NovelToon NovelToon
" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Misteri
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Gans March

Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju pegunungan kabut

Pagi itu Susana dapur di rumah majikan terasa lebih hangat dari biasanya.aroma nasi goreng kencur kesukaan Laura menyeruak,bercampur dengan uap teh manis yang masih mengepul.

Oma tampak sibuk membungkus kotak bekal dan beberapa bungkus kue kering ke dalam kantong plastik berwarna merah,sementara Laura sedang mengecek kembali isi tas ranselnya di meja makan.

Oma memutuskan untuk mengubur dalam-dalam kegelisahannya kemarin.baginya,melihat cucunya bisa bersemangat menyiapkan baju untuk study tour,adalah obat penawar rasa cemas yang paling ampuh.

Sambil merapikan kantong plastik berisi kotak bekal,

" nak,ini nasi gorengnya sudah Oma beri telur dadar dua.jangan lupa di makan sebelum jam makan siang ya,supaya maag mu tidak kambuh lagi di bus nanti."

Laura tersenyum tipis mencoba menyembunyikan getaran di tangannya,saat memasukkan jaket tebal.

"iya Oma,terimakasih.maaf ya...kemarin aku tiba-tiba pulang duluan.kepalaku pusing,dan rasanya mual mungkin maag ku kambuh kemarin"

Oma menghentikan gerakannya sejenak,lalu tersenyum teduh tanpa menatap mata Laura.

"sudah,tidak apa-apa Oma mengerti.yang penting sekarang,kamu sudah sehat.namanya juga anak muda,kadang tidak kuat dengan hawa pengap.tapi ingat,di tempat study tour nanti,jangan jauh-jauh dari teman-temanmu ya?"

" iya Oma,kami hanya akan pergi ke pegunungan dan situs-situs bersejarah.katanya,udaranya sangat bersih di sana.mungkin itu bagus untukku.

Oma mendekat dan mengusap bahu Laura.

" bagus itu,udara gunung bisa membuang 'angin kotor' dalam tubuh.Oma titip satu hal...kalau kau merasa ada yang aneh di sana,jangan kosongkan pikiranmu.pegunungan itu tempat yang sunyi kadang,pikiran kita suka berkelana ke tempat yang tidak seharusnya."

Laura mengangguk,sambil tersenyum.

" aku berangkat sekarang ya,Oma.busnya akan berangkat jam sembilan tepat dari sekolah."

" iya,jangan lupa berdoa di jalan.ingat pesan Oma ya,nak..."

Laura memeluk dan merangkul Oma dengan sangat kuat,ia lalu mencium tangan wanita tua itu lama sekali.seolah-olah ia akan pergi dalam waktu yang sangat lama.saat ia melangkah menuruni tangga menuju pintu samping,ia melihat ke arah langit.awan mendung tampak menggantung di arah pegunungan yang akan mereka tuju.

Ia tidak tahu bahwa study tour ini bukan hanya perjalanan sekolah biasa yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota.di tempat yang sunyi dan gelap,kekuatan Anak Setan Emas mungkin akan menemukan ruang untuk bangkit sepenuhnya.

Halaman sekolah pagi itu riuh dengan suara tawa dan deru mesin bus pariwisata yang sudah terpakir rapi.sinar matahari di pukul sembilan pagi itu,menyinari seragam olahraga para siswa yang tampak kontras dengan tas ransel besar di punggung mereka.

Suasana di halaman sekolah terasa sangat hidup.para guru dengan peluit dan daftar hadir sibuk mengatur barisan,memastikan tidak ada siswa yang tertinggal.

" ayo,kelas 2-A segera naik ke bus itu...!" teriak pak Bram guru olahraga yang menjadi kordinator lapangan.

Udara pagi itu berbau campuran antara asap knalpot bus,parfum remaja yang segar,dan bau camilan yang sudah di buka bahkan sebelum bus berjalan.

Laura duduk di dekat jendela,tepat di bagian tengah bus.ia mendekap ranselnya erat-erat.saat bus mulai bergerak, sorak-sorai siswa pecah di dalam kabin.bus perlahan merayap membelah kemacetan pagi,melewati gedung-gedung beton dan papan reklame raksasa yang mulai menjauh.

Suara bising klakson dan hiruk pikuk pasar perlahan di gantikan dengan pemandangan toko-toko di pinggiran kota yang semakin renggang.kipas angin di dalam bus terasa dingin,namun bagi Laura, udara di luar sana tampak lebih mengundang.ia membuka sedikit tirai jendela,menatap bayangan kota yang mulai mengecil di spion bus.

Satu jam berlalu,bus mulai memasuki rute pendakian.jalanan yang tadinya lurus dan lebar,kini berubah menjadi aspal yang berkelok-kelok tajam seperti ular yang mendaki punggung gunung.

Di sisi kiri jalan,jurang dalam mulai menampakkan keindahannya.lembah-lembah hijau yang tertutup kabut tipis terlihat membentang luas.hutan tropis yang lebat dengan pepohonan raksasa seolah memagari perjalanan mereka.

