NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Mahkota dari Kaca yang Pecah

​Aula Universitas Indonesia siang itu terasa seperti sebuah gladiator bagi para remaja jenius. Udara di dalam ruangan besar itu dipenuhi dengan aroma kecemasan dan ambisi yang pekat. Di atas panggung, sebuah spanduk besar bertuliskan “Olimpiade Sains Nasional Tingkat SMP – Babak Final” membentang gagah. Di bawahnya, hanya ada dua meja yang tersisa.

​Bima Arkana Adhikara Wijaya, duduk di meja sebelah kiri dengan punggung tegak sempurna, seolah-olah tulang belakangnya terbuat dari tiang besi. Seragam SMP internasionalnya yang berwarna biru navy tampak licin tanpa kerutan, mencerminkan kehidupan yang tertata dan disiplin tinggi. Di balik kacamata berbingkai perak yang bertengger di hidung mancungnya, mata Bima menatap tajam ke arah soal-soal fisika kuantum di depannya. Namun, setiap beberapa menit, matanya secara tidak sadar melirik ke barisan kursi tamu VIP di bagian depan.

​Sebuah kursi baja dengan sandaran beludru merah masih kosong. Di sana terdapat kertas bertuliskan nama, Adi Wijaya.

​Bima mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ayahnya kembali tidak datang. Bahkan untuk sebuah acara nasional di mana putranya sedang bertarung demi nama keluarga, Adi Wijaya lebih memilih berada di ruang rapat atau lapangan golf. Bagi ayahnya, prestasi Bima bukan lagi pencapaian, melainkan sebuah kewajiban. Jika Bima menang, itu sudah seharusnya. Dan jika Bima kalah, itu adalah kegagalan investasi.

​Rasa sesak mulai merayap di dada Bima, namun ia menekannya dengan kemarahan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lawan di meja sebelah kanan.

​Senara Zafira Atmaja, Gadis itu tampak sangat kecil di balik meja yang besar. Ia mengenakan seragam putih biru yang sudah mulai pudar warnanya, dan di bagian siku terdapat bekas jahitan tangan yang kasar. Senara tidak menatap kursi penonton, ia bahkan tidak menatap juri. Fokusnya hanya satu, lembar jawaban di depannya. Rambutnya dikuncir kuda dengan sangat kencang, membuat wajahnya terlihat pucat dan semakin tirus.

​Senara meremas pulpen murahnya hingga jari-jarinya gemetar. Bukan karena takut pada soal, melainkan karena ia tahu apa yang sedang ia pertaruhkan. Di dalam tas kainnya yang diletakkan di bawah kursi, terdapat sebuah amplop tagihan listrik rumah yang sudah berwarna merah, tanda peringatan terakhir sebelum pemutusan daya. Hadiah juara pertama olimpiade ini adalah satu-satunya harapan agar ibunya tidak perlu menangis lagi malam ini, saat ayahnya pulang dengan tangan kosong dan emosi yang meledak.

​"Waktu pengerjaan selesai. Mohon letakkan pulpen kalian!" suara juri bergema di seluruh aula.

#​Bima menarik napas panjang, melepaskan pulpen mahalnya dengan bunyi denting yang elegan. Ia menoleh ke arah Senara, yang tampak hampir pingsan karena menahan napas terlalu lama.

​"Kamu terlihat sangat menyedihkan, Senara," bisik Bima saat mereka berdiri untuk menunggu pengumuman. Suaranya rendah, hanya bisa didengar oleh gadis itu. "Tanganmu gemetar seperti orang yang belum makan tiga hari."

​Senara tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan mata yang memerah. "Aku memang belum makan, Bima. Dan gemetarku ini bukan karena takut, tapi karena aku muak melihat wajahmu yang merasa paling hebat hanya karena punya akses ke semua buku di dunia ini."

​Bima tertawa kecil, suara tawa yang hampa. "Dunia ini memang tidak adil, Senara. Dan kamu harusnya sadar bahwa pintar saja tidak cukup untuk mengalahkan orang yang memiliki segalanya seperti aku."

​"Kita lihat saja nanti," jawab Senara pelan namun penuh penekanan.

​Suasana menjadi sangat sunyi saat kepala juri naik ke podium. Ketegangan di antara Bima dan Senara seolah menciptakan medan listrik di udara. Ribuan pasang mata penonton tertuju pada mereka berdua, dua matahari dari dunia yang berbeda.

​"Dan pemenang Olimpiade Sains Nasional tahun ini, dengan selisih poin yang sangat tipis... 0,5 poin..." juri itu menjeda, menciptakan drama yang menyiksa. "...Selamat kepada... Senara Zafira Atmaja!"

​Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan. Senara jatuh terduduk di kursinya, air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya yang cekung. Ia menang, angka 0,5 itu adalah napas bagi keluarganya. Ia berdiri dengan kaki gemetar, berjalan menuju panggung untuk menerima piala dan cek simbolis hadiah uang pembinaan.

