Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH FAKTA
Pagi hari, Sinta membereskan kamar tidurnya.
Sudah hampir satu bulan ia berstatus janda. Kadang ia masih lupa—Farhan bukan lagi suaminya.
“Astaghfirullah… anak-anak!”
Sinta tersentak saat melihat jam dinding.
Ia segera membuka jendela. Cahaya matahari sudah memenuhi kamar. Jam lima lewat seperempat.
Subuhnya tertinggal.
Dadanya menghangat oleh rasa bersalah.
Dulu, Farhan selalu bangun lebih dulu. Menyiapkan air wudu, membangunkannya pelan, lalu menunggu bersama di ruang keluarga.
Tangannya mengambang di udara saat kenangan kecil itu menyelinap masuk.
"Ibu ... Ibu!" sebuah panggilan dari luar pintu.
“Iya, Mbak Mar. Saya sudah bangun. Tolong bangunkan Den Leo dan Den Adrian, ya,” sahutnya.
Sekali lagi ia teringat—dulu ia tak perlu repot begini. Farhan yang biasa mengurus semuanya saat ia kesiangan.
“Ya Allah… apa yang aku lakukan,” gumamnya pelan, lalu menggeleng, memaksa dirinya kembali ke realita.
Sementara di tempat lain, Farhan melipat sajadahnya. Ia tersenyum melihat istrinya yang tertidur di atas sajadah, masih mengenakan mukena.
"“Sayang, ayo bangun,” bisiknya lembut sambil mengecup pipi sang istri.
“Mas…” rengek Rani manja.
Farhan kembali mengecup pipinya, lalu menarik tangan Rani perlahan hingga perempuan itu membuka mata.
“Ayo bersiap. Kita harus daftarkan Claudia sekolah hari ini!”
“Iya, Mas,” angguk Rani, lalu melepas mukenanya.
Farhan melangkah ke kamar Claudia. Gadis kecil itu masih terlelap di balik selimut pink.
Farhan mendekat, mengecup pipinya.
“Assalamualaikum, sayang… ayo bangun. Kita mau daftar sekolah,” ujarnya lembut.
“Ayah… Claudia sekolah?” mata bocah itu langsung berbinar.
“Iya, sayang.”
Claudia melonjak bangun. Seorang maid datang membantu menyiapkan gadis kecil itu.
Farhan menuju dapur, melipat lengan kemejanya, mengenakan apron, lalu mulai memasak sarapan.
Kebiasaan yang tak pernah berubah—bahkan sejak masih bersama Sinta.
Tak lama kemudian, aroma masakan menyebar ke seluruh rumah.
Claudia muncul dengan dress pink, rambut ikalnya dikuncir dua dengan pita senada.
“Wah… anak Ayah cantik sekali,” puji Farhan.
“Tentu dong, kan anak Ayah!” Claudia terkekeh ceria.
Kembali ke kediaman Sinta, dua putranya sudah rapi dan siap berangkat. Perempuan itu juga sudah rapi.
Tak ada kendala menyiapkan makanan untuk sarapan dua buah hatinya. Walau buru-buru karena kesiangan.
"Bekal kalian sudah dibawa kan?" tanyanya lagi memastikan.
"Sudah, Bunda ...," jawab kedua putranya kompak.
"PR kalian?”
“Bunda… kami sudah besar. Itu sudah kami kerjakan kemarin,” sahut Leo.
“Iya… Ayah dulu ngajarin kita, PR dulu sebelum tidur siang,” timpal Adrian polos.
Ruangan mendadak sunyi.
Leo menyenggol lengan adiknya.
Adrian yang baru delapan tahun langsung sadar, lalu menutup mulutnya.
“Maaf…” cicitnya.
Sinta tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa, sayang. Kamu tidak salah. Ayah memang benar.”
Leo cepat-cepat mengalihkan suasana.
“Ayo, Bunda. Nanti kita telat!” seru Leo mengalihkan suasana.
“Iya… ayo!"
Mereka masuk ke mobil.
Kendaraan itu melaju meninggalkan halaman rumah.
Setelah mengantar dua putranya ke sekolah. Ia ke toko kuenya, karyawan sudah datang dan tengah membersihkan tempat itu.
"Selamat pagi, Bu Sinta!' sapa semua karyawannya yang adalah perempuan.
"Selamat pagi!" balas Sinta ramah.
"Bu Sinta, kita sibuk hari ini. Ada dua perusahaan meminta kita menangani prihal snack untuk dua ratus orang!" ujar manager toko.
"Oh .. Alhamdulillah! Ayo mulai kita kerjakan!" sahut Sinta semangat.
Wanita itu langsung ke ruangan masak. Ia menatap semua peralatan di sana. Hampir seluruhnya dibelikan sang mantan suami. Farhan memang seperhatian itu.
"Bu, ini daftar snack yang diinginkan!" ujar manager toko membuyarkan lamunan Sinta.
"Siap. Bahannya ada semua kan?" manager itu mengangguk.
Lalu tak lama, ruangan itu penuh dengan kesibukan.
Sedangkan di bangunan bertingkat lain, Farhan berjalan begitu gagah dan penuh wibawa. Semua orang mengangguk hormat ketika berpapasan dengannya. Begitu juga Rani yang berjalan penuh keanggunan.
"Pagi Pak Boss. Pagi Bu Boss!" sapa salah satu manager.
"Selamat pagi Pak Hamdan!" balas Farhan tegas.