Sementara teman-temannya sibuk bernyanyi di iringi petikan gitar,di bagian tengah bus Laura hanya terpaku menatap keluar.setiap kali bus berbelok tajam di pinggir tebing,ia merasa seolah alam sedang membisikan sesuatu padanya.

Semakin tinggi bus mendaki, pepohonan semakin rapat dan cahaya matahari terhalang oleh kanopi hutan yang gelap.suasana di dalam bus yang tadinya panas karena tawa,perlahan menjadi lebih sunyi.beberapa siswa mulai terlelap karena ayunan bus di jalan berliku.

Saat bus melewati sebuah jembatan tua yang melintasi sungai berbatu di dasar lembah,Laura melihat pantulan wajahnya di kaca jendela.untuk sesaat,ia tak melihat wajah gadis remaja biasa.di balik kabut yang menyapu kaca bus,ia melihat matanya memancarkan cahaya keemasan yang samar,seirama detak jantungnya yang semakin kencang.

Ia merasa pegunungan ini tak hanya menawarkan udara segar,tapi juga menyembunyikan sesuatu yang telah lama menunggunya.sesuatu yang berkaitan dengan kontrak darah yang telah di tandatangani dengan darahnya sendiri.

Bus pariwisata yang berukuran besar itu akhirnya melambat dan berhenti dengan desisan rem angin yang tajam di sebuah pelataran parkir luas yang di kelilingi oleh pohon-pohon raksasa.udara pegunungan yang murni dan dingin langsung menerobos masuk begitu pintu bus terbuka,menyapu aroma pengap sisa perjalanan.

Begitu kaki para siswa menyentuh tanah berbatu,suasana yang tadinya tenang di dalam bus berubah menjadi keriuhan yang tak terkendali.

Pak Bram,dengan peluit yang menggantung di lehernya,berdiri di atas undakan batu yang lebih tinggi.

" semuanya berkumpul sesuai kelompok! Jangan ada yang memisahkan diri ke arah hutan! Ketua kelompok,absen anggotanya sekarang! " teriaknya.suaranya bersaing dengan suara angin yang menderu di celah pepohonan.

Di bagian samping bus keriuhan lain terjadi.para siswa berebutan untuk mengambil tas ransel mereka dari bagasi bawah.guru-guru pendamping lainnya,termasuk ibu Sarah,sibuk menenangkan siswa-siswi yang mulai kedinginan dan sibuk merapatkan jaket mereka.

" ayo,langsung pakai jaketnya! Udara di sini berbeda dengan di kota!" seru ibu Sarah sambil membagikan nomor kamar penginapan.

Teman-teman Laura tampak sangat bersemangat.beberapa ada yang sibuk berfoto dengan latar belakang lembah yang tertutup kabut tebal.

Di tengah kegaduhan itu,Laura berdiri mematung di samping bus.ia menarik napas dalam-dalam,dan bukannya merasa segar, paru-parunya justru merasa seperti menghirup udara yang mengandung logam.Laura menatap ke arah deretan pohon raksasa yang menjulang tinggi.baginya,hutan itu tidak tampak hijau dan indah.hitan itu tampak seperti barisan prajurit yang sedang menunduk di depannya.ia merasa ada denyutan yang kuat dari arah puncak gunung, seolah-olah darah emasnya sedang

berkomunikasi dengan sesuatu di atas sana.

Saat Laura sedang melamun,ia menyadari pak Bram sedang menatapnya sejenak dengan tatapan yang sulit di artikan.ia lalu kembali berteriak,mengatur barisan.

" ayo jalan,penginapan kita ada di balik bukit itu!" perintah pak Bram sambil menunjuk ke arah bangunan tua bergaya kolonial yang sebagian dindingnya sudah di tutupi lumut,dan tanaman merambat.

Laura melangkah tertatih mengikuti barisan teman-temannya.setiap langkahnya semakin menjauh dari peradaban,dan semakin masuk ke dalam dekapan alam yang terasa "mengenali" siapa dia yang sebenarnya.

" Oma,benar katamu.tempat ini jauh lebih berbahaya dari yang kita kira," batin Laura,saat kabut pegunungan mulai menelan sosoknya,dan teman-temannya yang berjalan menuju penginapan.

Penginapan itu berdiri kokoh dengan arsitektur kolonial yang kaku,di kelilingi oleh kabut yang seolah enggan beranjak.pintu kayu besar penginapan terbuka,menampakan sosok pemilik penginapan yang sudah menunggu di selaras luas.

Suasana yang tadinya gaduh di halaman,perlahan mereda saat para siswa melangkah masuk ke dalam lobi yang berlantai kayu jati tua.bau lilin lebah dan kayu lembap,menyambut indra penciuman mereka.

Sosok pria tua dengan punggung yang sedikit membungkuk namun memiliki tatapan mata yang tajam menyambut mereka.ia mengenakan rompi beludru gelap,dan membawa seuntai kunci kuno yang besar.

" selamat datang di peristirahatan ini.di tempat ini,alam adalah tuan rumahnya.jadi anak-anak,jaga sikap kalian." ucapnya dengan suara bergema di langit-langit tinggi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!