NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: PERTEMPURAN DI LERENG GUNUNG

Salju berubah merah.

Di lereng gunung yang sunyi, ribuan prajurit kerajaan berhadapan dengan ratusan anjing neraka dalam pertempuran yang mengerikan. Tubuh-tubuh bergelimpangan, darah membasahi putihnya salju, dan lolongan kematian menggema di antara puncak-puncak batu.

Aldric berada di pusat badai.

Tinjunya menghantam, cakarnya merobek, tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang membuat prajurit biasa hanya melihat bayangan hitam. Setiap tebasan pedang yang mengenainya hanya meninggalkan luka yang cepat menutup. Setiap serangannya merenggut nyawa.

Tapi jumlah mereka terlalu banyak.

"Aldric! Ke kiri!"

Ia menoleh. Varyn—avatar raksasanya—sedang bertarung melawan tiga Shadow Council sekaligus. Tubuh iblis itu berlumuran darah hitamnya sendiri, tapi ia masih tertawa.

"Ini baru menyenangkan!" raungnya, melemparkan satu lawan ke jurang.

Aldric membanting dua prajurit yang mencoba menusuk dari belakang. Napasnya tersengal—kekuatannya mulai menipis. Di dalam dirinya, iblis berbisik: Lepaskan kendali. Biarkan aku yang mengambil alih.

Tapi ia bertahan. Elara di belakangnya. Sera dan Ren. Ia tidak bisa kehilangan kendali.

Di atas batu besar, sesosok bayangan hitam berdiri tidak bergerak. Sosok yang dilihat Elara—pria berjubah dengan topeng perak, tapi berbeda dari Shadow Council biasa. Topengnya hitam pekat, tanpa lubang mata, dan dari baliknya terpancar aura yang membuat bulu kuduk merinding.

"Varyn," suara itu bergema—dalam, berlapis, seperti seribu orang bicara bersamaan. "Sudah lama."

Varyn berhenti. Tubuh raksasanya menegang. Untuk pertama kalinya, Aldric melihat ketakutan di mata gurunya.

"Kael," desis Varyn. "Kau masih hidup."

Sosok itu—Kael—tertawa. Tawa yang mengerikan, membuat salju di sekitarnya mencair.

"Aku tidak bisa mati, kau tahu itu. Tapi kau... kau hanya avatar di sini. Tubuh aslimu masih terperangkap di jurang." Ia melangkah maju, dan setiap langkahnya meninggalkan bekas hangus di batu. "Aku sudah lama menunggumu keluar."

Aldric berlari ke sisi Varyn. "Siapa dia?"

"Dia..." Varyn terdiam. "...saudaraku. Kael the Destroyer. Shadow Council bukan organisasi manusia—mereka adalah pengikutnya."

Dunia Aldric berhenti. Saudara Varyn? Iblis lain?

Kael menatap Aldric dengan topeng hitamnya. "Jadi ini muridmu. Setengah iblis dengan darah Veynheart." Ia mengangguk pelan. "Cocok untuk rencanaku."

"Rencana apa?"

"Kau akan membantuku membuka pintu yang selama ini ditutup. Tapi untuk itu, kau harus mati lebih dulu."

Kael melesat.

Gerakannya jauh lebih cepat dari Shadow Council mana pun. Dalam sekejap, ia sudah di depan Aldric, tangannya—cakar hitam panjang—menusuk tepat ke dada Aldric.

Tusuk.

Darah muncrat. Aldric terlempar puluhan meter, menghantam batu besar hingga hancur. Ia tergeletak, lubang menganga di dadanya—jantungnya hampir hancur.

"ALDRIC!" teriak Elara dari jauh.

Varyn meraung marah. Ia menerjang Kael, tapi iblis hitam itu hanya menangkis dengan satu tangan. Pertarungan dua iblis kuno mengguncang gunung—setiap pukulan menciptakan longsor kecil, setiap tendangan membelah batu.

Tapi Varyn hanya avatar. Kael yang asli.

