Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Nisa tak menimpali, wanita itu hanya tersenyum sambil terus melanjutkan aktivitasnya.
"Nikah sama orang kota bikin kamu jadi bisu ya Nis?" Ucap tetangga itu lagi.
"Tidak Bu." Sahut Nisa sekenanya.
"Lalu kenapa diam aja? Gak sopan kamu!"
"Maaf ibu, tolong di ingat lagi ... Siapa yang lebih tidak sopan? Tanggapan saya? Atau perkataan Ibu?" Nisa tetap menjawab dengan nada santai, sama sekali tak terpancing emosi seperti dulu.
Akhirnya orang itupun pergi dengan wajah kesalnya. Nisa hanya menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan membersihkan rumah.
.
.
"Beruntung banget di kamar masih ada mie instan, besok aja deh aku belanja ke pasarnya, sudah malam juga." Kata Nisa, saat menemukan sebungkus mie instan di kala perutnya mulai terasa lapar.
Beberapa menit kemudian mie instan pun sudah tersaji di hadapannya. "Wah ... Kenapa kelihatannya nikmat sekali." Hanya sebungkus mie instan sudah membuat Nisa merasa tenang, mungkin karena lingkungan yang sepi senyap yang mendukung.
Baru setengah mangkuk Nisa menghabiskan mie nya, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
*Pintu di ketuk.
"Hah? Siapa? Jangan-jangan orang yang tadi, dia belum puas membuatku kesal?!" Satu suapan dia santap sebelum membuka pintu rumahnya.
*Pintu di buka
Otomatis Nisa langsung menutup pintu dengan cepat saat mengetahui bahwa tamu yang datang adalah Gian, suaminya sendiri.
Tapi tangan Gian lebih cepat dari pada pergerakan Nisa, "Please ... Dengar penjelasanku dulu Nisa." Ucap Gian dengan suara beratnya menahan pintu yang Nisa dorong kuat dari dalam.
"Engga, jangan ganggu ketenanganku lagi, aku lebih bahagia seperti ini, aku mohon."
"Aku yang akan tersiksa Nisa!"
"Pembohong!"
"Tolong ... Sekali ini saja." keduanya masih saling mendorong pintu di berlawan arah.
"Gian, sudah cukup permainan suami istrinya ... kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau kan? Jadi untuk apa lagi?"
Gian terpaksa mendorong pintu lebih kuat lagi sampai Nisa akhirnya terjatuh ke lantai. "Awhhhh." Nisa mengaduh saat bokongnya terbentur ke lantai dengan kerasnya.
Dengan cepat Gian meraih kedua tangan Nisa dan membantunya untuk bangun, tapi Nisa dengan cepat menepisnya. "Jangan sentuh aku!"
"Maaaf ... Hanya ini yang aku bisa lakukan agar kamu mau mendengar penjelasanku."
"Lepas!" Akhirnya Gian melepaskan cekalan tangannya. Dengan cepat dia langsung mengunci pintu agar Nisa tidak melarikan diri.
"Gian ... Keinginanku hanya ingin bebas, itu saja. Kamu juga akan leluasa melakukan apapun yang kamu mau tanpa ada aku di rumahmu."
"Rumahku rumahmu juga sayang. Video yang kemarin ... semuanya adalah kesalah pahaman. Apa yang kamu sangkakan adalah salah besar."
"Aku gak peduli."
"Harus Nisa, kamu harus perduli sama aku!"
"Pergi Gian, pergi!"
"Kamu tahu betapa lelahnya aku? Aku buru-buru pulang untuk bertemu lebih cepat denganmu, lalu aku langsung pergi ke desa saat Ibu bilang kamu sudah pulang. Tolong ... izinkan aku disini." Pinta Gian dengan wajah sendunya.
Nisa, kamu tidak boleh luluh. Dia sudah mengkhianatimu ...
Gian memeluk paksa Nisa, sedangkan Nisa terus memberontak. "Yang aku lakukan kemarin, murni untuk membantu sebagai teman, karena dia sedang ada di posisi terendah, maka dari itu aku merasa iba."
"Lepp-passsss!!!!!" Nisa tak ingin menanggapi, dia terus berusaha untuk lepas dari pelukan Gian.
"Setelah itu ... aku mengantar dia dari IGD untuk pulang ke rumahnya, di saat itu aku di kepung wartawan, karena Arabela adalah pelaku penabrakan."
