NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 22

Fajar menyingsing di Sektor Tujuh dengan warna langit yang tidak biasa—ungu pekat yang perlahan memudar menjadi keemasan. Namun, ketenangan pagi itu pecah oleh suasana di kedai kopi Pak RT. Orang-orang berdiri mematung di pinggir jalan, bukan karena melihat ancaman, melainkan karena mereka saling menatap dengan kebingungan yang mendalam.

"Aku memimpikannya lagi, Pak RT," bisik seorang pemuda yang biasanya bekerja di bengkel. Tangannya gemetar saat memegang gelas plastik. "Bukan mimpi tentang masa depan, tapi tentang tempat ini... ribuan tahun lalu. Ada bangunan besar dari cahaya di bawah kaki kita. Dan aku merasa... aku tahu cara mengoperasikannya."

Pak RT tidak menjawab. Ia hanya menatap tangannya sendiri, di mana urat-urat kebiruan tampak berdenyut seirama dengan detak jantung tanah yang samar. Air yang mereka minum dari mata air Sektor Tujuh telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menyembuhkan; air itu telah membuka gerbang yang selama ini dikunci oleh evolusi.

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di pesisir Timur, Mira terbangun oleh aroma kopi yang mulai menyerbak—kopi dari kebun Bogor yang mereka bawa. Ia menemukan Romano sudah berdiri di balkon luar mercusuar, menatap cakrawala dengan teleskop kuningan di tangannya.

"Ada yang berubah, Mira," ucap Romano tanpa menoleh. "Lihatlah lautnya."

Mira melangkah keluar, merapatkan kain tenun di bahunya. Di bawah sana, permukaan laut tidak lagi biru atau hijau. Air laut itu berpendar dengan cahaya biru elektrik yang halus, bergerak dalam pola-pola geometris yang rumit, seolah-olah air itu sendiri sedang berkomunikasi dengan struktur yang ada di bawah Sektor Tujuh.

"Transmisi radio semalam... itu benar," gumam Mira. Ia menyentuh pagar besi mercusuar yang terasa hangat. "Penawar yang kita sebar tidak hanya menetralkan genetik mereka. Penawar itu mengaktifkan sesuatu yang tertidur di dalam tanah, dan sekarang laut pun ikut merespons."

Romano menurunkan teleskopnya, wajahnya menunjukkan campuran antara kekaguman dan kewaspadaan. "Dunia yang kita tinggalkan sudah tidak ada lagi, Mira. Sektor Tujuh bukan lagi sebuah pemukiman kumuh atau zona korporasi. Tempat itu menjadi jantung dari sesuatu yang baru. Sesuatu yang purba sekaligus futuristik."

Mira terdiam, merasakan angin laut memainkan rambutnya. Ia teringat kode 'Anggrek Hitam' dan suara parau di radio. Godaan untuk kembali, untuk menjadi ratu di tengah kekacauan baru itu, sempat terlintas. Namun, ia melihat ke arah pondok kecil mereka di bawah tebing, ke arah kebun sayur yang baru tumbuh, dan ke arah pria di sampingnya.

"Biarkan dunia berubah," kata Mira akhirnya, suaranya mantap. "Kita sudah memberikan mereka kuncinya. Sekarang biarkan mereka belajar membuka pintunya sendiri. Kita bukan lagi pemain di papan catur itu, Romano."

Romano tersenyum, menyandarkan tubuhnya di pagar. "Jadi, kita tetap di sini? Meskipun air laut mulai bercahaya dan sejarah mulai ditulis ulang?"

Mira mengambil cangkir kopi dari tangan Romano, menyesapnya perlahan sambil menatap matahari yang mulai meninggi. "Terutama karena itu. Di sini, kita punya baris terdepan untuk melihat bagaimana dunia menyembuhkan dirinya sendiri—tanpa campur tangan kita."

Ia meletakkan cangkir itu, lalu menarik tangan Romano menuju tangga turun. "Dan ingat, atap itu masih bocor. Keajaiban dunia bisa menunggu, tapi kenyamanan rumah kita tidak bisa."

Mereka turun melewati tangga spiral, meninggalkan puncak mercusuar yang kini tidak hanya memancarkan cahaya buatan manusia, tetapi juga menangkap pantulan cahaya dari laut yang mulai terbangun.

Tangga spiral itu berderit di bawah langkah kaki mereka, suara yang kini terasa akrab dan menenangkan. Di dalam pondok kayu di kaki tebing, cahaya matahari pagi masuk melalui celah-celah jendela, debu-debu beterbangan seperti kristal kecil di udara yang asin.

Romano meletakkan perkakasnya di meja dapur, lalu menatap Mira yang sedang menyandarkan kepalanya di ambang pintu, memandangi pendar biru di garis pantai yang perlahan memudar seiring terbitnya matahari.

"Kau memikirkan mereka, bukan?" tanya Romano lembut.