Setelah beberapa menit, Varyn terpental, tubuh avatarnya mulai memudar.

"Kael... kau akan menyesal..."

"Aku tidak pernah menyesali apa pun, Saudaraku." Kael mengangkat tangan, siap menghabisi.

Ren menjerit.

Dari dalam tubuh kecil itu, cahaya merah menyala. Matanya terbuka—bukan mata Ren, tapi mata Varyn—dan dari mulutnya keluar suara berbeda.

"JAMAH DIA, KAEL, DAN AKU AKAN MENGEJARMU SAMPAI AKHIR ZAMAN!"

Kael berhenti. Ia menatap Ren dengan rasa ingin tahu.

"Menarik. Anak ini bisa jadi saluranmu." Ia tersenyum di balik topeng. "Baik. Aku simpan dulu nyawanya. Tapi yang lain—"

Ia berbalik ke arah Elara dan Sera.

Aldric terbaring di antara pecahan batu, jantungnya berdetak tidak karuan. Regenerasi bekerja, tapi lambat—terlalu lambat. Lukanya parah. Ia melihat Kael berjalan mendekati Elara, dan seluruh duniamu runtuh.

Tidak.

Tidak.

TIDAK!

Di dalam dirinya, iblis berteriak. Lepaskan kendali. Biarkan aku. Aku bisa menyelamatkannya.

Aku bisa—

LEPASKAN!

Dunia hitam.

Saat Aldric membuka mata lagi, dunia terlihat berbeda.

Semuanya lebih tajam—warna lebih terang, suara lebih jelas. Ia merasakan kekuatan luar biasa mengalir di setiap sel tubuhnya. Urat hitam di sekujur tubuhnya bersinar merah menyala. Matanya—bukan abu-abu lagi, tapi merah murni.

Ia bangkit.

Kael berhenti. Berbalik.

"Oh?"

Aldric melesat. Bukan kecepatan biasa—ini kecepatan yang bahkan Kael tidak bisa antisipasi. Tinjunya menghantam wajah bertopeng itu dengan kekuatan yang membuat gunung bergetar.

BUM!

Kael terpental, menghancurkan dua pohon besar sebelum berhenti. Topengnya retak.

"Kau..." Kael bangkit, terhuyung. "Kau melepas kendali?"

Aldric tidak menjawab. Ia menyerang lagi—dan lagi—dan lagi. Setiap pukulan menghancurkan, setiap tendangan mematikan. Tubuhnya bergerak sendiri, tanpa beban, tanpa rasa sakit, tanpa ampun.

Kael kewalahan. Untuk pertama kalinya, iblis kuno itu mundur.

"Cukup!" raungnya, memanggil kekuatan gelap. Dari tanah, ribuan tangan hitam muncul, mencoba menahan Aldric.

Tapi Aldric merobeknya seperti kertas.

"APA KAU INI?"

Jawabannya datang dari mulut Aldric sendiri—tapi suara yang keluar bukan suaranya. Suara Varyn dan suaranya bercampur jadi satu.

"Kami adalah murid dan guru. Manusia dan iblis. Dendam dan cinta."

Kael mundur lebih jauh. Para Shadow Council—yang tersisa—berkumpul di sekelilingnya, melindungi.

"Ini belum selesai," desis Kael. "Aku akan kembali. Dan saat itu, kau akan menyerah."

Ia meledak dalam kepulan asap hitam. Shadow Council ikut lenyap bersamanya.

Pertempuran berhenti.

Prajurit kerajaan yang masih hidup melihat pemandangan itu—iblis besar kabur, pemimpin mereka menghilang—dan mereka lari. Meninggalkan senjata, meninggalkan mayat, meninggalkan segalanya.

Hening.

Aldric berdiri di tengah salju merah. Tubuhnya masih bersinar, matanya masih merah. Ia menatap tangannya—tangan yang baru saja menghancurkan musuh—dan untuk sesaat, ia tidak mengenalinya.

"Aldric!"

Elara berlari menghampiri, memeluknya erat. "Kau... kau selamat..."

