"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Perburuan
Hawa dingin kota nosterland menusuk hingga ke tulang, namun Vandiko Elhaz hanya mengenakan kemeja tipis saat melangkah keluar dari stasiun bawah tanah King’s Cross
Statusnya saat ini Buronan Internasional Setelah ledakan di Palung, Isabella Wijaya berhasil memfitnah Vandiko sebagai teroris global, dan seluruh aset triliunannya telah dibekukan oleh Bank Sentral .
Vandiko kini tidak punya apa-apa, kecuali satu hal
Chip Enkripsi yang ia curi dari Project Zero sebelum meledak
[Ting! Status Sistem: Mode Darurat (Low Power).]
[Saldo Tunai: £5 (Kompensasi dari pengkhianatan Isabella).]
[Misi Baru: Temukan 'The Architect' di distrik bawah tanah Nosterland.]
"Lima poundsterling," gumam Vandiko sambil menatap uang kertas di tangannya
"Isabella, kau benar-benar ingin aku merasakan kemiskinan dari titik nol lagi."
Vandiko berjalan menuju sebuah bar kumuh di pinggiran kota
Di sana, ia harus bertemu dengan seorang informan bernama The Architect, satu-satunya orang yang bisa membuka data di dalam chip tersebut tanpa terdeteksi oleh radar satelit Wijaya Group
Namun, baru saja ia hendak masuk, tiga mobil SUV hitam berhenti mendadak di depannya
Sepuluh pria berjas dengan senjata peredam suara keluar
"Tuan Elhaz," ucap salah satu agen dengan aksen Inggris yang kaku
"Nona Isabella mengirim salam
Dia bilang, Nosterland adalah labirin yang akan menjadi kuburanmu."
Vandiko tersenyum tipis, Meskipun sistemnya sedang dalam mode daya rendah
kemampuan analisisnya masih jauh di atas manusia biasa
"Nosterland memang labirin,"
sahut Vandiko
"Tapi kalian lupa, akulah yang memegang petanya."
[Ting! Menggunakan satu Poin Kompensasi: Aktifkan 'Jammer Elektronik' radius 5 meter!]
Seketika, lampu jalanan mati dan senjata elektronik para agen tersebut terkunci
Vandiko bergerak secepat kilat, Ia tidak menggunakan kekuatan super, melainkan teknik bela diri efisien yang ia pelajari dari data sistem
Dalam tiga puluh detik, sepuluh agen terlatih itu terkapar di aspal tanpa sempat menarik pelatuk.
Vandiko mengambil salah satu ponsel milik agen tersebut, melakukan peretasan instan, dan mentransfer dana operasional mereka ke akun anonim miliknya.
[Saldo Bertambah: £50,000 (Hasil Jarahan).]
"Gia, kau mendengarku?"
Vandiko berbicara melalui alat komunikasi mikro
"Saya di sini, Tuan
Saya sedang bersembunyi di gudang pelabuhan
Isabella telah mengambil alih seluruh menara kita di egetre
Kita benar-benar sendirian sekarang," suara Gia terdengar cemas
"Jangan khawatir, Gia
Biarkan dia merasa menang untuk sementara," ucap Vandiko sambil melangkah masuk ke dalam bar gelap itu
"Semakin tinggi dia membangun istananya, semakin keras suaranya saat aku meruntuhkannya nanti."
Di dalam bar, seorang pria tua dengan kacamata tebal sedang menunggu di pojok ruangan
Itu adalah The Architect.
"Kau membawa chip itu?" tanya si tua tanpa basa-basi
Vandiko meletakkan chip Project Zero di meja. "Buka isinya, Aku ingin tahu siapa saja nama yang ada di 'The Black Ledger'."
Saat data mulai terbuka di layar laptop tua itu, wajah The Architect memucat.
"Vandiko... ini bukan sekadar daftar koruptor. Ini adalah daftar pemilik dunia
Jika kau menyentuh satu nama saja di sini, seluruh ekonomi bisa runtuh dalam semalam."
Vandiko menatap barisan nama-nama paling berpengaruh di dunia itu dengan mata yang dingin
"Bagus
Aku memang tidak berniat menyentuh mereka, Aku berniat memiliki mereka."
ucap Vandiko di dalam hati dengan wajah tersenyum senang