga sederhana rumah kepala desa, berdiri seseorang yang berbeda.

Meng Tianxiong.

Fengyin mengenalinya bahkan dari jarak ini—bahkan tanpa pernah melihatnya sebelumnya. Karena deskripsi Ye Xiang tidak cukup. Karena kejahatan sejati memiliki bentuk yang bisa dirasakan, seperti dingin yang menusuk tulang, seperti bau busuk yang menempel di hidung.

Meng Tianxiong adalah pria besar—tidak tinggi, tapi lebar , dengan bahu yang hampir selebar pintu, dengan lengan yang tampak seperti bisa mematahkan leher tanpa usaha. Rambutnya dicukur pendek, praktis, dengan bekas luka yang membentang dari pelipis kiri ke dagu—bekas yang dia tampilkan , bukan sembunyikan, seolah-olah adalah medali kehormatan.

Tapi yang paling menakutkan adalah matanya. Tidak dingin seperti Xie Wuyou—tidak kosong . Tapi panas . Terlalu panas. Seolah-olah ada api di dalamnya yang tidak pernah padam, yang selalu lapar , yang selalu mencari sesuatu untuk membakar.

Dan di tangannya—di tangan kanan yang besar dan kasar—dia memegang sesuatu. Huǒyàn Jiàn. Pedang Api.

Bukan pedang biasa. Bilahnya tidak terbuat dari logam—tapi dari kristal merah yang memadat, yang berdenyut, yang hidup . Kristal yang, meski dari jarak ini, Fengyin bisa rasakan panasnya. Bisa rasakan amarah -nya.

"Itu dia," bisik Yuelan, suaranya hampir tidak terdengar, hampir tidak ada . "Meng Tianxiong. Ye Xiang bilang..."

"Aku tahu," potong Fengyin, suaranya sama pelan, sama tersembunyi . "Aku lihat. Aku rasakan ."

Dia merasakan lebih dari itu. Merasakan ketegangan di udara—ketegangan yang bisa dibaca oleh Yǐng, yang bisa diinterpretasikan oleh Fēng. Merasakan bahwa sesuatu akan terjadi . Sesuatu yang salah . Sesuatu yang tidak bisa dihentikan oleh pengintaian, oleh perencanaan, oleh kebijaksanaan apa pun.

Karena di alun-alun, di depan Meng Tianxiong, berdiri seseorang yang Fengyin kenal. Seseorang yang tidak seharusnya ada di sana, tidak seharusnya terlibat .

Liu Dage.

Tetangga yang pernah membantunya di ladang. Yang pernah memberinya liontin neneknya. Yang pernah... mengenali sesuatu di matanya.

Liu Dage berdiri dengan punggung bungkuknya yang lebih bungkuk dari yang terakhir dilihat Fengyin. Dengan tangan yang terikat di belakang. Dengan wajah yang memar, berdarah, tapi masih tegar .

"Kamu tahu siapa yang kucari," kata Meng Tianxiong, suaranya—yang tidak keras, tapi menggema , seolah-olah dipperkuat oleh Huǒyàn Jiàn, oleh elemen Huǒ yang menguasainya dengan brutal. "Kamu tahu. Semua orang di desa ini tahu. Anak yang berbeda. Anak yang 'bermimpi panjang'. Anak yang..." dia berhenti, menatap Liu Dage dengan mata yang penuh dengan kebencian yang tidak masuk akal, "...yang membuat bayangan bergerak tanpa tubuh."

Liu Dage tidak menjawab. Tidak bisa—mulutnya penuh darah, mungkin gigi yang patah, mungkin lidah yang bengkak. Tapi matanya... matanya menatap ke arah lereng. Ke arah tempat Fengyin bersembunyi.

Bukan dengan pengakuan . Bukan dengan pengkhianatan . Tapi dengan peringatan . Dengan permintaan .

Jangan keluar. Jangan lihat. Jangan menjadi target.

Tapi Fengyin sudah melihat. Sudah merasakan . Sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa dihentikan.

