NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Pagi itu, sinar matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah tirai jendela, membiaskan cahaya hangat ke dalam ruang tamu yang masih dipenuhi suasana malas. Udara terasa tenang, namun tidak dengan isi rumah tersebut, terutama sejak suara kecil yang cerewet mulai mendominasi sejak subuh.

Evelyn yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya tampak berdiri di dekat meja, memeriksa isi tasnya satu per satu. Wajahnya terlihat fokus, tapi sesekali ia menghela napas panjang, seperti sudah bersiap menghadapi hari yang melelahkan di rumah sakit.

Belum sempat ia benar-benar selesai, suara kecil nan manja langsung memecah ketenangan pagi itu.

“Jula ikut onty… malas kali Jula di lumah cendilian…” rengek Azzura sambil menarik-narik ujung jas Evelyn.

Anak kecil itu berdiri dengan wajah memelas, kedua matanya membulat sempurna, seolah dunia akan runtuh jika permintaannya tidak dikabulkan. Rambutnya yang sedikit berantakan justru membuatnya terlihat semakin menggemaskan, dan semakin sulit untuk ditolak.

Evelyn menoleh, mengerutkan kening. “Kan ada nenek. Lagian onty ini kerja, bukan mau pergi jalan-jalan,” ucapnya tegas, meski nadanya masih berusaha sabar.

Azzura langsung mengembungkan pipinya, tanda protes. Ia tidak menyerah begitu saja. Dengan cepat, ia mengangkat kedua tangannya, membentuk huruf V dengan jari-jarinya, wajahnya berubah menjadi penuh keyakinan.

“Tapi keljanya onty kan cuma plikca-plikca olang doang. Janji Jula nda ganggu nanti!” ucapnya polos.

Evelyn langsung memijat pelipisnya. Ia tidak tahu harus tertawa atau merasa tersinggung mendengar penjelasan sederhana tentang pekerjaannya itu. Dalam benaknya, “plikca-plikca orang” yang dimaksud Azzura mungkin adalah tindakan medis yang selama ini ia lakukan, yang jelas jauh dari sekadar permainan.

Belum sempat Evelyn memberikan bantahan, suara lain terdengar dari arah dapur.

“Ajak aja. Mama juga pusing kalau ada dia di sini. Mulutnya ngomong terus, capek mama jawabnya,” ucap Vega santai, sambil berjalan keluar membawa segelas air.

Evelyn langsung menoleh tajam. “Tapi ma!” desisnya kesal.

Vega hanya mengangkat bahu, sama sekali tidak merasa bersalah. Justru ia tersenyum kecil melihat ekspresi putrinya yang mulai kehilangan kesabaran.

Sementara itu, Azzura langsung memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia memeluk kaki Evelyn erat-erat, seolah tidak ingin dilepaskan.

“Onty… ayolah… Jula baik kok. Jula cuma mau lihat onty kelja,” ucapnya lagi, kali ini dengan suara lebih pelan, namun justru terdengar lebih menyentuh.

Evelyn terdiam sejenak.

Tatapannya turun ke arah keponakannya itu. Ada sesuatu di sana, ketulusan yang tidak dibuat-buat. Rasa penasaran seorang anak kecil, yang mungkin hanya ingin merasa dekat dengan orang yang ia sayangi.

Ia menghela napas panjang.

Hari ini pasti akan melelahkan. Bahkan tanpa Azzura pun, pekerjaannya sudah cukup menguras tenaga dan pikiran. Membawa anak kecil ke rumah sakit jelas bukan ide yang bijak.

Namun…

Evelyn kembali menatap wajah kecil itu, yang kini masih menunggu dengan penuh harap.

“Kalau ikut, harus nurut. Tidak boleh lari-larian. Tidak boleh masuk ke ruang tindakan. Dan yang paling penting, tidak boleh ganggu onty kerja. Bisa?” ucapnya akhirnya, nada suaranya berubah serius.

Wajah Azzura langsung berbinar. Ia mengangguk cepat, terlalu cepat bahkan.

“Bicaa! Janji!” serunya riang.

“Jangan janji doang. Kalau melanggar, besok nggak boleh ikut lagi,” tambah Evelyn.

“Iyaa!” jawabnya lagi tanpa ragu, meskipun jelas ia belum tentu benar-benar mengerti konsekuensinya.

Vega tertawa kecil di samping mereka. “Akhirnya luluh juga.”

