Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Dua Sahabat, Satu Rahasia
Malam belum juga berakhir.
Lampu merah ruang operasi masih menyala, seakan menjadi satu-satunya cahaya yang menentukan hidup dan mati di lorong itu.
Orang-orang berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Mahasiswa berbisik pelan. Profesor duduk dalam diam. Tangis tertahan masih terdengar di beberapa sudut.
Di tengah kerumunan itu, Alexander berdiri dengan tubuh tegang. Camille duduk tak jauh darinya, wajahnya pucat dan sembab. Daniel bersandar pada dinding, pucat setelah donor darah, namun tetap menolak duduk.
Tiba-tiba suasana lorong sedikit berubah.
Langkah kaki tegas terdengar mendekat.
Beberapa orang otomatis menoleh.
Seorang pria berusia pertengahan lima puluhan berjalan cepat namun tetap berwibawa. Jas gelapnya rapi, rambutnya disisir sempurna meski wajahnya menunjukkan kecemasan yang tak bisa disembunyikan.
Itu adalah Eduardo Alejandro Castillo, ayah Alexander. Pemilik yayasan kampus dan jaringan rumah sakit tempat Valeria menempuh pendidikannya.
Kabar tentang mahasiswi terbaik yang kritis telah sampai padanya hanya dalam hitungan menit. Telepon dari dekan, pesan dari direksi rumah sakit, bahkan notifikasi dari grup internal yayasan membuat dadanya terasa berat.
Entah mengapa, saat mendengar nama Valeria—
Hatinya ikut bergetar.
Bukan sekadar karena ia mahasiswi berprestasi.
Tapi ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
Ia melangkah menembus kerumunan.
Banyak wajah yang tak dikenalnya.
Mahasiswa.
Dokter.
Orang tua sederhana yang berdiri dengan mata sembab.
Ia hanya mengenali dua orang dengan jelas.
Alexander.
Dan Camille, putri rekan bisnisnya.
“Alexander,” panggilnya.
Alexander menoleh cepat.
“Dad…”
Ada sesuatu dalam suara putranya yang jarang ia dengar.
Ketakutan.
Eduardo mendekat.
“Bagaimana kondisinya?”
“Masih operasi. Dia kehilangan banyak darah.”
Eduardo mengangguk pelan.
Ia melihat ke arah pintu operasi yang tertutup rapat.
Lalu pandangannya bergeser.
Dan membeku.
Beberapa langkah dari sana berdiri seorang pria yang sangat ia kenal.
Tinggi.
Tegap.
Tatapan tajam.
Vincenzo Salvatore De Luca.
Sahabat lamanya.
Pria yang pernah berdiri bersamanya membangun kerajaan bisnis internasional, sebelum jalan hidup mereka sedikit demi sedikit berbeda arah.
Sejak kapan dia di Manhattan?
Dan…
Kenapa ia berdiri di antara keluarga dan teman-teman Valeria?
Eduardo melangkah mendekat.
“Vincenzo?”
Pria itu menoleh.
Untuk sesaat, dua sahabat lama itu saling memandang dalam diam.
“Eduardo,” jawab Vincenzo tenang.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Pertanyaan itu keluar spontan.
Vincenzo menatap ke arah pintu operasi sebelum menjawab.
“Anakku mengenal gadis itu.”
Eduardo sedikit terkejut.
“Daniel?”
Vincenzo mengangguk.
Eduardo menoleh dan baru menyadari pemuda yang berdiri pucat di dekat dinding.
Ia mengingat wajah itu.
Putra sulung Vincenzo.
Yang dulu masih kecil ketika mereka terakhir bertemu di Italia.
“Dia juga donor darah,” tambah Vincenzo pelan.
Eduardo mengernyit.
“Donor?”
“Golongan darahnya cocok.”
Jawaban itu membuat Eduardo semakin bingung.
Kenapa Vincenzo terlihat begitu… terlibat?
Tatapan Vincenzo tidak seperti tamu biasa.
Tatapannya seperti seorang ayah yang menunggu nasib anaknya sendiri.
Eduardo ingin bertanya lebih jauh.
