NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Naskah Darurat

​Empat puluh hari. Angka itu tertera di papan tulis putih besar di ruang kerja utama A&A Pictures, berubah menjadi tiga puluh sembilan, tiga puluh delapan, dan kini, dua puluh lima. Papan itu bukan lagi sekadar penunjuk waktu, melainkan pedang Damocles yang menggantung di atas kepala Arlan dan Adelia. Tekanan untuk menyelesaikan naskah final film layar lebar pertama mereka, “Detak Jakarta: The Movie”, dalam waktu sesingkat itu mulai mengubah dinamika studio yang sempat harmonis kembali menjadi medan perang emosi.

​Ruangan kerja mereka berantakan. Kertas storyboard berserakan di lantai, cangkir kopi kosong menumpuk di meja, dan papan tulis penuh dengan coretan alur cerita yang terus berubah. Arlan, yang biasanya perfeksionis namun tenang, kini sering terlihat mondar-mandir dengan wajah kaku. Matanya merah kurang tidur, dan ia lebih sering membentak tim kreatif jika mereka lambat dalam menyajikan referensi visual.

​Adelia berusaha menjadi penyeimbang. Ia duduk di mejanya, memilah naskah yang direvisi Arlan setiap malam. Namun, bahkan kesabaran Adelia memiliki batas.

​"Arlan," panggil Adelia pada suatu malam, pukul dua dini hari. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. "Dialog di adegan adegan ke-tujuh puluh ini tidak masuk akal. Karakter utamanya terlalu melankolis, padahal di adegan sebelumnya dia digambarkan sebagai pria yang tangguh."

​Arlan, yang sedang menatap layar monitor dengan intens, mengabaikan perkataan Adelia. "Itu untuk menunjukkan kerentanannya, Adel. Kamu tidak mengerti artistiknya."

​Adelia menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan amarah. "Aku mengerti cerita, Arlan! Aku editor naskahmu. Kalau karakternya tidak konsisten, penonton akan bingung. Ini bukan lagi soal artistik, ini soal logika cerita."

​Arlan berbalik, wajahnya terlihat frustrasi. "Kenapa kamu terus-menerus mempertanyakan keputusanku, Adel? Aku sutradaranya! Aku yang tahu bagaimana film ini harus berjalan!"

​Perkataan Arlan menohok Adelia. Ini pertama kalinya Arlan bersikap seolah Adelia hanyalah bawahan, bukan mitra setara. Adelia terdiam, menatap Arlan dengan rasa kecewa yang mendalam. Air mata menggenang di matanya, namun ia menolak untuk menangis. Ia berdiri, membereskan berkas-berkasnya.

​"Aku akan kembali ke apartemen," ujar Adelia dingin. "Kita bahas ini besok pagi. Kalau kamu masih mau mendengarkan."

​Adelia berjalan keluar studio, meninggalkan Arlan yang terpaku. Ia sadar ia salah, namun egonya terlalu tinggi untuk memanggil Adelia kembali. Ia kembali menatap layar monitor, namun tulisannya kini terlihat kabur. Kesepian mulai merayap masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas.

​Di apartemen, Adelia terduduk di sofa, menatap dinding kosong. Ia ingat janji Arlan untuk tidak melanggar batasan istirahat. Namun, impian layar lebar ternyata lebih kuat daripada janji itu. Adelia merasa terasing dalam hubungan yang seharusnya saling mendukung. Ia mencintai Arlan, tapi ia tidak tahu apakah ia bisa bertahan dalam kondisi seperti ini.

​Keesokan harinya, suasana di studio terasa canggung. Kru bekerja dalam diam, takut memicu kemarahan Arlan. Arlan sendiri bekerja dengan efisiensi tinggi, seolah-olah Adelia tidak ada di sana. Adelia, di sisi lain, melakukan pekerjaannya dengan profesional namun dingin.

​"Arlan," ujar Adelia saat makan siang, suaranya datar. "Tim pemasaran meminta draf konsep visual untuk materi promosi. Mereka butuh besok."

​Arlan tanpa menoleh menjawab, "Katakan pada mereka, aku akan memberikannya setelah naskah ini selesai."

​Adelia menghela napas. "Arlan, ini bagian dari deal dengan GlobalStream. Kita tidak bisa menunda ini."

​Arlan akhirnya menoleh, matanya tajam. "Adel, bisa tidak kamu fokus pada naskah saja? Biarkan aku yang mengurus pemasaran. Aku tahu apa yang kubuat."

