Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Itu Bukan Manusia
Sementara itu, di sebuah ruang medis darurat. Don menjerit kesakitan saat peluru dicabut dari kaki dan bahunya. Aris berdiri di samping tempat tidur, menatap pemandangan itu dengan dingin.
"Kau menangis karena peluru kecil ini?" suara Aris terdengar menghina.
"Wanita itu... dia bukan manusia, Tuan Aris! Dia benar-benar menggunakan teknik melebih pembunuhan bayaran!" teriak Don kalap. "Luka ini... ini peringatan!"
Aris mencengkeram rahang Don yang terluka, memaksa pria itu menatapnya. "Apa maksudmu bukan manusia? Kau kalah hanya karena dia seorang wanita?"
"Ta-tapi, dia bukan wanita biasa tuan."
"Aku tidak peduli, cari tau siapa wanita bertopeng itu. Dan lenyapkan sekarang juga!" Teriak Aris.
...–Kunjungan ke Rumah Abadi–...
Keesokan paginya, sebelum fajar benar-benar menyingsing, Michael menemani Shaneen mengunjungi sebuah tempat peristirahatan yang sangat privat. Bukan makam di tanah terbuka, melainkan sebuah dinding memorial mewah di dalam ruangan kaca yang tenang.
Di balik kotak kaca nomor 0712, terdapat guci keramik putih bersih berisi abu Orlando Tizon. Di sampingnya terletak foto Orlando yang tampak gagah dengan setelan jas hitam, dan sebuah lencana kecil berbentuk Phoenix yang bersanding dengan replika mawar perak.
Shaneen membuka pintu kaca kecil itu. Ia mengeluarkan mawar putih yang sudah mulai layu–yang ia bawah tempo hari dan menggantinya dengan mawar merah segar yang masih memiliki duri-duri tajam—jenis mawar favorit ayahnya yang ia tanam sendiri di rumah.
"Aku datang, Ayah," bisik Shaneen sambil meletakkan mawar itu dengan sangat hati-hati di samping guci. "Ibu sudah aman. Don sudah terluka. Dan kali ini..." ia melirik Michael yang berdiri tegap satu langkah di belakangnya, "...aku tidak datang sendiri."
Michael melangkah maju, membungkuk hormat di depan abu calon mertuanya. Ia meletakkan tangannya di pundak Shaneen, memberikan dukungan yang kokoh. "Aku akan menjaga mawar ini, Tuan Orlando. Aku tidak akan membiarkan durinya tumpul, tapi aku juga tidak akan membiarkan siapa pun memetiknya."
Di ruangan yang sunyi itu, Shaneen merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Melihat mawar segar itu bersanding dengan foto ayahnya, ia tahu bahwa perjuangannya belum usai. Namun sekarang, ia memiliki alasan lebih untuk tenang, bukan hanya untuk membalas dendam, tapi untuk menjaga "taman" yang telah susah payah dibangun oleh ayahnya.
Setelah dari kolumbarium, Michael membawa Shaneen ke sebuah restoran privat. Makan siang romantis itu berlangsung di bawah langit The Golden Coast yang cerah. Michael dan Shaneen duduk di restoran rooftop yang menghadap langsung ke The Sunset Empire, wilayah pesisir yang kini menjadi pusat sengketa antara Tizon Tech dan sindikat Don.
Michael memotongkan steak untuk Shaneen dengan presisi yang elegan. Namun, ketenangan itu terusik saat tablet Shaneen berkedip. Sebuah laporan dari Damian baru saja masuk, mengungkap tabir gelap yang selama ini tertutup rapat.
"Michael," panggil Shaneen, suaranya berubah menjadi dingin sebeku es. "Ternyata vendor chip yang ingin menyabotase dermaga kamu tempo hari adalah pion milik ayah Clara. Dan tebak di mana jejak digital pertamanya ditemukan? Di jantung The Big Apple."
Shaneen memutar layar tabletnya. "Damian berhasil melacak sejarah transaksi satu tahun lalu. Serangan yang hampir merenggut nyawamu di The Concrete Jungle—saat kau terjebak di gedung tua itu—bukanlah aksi kartel lokal. Ayah Clara-lah yang menjual posisimu kepada musuh agar SM Corporation gagal menguasai pasar logistik di The Empire State."
Michael terdiam. Matanya menatap tajam ke arah cakrawala The Golden Coast. Kenangan tentang rasa sakit peluru yang menembus bahu dan kakinya di New York kembali berdenyut. Jadi, musuh yang selama ini ia cari justru sedang berpura-pura menjadi rekan bisnis yang manis di wilayah pesisir ini.
"Aku tau itu Shaneen, tapi aku masih diam dan memberikan kelonggaran pada Bramasta. Tapi kali ini sudah ada bukti, jadi aku tidak akan tinggal diam."
Shaneen menyandarkan punggungnya, lalu tawa kecilnya pecah—tawa yang indah namun sarat akan ejekan mematikan.
"Dan ini bagian yang paling menggelikan tentang putrinya," Shaneen menggelengkan kepala sambil membaca catatan obsesi Clara. "Kau ingat insiden tabrakan dadakan tiga tahun lalu di depan restoran The Grand Aurum?"
Michael mengerutkan kening. "Kejadian sepele itu?"
"Sepele bagimu, tapi itu adalah part terbaik bagi Clara," Shaneen tertawa renyah. "Dia menganggap pengabaianmu waktu itu adalah sebagai takdir cinta yang agung. Dia mulai terobsesi padamu justru karena kau adalah satu-satunya pria yang tidak memujanya waktu itu. Dia merasa tertantang oleh dinginnya sikapmu."
Shaneen memegang dagu Michael, menatap wajah calon suaminya dengan bangga. "Oh... jadi itu yang membuat dia begitu gila sampai ingin melenyapkanku? Hanya karena sebuah insiden kecil di The Grand Aurum? Calon suamiku memang terlalu tampan, sampai-sampai wanita di kota paling sibuk di dunia pun kehilangan akal sehatnya."
Michael menangkap tangan Shaneen dan mengecup telapak tangannya dengan posesif. "Dia bisa memiliki obsesinya di depan restoran The Grand Aurum, Shaneen. Tapi di dunia nyata, dia tidak akan pernah menyentuh mawar ini."
Michael berdiri, tatapannya menyapu keindahan The Sunset Empire di bawah mereka. "Jika Ayah Clara berani mengusik masa laluku di New York dan mengincar ibumu di sini, maka aku akan memastikan dinastinya runtuh. Kita akan mulai dari dermaga ini, lalu kita akan menghabisi sisa kekuatannya di The Big Apple."
Shaneen tersenyum penuh kemenangan. "Sepakat. Mari kita tunjukkan pada mereka bahwa bermain-main dengan kita adalah tiket satu kali jalan menuju kehancuran."