Yuelan mencengkeram lengannya—erat, nyeri, mencoba menahan. "Fengyin, jangan. Kita punya rencana. Kita akan mengintai, kita akan kembali, kita akan—"

"Rencana berubah," kata Fengyin, suaranya datar. Terlalu datar. Seolah-olah emosi telah membeku , menjadi sesuatu yang lebih keras, lebih tajam . "Liu Dage akan mati. Bukan karena dia tahu—tapi karena Meng Tianxiong menikmati . Bukan karena dia berkhianat—tapi karena dia tegar . Aku tidak bisa... aku tidak bisa membiarkan..."

Dia berhenti. Menatap tangannya—tangan kecil, tangan sepuluh tahun, tangan yang telah dilatih untuk menyembunyikan , untuk menunggu .

Tapi juga tangan yang pernah berjanji. Melindungi .

"Aku akan keluar," kata Fengyin. "Tapi tidak sebagai Tiānzé Zhě. Tidak dengan keenam elemen. Aku akan keluar sebagai... sebagai anak desa. Sebagai Chen Xiaoyu. Yang tidak tahu apa-apa, yang hanya takut , yang mencoba..."

"Itu tidak akan berhasil," kata Yuelan. "Meng Tianxiong bukan bodoh. Dia akan tahu. Dia akan melihat ."

"Maka aku akan membuatnya melihat apa yang aku inginkan," kata Fengyin.

Dia menggerakkan tangan—sangat pelan, sangat tersembunyi —dan Yǐng mengalir. Bukan ke arah Meng Tianxiong—terlalu jauh, terlalu berbahaya . Tapi ke arah Liu Dage. Ke arah bayangan di bawah kaki pria tua itu.

Bayangan yang bergerak. Sedikit. Hampir tidak terlihat. Seolah-olah Liu Dage menggeser kaki—tapi dia tidak menggeser. Seolah-olah angin bertiup—tapi tidak ada angin.

Bayangan yang membentuk kata. Kata-kata yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang tahu cara membaca.

"BERPURA PURA TAKUT. AKU DATANG. SIAP."

Liu Dage berkedip. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk Fengyin tahu bahwa pesan itu sampai .

Fengyin keluar dari persembunyian.

Bukan dengan lari—terlalu cepat, terlalu mencurigakan . Tapi dengan jatuh . Sengaja terpeleset, sengaja berguling, sengaja menangis dengan suara yang tinggi, yang anak-anak, yang takut .

"Liu Dage! Liu Dage!" teriaknya, suaranya pecah, autentik karena memang ada ketakutan di sana—ketakutan akan kehilangan, ketakutan akan gagal, ketakutan akan mati lagi .

Dia berlari ke arah alun-alun—terhuyung, jatuh, bangun lagi—menciptakan kekacauan yang dibuat , tapi terlihat alami . Membuat prajurit-prajurit menoleh. Membuat Meng Tianxiong... tertarik .

"Siapa ini?" tanya Meng Tianxiong, suaranya tidak naik, tapi mengisi udara. Huǒyàn Jiàn di tangannya berdenyut, panasnya meningkat, menciptakan gelombang udara yang membuat jarak tampak bergetar.

"Anak desa," jawab salah satu prajurit—Zhang Qi, Fengyin mengenali dari seragamnya, dari cara berdirinya yang kaku, dari ketakutan -nya pada Meng Tianxiong. "Tidak penting. Salah satu yang..."

"Yang 'bermimpi panjang'?" selesaikan Meng Tianxiong, dan senyumnya—senyum yang tidak mencapai mata yang panas—memperlihatkan gigi yang terlalu putih, terlalu seragam . "Datang sini, anak. Datang ke sini dan ceritakan padaku... mimpimu."

Fengyin berlutut di depan Liu Dage—bukan dengan sengaja, tapi karena lututnya lemah , karena emosi yang nyata yang dia coba sembunyikan. Dia memeluk kaki pria tua itu, menangis ke darah dan kotoran, dan berbisik—sangat pelan, sangat tersembunyi oleh tangisan—"Nanti. Lari. Ke hutan. Aku akan mengalihkan."

Liu Dage tidak bergerak. Tidak mengangguk. Tapi matanya—matanya yang bengkak, yang memar—berkedip sekali. Setuju .