Aldric ingin membalas pelukannya. Tapi tubuhnya kaku. Ia merasa... aneh.

"Aldric?" Elara mendongak. "Kau kenapa?"

Dari kejauhan, Varyn—avatar yang hampir pudar—berkata, "Dia melepas kendali, Elara. Sekarang, iblis di dalamnya mengambil alih."

"Apa? Tapi dia—dia masih di sini!"

"Sebentar lagi. Jika tidak segera dikembalikan, ia akan hilang selamanya."

Elara memegang wajah Aldric. "Aldric, dengar aku. Kau harus kembali. Aku di sini. Ren di sini. Sera di sini. Kita butuh kau."

Mata merah itu menatapnya. Tidak ada respons.

"Aldric!" Elara menangis. "KAU JANJI TIDAK AKAN MENINGGALKAN AKU! INGAT? DI KAMAR PENGANTIN, KAU BILANG AKU SATU-SATUNYA YANG TERSISA! JANGAN PERGI!"

Di dalam kegelasan pikirannya, Aldric mendengar suara itu.

Elara.

Dia menangis.

Dia memanggilku.

AKU HARUS—

Kembali ke manusia? Atau tetap di sini, sebagai iblis sejati? Suara iblis itu menggoda. Kau bisa lebih kuat. Tidak akan ada yang bisa menyakitinya lagi.

Tapi aku tidak akan bisa merasakan cintanya.

Cinta? Itu kelemahan.

Bukan. Itu kekuatan.

Aldric memilih.

Mata merahnya berkedip—perlahan kembali menjadi abu-abu dengan semburat merah. Tubuhnya lemas, hampir jatuh. Elara menopangnya.

"Aldric! Aldric!"

"Di sini... aku di sini..." bisiknya lemah.

Elara menangis bahagia, memeluknya erat.

Varyn—avatar yang hampir hilang—tersenyum.

"Kau memilih cinta, Nak. Kau lebih kuat dari yang kukira."

Dan ia menghilang.

Sera berlari mendekat dengan Ren. Anak itu masih lemah—panggilan Varyn mengurasnya. Tapi ia tersenyum melihat Aldric.

"Om baik lagi?"

"Om baik, Nak." Aldric mengusap rambutnya. "Om janji."

Mereka berdiri di lereng gunung, dikelilingi mayat dan salju merah. Tapi mereka hidup. Bersama.

Elara menatap Aldric. "Apa yang terjadi padamu? Kau seperti... monster."

"Aku hampir jadi monster. Tapi kau memanggilku kembali." Aldric menatapnya. "Suaramu—kau selalu bisa membawaku kembali."

Mereka berpelukan dalam diam.

Di langit, burung-burung hitam masih berputar—tapi sekarang lebih tinggi, lebih jauh. Kael mungkin pergi, tapi ia akan kembali. Shadow Council mungkin kalah, tapi mereka tidak akan menyerah.

Pertempuran ini baru permulaan.

--- BERSAMBUNG KE BAB 20: JEJAK DARAH ---

Pertempuran di lereng gunung meninggalkan jejak darah yang tak terhapuskan. Ribuan prajurit tewas, dua Shadow Council musnah, dan Kael the Destroyer mundur dengan luka.

Tapi kemenangan ini terasa hampa.

Saat mereka menuruni gunung, mencari perlindungan, mereka menemukan sesuatu yang tak terduga—sebuah kampung kecil yang selamat dari amukan perang. Penduduknya, yang mendengar kabar tentang "pangeran monster", justru menyambut mereka dengan harapan.

Di kampung itu, Aldric mendengar kabar terbaru dari istana: Darius mengumumkan perang suci terhadapnya. Semua kerajaan tetangga diminta bergabung memburu "iblis Veynheart".

Dan yang lebih mengkhawatirkan, Kael tidak sendiri. Ia memiliki saudara-saudara lain—tiga iblis kuno yang selama ini tidur di berbagai penjuru dunia.

The Four Horsemen of Abyss, mereka disebut. Dan Kael baru salah satunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!