NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XVII—PORSI DAN PERAN MANUSIA

Tinggal mereka berdua yang ada di sana, langit tertutup gelap oleh awan hitam serasa ingin mengguyur bagian bumi seisinya, mereka tak tahu mau apa lagi selain pulang kerumah, lalu Arka mengajak Chandra pulang bersama. Arka meraih handphonenya kemudian menelepon seseorang untuk segera menjemputnya. Tak selang lama lelaki paruh baya datang dengan mobil mewah dan membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Arka. Chandra tak terkejut jika Arka di jemput oleh seorang sopir dan bahkan di perlalukan bagai seorang pangeran seperti di dalam film-film.

“Ayo Chand kita naik Chand” Ajak Arka

Chandra menggelengkan kepala, menolak tawaran dari Arka untuk pulang bersama.

“Lah kenapa ayo, mau naik apa kamu? ayo sama aku saja, lagian ini mau hujan liat tuh ke atas kaya mau tumpah airnya” Ajaknya lagi sambil menunjuk kearah langit.

Sopir paruh baya tersebut merespon dialog sepihak mereka “Mas ganteng ayo naik tak anter pulang, den Arka sudah mengajak sampean silahkan mas ganteng masuk ke dalam mobil” Ajak sopir dengan lembut dan mengarahkan tangan kanannya kearah mobil.

Merasa tak enak hati menolak permintaan dari orang tua ia mengangguk pelan dan berjalan sambil menundukkan kepala selayaknya kebiasaan orang jawa yang lewat di depan orang yang lebih tua.

Chandra duduk di samping Arka di kursi belakang, Arka terus berbicara tanpa henti dengan riang membahas tentang tara dan mengajaknya untuk mengunjungi rumah tara kapan-kapan jika ada waktu luang, sedangkan Chandra hanya mengiya kan semua perkataan Arka tanpa berpikir dua kali.

“Huh….Seharusnya anak-anak seumurannya merasakan rasanya bersekolah dan bermain, tetapi dunia memaksanya untuk berjuang melawan kehidupan yang harusnya tak dia alami di masa usia anak-anak” Keluh Arka tentang Tara.

“Iya aku juga merasa seperti itu, serasa dunia itu tak adilkan?” Timpal Chandra

“Iya menurutku juga begitu” Imbuh pendek Arka setuju dengan perkataan Chandra.

Pak sopir menyimak lalu menengahi pembicaraan mereka berdua “Anda berdua salah den”

“Maksud pak Cipto?” Arka merespon

“Bukan dunia ataupun hidup yang serasa tak adil den, tapi tentang bagaimana cara manusia itu sendiri menerima porsi yang telah di berikan oleh Tuhan”. Sanggah pak Cipto

“Maksudnya pak?” Chandra menyerobot bertanya seakan merasa dirinya akan mendapatkan pecahan jawaban yang selama ini di pertanyakan di dalam kepalanya

“Mas coba sampean bayangkan, jika dunia ini memiliki porsi yang sama apa yang akan terjadi”

“Semua akan bahagia tentunya pak” Balasnya

“Tentu tidak mas, justru dunia ini gak akan tertata rapi seperti ini bahkan akan monoton ataupun sebaliknya akan amburadul.”

“Contoh saja mas, misal semua orang di beri kekayaan yang sama atau kondisi yang sama oleh Tuhan apakah dunia ini akan jalan baik? Orang-orang ga mungkin akan bekerja mas mereka merasa kekayaan mereka sudah sama mengapa harus bekerja mencari uang, selain itu di jalan-jalan ga akan ada ruko-ruko seperti sekitar jalan ini”

“Mengapa? Ya mereka merasa mengapa harus jualan, orang sudah punya uang kog. Begitu pula sebaliknya mas.” Lanjut Cipto

“Saya merasa kurang bisa mencernanya pak tolong apakah bapak bersedia untuk menjelaskannya lagi?” Chandra memohon

Arka menyimak dengan menyilangkan tangannya d depan dadanya sekali-kali mengangguk.

“Mas, contoh kecilnya di depan mas yaitu saya jika saya sendiri di beri Tuhan kekayaan yang sama dengan ayah den Arka, saya sendiri enggan kog kerja apalagi menjadi sopir, saya pasti akan mempekerjakan seorang sopir juga kalau porsi saya sama dengan Tuan besar, begitu pula orang-orang mas pasti ingin punya sopir semua biar kemana-mana ga cape nyetir sendiri.

