ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12—Kecurigaan Sang Ibu Dan Tuntutan kembali ke Rumah
BAB 12
Rahmat keluar dari ruangan OSIS itu, menutup pintunya sampai suar klik! Terdengar jelas. Baginya ini adalah sebuah fakta baru. Seorang murid di sekolah ini adalah pelaku kejadian pembunuhan Reno? Artinya anggota black spider atau paling parah MR black sendiri adalah murid SMA Garuda itu sendiri.
Rahmat tertawa dalam hati, sialan kenapa dia bahkan tidak pernah memikirkan ini? Musuh ternyata sudah ada di jaringannya sendiri tanpa dia sadari.
“Sialan!”
Umpatnya karena merasa telah dipermainkan sejak lama.
***
Dewi menatap pantulan dirinya di cermin besar yang membingkai dinding kamar Suite hotel ini. Sudah hampir sebulan semenjak dia dan anaknya tinggal disini untuk sementara waktu.
Kamar ini terlalu luas, terlalu dingin, dan terlalu sunyi bagi seorang wanita yang menghabiskan separuh hidupnya di pasar dan dapur sempit.
Dia mengusap permukaan meja marmer yang mengkilap, namun tangannya gemetar.
“Kenapa semua orang memanggilku 'Nyonya Besar'?” batinnya dengan rasa sesak.
Ini semua terasa sangat aneh, terkadang beberapa pelayan disini seperti tidak sengaja memanggilnya nona besar, setelah menyebut itu mereka akan sangat panik dan kabur begitu saja.
Beberapa lebih parah bukan karena perlakuan yang gak sopan justru sebaliknya, dia diperlakukan seperti ratu disini.
Ini jelas Janggal, kalau menurut perkataan anaknya dia cuma dibiarkan memberikan kamar kosong untuk penyembuhan sang ibu agar cepat.
Tapi dia tetap tamu dan perlakuan beberapa pelayan jelas tidak memperlakukan dia sebagai tamu tapi seperti orang yang lebih patut dihormati.
Sejak keluar dari rumah sakit, hidupnya berubah seperti dalam mimpi buruk yang dibungkus emas. Rahmat, putranya yang dulu harus bekerja keras sepulang sekolah hanya untuk sesuap nasi, kini bisa membayar biaya rumah sakit yang mencapai ratusan juta.
Bahkan sekarang, mereka tinggal di tempat yang tarif per malamnya mungkin setara dengan gajinya selama setahun dulu.
Kejadian belanja kemarin juga buat dia heboh sendiri, darimana dia mendapatkan uang puluhan hingga ratusan juta?
Klik.
Pintu kamar terbuka. Dewi menoleh dan melihat Rahmat melangkah masuk dengan wajah yang tampak lelah, namun matanya memancarkan kilatan yang tidak pernah Dewi lihat sebelumnya—kilatan tajam seorang pria yang memegang kendali.
"Rahmat..." suara sang ibu bergetar, menghentikan langkah putranya.
"Eh, Ibu belum tidur? Ini sudah malam," jawab Rahmat sambil mencoba tersenyum, meski sisa amarah dari sekolah tadi masih membekas di rahangnya yang mengeras.
Ibunya berjalan mendekat, matanya menatap tajam ke arah ponsel yang digenggam erat oleh Rahmat.
"Rahmat, jujur pada Ibu. Siapa sebenarnya pemilik hotel ini?" tanya Dewi tanpa basa-basi.
"Tadi sore, Ibu melihat manajer hotel membungkuk padamu di lobi. Mereka tidak hanya menghormatimu sebagai tamu... mereka takut padamu."
Rahmat tertegun, lidahnya mendadak kelu.
"Itu... karena Rahmat bekerja dengan baik, Bu. Mereka menghargai prestasi Rahmat."