"Aku mengantar kerumahnya dan menyudahi pertolongan, aku sama sekali tidak membantunya lebih dari itu, materi pun aku tidak membantunya sama sekali, dan aku janji ... Aku tidak akan lagi berhubungan dengannya walaupun dia berada di pinggir jurang sekalipun, aku janji ... Aku janji sayang." Gian menelusupkan wajahnya di bahu Nisa, dengan suara terisak Gian terus mengucap kata maaf terus menerus.
Pertahanan Nisa mulai runtuh, rasa iba perlahan datang di benaknya ... Walaupun Nisa terus memberontak, tapi dia mendengarkan penjelasan Gian dengan seksama.
"Aku tidak pernah menangis, apalagi di hadapan wanita ... Aku mohon Nisa ... Aku sudah menurunkan harga diriku serendah-rendahnya malam ini, tolong beri aku kesempatan."
Nisa akhirnya menurunkan kedua tangannya, tidak lagi memberontak tapi juga tidak membalas pelukan suaminya.
"Sudah paham dengan semuanya? Sudahkah bisa memaafkan aku?"
"Lepas ... Mie instan ku sudah mekar seperti cacing." Kata Nisa, seketika Gian langsung melepas pelukannya.
Nisa berjalan ke arah meja, dimana dia tadi menikmati mie instannya. Gian pun berjalan mengekori.
"Akupun lapar."
"Tidak ada makanan lagi, hanya ada ini."
"Maukah berbagi dengan suamimu ini?"
"Kamu tidak akan suka, ini menjijikan." Kata Nisa dengan ketus, dia terus mengaduk mienya yang sudah membengkak, sejujurnya dia tidak tega juga makan di hadapan suaminya yang juga sedang merasa lapar.
Gian mendekat, mendudukkan dirinya tepat di samping Nisa. "Mulai malam ini, aku suka apa yang kamu makan ... Apapun, ayo suapi aku." Ucap Gian seolah tidak terjadi sesuatu menegangkan beberapa menit sebelumnya.
Nisa menyodorkan mangkuk mienya, "Ini ... Makanlah."
"Suapi ... Aku ingin di suapi sayang."
"Tidak bisa, bokongku sakit." Ucap Nisa beralasan.
Gian pun tertawa terbahak-bahak, aku minta di suapi dengan tangan, bukan dengan bokong ... Kalau urusan bokong bisa nanti malam."
Nisa memukul bahu Gian dengan kekuatan penuh, kesal bercampur rasa malu ... Karena dia mengatakan alasan yang sangat tidak masuk akal.
"Awhhh ... Sakit sakit." Rengek Gian.
"Makan sendiri atau ku makan habis mie nya!" Ancam Nisa.
Gian mengalah, dia menghabiskan mie instan yang sudah mekar itu dengan lahap tanpa tersisa.
"Seperti tidak makan satu Minggu saja." Celetuk Nisa.
"Beberapa jam tanpamu rasanya seperti satu minggu sayang."
"Cih!" Nisa membuang pandangannya ke sisi lain.
Gian terkekeh, dirinya merasa aman dan tenang kala sudah menyelamatkan rumah tangganya.
Malam kian larut, Gian masih terus memandangi Nisa yang sibuk berbenah rumah, sebenarnya itu Nisa lakukan agar Gian tertidur di sofa karena bosan menunggu, tapi pria itu tetap segar melihat pergerakan istrinya.
"Mau sampai jam berapa?" Tanya Gian, melihat Nisa yang sudah berkali-kali menguap dan matanya terlihat berair karena menahan kantuk.
"Tidur saja duluan." Kata Nisa.
"Dimana?"
"Di kursi, itu cukup untuk satu badan."
"Kamu?"
"Di kamar."
"Aku juga di kamar."
"Kamarku sempit, kamu bisa tidur di kamar bekas orang tuaku."
"Tidak ... Aku tidur dimanapun kamu tidur."
"Keras kepala sekali."
Nisa pun akhirnya mengalah karena sudah tak kuat lagi menahan kantuk, mereka berdua tertidur di kamar bekas mendiang orang tua Nisa, karena hanya itu kasur yang bisa di tempati oleh dua orang.
"Disini berdebu, jangan salahkan aku jika kamu bersin-bersin.
Gian menyusul menaiki kasur, kasur yang berisi kapuk di dalamnya menjadikan tekstur empuk sama sekali tidak terasa.
Semalaman Gian terus gelisah, dia tidak bisa tertidur nyenyak. Tubuhnya berguling ke kanan dan ke kiri mencari posisi terbaik.