“Tapi pertanyaannya siapa yang mau jadi sopir? Sedangkan semua orang saja punya porsi sama dan menginginkan seorang sopir jadi siapa mas ya kira-kira?”

Chandra mencerna lalu memahami perkataan pak Cipto. Sedangkan Arka masih menyilangkan kedua tangannya dengan anggukan dagu.

“Jadi manusia seperti kita ini hanya harus menerima dan menjalani hidup dengan ikhlas sesuai porsi yang telah di berikan oleh Tuhan saja kog mas, dengan begitu dunia akan terasa adil sendirinya” Tutur Pak Cipto

Arka kali ini ingin menempatkan pertanyaannya untuk pak Cipto “Terus dalam kasus Tara anak yang tadi malam aku ceritain ke pak Cipto itu bagaimana?”

“Justru anak yang bernama Tara itu sedang menerima dengan ikhlas dan sedang menjalankan porsinya den”

“Tapi pantaskah anak umur segitu menerimanya? Menjalankan perannya sebagai penjual kue di lampu merah untuk ibunya yang sakit” Ujar Arka

“Pantas tidak pantas seperti itulah porsinya yang diberikan den, saya mohon maaf den jika kesannya pernyataan saya agak keras tapi memang seperti itulah kehidupan den.”

Mereka berdua merenung tak bersuara maupun bergerak, mereka mencerna perkataan pak Cipto tetapi tak dapat menerima entah mengapa yang membuat mereka seperti demikian.

“Tapi jika memang benar benar peduli, apa den sudah membantu anak itu?’’ Tanya Pak Cipto memecah renungan mereka

“Iya tadi aku memborong semua dagangannya dan memberikan sejumlah uang untuk membeli obat ibunya yang sedang sakit”. Balas Arka

“Nah…den itulah porsi Anda dan sekarang Anda sudah menjalankan peranan Anda, yaitu membantu orang yang sedang membutuhkan. Jadi sekarang paham? Bahwa semua manusia di dunia ini memiliki porsi dan peran masing-masing yang harus di terima dan di jalani kemudian akan tercipta keadilan di dalamnya.

“OH….YA sekarang aku paham semua dengan perkataan pak Cipto tadi dan sudah masuk ke logikaku semua, bagaimana denganmu Chand” Kata Arka dengan semangat

Chandra menutup kedua matanya dan menyandarkan kepalanya ke kursi mobil lalu menjawab pertanyaan dari Arka “Entahlah”

“Memang seperti itu mas jika seseorang belum dapat menerima porsi maupun perannya, Pak Cipto yakin jika mas Chandra ini sudah paham tetapi sebelumnya mohon maaf mas sampean termasuk yang belum bisa menerima porsi dan peran yang telah di berikan-?” Ungkap pak Cipto dengan jujur

“Pak Cipto sudah kami sudah paham tolong menyetir dengan benar” Potong Arka agar pak Cipto tak melanjutkan ungakapan jujurnya

“Pak Cipto benar, terimakasih pak sudah mau menjelaskan, saya sendiri paham hanya saja saya sendiri gak bisa menerima porsi dan peran yang telah di berikan oleh Tuhan” Lirih Chandra dengan tetap menyenderkan kepalanya ke kursi mobil bedanya sekarang matanya terbuka lebar.

“Bukan Gak bisa mas tapi BELUM”

“Paaaak….Sudah” Suruh Arka lagi

“Siap den”

Kedua mata Chandra tertutup kembali, bukan karena kantuk tetapi karena renungan. Arka melihatnya dengan perasaan ga enak atas perkataan yang di lontarkan pak Cipto. Ia sudah mengetahui semua tentang Chandra dari Cerita Baskara, jadi ia sudah paham apa yang dialami selama ini maupun bagaimana dengan perasaannya.

Untuk mencairkan suasana Arka mengajak Chandra untuk berbicara tentang kapan waktu yang tepat untuk kerumah Tara dan kapan berencana untuk menemuinya lagi. Chandra meresponnya dengan baik dan mulai lagi berbicang

Pak Cipto sudah tak bicara lagi, hanya menyetir mobilnya dengan lihai.

Sambil mendengarkan Perkataan Arka, Chandra memperhatikan sekitar dalam mobil, ia melihat kaca atas depan mobil terlihat sopir melirik dan tersenyum ke arah Arka dari kaca tersebut sambil membawa mobilnya menuju ke arah rumah Chandra.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!