Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bius manis di sangkar emas
Setelah menempuh perjalanan yang sunyi dan tegang, Marco membelokkan motornya ke sebuah kawasan elite yang tersembunyi di balik perbukitan pinggiran kota.di sana berdiri sebuah rumah megah dengan arsitektur klasik yang tampak sangat tenang,untuk apa yang sedang terjadi di dalamnya.
Rumah ini adalah "Safe House" yang disewa oleh pimpinan Satanik kota tersebut. Dari luar, rumah ini terlihat seperti kediaman pengusaha kaya yang terhormat—sebuah cover atau kedok yang sangat rapi untuk menipu mata hukum dan masyarakat.Pagar besi tinggi yang otomatis terbuka saat Marco mendekat, halaman rumput yang dipangkas simetris, dan lampu-lampu taman yang bersinar hangat. Tidak ada kesan seram, yang ada hanyalah kemewahan yang dingin.
Saat pintu jati besar terbuka, Laura terpana melihat bagian dalamnya. Lantai marmer yang mengkilap, vas bunga segar di setiap sudut, dan furnitur kayu mahal. Semuanya tertata sangat rapi, seolah-olah disiapkan oleh pelayan profesional.Namun, Laura merasakan sesuatu yang ganjil. Meski rapi, rumah ini tidak memiliki foto keluarga. Di dindingnya tidak ada lukisan pemandangan, melainkan simbol-simbol geometris abstrak yang jika diperhatikan lebih lama, menyerupai pola-pola magis.
Marco membimbing Laura menuju ruang tengah yang luas. Di sana, sudah duduk beberapa pria dan wanita berpakaian formal yang tampak seperti pejabat atau pebisnis sukses. Mereka adalah anggota inti Satanik kota itu yang menggunakan status sosial mereka sebagai perisai.
"Selamat datang, Laura," suara seorang pria paruh baya yang duduk di sofa utama memecah keheningan. Ia tampak sangat ramah, namun sorot matanya tajam dan tidak berkedip. "Jangan takut. Di rumah ini, kerapian adalah aturan utama. Karena dalam kerapian, kita menyembunyikan kekuatan yang besar."
Laura mencengkeram kain hitam pemberian Marco. Ia merasa asing. Ia lebih memilih hutan mencekam tadi daripada berada di ruangan mewah yang penuh dengan orang-orang "sempurna" yang memujanya sebagai Pusaka Baru.tak lama kemudian,Marco membawa Laura ke sebuah kamar di lantai atas. Kamar itu sangat cantik, dengan tempat tidur king size dan jendela besar yang menghadap ke arah kota.
"Ini kamarmu, Laura. Di sini kau aman."
Laura menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia tidak lagi melihat siswi SMA yang malang, melainkan seorang gadis yang dikelilingi oleh kemewahan yang dibayar dengan darahnya sendiri.
Lampu gantung kristal di langit-langit rumah itu berpijar redup, memantulkan cahaya keemasan yang seirama dengan denyut di telapak tangan Laura. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Laura tidak perlu menyembunyikan tangannya yang gemetar. Di sini, di tengah keheningan rumah yang tertata rapi ini, aura yang selama ini membuatnya dianggap "aneh" atau "terkutuk" justru terasa menyatu dengan udara.
"Jadi, ini alasannya..." bisiknya pada diri sendiri. Selama ini ia merasa seperti potongan puzzle yang dipaksa masuk ke gambar yang salah. Di sekolah, di gereja, bahkan di meja makan bersama Oma, ia selalu merasa gelisah. Namun di sini, kegelapan itu terasa seperti selimut yang pas. Ia merasa genap.Di dinding-dinding rumah ini, simbol-simbol yang selama ini menghantuinya dalam mimpi buruk justru dipajang sebagai kehormatan. Ia merasa seolah-olah seluruh kerisauan dan keganjilan dalam dirinya selama ini akhirnya menemukan jawaban.Namun, saat ia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang berbingkai emas, nuraninya memberontak. Rasa puas itu seketika hancur saat wajah Oma yang teduh terlintas di pikirannya.
"Oma..." suara Laura tercekat.
Ia membayangkan suasana di rumah Oma saat ini. Telepon dari pihak sekolah pasti sudah masuk. Ia bisa melihat Oma jatuh terduduk di kursi dengan lemas sambil meneteskan air mata,dan berdoa untuknya.
Ia juga memikirkan teman-temannya yang masih di sana, menangis dan ketakutan karena merasa lalai menjaganya. Ia merasa seperti seorang kriminal yang membiarkan orang-orang tak bersalah menanggung dosanya.
Laura mendekati jendela besar, menatap ke arah luar di mana lampu-lampu kota mulai menyala di kejauhan. Dunia luar tampak begitu dekat, namun terasa seperti planet yang berbeda.
"Aku tidak bisa kembali," isaknya pelan, air mata menetes membasahi gaun hitam mahal yang ia kenakan.
Ia tahu, jika ia pulang sekarang, ia hanya akan membawa bencana bagi Oma. Ia bukan lagi Laura yang bisa duduk manis di bangku sekolah. Darahnya telah "bangun". Jika ia kembali, orang-orang berjubah di bawah sana,akan mengikutinya sampai ke rumah majikan dan berdiri langsung di hadapan Oma.
Dunia normal telah menutup pintunya bagi Laura. Ia kini adalah hantu yang masih bernapas, terjepit di antara tempat yang memahaminya (rumah ini) dan tempat yang mencintainya (rumah majikan).
