NovelToon NovelToon
Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”

Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.

Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.

Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.

Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Shang Lun (3)

“Hahaha, itu dia! si Anak pembawa sial!” teriak seorang anak sambil menunjuk.

“Iya! Dia bahkan tidak punya ibu dan ayah!” timpal yang lain dengan tawa mengejek.

“Dasar pembawa sial! Pergi kau dari desa ini! hahaha” sahut anak ketiga.

“A-aku bukan pembawa sial!” balas bocah itu dengan suara lantang, meski suaranya bergetar.

Anak kecil itu tak lagi mampu menahan amarahnya. Ia berlari ke arah mereka dan mulai memukuli ketiga anak itu secara membabi buta. Di desa kecil yang seharusnya tenang itu, bahkan seorang anak bisa dirundung tanpa ada satu pun warga yang benar-benar peduli.

Ketiga anak yang semula mengejeknya kini terjatuh dan membalas pukulan, namun bocah itu seperti kehilangan kendali. Ia terus menghajar mereka hingga salah satu dari ketiga anak itu tersungkur tak berdaya.

Dalam kepanikan dan amarah, tangannya meraih sebuah batu besar dari tanah.

Dengan napas terengah dan mata memerah, ia mengangkat batu itu tinggi-tinggi.

“Aku bukan pembawa sial!” teriaknya sekuat tenaga.

Plash!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya sebelum batu itu sempat diayunkan ke arah kepala bocah yang tersungkur itu.

Orang tua dari anak-anak yang merundungnya datang dengan wajah murka.

“Apa yang kau lakukan, dasar anak sialan?! Pergi dari sini!” bentak salah satu ayah sambil mendorongnya kasar.

Bocah itu terjatuh ke tanah. Tak ada satu orang pun yang membelanya. Tak ada juga yang bertanya padanya kenapa ia diperlakukan seperti itu.

Nasib sial dan kemalangan seolah olah selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi.

Saat ia berjalan pergi dengan kepala tertunduk, pipinya masih terasa perih, seseorang berdiri di hadapannya.

Seorang lelaki Muda.

Tubuhnya kekar, rambutnya panjang serta terikat kebelakang, sorot mata yang dalam. Ekspresinya datar, nyaris tanpa emosi.

“Nak,” ucap lelaki itu dengan tenang, “aku melihatmu kesusahan seorang diri. Namun tekad di matamu… membangkitkan gairah di hatiku. Maukah kau ikut denganku?”

Bocah itu mendongak. Usianya baru tujuh tahun.

Di momen itu, ia seakan mendapatkan keberuntungan.

Namun keberuntungan itu bukanlah cahaya—melainkan bayangan panjang yang akan menelan masa depannya.

Seandainya pemimpin Aliansi Murim yang menemukannya hari itu, mungkin hidupnya akan berbeda. Mungkin ia akan tumbuh menjadi pendekar yang lurus dibawah naungan faksi putih.

Namun orang yang berdiri di hadapannya bukanlah sosok kebaikan.

Ia adalah calon pemimpin Kultus Demonic—seorang remaja yang belum resmi menjadi pewaris, namun sudah memiliki ambisi dan kegelapan di dalam hatinya.

Dan nama bocah yang selalu dianggap pembawa sial itu adalah…

Shang Lun.

Kilas balik dari ingatan Shang Lun membuat pikirannya tak lagi jernih. Wajah-wajah dari masa lalunya, ejekan, hinaan, dan tangan yang pernah menariknya keluar dari jurang kematian terus berputar didalam benaknya. Di sela-sela kehancuran yang ia ciptakan, ia sering kali merenungkan setiap tindakannya.

“Mengapa aku mau? Mengapa aku harus patuh pada seseorang seperti itu?” gumamnya pelan. “Mungkin jawabannya adalah kesetiaan… kesetiaan yang lahir saat pemimpin kultus yang dicap sebagai pendekar paling kejam menyelamatkanku dari neraka.”

Ia masih berdiri di tengah kobaran api di ladang. Bara berjatuhan di sekelilingnya, namun langkahnya tetap tenang dan biasa saja, seolah olah api adalah temannya dan api tak akan mampu menyentuhnya.

Shang Lun menggenggam gagang pedang besarnya, lalu menariknya keluar dari sarung dengan perlahan. Cahaya merah merona dari api memantul di bilah logam yang lebar itu.

