NovelToon NovelToon
KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: maulidiyahdiyah

Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.

Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...

Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Identitas Neil

‘CTAK’

Satu pukulan pada bola billiard yang sangat epik, aku berkacak pinggang menatap Arianne yang tadi menantangku. Kali ini aku datang lagi ke ‘ZGD Billiard Club’ bersama Arianne.

“Tidak kuduga kamu sangat profesional bermain billiard”. Pria dempal pemilik ZGD Billiard Club yang memiliki nama panggilan Koswa. Dia memujiku tinggi-tinggi, kurespon hanya dengan kekehan singkat.

“Ari, tuan muda yang kau bawa ini sangat hebat”. Ucapan Koswa barusan membuatku tertoleh ke Arianne, ingin kulihat bagaimana responnya, tatkala Arianne akan berkata aku memotongnya.

“Dimana Neil?”. Tanyaku.

“Entahlah”. Koswa menggidikkan bahu. Kemudian aku meraih ponsel yang kuletakkan di sofa VIP untuk tamu istimewa ZGD Billiard Club. Jari-jemariku lihai mencari nama kontak yang ingin kuhubungi.

‘KENNY IN ROOM CHAT’

Aku : oi

Aku : aku mau nomor Neil

Kenny : untuk?

Aku : kepentingan

Kenny : (contact : Bangsat/ save or block)

Dasar bisa-bisanya ia memberi nama kontak Neil dengan nama ‘Bangsat’.

‘BANGSATNYA KENNY IN ROOM CHAT’

Aku : neil

Aku : save my number, i am Kaisar

Aku : come here, join to ZGD Billiard

Bangsatnya kenny : on the way

Alasanku untuk meminta Neil datang ke ZGD adalah agar aku memiliki teman untuk memulai obrolan, sedari tadi aku disini hanya mengeluarkan beberapa kata yang penting saja, walaupun ada Arianne, tapi aku masih kurang nyaman untuk berbincang-bincang dengannya.

“Kaisar”. Panggil Arianne kepadaku, karena panggilannya aku meletakkan ponsel kembali sembari mengangkat sebelah alisku.

“Ayo bermain lagi”. Ajaknya.

Apa hanya perasaanku saja, sikap Arianne sedikit berubah, sebelumnya ia sangat bar-bar apalagi saat di camp pelatihan, sedangkan saat ini dia seperti perempuan pada umumnya, suaranya juga terkesan lebih lembut.

“Aku ingin bicara kepadamu”. Mendengarnya Arianne pun mendekat kepadaku.

“Ada apa?”. Tanyanya yang membuatku sedikit risih karena perubahan suaranya.

“Jangan panggil aku dengan nama secara langsung kecuali saat di kampus, selebihnya panggil aku tuan muda”. Tekaknku saat mengucapkan ‘Tuan Muda’ ia menunduk layaknya majikan yang memarahi anak buahnya. “Baik”. Timpalnya. Sebenarnya aku sedikit kasihan ia diperlakukan seperti itu.

‘KOSWA I’M COMING WITH MY FRIEND’

Suara teriakan yang melengking dari arah luar club, terdengar seperti suara wanita namun berat. Tak lama kemudian Neil muncul bersama seorang wanita dibelakangnya yang mana wanita itu mampu membuatku terpaku.

“Jangan dilihat terus temanku ini, bilang saja kalau naksir”. Celetuk Neil. “Ck”. Decakku.

“Selamat datang Neil”. Sambut Koswa.

“Tuan muda Kaisar, inilah dia anak pejabat”. Imbuhnya sontak aku membelalak lebar.

‘BUGH’

Satu bogeman mendarat di punggung Koswa, sampai ia tak sadarkan diri, Neil sebagai pelaku tampak sangat marah, wajahnya memerah, dan deru napasnya kian memburu.

“Aku benci kau Koswa, bajingan, bangsat, sialan, keparat”. Amarahnya tampak sangat sulit dikendalikan, ia terus mengumpat berulang-ulang.

“Kalian semua jangan sekali-kali membuka identitasku”. Lanjutnya. Wanita yang datang bersama Neil tadi hanya bisa memeluk teman tomboy-nya dan menenangkannya, yang tak lain adalah Elisia.

“Kak, apa kamu memang ingin menjatuhkannya saat ini, sampai mengundangnya datang kesini”. Sentak elisia. Aku sebenarnya panik kalau Elisia marah, karena aku takut jika semakin jauh darinya. “No”. Sergahku.

“Aku tidak bermaksud seperti itu”. Lanjutku, kemudian Elisia memapah Neil agar bisa duduk di sofa.

“Relax, jangan didengarkan”. Ucap Elisia lembut untuk menennangkan Neil, aku menghampiri mereka berdua, aku menghidupkan rokok untuk menenangkan kepanikanku.