Waktu perlahan mengaburkan perih di hati Laura. Hari berganti minggu, dan mansion megah itu tidak lagi terasa seperti penjara, melainkan sebuah suaka yang melindunginya dari dunia luar yang kejam dan menghakimi. Di sini, tidak ada bisikan tetangga tentang "anak pembawa sial", tidak ada tatapan ngeri dari teman sekolah, dan tidak ada tuntutan untuk menjadi "normal" seperti yang selalu diharapkan Oma.Setiap sudut rumah ini dirancang untuk memanjakan Laura. Para anggota organisasi—yang di luar sana mungkin adalah pengusaha sukses atau pejabat terhormat—kini bersujud di hadapannya dengan penuh hormat.
Mereka tidak takut pada pendar emas di tangannya; mereka justru memujanya. Mereka menyebutnya "Sang Pusaka" atau "Cahaya yang Dinanti". Rasa diterima ini adalah racun manis yang mulai meresap ke dalam batin Laura yang selama ini haus akan pengakuan.Marco selalu ada di sisinya. Ia bukan lagi pria misterius yang kasar, melainkan pelindung yang lembut. Ia membawakan buku-buku kuno, menyiapkan teh melati kesukaan Laura, dan mendengarkan setiap keluh kesah Laura tentang masa lalunya. "Di sini, kau adalah ratu, Laura. Bukan kutukan," bisik Marco suatu sore di perpustakaan pribadi rumah besar.
Segala kebutuhannya terpenuhi. Pakaian terbaik, makanan lezat yang tertata rapi, dan rutinitas meditasi yang membantunya mengendalikan energi emas di dalam darahnya. Ketenangan ini membuatnya perlahan melupakan hiruk-pikuk pencarian polisi di pegunungan.
Nuraninya yang dulu berteriak kencang, kini hanya berupa bisikan lirih yang timbul tenggelam. Laura mulai terbuai oleh kehangatan semu ini. Ia merasa seolah-olah inilah takdir sejatinya.
"Mungkin ini memang tempatku," pikirnya saat menatap pantulan dirinya di cermin, mengenakan gaun hitam dengan sulaman benang emas yang rumit. "Oma pasti sudah merelakanku. Di sini, aku tidak menyakiti siapa pun."
Namun, di balik senyum ramah para anggota dan perhatian tulus Marco, ada sesuatu yang tidak pernah mereka tunjukkan: tujuan akhir mereka. Mereka memperlakukannya dengan sangat baik karena Laura adalah "kunci". Seekor burung dalam sangkar emas tetaplah tawanan, meski sangkarnya bertabur permata.
Suasana di ruang tengah rumah itu mendadak berubah formal. Cahaya lilin-lilin aromaterapi yang biasanya menenangkan, kini terasa seperti barisan penjaga yang kaku. Pimpinan Satanik duduk di kursi kebesarannya, sementara Marco berdiri di samping Laura, tangannya masih setia di bahu gadis itu—namun kali ini, cengkeramannya terasa sedikit lebih dingin.
"Black Sabbath segera tiba. Ini adalah hari raya terbesar kita, saat gerbang antara dunia ini dan Sang Leluhur terbuka lebar. Kita membutuhkan Darah Segar—darah yang murni, yang belum ternoda oleh dosa dunia, untuk sebuah perjamuan darah" ucap pimpinan Satanik yang duduk tepat di hadapan Laura.
Marco membungkuk sedikit, menatap mata Laura dengan intensitas yang tak biasa.
"Kita tidak bisa sembarangan mengambilnya, Laura.Itulah sebabnya kita butuh rencana yang rapi. "Salah satu teman lamaku, seorang pegawai bank, baru saja memiliki bayi. Mereka tinggal di rumah yang sangat terisolasi. Mereka sedang mencari pengasuh anak (babysitter) yang bisa dipercaya," jelas Marco.
"Kau akan masuk ke sana.dalam penyamaran sebagai seorang baby siter .kau harus terlihat seperti gadis desa yang lugu dan penurut. Tugasmu hanya satu: memastikan bayi itu 'siap' saat malam Black Sabbath tiba."
Pimpinan menimpali, "Hanya darah yang diambil melalui tangan seorang 'Pusaka' yang memiliki frekuensi emas seperti kau, yang bisa membawa darah perjamuan bagi sang bintang timur pembawa cahaya.Ini adalah pengabdianmu yang pertama."
Laura merasa mual. Nuraninya yang selama ini terbius oleh kenyamanan rumah mewah itu,mendadak tersengat hebat. Menjadi babysitter? Mengambil nyawa yang tak berdosa?
"Tapi... apakah harus dengan cara seperti itu?" tanya Laura, suaranya bergetar. "Kalian bilang tempat ini adalah tentang kedamaian dan kekuatan."
Marco menggenggam tangan Laura, memberikan kehangatan semu yang selama ini membuainya. "Ini adalah pengorbanan kecil untuk tujuan yang lebih besar, Laura. Jika kita berhasil, kau tidak perlu lagi bersembunyi. Kau akan menjadi ratu yang sesungguhnya. Bukankah kau ingin Oma melihatmu sebagai sosok yang berkuasa, bukan buronan?"
Mendengar nama Oma, Laura tertunduk. Ia merasa terjebak. Ia mencintai kehangatan di rumah ini, tapi ia membenci kegelapan yang mulai mereka minta darinya.
Pimpinan Satanik memberikan sebuah koper kecil berisi pakaian pelayan yang sederhana dan sebuah kalung perak dengan bandul kecil yang berisi cairan bening.
"Cairan ini akan membuatnya tertidur lelap tanpa rasa sakit," ucap Pimpinan dengan senyum tipis. "Besok pagi, Marco akan mengantarmu. Ingat Laura, jangan ada keraguan. Keraguan adalah noda pada darah emasmu."