Mira tidak menoleh, namun bahunya sedikit turun. "Aku memikirkan bagaimana rasanya bagi mereka. Bangun dengan ingatan tentang ribuan tahun yang lalu, sementara mereka bahkan belum tahu apa yang akan mereka makan malam ini. Pengetahuan tanpa kekuasaan adalah beban, Romano. Aku hanya berharap mereka tidak saling menghancurkan karena merasa paling tahu."

"Mereka punya air itu," sahut Romano sambil mendekat, berdiri tepat di belakang Mira. "Air yang tidak bisa dimonopoli lagi. Itu pondasi yang lebih kuat daripada saham atau senjata. Jika mereka ingat bagaimana cara membangun, mereka juga akan ingat bagaimana cara berbagi."

Mira membalikkan badan, melingkarkan lengannya di leher Romano. "Kau selalu menjadi orang yang optimis di antara kita berdua akhir-akhir ini. Siapa yang sangka sang 'Hiu Korporat' akan bicara tentang berbagi?"

"Mungkin karena aku sudah melihat apa yang terjadi jika kita hanya menyimpan segalanya untuk diri sendiri," Romano mengecup dahi Mira. "Hanya ada kehampaan di puncak itu. Di sini... meskipun atap kita bocor, setidaknya aku tahu untuk siapa aku memperbaikinya."

Mira tersenyum, rasa hangat menjalar di dadanya, mengalahkan dinginnya sisa badai semalam. Ia menarik napas dalam, mencium aroma kayu tua, kopi, dan pria yang dicintainya. Dunia di luar sana mungkin sedang mengalami revolusi besar, peradaban mungkin sedang bergeser di bawah kaki warga Sektor Tujuh, namun di sini, di bawah bayang-bayang mercusuar tua, segalanya terasa sederhana.

"Mari kita mulai," kata Mira mantap. "Atap itu tidak akan memperbaiki dirinya sendiri, dan aku ingin memastikan kita kering sebelum hujan sore nanti."

Sepanjang pagi itu, tidak ada pembicaraan tentang genetika, struktur purba, atau kode-kode rahasia. Yang ada hanyalah suara palu yang beradu dengan paku, tawa kecil saat Romano hampir terpeleset, dan keheningan yang nyaman di antara dua orang yang akhirnya berhenti melarikan diri dari diri mereka sendiri.

Di kejauhan, laut tetap bergerak, menyimpan rahasia birunya di kedalaman yang tak terjangkau, sementara di Sektor Tujuh, sebuah legenda baru mulai ditulis oleh tangan-tangan mereka yang baru saja terbangun dari tidur panjang sejarah.

Sentuhan Romano yang awalnya santai saat memperbaiki atap, perlahan berubah menjadi intensitas yang berbeda ketika mereka memutuskan untuk beristirahat di bawah bayang-bayang teras kayu. Keringat yang membasahi kening Romano berkilat di bawah sinar matahari, memberikan kesan maskulin yang mentah dan tak terbendung—sesuatu yang jauh lebih nyata daripada penampilannya dengan setelan mahal di masa lalu.

Mira merasakan tarikan magnetis itu lagi. Saat ia mengulurkan kain untuk menyeka keringat di leher Romano, jemarinya tak sengaja bersentuhan dengan kulit pria itu yang panas. Romano menangkap pergelangan tangan Mira, tidak melepaskannya, melainkan menariknya hingga punggung Mira bersandar pada tiang kayu pondok yang kasar.

"Atapnya bisa menunggu," bisik Romano, suaranya kini berat dan penuh dengan gairah yang kembali tersulut oleh kedekatan mereka.

Mira tidak membantah. Ia justru menarik tengkuk Romano, membiarkan bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lebih lapar dan lebih menuntut daripada semalam. Ada rasa urgensi di sana, seolah-olah setiap detik yang mereka habiskan tanpa bersentuhan adalah waktu yang terbuang sia-sia. Di tempat terpencil ini, di mana tidak ada lagi protokol atau ancaman, tubuh mereka berbicara dalam bahasa yang paling jujur.

Tangan Romano menyusup ke bawah pakaian Mira, merasakan kulit wanita itu yang hangat dan lembut di bawah teriknya siang. Napas Mira memburu, ia melingkarkan kakinya di pinggang Romano saat pria itu mengangkatnya dengan satu gerakan kuat, membawa mereka masuk kembali ke dalam keremangan pondok yang sejuk.

Di atas ranjang sederhana yang terbuat dari kayu apung, mereka melepaskan sisa-sisa beban dunia. Tidak ada lagi pemimpin Sektor Tujuh atau CEO Nusantara; yang ada hanyalah dua jiwa yang saling mengeksplorasi dengan gairah yang membakar, menyatu dalam ritme yang seirama dengan deburan ombak di luar sana. Setiap sentuhan adalah pengakuan, dan setiap desahan adalah bentuk kemerdekaan yang paling hakiki.

Malam mungkin membawa misteri dari laut yang bercahaya, tapi siang ini, semesta mereka hanya terbatas pada empat dinding kayu dan napas yang saling bertautan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!