Evelyn hanya mendengus pelan, lalu meraih tasnya. “Kalau nanti dia bikin masalah, mama yang tanggung jawab.”

“Enak aja, kakakmu lah yang suruh tanggung jawab” balas Vega cepat, masih dengan nada santai.

Azzura sudah melompat-lompat kecil kegirangan. Ia berlari mengambil sandal kecilnya, lalu kembali dengan senyum lebar yang tidak pernah lepas dari wajahnya.

Pagi itu, akhirnya berubah menjadi lebih ramai dari biasanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Setelah tiba di rumah sakit, tanpa membuang waktu, Evelyn langsung menjalankan rutinitasnya, visit ke kamar pasien sebelum membuka praktik di poli. Langkahnya cepat namun tetap tenang, mencerminkan profesionalitas yang sudah melekat dalam dirinya.

Di sampingnya, Azzura berjalan kecil sambil menoleh ke sana kemari, matanya penuh rasa penasaran melihat lingkungan yang sama sekali berbeda dari rumah.

Dengan satu tangan menggenggam tas, Evelyn meraih tangan kecil keponakannya itu agar tidak lepas. Tak lupa, ia kembali memberi peringatan.

“Ingat, jangan berisik. Ini di rumah sakit, banyak pasien yang sakit, tidak seperti di rumah,” ucapnya tegas, menunduk sedikit agar sejajar dengan tinggi Azzura.

“Iya, iya, celewet kali onty ini,” balas Azzura dengan wajah kesal, bibirnya sedikit manyun.

Evelyn hanya diam. Ia memilih tidak menanggapi, hanya menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kesabaran yang sejak pagi sudah diuji.

Langkah mereka berhenti di depan sebuah kamar rawat inap.

Ceklek…

Pintu dibuka perlahan.

Di dalam, Enzo terlihat duduk bersandar di atas ranjang pasien. Tubuhnya masih tampak sedikit lemah, namun auranya tetap menunjukkan sosok yang tidak biasa. Di pangkuannya, sebuah laptop terbuka, dan jemarinya sebelumnya sibuk mengetik sebelum akhirnya terhenti.

“Selamat pagi,” sapa Evelyn dengan nada profesional, seperti biasa, datar, tenang, tanpa emosi berlebih.

Enzo mengangkat pandangannya. Tatapannya langsung tertuju pada Evelyn, namun hanya sesaat karena kemudian alisnya mengernyit ketika menyadari ada sosok kecil di samping dokter itu.

Pandangan tajamnya berpindah ke Azzura, memperhatikan dengan penuh tanda tanya.

“Dia anakmu?” tanyanya singkat, nada suaranya terdengar santai namun jelas mengandung rasa penasaran.

“Bu—” Evelyn baru saja hendak menjawab.

Namun kalimatnya langsung terpotong.

“Iya om tampan. Ajula anak mami Epe,” sahut Azzura dengan penuh percaya diri, bahkan disertai senyum lebar yang begitu polos.

Waktu seakan berhenti sejenak.

Evelyn langsung menganga, matanya membulat tak percaya. Ia menoleh cepat ke arah Azzura, seolah ingin memastikan apa yang baru saja ia dengar itu benar-benar keluar dari mulut keponakannya.

Sementara itu, Azzura tampak santai. Ia bahkan berdiri tegak dengan bangga, seolah baru saja memperkenalkan identitasnya yang paling benar di dunia.

Di sisi lain, Enzo terdiam beberapa detik. Tatapannya kembali beralih ke Evelyn, kali ini lebih dalam, lebih penuh arti.

“Jadi kamu sudah menikah?” tanyanya kemudian.

Nada suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang berubah, entah itu rasa ingin tahu, atau mungkin… sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.

Evelyn masih belum sepenuhnya pulih dari keterkejutannya. Ia menarik napas, mencoba mengendalikan ekspresinya yang sempat runtuh.

Tatapannya kembali ke Enzo, lalu ke Azzura, sebelum akhirnya ia memejamkan mata sesaat.

Hari ini…

Sepertinya akan jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan.

"Cudah, tapi papi Jula di makan mucang. Nda pulang-pulang dia" lagi-lagi Azzura yang menjawabnya.

"Hah?" bingung Enzo.

Dan Evelyn lebib bingung karena kelakuan ponakannya di luar nurul.

1
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
Atik Marwati
wkwkwkw...mafianya mleyot
Atik Marwati
gabung thor🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!