Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gencatan Senjata Sementara
Area Parkir Sekolah - Pukul 17.30 WIB
Matahari sudah hampir tenggelam, menyisakan langit berwarna keunguan yang kontras dengan suasana hati Reina yang kelabu. Ia duduk di pembatas jalan dekat area parkir motor yang sudah sepi, menyembunyikan wajah di balik kedua tangannya. Isak tangisnya pelan, namun terdengar menyayat di tengah kesunyian.
Klik.
Suara kaleng minuman dibuka mengejutkannya. Reina mendongak cepat, menghapus air mata dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Di depannya, Kenzo berdiri menyandarkan punggung pada motor sport hitamnya, menyodorkan sekaleng kopi susu dingin yang masih berembun.
"Minum. Wajahmu sudah mirip maskot festival yang gagal," ucap Kenzo datar.
Reina mendelik, meski matanya masih sembap. "Pergi, Kenzo. Aku nggak butuh ejekanmu sekarang."
Kenzo tidak beranjak. Ia justru duduk di samping Reina—memberikan jarak sekitar satu meter—dan menyesap kopinya sendiri. "Menangis nggak akan bikin anggaran festival turun dari langit, Rein. Pak Baskoro nggak butuh air mata, dia butuh proposal yang masuk akal."
"Kamu nggak mengerti!" suara Reina meninggi. "Anggaran kita dipotong lima puluh persen karena insiden kantin kemarin. Sponsor mundur karena mereka pikir panitianya tidak profesional. Ini semua karena kamu!"
Kenzo terdiam sejenak. Ia melihat bahu Reina yang gemetar. Untuk pertama kalinya, rasa bersalah menyelinap di balik sikap angkuhnya.
"Oke, aku akui aku keterlaluan kemarin," gumam Kenzo. Ia meletakkan kaleng kopi Reina di antara mereka. "Makanya, aku punya tawaran. Sebut saja... gencatan senjata."
Reina menoleh sangsi. "Maksudmu?"
"Kita bagi tugas. Kamu arsiteknya, aku kulinya," Kenzo menatap lurus ke depan. "Kamu urus semua administrasi, perizinan birokrasi yang membosankan itu, dan susun konsepnya. Aku yang akan turun ke lapangan. Aku punya banyak kenalan di luar sana—anak-anak band, vendor tenda, sampai pengusaha kafe yang bisa jadi sponsor. Aku jamin, urusan lapangan dan dana tambahan bakal beres."
Reina tertegun. Ia tahu Kenzo memang punya jaringan luas di luar sekolah, sesuatu yang tidak ia miliki karena terlalu sibuk belajar. "Kenapa kamu mau bantu? Bukannya kamu benci aturan OSIS?"
Kenzo berdiri, memakai helmnya. "Karena kalau festival ini gagal, aku juga yang kena imbasnya. Dan jujur saja, melihatmu menangis begini... bikin reputasiku sebagai rivalmu jadi terlihat buruk. Aku mau menang darimu saat kamu sedang di puncak, bukan saat kamu hancur."
Reina terdiam lama, menatap kaleng kopi itu sebelum akhirnya mengambilnya. "Oke. Kita coba. Tapi aku punya syarat."
Kenzo menaikkan kaca helmnya. "Apa?"
"Satu detik saja kamu terlambat rapat atau melanggar koordinasi, kesepakatan ini batal. Aku nggak mau bekerja dengan orang yang nggak punya disiplin."
Kenzo menyeringai miring, deru mesin motornya memecah kesunyian parkiran. "Tantangan diterima, Bu Ketua. Sampai jumpa besok jam tujuh pagi tepat di depan gerbang. Jangan lupa pakai helm, kita ada jadwal survei."
Motor Kenzo melesat pergi, meninggalkan debu yang berterbangan dan Reina yang kini menatap kaleng kopi dingin di tangannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia menyesap kopi itu. Rasanya pahit, tapi entah kenapa, ada sedikit rasa manis yang tertinggal di ujung lidahnya.
Kejutan Pagi: Kenzo benar-benar datang jam 07.00 tepat, membuat Reina hampir tidak percaya.
Perjalanan Pertama: Mereka harus pergi ke pinggiran kota untuk menemui vendor tenda "preman" yang hanya mau bicara dengan Kenzo. Reina mulai melihat sisi Kenzo yang bisa bernegosiasi dengan sangat lihai.