"Jangan bohongi Ibu lagi!" Dewi memotong, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang mulai keriput. "Ibu tidak tenang tinggal di sini. Tempat ini bukan milik kita. Ibu merasa seperti pencuri yang menikmati harta orang lain. Besok... ayo kita pulang ke rumah kita yang dulu. Ibu lebih baik tidur di lantai semen rumah kita daripada di kasur empuk ini tapi hati Ibu terus bertanya-tanya apakah anak Ibu melakukan hal ilegal."
Rahmat terdiam. Dia melihat ibunya yang gemetar
Sial, Ibu mulai curiga terlalu jauh, batin Rahmat. Tangannya diam-diam merogoh saku, jempolnya bergerak cepat di atas layar ponsel tanpa melihat.
Sialan cukup sampai segini saja kah? Tapi dia belum bisa menceritakan semuanya apalagi tentang sistem dan kekayaan mendadak.
Mana mungkin dia bisa menceritakan itu semua. Dia butuh alibi baru.
Untuk sekarang dia harus menuruti ibu biar dia tenang, tapi dia tidak bisa pulang du rumah kumuh itu lagi. Maka dia akan mencari dengan kemampuannya.
> [Sistem Analisis Nilai Aktif]
> Target: Pencarian Properti Siap Huni (Kawasan Elit blok M jalan xx).
> Kriteria: Privasi Tinggi, Aman, Suasana Asri (Taman Luas).
> Hasil: Mansion Graha Kencana (Sita Jual Cepat). Nilai Jual: 45 Miliar.
Harga Sistem: 15 Miliar.
> [Eksekusi Pembelian?]
>
Rahmat menekan tombol 'YA' di dalam sakunya, lalu menatap Ibunya dengan tenang.
"Bu," ujar Rahmat lembut sambil memegang bahu Ibunya. "Rumah lama kita sudah tidak aman. Tapi kalau Ibu tidak suka di sini, Rahmat punya kejutan. Sebenarnya... Rahmat sudah membelikan rumah untuk Ibu. Rumah asli atas nama kita, bukan milik hotel."
Siti terperangah, keraguannya justru semakin memuncak. "Beli rumah? Pakai uang dari mana, Rahmat?!"
Ini semua jadi makin gak masuk akal? Dia mau bilang anak SMA kelas 12 semester 2 akhir membeli rumah!
Dan hal yang ditakutkan Rahmat terjadi. Dia sengaja Menginap dan tinggal di hotel Selama beberapa saat untuk ini. Bukan karena dia tolol dan tidak punya niat beli rumah.
Lagian uang dia sudah miliaran sekarang, yang dia takuti cuma kebingungan sang ibu.
Bayangke saja anak sma membeli rumah, reaksi ibu pasti terkejut.
Makanya dia menghindar untuk membeli rumah dulu dan menginap untuk menghindari keterkejutan ibu.
"Bonus besar, Bu. Pemilik hotel sangat puas karena Rahmat berhasil mengungkap kasus penggelapan besar di sini," Rahmat berbohong dengan lancar demi menenangkan hati Ibunya. "Besok pagi kita pindah. Ibu bisa berkebun lagi, bisa masak di dapur sendiri. Tanpa ada pelayan yang mengawasi. Ibu mau?"
Dewi menatap mata putranya dalam-dalam, mencari kebohongan di sana. Anaknya bukan tipe orang yang bisa berbohong, semuanya jelas banget, dan itu adalah sisi baik sang anak yang dia sukai.
Tapi mata itu murni. Meski masih ada keraguan yang mengganjal, melihat binar kejujuran Rahmat tentang "ingin membahagiakan Ibu" membuat pertahanannya sedikit luruh.
dalam hati kecilnya, dewi tahu... putranya kini menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar rumah mewah.
Dan itu adalah hal yang tidak bisa dia ceritakan bahkan untuk sang ibu.
“Baiklah ibu paham, untuk sekarang ibu ikuti saja ucapanmu. Mari kita lihat rumah seperti apa yang kamu beli itu.”