Fengyin berdiri. Perlahan, dengan tangan yang masih bergetar—tapi getaran itu sebagian dibuat , sebagian nyata . Dia menghadapi Meng Tianxiong, dan dalam sekejap, dalam detik yang tidak bisa diulang, dia menggunakan Cánglóng Yǐn.

Bukan untuk menyembunyikan keenam elemen—tentu saja tidak, itu akan terlalu mencolok, terlalu berbahaya . Tapi untuk menyembunyikan satu . Yǐng. Bayangan yang paling gelap, paling liar , paling tidak terkendali.

Dia menyembunyikan Yǐng-nya di dalam bayangan Meng Tianxiong sendiri. Di dalam bayangan yang besar, yang panas, yang amarah . Seperti menyembunyikan jarum di tumpuk jerami—atau seperti menyembunyikan racun di dalam darah.

Meng Tianxiong tidak merasakannya. Tidak bisa—dia terlalu fokus pada permainan kekuatannya sendiri, pada Huǒyàn Jiàn yang berdenyut, pada anak kecil yang gemetar di depannya.

"Mimpi," kata Fengyin, suaranya serak, anak-anak , takut . "Aku... aku sering mimpi. Tentang api. Tentang... tentang orang yang membakar desaku. Desa lama. Desa yang..."

Dia berhenti, seolah-ilah emosi terlalu besar. Seolah-ilah trauma yang nyata.

Meng Tianxiong tertawa—tawa pendek, kering, seperti batu yang digesekkan. "Api. Ya. Api adalah bahasa yang semua orang mengerti. Api adalah... pendidikan . Api mengajarkan tempat kita. Mengajarkan takut . Mengajarkan..."

Dia mengangkat Huǒyàn Jiàn, dan api—api yang nyata, yang merah, yang hidup —melompat dari bilah kristal. Melompat ke tanah, menciptakan lingkaran di sekitar Fengyin, di sekitar Liu Dage, di sekitar bagian dari desa yang belum terbakar.

"Mengajarkan kehancuran," selesaikan Meng Tianxiong, suaranya hampir lembut , hampir seperti guru yang sedang mengajar. "Tapi kamu, anak kecil... kamu sudah tahu kehancuran, ya? Aku bisa melihatnya di matamu. Mata yang terlalu tua untuk wajah yang muda. Mata yang pernah mati ."

Fengyin membeku. Bukan karena api—api itu panas, tapi jaraknya masih aman, masih dikendalikan . Tapi karena kata-kata. Karena pengakuan .

Meng Tianxiong tahu. Atau setidaknya, mencurigai . Tidak sepenuhnya—kalau sepenuhnya, dia sudah menyerang, sudah membunuh, sudah mengambil . Tapi cukup untuk membuat permainan ini berbahaya. Cukup untuk membuat setiap detik berharga.

"Aku... aku tidak mengerti," kata Fengyin, mencoba tampak bingung, tampak anak-anak . "Aku hanya... aku hanya ingin Liu Dage selamat. Dia... dia baik pada aku. Dia..."

"Dia memberimu sesuatu," kata Meng Tianxiong, dan tiba-tiba—tiba-tiba—dia ada di depan Fengyin. Terlalu cepat untuk tubuh sebesar itu. Terlalu dekat . Huǒyàn Jiàn di tangannya berdenyut hampir menyentuh dahi Fengyin, panasnya membakar rambut, membakar kulit . "Liontin. Liontin yang tidak seharusnya ada di desa sekecil ini. Liontin yang..."

Dia berhenti. Menatap mata Fengyin—dan di sana, di dalamnya, melihat sesuatu. Sesuatu yang tidak seharusnya dilihat oleh mata yang hanya mengenal kekuatan, yang hanya mengenal api .

Melihat... bayangan. Bayangan yang tidak bergerak sesuai cahaya. Bayangan yang terlalu gelap . Bayangan yang menatap balik .

"Kamu..." bisik Meng Tianxiong, dan untuk pertama kalinya—pertama kalinya sejak Fengyin mengenalinya—suara itu tidak penuh kepercayaan diri. Tidak penuh kejam . Tapi penuh dengan... ketakutan yang tidak dikenali . "Kamu bukan..."

Dia tidak menyelesaikan. Karena Liu Dage bergerak.