“Apa kamu bisa bercerita kepadaku?”. Tanyaku yang berniat memerintah.

‘PLAK’

Aku terkejut karena ulah Elisia yang memukulku secara tiba-tiba, aku hanya menatapnya sinis.

“Dia masih sedih, malah disuruh bercerita, kau gila yah”. Celotehnya.

“Aku”. Akhirnya Neil mengeluarkan suara lagi, sepertinya dia sudah berangsur tenang. Ia memulai tapi terlihat ragu.

“Maaf”. Aku berkerut bingung, tidak ada petir menyambar ataupun badai menerjang, dia seorang wanita setomboy itu mengatakan ‘Maaf’.

“Karena kau yang lama untuk memutuskan aspirasi di BEM jadi lama dan rumit”. Jelasnya, sudah kuduga, ia sebagai anak yang memiliki identitas istimewa, ia harus memberi nasehat kepada orang tuanya dengan kedok aspirasi mahasiswa, itu pasti menjadi suatu hal yang sulit.

“Alasanku tentu karena mementingkan identitasku, tanpa kusadari ternyata aku salah, aku yang egois”. Ungkapan Neil membuatku mengingat diriku sendiri, karena aku juga egois untuk menutupi identitasku.

“Apa yang orang tuamu perbuat sampai membuatmu marah?”. Tanyaku.

“pengalihan isu”. Satu kalimat sangat singkat yang mampu membuatku terdiam, sungguh dia dan yahnya berbanding terbalik.

“Dan aku adalah nava kalendiz, Neil hanya nama panggilan”. Aku cukup bersyukur bisa mengetahui ‘ZGD Billiard Club’, banyak informasi yang kudapatkan. Aku sebagai tamu saja mendapat cukup banyak informasi, lalu bagaimana dengan Koswa sebagai pemiliknya, berapa banyak informasi yang ia dapatkan.

Aku sudah mencari soal identitas Koswa, alhasil dia bukan orang yang istimewa ataupun mafia, lalu siapa yang mendukung di belakangnya?. aku tidak boleh terlalu tergesa-gesa, karena dia pasti bukan orang biasa.

“Kau, ayo bermain denganku, lihat siapa yang akan menang”. Tiba-tiba Arianne mengatakan itu kepada Elisia, sontak Elisia berkerut bingung.

“Arianne!”. sentakku, dia hanya bergidik acuh.

“Taruhan apa kamu?”. Tanya balik Elisia seraya bersedekap dada, Arianne mengerjapkan matanya berkali-kali sepertinya ia berpikir akan memepertaruhkan apa, sejatinya Arianne hanya anak buah Mansion Pradipta.

“Kamu duluan saja, taruhan apa”. Arianne balik bertanya kepada Elisia.

“Vila di lereng gunung”. Jawab Elisia enteng, aku sedikit tercengang, sebuah taruhan yang tidak biasa, apakah Elisia sama seperti Neil, sama-sama memiliki identitas istimewa?.

“kalau kamu bingung, taruhan seadanya saja”. Imbuh Elisia. Kemudian Arianne mengeluarkan beberapa lembar uang dengan icon Soekarno-Hatta.

“Satu juta”. Singkat Arianne, Elisia mengangguk pertanda menyetujuinya.

Akhirnya satu putaran mereka bertanding, Arianne tampak sangat profesional menurutku, sedangkan Elisia tampak masih amatir.

“Putaran satu Elisia!”. Seru karyawan ZGD, netraku membuat sempurna, tak kusangka Elisia yang menang.

“Satu putaran lagi!”. Seru Arianne.

“Lagi!”.

“lagi!”.

Berkali-kali Arianne den Elisia bermain, pemenangnya tetap Elisia. Usai mereka bermain, aku meraih ponsel dan menulis nama lengkap Elisia dalam catatan pribadi.

05. Note :

Elisia Lavoisier Youther

This My Girlfriend

“Thank you, satu juta ini untukku”. Elisia langsung menyambar uang berjumlah satu juta yang tergeletak di depan Neil. Spontan aku memeberi tepuk tangan yang sangat keras, memang wanitaku sangat hebat, yah wanitaku, pengakuan secara sepihak.

“Keren sekali”. Pujiku.

“Tentunya, itulah balasan kalau memandang rendah diriku”. Dia sangat percaya diri, inilah yang membuatku tersenyum tanpa sadar, sisi lain dari Elisia yang seperti ini sangat langka.

“You... beautiful girl”. bisikku pada Elisia, wanita bersurai coklat itu terdiam dengan wajah yang sudah memerah bak tomat.

Hari ini aku sangat terhibur karena senyumnya, apakah aku sudah segila itu?.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!