NovelToon NovelToon
The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

Status: tamat
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action / Tamat
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.

Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.

Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.

Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Huǒyàn Jiàn vs Yǐngfēng Quán

Kota Benteng Hijau, Qingcheng Zhen, tidak lagi terlihat seperti kota. Ia telah berubah menjadi kawah yang siap meledak. Asap hitam menggumpal tinggi di langit, menelan cahaya matahari, membuat siang hari terasa seperti senja yang kelam. Di mana-mana terdengar dentuman keras, suara besi berbenturan, dan teriakan—teriakan perang, teriakan kesakitan, teriakan amarah.

Fengyin berdiri di tengah kekacauan itu.

Angin di sekitarnya berputar bukan karena alam, tapi karena kehendaknya. Rambut hitamnya berkibar liar, menutupi sebagian wajahnya, tapi matanya—mata itu tetap tajam, tetap tenang, seperti danau di tengah badai. Di usianya yang baru sepuluh tahun, tubuhnya mungkin masih kecil dibandingkan prajurit-prajurit di sekelilingnya, tapi aura yang keluar dari tubuhnya... itu bukan aura seorang anak. Itu adalah aura badai yang tertahan.

Di hadapannya, api menjilat udara.

Meng Tianxiong.

Pria itu berdiri dengan postur yang mengintimidasi, tubuhnya kekar, kulitnya penuh bekas luka yang menceritakan ribuan pertempuran. Di tangannya, sebuah pedang panjang berkilauan, dan dari bilah pedang itu keluar nyala api yang tidak padam-padam. Huǒyàn Jiàn. Senjata yang konon bisa membakar jiwa, bukan hanya daging.

"Jadi ini dia..." suara Meng Tianxiong berat, serak, seperti batu yang digesekkan. Matanya yang menyala menatap Fengyin dari atas ke bawah, penuh cemoohan dan juga rasa ingin tahu yang mematikan. "Anak kecil yang membuat keributan besar. Yang membuat para pemimpin di ibu kota tidur tidak nyaman."

Fengyin tidak menjawab. Dia hanya mengencangkan genggaman tangannya. Ia bisa merasakan panasnya api lawan, bisa mencium bau terbakarnya tanah, bisa merasakan bahaya yang jauh lebih pekat daripada saat melawan prajurit biasa. Ini adalah predator, dan dia adalah targetnya.

"Kau pikir dengan kekuatan curian itu kau bisa menentang Kaisar?" Meng Tianxiong tertawa, tawa yang bergema dan membuat dinding kota seolah bergetar. "Kau pikir bayangan dan angin bisa melawan api? Bodoh. Api akan membakar semua bayangan menjadi abu. Angin... angin justru akan membuat apiku semakin besar!"

Wushhh!

Tanpa peringatan, tanpa gerakan yang terlihat jelas, Meng Tianxiong meluncur maju. Kecepatannya luar biasa untuk ukuran tubuhnya yang besar. Pedang apinya melayang, menyambar leher Fengyin dengan kecepatan kilat.

Dang!

Fengyin mengangkat lengannya, dibungkus oleh energi hitam dan putih yang padat. Benturan itu menghasilkan percikan api dan gelombang angin yang mendorong orang-orang di sekitar mereka terlempar mundur. Fengyin merasa lengannya gemetar, tulang-temalnya terasa remuk menerima kekuatan sebesar itu.

Kuat. Dia jauh lebih kuat dari yang aku duga.

"Heh! Cukup tangguh!" seru Meng Tianxiong, lalu mengayunkan pedangnya lagi, dan lagi, dan lagi.

Serangan demi serangan datang bagai hujan badai. Setiap tebasan meninggalkan jejak api yang membakar apa saja yang dilewatinya. Lantai batu di bawah kaki mereka meleleh, menjadi merah membara. Suhu di arena pertarungan itu meningkat drastis, membuat napas terasa panas seperti menelan api.

Tapi Fengyin tidak mundur.

Dia ingat latihan di Cānglóng Pài. Ingat kata-kata Master Wei. "Jangan lawan kekuatan dengan kekuatan. Gunakan gerakan. Biarkan angin membawamu, biarkan bayangan menyembunyikanmu."

Mata Fengyin menyipit. Dunia di sekitarnya seolah melambat. Dia bisa melihat gerakan pedang itu, bisa melihat aliran energi api yang keluar dari tubuh Meng Tianxiong.

Yǐngfēng Quán...

Energi di dalam tubuhnya berputar kencang, menyatu. Bayangan menjadi kakinya, angin menjadi tangannya.

Saat pedang api itu datang kembali untuk memenggalnya, Fengyin tidak menghalanginya. Tubuhnya seolah menghilang, berubah menjadi asap tipis yang tertiup angin.

Booom!

Pedang itu menghantam tanah, meledakkan kawah besar. Tapi Fengyin sudah tidak ada di sana.

"Di mana?!" Meng Tianxiong berputar cepat, matanya mencari-cari.

"Dari belakang," suara Fengyin terdengar pelan namun jelas tepat di telinga pria itu.

Bugh!

Sebuah pukulan mendarat tepat di punggung Meng Tianxiong. Pukulan itu tidak besar, tapi dibungkus oleh energi yang begitu padat dan tajam. Meng Tianxiong tersentak maju, kakinya menggores tanah panjang hingga sepuluh meter sebelum dia bisa menahan keseimbangan.

Dia menoleh, wajahnya memerah karena marah dan kaget.

"Bagus! Sangat bagus!" geramnya. "Jadi kau memang punya modal. Tapi lihat sampai kapan kau bisa bersembunyi!"