​Di tempatnya berdiri, Bima mematung. Wajahnya berubah pucat, lalu perlahan memerah karena malu dan marah yang luar biasa. Juara dua Nasional, bagi orang lain itu luar biasa. Namun bagi Bima, itu adalah hukuman mati. Ia bisa membayangkan ekspresi dingin ayahnya saat mendengar kabar ini. Ia bisa membayangkan sunyinya meja makan malam ini, di mana kegagalannya akan dibahas dengan nada yang lebih tajam dari pisau.

​Setelah acara selesai, di lorong belakang aula yang sepi, Bima mencegat Senara yang sedang membawa piala emas besarnya.

​"Selamat, Senara. Kamu baru saja memenangkan uang yang mungkin setara dengan gaji ibumu setahun," ujar Bima dengan nada menghina yang kental, mencoba menutupi luka egonya sendiri.

​Senara berhenti. Ia menatap Bima dengan pandangan yang tidak lagi mengandung rasa takut, melainkan kebencian murni yang bercampur dengan rasa kasihan. "Kamu tahu, apa yang paling menyedihkan darimu, Bima? Kamu punya piala perak di tanganmu, tapi kamu lebih tidak punya harga diri daripada aku yang memakai seragam loakan ini."

​Senara maju satu langkah, menatap tepat ke mata Bima yang tersembunyi di balik kacamata mahalnya. "Kamu kalah dari orang yang kamu anggap remeh. Dan rasa sakit dari angka 0,5 itu akan menghantuimu setiap malam. Karena kamu tahu, di atas kertas kamu lebih hebat, tapi dalam kenyataan, kamu tidak punya mental untuk menang di bawah tekanan."

​"Jaga bicaramu!" bentak Bima, langkahnya maju mengintimidasi.

​"Kenapa? Mau memukulku? Atau mau memanggil ayahmu agar membelikan piala emas untukmu?" Senara tertawa getir. "Oh, aku lupa. Ayahmu bahkan tidak mau repot-repot duduk di kursi itu untuk melihatmu gagal."

​Kalimat itu menghantam bagian terdalam dari luka Bima. Ia terdiam, rahangnya mengeras hingga berbunyi. Senara melewatinya begitu saja, meninggalkan aroma sabun cuci murah dan semangat yang membara.

​Bima berdiri sendirian di lorong yang dingin itu. Ia menatap trofi peraknya, lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia melempar trofi itu ke dalam tempat sampah besar di sudut lorong. Ia tidak butuh perak. Ia tidak butuh pengakuan sebagai yang kedua.

​Malam itu, Bima pulang ke rumahnya yang seperti istana hantu. Benar saja, ayahnya tidak ada di rumah, hanya ada sebuah catatan di atas meja makan dari asisten ayahnya. “Tuan Adi kecewa dengan hasil olimpiade anda, Tuan muda. Beliau membatalkan makan malam besok. Silakan belajar lebih giat lagi.”

​Bima merobek kertas itu menjadi kepingan kecil. Ia masuk ke kamarnya, mematikan semua lampu, dan duduk di lantai di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela besar. Ia membuka buku catatannya, menuliskan nama "Senara Zafira Atmaja" di halaman paling depan dengan tekanan pulpen yang sangat kuat hingga kertasnya hampir robek.

​"0,5," bisiknya. "Aku akan membayar angka itu dengan kehancuranmu, Senara."

​Sementara itu, di sebuah rumah petak di pinggiran kota, Senara duduk di lantai bersama ibunya. Mereka makan nasi dengan garam dan satu butir telur yang dibagi dua, di bawah cahaya bohlam yang berkedip-kedip karena voltase yang tidak stabil. Piala emas itu diletakkan di tengah meja sebagai pusat gravitasi kebahagiaan singkat mereka.

​Senara menatap piala itu, namun pikirannya melayang pada tatapan mata Bima yang penuh kebencian. Ia tahu, kemenangannya hari ini baru saja membuka kotak pandora. Bima bukan tipe orang yang akan membiarkan kekalahan berlalu begitu saja.

​"Aku harus tetap jadi nomor satu," janji Senara pada dirinya sendiri. "Karena kalau aku jatuh sekali saja, orang-orang seperti Bima akan menginjakku sampai aku tidak bisa bangun lagi."

​Dua remaja itu, di tempat yang sangat berbeda, menutup mata mereka dengan pikiran yang sama, saling mengalahkan. Tidak ada cinta, tidak ada persahabatan. Yang ada hanyalah sebuah obsesi murni untuk menjadi yang teratas di atas penderitaan satu sama lain.

BIMA ARKANA ADHIKARA WIJAYA

SENARA ZAFIRA ATMAJA

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!