Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
Pagi itu Zara merasa produktif.
Tiga buket wisuda.
Dua standing flower.
Satu bouquet premium dengan kartu kecil bertuliskan:
“Untuk masa depan yang lebih indah…” A.”
Alamatnya jelas.
Nama penerima : Ken.
Zara mengetik alamat di ponsel, lalu mengangguk puas.
“Fix. Aman.”
Ia sendiri yang mengantar karena lokasi tidak terlalu jauh dari tokonya.
Gedung tinggi, kaca mengilap, satpamnya bahkan pakai headset.
Zara menatap papan nama perusahaan di lobby.
Modern. Elegan. Serius.
Ia bertanya pada resepsionis di lobby, dan di arahkan ke lantai 15.
Ia naik lift dengan percaya diri, buket besar di tangan.
Begitu pintu lift terbuka, ia langsung disambut ruang kantor yang tenang dan rapi.
Seorang pria berdiri membelakanginya di dekat jendela kaca tinggi.
Tinggi.
Setelan gelap.
Postur tegap.
Dan wajahnya…jangan ditanya…ganteng Tingkat Gege.
“Permisi…"
“ kiriman bunga untuk Pak Ken.”
Pria itu berbalik.
Dan untuk dua detik, Zara lupa cara bernapas.
"Ya Allah...Ganteng banget.
Terlalu… Tampan.
Wajahnya tegas, rahangnya tegas, tatapannya bahkan lebih tegas.
“Dari siapa?” tanyanya datar.
Zara melihat kartu kecil itu. “Dari A.”
Pria itu mengernyit.
“Saya tidak memesan bunga.”
Zara langsung tersenyum yakin. “Bukan pesan, Pak. Ini dikirimin.”
“Saya tidak menerima kiriman apa pun hari ini.”
Zara membuka ponselnya. “Alamatnya ini kan? Lantai 15, PT. Maheswara Corp”
“Betul. Tapi bukan untuk saya.”
Zara berhenti.
“Bapak namanya Ken?”
“Ya.”
“Nah ini untuk Ken.”
“Saya Kenzy.”
Zara mengedip dua kali.
Hening.
Ia melihat lagi kartu kecil itu.
Untuk masa depan yang lebih indah. – A.
Zara menyipitkan mata ke arah pria itu.
“Pak… ini bukan kode ya?”
“Kode apa?”
“Kayak pura-pura nggak tahu biar nggak ketahuan pacarnya ya?”zara meledek.
Pria itu menatapnya tanpa ekspresi.
“Saya tidak punya pacar.”
“Wah makin bahaya,” gumam Zara tanpa sadar.
Pria itu menarik napas pelan.
“Nona, kemungkinan besar ini salah kirim.”
Zara langsung defensif. “Nggak mungkin. Saya jarang salah.”
“Jarang berarti pernah, dan bukan berarti nggak pernah”
“Itu cuma satu kali dan sistemnya error.” Zara membantah
“Jadi pernah kan.”
Zara terdiam.
Ken menahan sesuatu di sudut bibirnya.
“Nama lengkap penerimanya siapa?” tanya Ken tenang.
Zara melihat ulang pesan pelanggan.
Kendra Wiraguna.
Zara membeku.
Perlahan, sangat perlahan, ia mengangkat wajahnya.
“Nama lengkap Bapak siapa?”
“Kenzy Maheswara.”
“Ohh…iya betul ini…”Zara terdiam
Oh tidak.
Zara menunduk lagi ke layar.
Kendra Wiraguna.
Bukan Kenzy.
Alamaaaaaak…..
Ia menutup mata satu detik.
“Jadi… ini bukan buat Bapak?”
“Bukan.”
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Zara tertawa kecil. Palsu.
“Hehe… maaf ya pak salah.”
Ken mengangkat alis.
“Bukan buat bapak tapi untuk pak Kendra.”mukanya langsung merah menahan malu.
Ia langsung membalik buket itu, hampir menjatuhkan satu tangkai mawar.
“Ya Tuhan… bodoh kali sih Zaraaaa…”
Ia bergumam cukup keras.
Ken mendengarnya.
“Gimana?”
“Ngg…Nggak pak maaf saya yang bodoh hehe…”
Wajah Zara mulai merah sampai telinga.
Ia melihat sekeliling. Kantor ini sepi. Hanya mereka berdua.
“Hilang aja gue hilang. Mau buang nih muka ke mana…”
Ia menepuk kening sendiri pelan.
Ken benar-benar harus menahan senyum sekarang.
“Tenang saja. Itu kesalahan yang bisa diperbaiki.”
“Enggak bisa, Pak. Harga diri saya nggak bisa direfund.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Ken terangkat jelas.
Senyum kecil. Nyaris tak terlihat.
Zara melihatnya.
Dan itu justru bikin dia makin malu.
“Bapak ketawa ya?”
“Sedikit.”
“Jangan, Pak. Saya sedang rapuh.”
Ken berdeham pelan, mencoba kembali serius.
“Tidak apa-apa. Setidaknya hari saya jadi tidak membosankan.”
Zara berhenti merapikan buket.
“Hah?”
“Kantor ini biasanya terlalu sunyi.”
Zara menatapnya.
Pria ini tadi terlihat seperti CEO yang bisa memecat orang dengan satu tatapan.
Sekarang dia bilang hidupnya membosankan?
“Berarti Bapak butuh bunga sih,” celetuk Zara refleks.
Ken mengangkat alis lagi.
“Maksud saya biar ada warna. Bukan kode ya. Jangan GR.”
Ken hampir tertawa lagi.
“Baik.”
Zara mundur satu langkah.
“Oke. Saya minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan pengiriman ini. Semoga Bapak tetap punya masa depan yang indah walaupun bukan dari A.”
Ken terdiam sepersekian detik.
“A?”
Zara menunjuk kartu itu.
Ken membaca cepat.
Lalu hanya mengembalikan kartu itu padanya.
“Semoga yang bernama A menemukan Ken yang benar.”
Zara spontan nyeletuk, “Amin.”
Hening lagi.
Dan untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, mereka saling menatap sedikit lebih lama dari seharusnya.
Zara langsung tersadar.
“Baik pak saya permisi, harus mengantar pada Ken yang benar.”
Ia berbalik terlalu cepat, hampir menabrak pintu kaca.
Ken sigap menahan pintu sebelum dahinya terbentur.
“Pelan saja.”
“Maaf. Saya memang sering salah arah.”
“Sudah terlihat.”
Zara memejamkan mata.
“Ya Tuhan, hilang aja gue.”
Ia buru-buru masuk lift.
Begitu pintu tertutup, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aduh Zaraaaa…malu - maluin”
Di dalam ruangan, Ken berdiri sendirian.
Sunyi kembali.
Namun kali ini berbeda.
Ia menoleh ke arah pintu yang baru saja tertutup.
Senyum kecil itu muncul lagi.
Dan entah kenapa,
Ia merasa penghujung hari ini terasa menyenangkan.