Meng Tianxiong melompat tinggi ke udara, jauh di atas atap-atap bangunan. Dia mengangkat pedang Huǒyàn Jiàn ke atas, dan seketika, awan di langit seolah terbakar. Energi api berkumpul di ujung pedangnya, menjadi bola api raksasa yang menyilaukan mata.

"Jurus Andalan: Matahari Neraka!"

Bola api itu dilempar ke bawah, bukan hanya menargetkan Fengyin, tapi seluruh area di sekitarnya. Ledakannya akan menghancurkan segalanya dalam radius seratus langkah.

Para murid Cānglóng Pài yang melihatnya menjerit ngeri. Bahkan Ye Xiang yang biasanya tenang pun mengubah wajahnya. "Ini gila! Dia tidak peduli kalau kotanya ikut hancur!"

Fengyin menatap bola api yang turun itu. Panasnya sudah terasa membakar kulitnya sebelum menyentuh. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena takut—karena adrenalin. Karena dorongan untuk membuktikan bahwa dia bukan lagi anak kecil yang lemah.

"Tidak..." bisik Fengyin. "Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan apa pun lagi."

Dia menarik napas dalam-dalam, se dalam yang dia bisa. Energi Jingjie Universal meledak keluar dari setiap pori-pori tubuhnya. Angin berputar kencang membentuk tornado hitam putih di sekelilingnya, menyedot semua debu dan puing-puing.

"Teknik Rahasia..."

Tangannya bergerak cepat, membentuk pola rumit di depan dada.

"...Yǐngfēng Quán — Bentuk Sempurna: Ribuan Tangan Kematian!"

Fengyin meninju ke udara. Satu pukulan, tapi berubah menjadi ratusan, ribuan bayangan pukulan yang melesat ke atas. Setiap pukulan membawa angin yang tajam dan dingin, bertabrakan langsung dengan bola api raksasa itu.

BOOOOOOMMM!!!

Ledakannya luar biasa dahsyat. Gelombang kejutnya menghancurkan dinding-dinding bangunan di sekitarnya. Asap dan debu memenuhi seluruh alun-alun, membuat pandangan menjadi gelap total.

Suasana hening sejenak. Hanya suara gemeretak batu yang runtuh.

Di tengah asap yang tebal, sebuah sosok jatuh ke tanah dengan suara buk yang berat.

Meng Tianxiong.

Dia berlutut, napasnya memburu tak beraturan. Pedang Huǒyàn Jiàn masih di genggamannya, tapi apinya sudah padam. Darah mengalir deras dari mulutnya, menetes ke tanah yang panas. Tubuhnya penuh luka sayatan dan memar hitam akibat serangan angin tadi.

Dia mencoba berdiri, tapi kakinya tidak kuat menopang. Dia menatap ke arah sumber asap itu, matanya membelalak tak percaya.

Dari balik kabut, Fengyin melangkah keluar.

Pakaiannya compang-camping di beberapa bagian, wajahnya kotor oleh debu dan keringat, ada goresan kecil di pipinya. Tapi dia berdiri tegak. Matanya masih menyala dengan tekad yang tak tergoyahkan. Dia berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat tanah di bawah kakinya terasa bergetar.

"Kau... kau..." Meng Tianxiong gemetar, bukan hanya karena luka, tapi karena ketakutan. Dia melihat bukan hanya anak laki-laki, tapi dia melihat kehancuran. Dia melihat akhir dari segalanya. "Kau bukan manusia... kau monster..."

"Kalian yang membuatku menjadi seperti ini," jawab Fengyin pelan, suaranya dingin membelah udara. "Dan hari ini, balas dendam dimulai darimu."

Fengyin mengangkat tangannya, energi berkumpul di telapak tangannya, siap memberikan pukulan terakhir yang akan mengakhiri nyawa wakil pemimpin Sekte Naga Hitam itu selamanya.

Semua mata tertuju pada mereka. Pertarungan di sekitar perlahan berhenti. Kemenangan sudah di depan mata.

Namun...

Tepat saat itu, sebuah suara terdengar.

Suara yang sangat tenang, sangat santai, tapi entah mengapa, suara itu membuat darah di seluruh tubuh Fengyin membeku. Membuat udara yang tadi panas membara, tiba-tiba menjadi sedingin es di puncak gunung tertinggi.

"Wah, wah... Sungguh tontonan yang mengharukan."

Asap di gerbang utama kota seolah tersibak oleh kekuatan tak kasat mata. Seorang pria dengan jubah ungu kemilau berjalan masuk dengan langkah santai. Tangannya tersimpan di belakang punggung. Wajahnya tampan, senyumnya ramah, tapi setiap orang yang melihatnya merasakan ngeri yang sampai ke tulang sumsum.

"Aku jadi terlambat sedikit rupanya. Sampai ketinggalan adegan pahlawan kecil mengalahkan raksasa."

Pria itu berhenti tepat di belakang Meng Tianxiong. Dia menunduk, menatap bawahannya yang berlutut itu dengan tatapan menyesal.

"Sayang sekali, Tianxiong. Kau gagal lagi."

Fengyin menegang. Tubuhnya kaku. Giginya mengerat hingga terdengar bunyi gemeretak. Dia mengenal suara itu. Dia mengenal bau aura itu. Aura kematian.

Dia perlahan mengangkat kepala, menatap sosok itu.

"Xie... Wuyou..."

Nama itu terucap seperti desisan napas terakhir. Musuh terbesarnya. Orang yang pernah membunuhnya sekali. Dan sekarang, pria itu hadir kembali, berdiri di antara mereka, seolah-olah seluruh pertempuran ini hanyalah mainan anak-anak baginya.

Pertarungan yang baru saja mereka menangkan... seketika berubah menjadi situasi yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

[ Bersambung... ]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!