​Adelia berdiri, wajahnya merah menahan amarah. "Aku tahu kamu sutradaranya, Arlan! Tapi aku mitra bisnismu! Jangan perlakukan aku seolah aku tidak tahu apa-apa tentang studiomu sendiri!"

​Arlan ikut berdiri, suaranya naik. "Studio ini sukses karena aku! Karena visi-ku! Kamu cuma editor naskah!"

​Perkataan itu seperti belati yang menghujam jantung Adelia. Ia menatap Arlan dengan tatapan tidak percaya, lalu berjalan pergi meninggalkan studio.

​Kru studio terdiam, shock mendengar pertengkaran hebat itu. Reihan Malik, yang berada di studio untuk sesi latihan, menghampiri Arlan.

​"Arlan, itu keterlaluan," ujar Reihan tenang namun tegas. "Adelia adalah alasan studio ini masih berdiri tegak. Tanpa dia, kamu hanyalah sutradara berbakat yang hancur karena egonya sendiri."

​Perkataan Reihan menampar Arlan keras. Ia terduduk di kursinya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia sadar ia telah menghancurkan satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya.

​Malam itu, Arlan kembali ke apartemen lebih awal. Apartemen terasa gelap dan dingin. Adelia ada di kamar tamu, pintunya terkunci. Arlan duduk di depan pintu kamar tamu, suaranya parau.

​"Adel... maafkan aku," bisik Arlan, air mata mengalir di pipinya. "Aku... aku takut gagal. Aku takut film ini tidak sempurna. Dan aku... aku mengambil rasa takutku itu dan melimpahkannya kepadamu. Aku salah, Adel. Tolong maafkan aku."

​Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Arlan terus duduk di sana, menyesali setiap kata-kata kejam yang ia ucapkan.

​Pagi harinya, pintu kamar tamu terbuka. Adelia berdiri di sana, wajahnya terlihat lelah dan sembab. Arlan berdiri, menatapnya dengan harapan.

​"Arlan," suara Adelia lirih. "Aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa hidup dalam ketakutan bahwa kamu akan membentakku setiap kali kamu stres. Aku mitra bisnismu, kekasihmu. Bukan sasaran amarahmu."

​Arlan melangkah maju, memeluk Adelia erat. Adelia tidak membalas pelukan itu, namun tidak juga mendorongnya.

​"Aku tahu, Adel. Aku tahu," tangis Arlan pecah. "Aku akan berubah. Tolong... jangan tinggalkan aku."

​Adelia menghela napas, perlahan membalas pelukan Arlan. "Kita punya waktu dua puluh hari lagi untuk naskah ini, Arlan. Kita harus menyelesaikannya. Bersama-sama. Bukan sebagai sutradara dan editor, tapi sebagai mitra."

​Arlan mengangguk. Ia tahu ini adalah kesempatan terakhirnya untuk memperbaiki semuanya. Mereka kembali ke studio, kali ini dengan komitmen baru. Arlan meminta maaf kepada seluruh tim atas sikapnya.

​Sisa dua puluh hari berlalu dengan ketegangan yang lebih terukur. Arlan lebih mendengarkan masukan Adelia, dan Adelia membantu Arlan mengelola stresnya. Mereka bekerja keras, namun mereka tidak lagi melupakan istirahat. Mereka tetap makan bersama, mengobrol, dan memastikan satu sama lain dalam kondisi baik.

​Hari keempat puluh tiba. Naskah final “Detak Jakarta: The Movie” selesai. Arlan dan Adelia duduk berdampingan, menatap tumpukan kertas naskah yang kini sudah terjilid rapi.

​"Kita berhasil, Adel," ujar Arlan pelan, suaranya penuh haru.

​"Ya, kita berhasil," jawab Adelia, menggenggam tangan Arlan. "Tapi aku tidak mau lagi kita bekerja seperti ini, Arlan."

​Arlan mengangguk, menatap Adelia dengan janji di matanya. "Aku janji, Adel. Proyek ini adalah yang terakhir kali kita bekerja hingga batas kemampuan kita. Setelah ini... Bali menunggu kita."

​Mereka menatap papan tulis putih yang kini bersih dari hitungan mundur. Tantangan berikutnya adalah syuting, namun untuk saat ini, mereka merayakan keberhasilan menyelesaikan naskah impian mereka. Kepercayaan antara mereka telah teruji, dan meskipun sempat retak, kini terasa lebih kuat dari sebelumnya.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!