Ingin tahu mengapa sahabat lamanya berada di deretan keluarga Valeria.
Namun ia melihat sesuatu di wajah Vincenzo.
Kecemasan yang dalam.
Luka lama yang seolah terbuka kembali.
Dan ia sadar—
Ini bukan waktunya.
Ia menepuk bahu sahabatnya pelan.
“Kita fokus dulu pada keselamatannya.”
Vincenzo mengangguk.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, mereka berdiri berdampingan tanpa membicarakan bisnis, politik, atau kekuasaan.
Hanya satu hal yang penting.
Gadis di balik pintu itu.
Eduardo menoleh pada Alexander.
“Kau sangat peduli padanya.”
Bukan pertanyaan.
Alexander mengangguk tanpa ragu.
“Iya.”
Eduardo memandangi putranya lama.
Selama ini ia melihat Alexander sebagai pewaris yang kuat, rasional, dan sulit disentuh emosi.
Namun malam ini—
Ia melihat cinta yang nyata.
Ia menoleh pada Camille yang duduk dengan wajah hancur.
“Camille.”
Gadis itu berdiri pelan.
“Uncle…”
Eduardo bisa melihat penyesalan di matanya.
Ia tahu Camille dan Valeria sempat bersaing.
Ia juga tahu dunia akademik tak selalu ramah.
Namun ia tak berkata apa-apa.
Semua ego terasa kecil di hadapan hidup dan mati.
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka sedikit.
Semua orang langsung berdiri.
Seorang dokter keluar dengan wajah serius.
“Operasi masih berlangsung. Transfusi membantu, tapi hati pasien mengalami trauma berat. Kami sedang mencoba menghentikan pendarahan terakhir.”
Miguel hampir kehilangan keseimbangan.
Sofía memeluknya erat.
Isabella memejamkan mata.
Daniel mengepalkan tangan.
Eduardo melihat wajah-wajah itu.
Orang tua sederhana yang jelas bukan bagian dari dunia bisnis mereka.
Namun cinta di mata mereka—
Sama kuatnya.
Ia mendekati Miguel.
“Anda ayahnya?”
Miguel mengangguk pelan.
“Saya Eduardo. Ayah Alexander.”
Miguel menatapnya dengan sopan.
“Terima kasih atas bantuan rumah sakit ini.”
Eduardo menggeleng.
“Dia mahasiswi terbaik kami. Kami yang berterima kasih karena ia telah memberi nama baik pada kampus.”
Kata-kata itu tulus.
Vincenzo mengamati interaksi itu dalam diam.
Dua dunia berbeda.
Namun terhubung oleh satu gadis.
Lampu merah masih menyala.
Waktu terasa semakin kejam.
Eduardo berdiri kembali di samping Vincenzo.
“Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan gadis itu,” katanya pelan agar hanya mereka yang mendengar, “tapi aku bisa melihat… ini lebih dari sekadar kenalan.”
Vincenzo tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap pada pintu operasi.
“Ada kemungkinan,” katanya akhirnya lirih, “bahwa takdir sedang mempermainkanku.”
Eduardo menoleh.
“Apa maksudmu?”
Vincenzo menggeleng pelan.
“Nanti saja.”
Eduardo tidak memaksa.
Persahabatan mereka cukup lama untuk tahu kapan harus bertanya, dan kapan harus diam.
Di ujung lorong, mahasiswa mulai berdoa bersama.
Profesor memimpin doa dengan suara bergetar.
Daniel berdiri di antara Alexander dan Camille.
Untuk pertama kalinya, tak ada persaingan di antara mereka.
Hanya harapan yang sama.
Alexander menatap lampu merah itu tanpa berkedip.
Jika Valeria selamat—
Ia bersumpah tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi.
Eduardo menatap putranya dan mengerti.
Cinta telah mengubahnya.
Dan di balik pintu itu—
Nasib seorang gadis yang mungkin menyatukan dua keluarga besar…
Sedang ditentukan.
Lampu merah masih menyala.
Namun semua orang tahu—
Malam ini akan mengubah segalanya.