Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Di Antara Barang-Barang Mati
Toko antik Hael di malam hari adalah sebuah labirin memori. Cahaya lampu pijar yang kekuningan memantul di permukaan cermin-cermin tua yang kusam, menciptakan bayangan panjang di antara deretan lemari kayu jati dan patung-patung perunggu yang membisu. Di tengah ruangan itu, sebuah meja kerja jati yang luas menjadi panggung bagi Sora dan Hael. Di atas hamparan beludru hijau, ratusan bagian kecil dari mesin jam abad ke-17 tersebar seperti rasi bintang yang jatuh.
Sora mengenakan lup—kaca pembesar kecil yang dijepit di matanya—membuatnya tampak sangat serius dan berwibawa. Tangannya yang mungil namun stabil memegang pinset baja, dengan hati-hati mengangkat sebuah roda gigi escapement yang permukaannya menghitam karena oksidasi selama satu abad.
"Poros ini tidak patah, Hael," gumam Sora, suaranya terdengar lembut namun penuh keyakinan di tengah keheningan toko. "Ia hanya membeku karena minyak yang mengering dan debu yang mengeras menjadi semen. Ia berhenti bergerak bukan karena ia ingin, tapi karena ia tidak lagi punya ruang untuk bernapas."
Hael berdiri di sisi lain meja, melipat tangannya di dada. Ia tidak membantu secara teknis, melainkan bertindak sebagai penyedia cahaya—memegang lampu meja portabel agar jatuh tepat di titik kerja Sora. Matanya tidak beralih dari gerakan tangan Sora yang begitu presisi.
"Bukankah itu metafora yang bagus untuk banyak hal di dunia ini?" sahut Hael dengan nada rendah. "Banyak orang menyimpan luka masa lalu hingga luka itu mengeras dan mengunci seluruh sistem hidup mereka. Mereka menyebutnya takdir, padahal itu hanya kurangnya pembersihan batin."
Sora mendongak sebentar, melepas lup dari matanya, dan menatap Hael. "Kamu bicara seperti pria yang sedang membersihkan debunya sendiri, Hael."
Hael terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sebuah jam saku perak yang tergeletak di pojok meja—jam saku milik kakeknya yang sempat ia ceritakan dulu. "Mungkin. Mengoleksi barang antik adalah caraku berdamai dengan kematian. Benda-benda ini tidak bisa mengkhianatimu. Mereka tetap sama, tidak peduli berapa banyak waktu yang berlalu. Berbeda dengan manusia yang detak jantungnya bisa berubah arah hanya dalam satu malam."
Sora merasakan getaran halus di udara. Ia tahu Hael sedang membicarakan pengkhianatan Ezra secara tersirat, atau mungkin pengalamannya sendiri yang jauh lebih kelam. Sora kembali menunduk, mencelupkan roda gigi kecil itu ke dalam cairan pembersih khusus.
"Benda mati memang stabil, Hael. Tapi mereka tidak bisa memberikan kehangatan," ucap Sora pelan. "Jam ini... jika aku berhasil menghidupkannya kembali, ia akan mulai berdetak lagi. Ia akan kembali 'hidup'. Dan saat itu terjadi, ia bukan lagi sekadar barang antik yang diam. Ia menjadi bagian dari masa kini."
Satu jam berlalu dalam kesunyian yang produktif. Hanya terdengar denting halus logam bertemu logam dan napas mereka yang teratur. Sora bekerja dengan dedikasi yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Jika dulu ia memperbaiki jam Ezra agar pria itu tersenyum padanya, kini ia memperbaiki jam ini karena ia mencintai seni di baliknya. Ia melakukannya untuk dirinya sendiri.
"Coba putar kuncinya, Hael," instruksi Sora setelah ia merakit kembali bagian-bagian vital mesin itu.
Hael melangkah maju. Tangannya yang besar dan kasar memegang kunci kuningan kecil. Dengan gerakan perlahan, ia memutar tuas pemutar searah jarum jam.
Krik... krik... krik...
Suara pegas yang menegang terdengar memuaskan. Hael melepaskan kuncinya. Untuk beberapa detik, ruangan itu hening total. Sora menahan napas, matanya tak berkedip menatap roda keseimbangan (balance wheel) yang masih diam.
Lalu, tiba-tiba... Denting.
Roda itu bergetar kecil, lalu mulai berayun ke kiri dan ke kanan dengan ritme yang sempurna.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Suara itu bergema di antara barang-barang mati di toko antik tersebut. Detak jam itu terdengar seperti napas pertama dari bayi yang baru lahir. Sora merasakan gelombang kebahagiaan yang murni mengalir di dadanya. Ia tersenyum lebar, menatap Hael dengan mata yang berbinar-binar.
"Dia hidup, Hael! Dia berdetak!" seru Sora tanpa sadar memegang lengan Hael.
Hael menatap jam itu, lalu beralih menatap wajah Sora yang diterangi cahaya lampu kuning. Untuk pertama kalinya, Sora melihat pertahanan di mata Hael runtuh. Pria itu tidak lagi tampak sinis atau dingin. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja melihat keajaiban kecil di tengah tumpukan debu.
"Terima kasih, Sora," bisik Hael. "Bukan hanya untuk jam ini. Tapi untuk pengingat bahwa tidak ada yang benar-benar berhenti selamanya jika ada seseorang yang cukup peduli untuk menyentuh pusat kerusakannya."
Di luar, hujan mulai turun membasahi jalanan tua, menciptakan suasana yang semakin terisolasi dari dunia luar. Di dalam toko itu, Sora menyadari satu hal: ia tidak lagi merasa relevan karena Ezra membutuhkannya. Ia merasa relevan karena ia mampu menghidupkan kembali apa yang telah mati, termasuk jiwanya sendiri.
Namun, di tengah momen hangat itu, lonceng pintu toko tiba-tiba berbunyi dengan keras. Angin dingin masuk saat pintu terbuka. Sesosok pria berdiri di sana, basah kuyup oleh hujan, dengan napas yang memburu.
Itu bukan Ezra. Itu adalah seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas mahal yang tampak sangat panik.
"Hael Arlo? Maaf mengganggu malam-malam begini," ucap pria itu dengan suara gemetar. "Polisi baru saja menghubungiku. Gudang penyimpanan koleksi jam tangan keluarga Vance di pinggiran kota... baru saja dibobol. Dan mereka bilang... koleksi paling berharga milik Liora Thalassa hilang."
Sora merasakan jantungnya mencelos. Nama itu kembali muncul seperti kutukan yang tak kunjung usai.