Bukan dengan kekuatan—tua, terluka, terikat. Tapi dengan tekad . Dengan pengorbanan . Dengan tubuhnya sendiri, yang dia lontarkan ke arah Meng Tianxiong, yang dia gunakan sebagai tameng untuk mendorong Fengyin keluar dari lingkaran api.

"LARI!" teriak Liu Dage, suaranya hancur, darahnya mengalir, tubuhnya terbakar oleh Huǒyàn Jiàn yang bereaksi secara insting—tapi terlambat, terlalu dekat , terlalu terkejut untuk dikendalikan.

Fengyin jatuh. Berguling. Keluar dari lingkaran api.

Dan melihat—melihat dengan mata yang terlalu tua, terlalu tahu —Liu Dage terbakar. Terbakar hidup-hidup, dengan senyum yang aneh di wajahnya. Senyum yang lega . Yang puas . Yang berkata: Aku melindungi. Aku menjadi bagian dari cerita.

Sesuatu meledak di dalam Fengyin.

Bukan kristal—tapi batas . Batas antara Cánglóng Yǐn dan kebutuhan untuk bergerak . Batas antara menunggu dan melawan . Batas antara anak laki-laki berusia sepuluh tahun dan jiwa yang telah mati sekali, yang telah kehilangan segalanya, yang telah berjanji untuk tidak kehilangan lagi .

Dia berdiri. Dan kali ini—kali ini—dia tidak berpura-pura.

Yǐng yang telah disembunyikan di dalam bayangan Meng Tianxiong bangkit . Bukan dengan kekuatan penuh—tubuh ini terlalu kecil, terlalu rapuh , Dàojiàn-nya masih retak dari kehidupan sebelumnya. Tapi dengan kecerdikan . Dengan amarah . Dengan teknik yang baru dipelajari dari Master Wei, yang masih mentah , tapi berfungsi .

Bayangan Meng Tianxiong—bayangan yang besar, yang seharusnya hanya mengikuti—melawan. Melawan arah cahaya, melawan arah tubuh, melawan kehendak pemiliknya. Membuatnya terhuyung, terkejut, terbuka .

Dan Fengyin menggunakan Fēng. Menggunakan angin yang masih tersisa, yang masih miliknya , untuk mendorong . Mendorong api—api milik Meng Tianxiong, api yang liar, yang tidak terkendali—ke arah prajurit-prajurit. Ke arah rumah-rumah yang masih berdiri. Ke arah kekacauan .

Bukan untuk membunuh—tentu saja tidak, dia tidak cukup kuat, tidak cukup matang . Tapi untuk mengalihkan. Untuk menciptakan kesempatan .

"Yuelan!" teriaknya, dan Yuelan—yang telah menunggu, yang telah mempersiapkan —muncul dari persembunyiannya. Dengan Shuǐ yang mengalir dari tangannya, yang menciptakan kabut, yang memadamkan api di sekitar Liu Dage—terlambat untuk menyelamatkan, tapi cukup untuk mengambil . Mengambil tubuh yang hangus, yang tidak bernyawa, yang berharga .

Mereka lari. Bukan dengan kecepatan—Fengyin terlalu lemah, kekuatannya terlalu banyak digunakan, terlalu cepat . Tapi dengan Yǐng . Dengan bayangan yang menyembunyikan, yang mengaburkan, yang membuat mereka tidak ada di mata yang mengejar.

Meng Tianxiong berteriak di belakang mereka—teriakan yang bukan amarah, bukan kekalahan , tapi pengakuan . Pengakuan bahwa sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang tidak seharusnya. Sesuatu yang...

"Tiānzé Zhě!" teriaknya, suaranya bergema di lembah, di gunung, di dunia . "Tiānzé Zhě yang hidup! Yang kembali! Yang bersembunyi ! Aku akan menemukanmu! Aku akan membakarmu! Aku akan..."

Tapi kata-kata itu terputus. Karena Fengyin sudah jauh. Sudah hilang . Sudah kembali ke bayangan-bayangan tempat dia berasal.

Dengan tubuh Liu Dage di punggungnya. Dengan Yuelan di sampingnya. Dengan kekacauan di belakangnya.

Dan dengan sesuatu yang baru. Sesuatu yang meledak di dalam dada, di tempat yang pernah kosong, yang pernah takut .