Ia mulai berjalan sambil menyeret pedangnya di tanah.

Suara gesekan logam dengan batu terdengar berat dan panjang. Jejak dalam terukir di sepanjang jalannya—sebuah ciri khas yang hanya dimiliki oleh Shang Lun.

Tak jauh dari sana, di sebuah kuil dekat Desa Puncak Teratai, suasana khusyuk tengah menyelimuti ruangan. Seorang pertapa tua sedang memimpin doa, diikuti murid-muridnya yang duduk bersila.

Tiba-tiba, teriakan panik memecah ketenangan.

“Api! Api yang sangat besar di ladang! Cepat kesana, ayo kita padamkan!” teriak seseorang dengan napas terengah-engah setelah berlari memberi kabar.

Pertapa itu membuka mata dan segera mengakhiri doanya. Ia berdiri dengan wajah serius, lalu bergegas keluar, diikuti oleh para muridnya.

Begitu melihat kepulan asap hitam membumbung tinggi di kejauhan, ia menarik napas panjang.

“Amitabha… dari mana asal api sebesar itu?” gumamnya.

Ia segera memberi perintah dengan tegas, “Salah satu dari kalian, cepat hubungi pemimpin Aliansi Murim! Kita mungkin membutuhkan bantuannya di sini. Tiga lainnya, panggil seluruh murid dan beritahu mereka untuk segera berkumpul di lokasi kebakaran. Sisanya, ikuti aku membantu warga memadamkan api!”

Para murid segera bergerak sesuai perintah. Ketenangan kuil berubah menjadi hiruk-pikuk kepanikan.

Di kejauhan, kobaran api terus membesar—dan tepat di tengahnya, Shang Lun sedang berjalan perlahan, ia datang membawa badai.

Pertapa tua itu berlari secepat yang ia bisa menggunakan teknik langkah ringan khas Kuil Buddha, diikuti oleh murid-muridnya yang mengerahkan seluruh tenaga mereka. Meski usianya telah renta, kecepatannya tetap mengagumkan. Mereka tiba lebih dahulu dibanding para warga dan murid-murid lain yang masih menyusul dari belakang.

Pertapa itu hanya membawa sepuluh murid terdekatnya.

Begitu tiba di tepi ladang yang dilalap api, ia mencoba mencari sumber kobaran api tersebut. Namun belum sempat ia memahami situasinya, insting bertarungnya tiba-tiba bergetar keras—sebuah peringatan akan bahaya yang tak kasatmata akan menghampiri mereka.

“CEPAT MERUNDUK!” teriaknya sambil menoleh ke arah murid-muridnya.

Ia segera mengulurkan kedua tangan dan menarik dua murid yang berdiri paling dekat dengannya hingga jatuh ke tanah. Namun ia yang hanya memiliki dua tangan tak bisa menyelamatkan sisanya.

Delapan murid lainnya masih berdiri terpaku, mereka tak sempat bereaksi.

Dalam sepersekian detik, sesuatu yang tajam melintas di udara—hampir tak terlihat oleh mata biasa.

Sunyi sesaat mulai menyelimuti tempat itu.

Lalu tubuh delapan murid tersebut mulai goyah. Kepala mereka telah terpisah dari badan sebelum mereka menyadari apa yang terjadi. Tubuh-tubuh itu roboh satu per satu ke tanah yang telah hangus terbakar.

Dua murid yang selamat membeku dalam ketakutan.

Pertapa tua itu perlahan bangkit. Wajahnya tetap tenang meski kesedihan jelas terpancar di matanya. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

“Amitabha… siapakah dirimu yang tega membuat kekacauan sebesar ini?” ucapnya sambil berdiri tegak.

Dari balik kepulan asap dan cahaya api, sebuah sosok melangkah maju.

Shang Lun.

Ia berjalan perlahan sambil menyeret pedang besarnya di tanah, meninggalkan bekas panjang di permukaan yang telah terbakar.

“Pak tua,” ucap Shang Lun dengan nada dingin, “kukira dirimu hanyalah tulang belulang yang rapuh. Tak kusangka kau mampu menghindari tebasan pedangku.”

Pedang besar itu masih bergesekan dengan tanah dan batu, suaranya berat dan menggetarkan suasana diladang yang dipenuhi api.

1
sutrisno akbar
lanjut thor lg seru
Hasan Basri
ceritanya semakin menarik👍
Rania: Terima kasih, semoga betah😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!