NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Badai yang Terencana

Suasana di butik siang itu terasa begitu hangat dan kontras dengan dinginnya perlakuan Mama Inggit sebelumnya. Arlan duduk melingkar bersama Hana dan Mama Hana di ruang tengah butik yang merangkap sebagai area santai. Aroma nasi hangat dan lauk pauk yang mereka bawa tadi memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang tulus.

Para karyawan butik, yang sudah dianggap keluarga sendiri oleh Hana dan mendiang Inggit, ikut menikmati hidangan yang dibelikan Arlan. Mereka semua sudah tahu tentang pernikahan ini. Sebagai orang-orang yang melihat langsung bagaimana tulusnya Hana merawat Inggit hingga napas terakhir, mereka tidak menaruh curiga atau prasangka buruk. Mereka paham, wasiat Inggit bukanlah sesuatu yang diputuskan tanpa alasan yang kuat.

"Terima kasih ya, Pak Arlan, makanannya. Sering-sering main ke sini, biar Non Hana makin semangat kerjanya," celetuk salah satu karyawan senior yang disambut tawa kecil oleh yang lain.

Hana hanya bisa tersenyum malu, sesekali melirik Arlan yang tampak sangat membaur. Setelah makan selesai dan diselingi obrolan ringan, Arlan berpamitan karena ada rapat mendadak di kantor pusat.

Hana mengantar Arlan sampai ke teras butik.

"Hati-hati di jalan, Mas," ucap Hana lirih.

Arlan mengangguk, sorot matanya yang tenang menatap Hana lekat-lekat.

"Saya usahakan pulang lebih cepat. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya."

Setelah mobil SUV hitam itu melaju pergi, Hana terdiam di ambang pintu. Ia menatap telapak tangannya sendiri, sisa hangat genggaman Arlan di restoran tadi seolah masih tertinggal di sana, memberikan kekuatan yang sulit ia jelaskan.

Di dalam mobil, Arlan sedang fokus membelah kemacetan saat ponselnya berdering nyaring. Nama Dandy muncul di layar. Dandy adalah rekan sesama dosen sekaligus sahabat karib Arlan yang paling tahu seluk-beluk hidupnya.

"Halo, Lan. Lo di mana? Lagi bareng Hana ga?" Suara Dandy terdengar mendesak, jauh dari nada santainya yang biasa.

"Lagi di jalan mau ke kantor. Gue sendiri, Hana lagi kerja di butik, Kenapa, Ndy?" jawab Arlan tenang.

"Lan... kayaknya lo harus cek media sosial sekarang. Berita lo nikahin Hana sudah tersebar luas di grup-grup kampus dan akun gosip lokal. Parahnya, narasinya digoreng habis-habisan. Hana dituduh pelakor yang sudah merencanakan ini sejak Inggit sakit," jelas Dandy cepat.

CIIIITTT!

Arlan menginjak rem secara mendadak hingga tubuhnya terdorong ke depan. Beruntung jalanan di belakangnya tidak terlalu padat.

"Maksud lo apa? Siapa yang berani menyebarkan itu?" tanya Arlan dengan nada suara yang seketika mendingin.

"Gue kirim link-nya. Lihat sendiri." Sambungan terputus.

Jari Arlan bergetar sedikit saat membuka pesan dari Dandy. Di sana terpampang foto dirinya dan Hana di dalam mobil tadi pagi, diambil dari sudut tersembunyi. Ada juga foto saat ia menggandeng tangan Hana di depan restoran, wajah Hana tampak menunduk yang diartikan oleh netizen sebagai "wajah merasa bersalah".

Pesan teks masuk dari Dandy:

"Saran gue, temuin Hana sekarang. Gue takut dia lihat berita ini dan makin tertekan. Berita ini mulai liar, Lan."

"Sial," umpat Arlan pelan.

Ia langsung memutar kemudi dengan gerakan kasar, melakukan putar balik di sela-sela kendaraan lain. Pikirannya hanya satu yaitu Hana. Ia baru saja melihat Hana mulai tersenyum hari ini, ia tidak bisa membiarkan senyum itu hilang lagi karena fitnah keji ini.

Sembari memacu kecepatan, Arlan menghubungi seseorang melalui hands-free.

"Halo, iya Pak?" sahut suara pria di seberang sana, orang kepercayaan Arlan di bidang IT dan hukum.

"Cari tahu siapa pemilik akun pertama yang menyebarkan foto saya dan Hana. Lacak lokasinya, jangan biarkan lolos. Dan pastikan semua berita hoaks itu dihapus dari semua platform secepatnya. Saya tidak mau ada satu pun jejak tersisa," perintah Arlan dengan wibawa yang mematikan.

"Baik, Pak. Segera kami proses."

Arlan melempar ponselnya ke kursi penumpang. Dadanya sesak oleh rasa amarah sekaligus khawatir. Ia ingat betapa hancurnya Hana saat dituduh oleh keluarga Siska tempo hari. Jika sekarang seluruh dunia ikut menunjuk wajah Hana, ia takut Hana tidak akan sanggup menanggungnya.

"Bertahanlah, Hana. Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi," gumam Arlan sembari menekan gas lebih dalam, kembali menuju butik dengan jantung yang berdegup tak karuan.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!