Tekad. Bukan untuk melindungi—karena melindungi saja tidak cukup. Liu Dage telah mati karena melindungi .

Tapi untuk mengubah . Untuk menghancurkan sistem yang membuat pengorbanan menjadi perlu . Untuk mengalahkan Meng Tianxiong—bukan hanya sebagai Tiānzé Zhě, tapi sebagai seseorang yang kehilangan teman. Yang kehilangan lagi .

Mereka berhenti di tepi sungai—sungai yang sama tempat mereka berkemah dua malam lalu. Tempat yang aman , atau setidaknya, lebih aman.

Fengyin meletakkan tubuh Liu Dage dengan lembut. Tubuh yang hangus, yang tidak bisa dikenali, yang berharga . Dia menutupi mata pria itu—mata yang masih terbuka, yang masih melihat , meski tidak lagi melihat apa-apa.

"Aku minta maaf," bisiknya, suaranya pecah, akhirnya menangis . "Aku seharusnya... aku seharusnya lebih cepat. Lebih kuat. Lebih..."

"Kamu melakukan yang bisa kamu lakukan," kata Yuelan, suaranya juga pecah, tapi tegar . Lebih tegar dari yang diharapkan dari anak sebelas tahun. "Liu Dage memilih. Dia memilih untuk melindungi. Seperti kamu memilih untuk keluar. Seperti aku memilih untuk mengikut. Kita semua... kita semua memilih."

Dia berjongkok di samping Fengyin, tangan kecilnya mencengkeram tangan yang lebih kecil.

"Dan sekarang," lanjut Yuelan, *"kita memilih lagi. Apa yang akan kita lakukan? Kembali ke Cānglóng Pài? Atau... atau melanjutkan?"

Fengyin menatapnya. Menatap air sungai yang mengalir, yang membawa refleksi cahilan bulan, yang meneruskan .

"Kita kembali," kata dia akhirnya. "Tapi tidak untuk bersembunyi. Untuk mempersiapkan . Meng Tianxiong tahu sekarang. Dia akan mencari. Dia akan membakar lebih banyak desa, lebih banyak ladang, lebih banyak hidup ... sampai dia menemukanku."

Dia berdiri, tubuhnya masih lemah, masih rapuh , tapi tegak .

"Maka aku harus membuatnya tidak perlu mencari. Aku harus menjadi kuat—kuat enough untuk menghadapinya. Untuk mengalahkannya. Untuk mengakhiri ini, sebelum lebih banyak Liu Dage yang mati."

Yuelan mengangguk. Tidak dengan antusiasme—tapi dengan komitmen . Dengan pengertian bahwa ini bukan lagi petualangan. Bukan lagi latihan. Tapi perang .

Mereka berjalan kembali ke Cānglóng Pài. Membawa tubuh Liu Dage—untuk dimakamkan dengan hormat, untuk diceritakan, untuk dihormati .

Membawa berita tentang apa yang terjadi. Tentang apa yang akan datang.

Membawa api —bukan api milik Meng Tianxiong, tapi api yang lebih tua, lebih dalam . Api yang dinyalakan oleh pengorbanan, oleh kehilangan, oleh tekad untuk tidak membiarkan itu terjadi lagi.

Api yang akan membakar Dunasti Wuji Chao. Perlahan. Tapi pasti .

Di belakang mereka, di Kampung Daun Bayangan, Meng Tianxiong berdiri di tengah kehancuran yang diciptakannya sendiri. Di tengah api yang tidak sepenuhnya terkendali. Di tengah kekacauan yang tidak diharapkan.

Dia menatap ke arah hutan. Ke arah tempat bayangan telah membawa Tiānzé Zhě yang tersembunyi.

Dan tersenyum—senyum yang, untuk pertama kalinya, mencapai mata yang panas. Senyum yang gembira

"Akhirnya," bisiknya. "Akhirnya, permainan yang layak. Permainan yang menantang ."

Dia mengangkat Huǒyàn Jiàn, dan api berkobar lebih tinggi. Lebih tinggi .

Menunggu. Menyambut. Mempersiapkan .

Pertempuran yang akan datang.

[ Bersambung... ]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!