Farhan terkenal dengan loyalitasnya baik dengan pekerjaan juga hubungan dengan para pekerjanya. Ramah, tapi tetap ada batas di antara mereka.
Rani duduk di sofa ruang kerja suaminya. Sementara pria itu langsung tenggelam dengan pekerjaan.
Sinta mengingat bagaimana ia bertemu dengan Farhan. Sebuah pertemuan tak sengaja dan membuat pria itu jatuh cinta.
"Sampai sekarang, aku nggak tau kenapa Mas Farhan jatuh cinta sama aku," gumamnya pelan.
Sementara dirinya sangat ingat saat pertama menatap Farhan yang menolongnya dari pencopetan. Mata teduh dan khawatir, terlebih pada Claudia yang menangis ketakutan.
Rani diantar langsung ke bilik kontrakannya oleh Farhan. Tersentuh dengan nasibnya, Rani sempat bekerja di perusahaan sebagai bagian staff.
Lalu perhatian-perhatian kecil diberikan pria itu. Rani tak pernah bermaksud menggoda Farhan, terlebih tau pria itu sudah beristri.
Tetapi hari itu ia didatangi penagih hutang. Ia menerima kekerasan fisik, bahkan Claudia menangis berteriak. Tak ada yang menolong kecuali Farhan bahkan pria itu membayar semua utang Rani berikut bunganya tanpa pikir dua kali.
"Bagaimana aku nggak bergantung padamu, Mas. Kamu terlalu baik, aku tak tau bagaimana balas budimu," gumamnya lagi.
"Sayang!" panggil Farhan membuyarkan lamunan Sinta.
"Ah ... Iya, Mas!"
"Maaf ya, aku tinggal dulu. Ada rapat koordinasi. Jika mau pulang. Pulanglah," ujar Farhan lembut.
Ia mendekat dan memberi kecupan mesra di bibir istrinya. Rani membalas kecupan itu. Hanya sebentar, lalu Farhan pergi bersama sekretarisnya.
Rani memilih pulang ke rumahnya, sampai sana. Dua pelayan menyambutnya.
"Oh, Bi Ratih ... Nanti suruh Pak Kusno jemput Non Claudia ya!" suruhnya pada seorang maid.
"Baik Bu!" angguk perempuan bernama Ratih itu.
"Saya mau tidur. Jangan ganggu!" ujar Rani lalu berjalan menuju kamarnya.
Rani merebahkan tubuh di ranjang empuk berseprai putih. Pendingin ruangan menyala stabil, tirai kamar tertutup rapat. Dunia seolah berhenti bersamanya.
Senyum tipis terbit di sudut bibirnya.
Ia teringat wajah Farhan pagi tadi—begitu penuh perhatian, begitu hangat. Pria itu selalu memastikan dirinya nyaman, aman, dan tak kekurangan apa pun.
Hidupnya kini terasa sempurna.
Rumah besar. Suami mapan. Anak yang manis. Dan sebentar lagi, bayi yang akan menyempurnakan segalanya. Tak ada yang kurang.
"Ah ... Enaknya jadi orang kaya!" seru Rani sambil merentangkan tangannya.
Hari telah larut, Rani menatap benda bulat di dinding. Jarum pendek sudah ada di angka sepuluh, sementara jarum panjang di angka delapan.
Farhan belum pulang, sudah berkali-kali Rani menghubunginya. Tetapi telepon suaminya itu mati alias tak tersambung.
Ia sangat gelisah, tidak pernah Farhan pulang selarut ini. Jika pun pria itu telat pulang, Farhan pasti memberitahukannya.
Pintu terbuka ... sosok tegap itu masuk.
"Assalamualaikum ...," ujarnya lemah memberi salam.
"Waalaikumsalam ... Mas ... Alhamdulillah, kamu udah pulang!" Rani langsung berlari dan memeluk suaminya.
"Sayang?"
"Mas ... Hiks ... Hiks ...kenapa nggak bilang kalau telat pulang. Aku kan jadi khawatir!" seru wanita itu sedih.
Farhan tersenyum, hatinya menghangat. Ia balas memeluk sang istri, sebuah perasaan yang dulu tak pernah ia rasakan ketika bersama Sinta, yaitu perhatian.
"Maaf sayang," ujarnya lembut.
Farhan mengusap punggung Rani perlahan.
“Maaf sayang… tadi rapat molor. Ponsel habis baterai.”
Rani mendongak, matanya sembab.
“Kamu tahu kan aku takut kalau kamu nggak ngabarin,” ucapnya lirih.
Farhan menghela napas pelan, lalu mengecup kening istrinya.
“Iya… maaf. Mulai sekarang aku usahakan selalu kabari.”
Rani mengangguk kecil, kembali memeluk pria itu. Di pelukan Farhan, ia merasa aman.
Di saat yang sama—di rumah lain—Sinta tengah memijat kakinya sendiri sambil menahan lelah. Tak ada yang menanyakan bagaimana harinya. Tak ada yang memeluk ketika tubuhnya ingin rebah.
Dua perempuan itu sama-sama istri Farhan. Bedanya, yang satu dikelilingi perhatian.
Yang satu belajar bertahan sendirian.
Malam itu, Farhan tidur dengan perasaan hangat di dadanya. Sementara itu,
Sinta tidur dengan doa di bibirnya.
Dan keduanya, tanpa sadar, sedang berjalan ke arah takdir yang berbeda.
bersambung.
Ah ... Sebenarnya komunikasi sih yang diperlukan antar kedua pasangan.
Bener nggak Readers.
Next?