“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENCAN GANDA TAK TERDUGA
Jika ada kompetisi untuk orang paling sial sedunia, Jingga yakin dia akan berdiri di podium pertama sambil memegang piala emas.
Malam ini, dia berdiri di depan cermin apartemen, merapikan kemeja flanelnya yang santai tapi tetap terlihat mahal. Di sebelahnya, Sinta sedang sibuk menyemprotkan parfum ke leher, mengenakan gaun selutut warna pastel yang membuatnya tampak... cantik. Jingga berdehem, berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh.
"Lu mau ke mana dandan heboh gitu? Mau nyaleg?" sindir Jingga sambil memakai jam tangan, berusaha menutupi rasa gugupnya.
Sinta melirik tajam lewat cermin, memoleskan lipstik merah yang sangat kontras dengan kulit putihnya. "Bukan urusan lu, Jing! Mas Adrian ngajak gue kencan di The Sky Lounge. Tempat eksklusif, nggak kayak tempat makan pinggiran yang biasa lu datangi sama temen-temen lu."
Jingga tersedak ludahnya sendiri. The Sky Lounge? Itu kan tempat yang baru saja dijanjikan Jingga pada Luna sebagai kompensasi karena dia sering lembur belakangan ini!
"Hah? The Sky Lounge? Lu yakin?" Jingga memastikan dengan nada yang mulai meninggi karena panik.
"Iya! Kenapa? Iri? Makanya, cari pacar yang modal kayak Mas Adrian," Sinta menjulurkan lidahnya, menyambar tas tangan branded-nya, dan keluar apartemen lebih dulu tanpa menunggu jawaban.
Jingga mematung di tengah ruang tamu. "Sialan. Gue harus telepon Luna buat pindah tempat!" Namun, saat dia baru saja hendak menekan nomor Luna, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya.
Luna: "Sayang, aku udah sampai di lobi The Sky Lounge ya. Aku tunggu di meja reservasi atas nama kamu. See you, muach!"
"Mati gue," gumam Jingga. "Bisa jadi perang dunia ketiga kalau kita ketemu di sana."
The Sky Lounge adalah definisi dari kemewahan yang menyesakkan. Restoran itu berada di lantai 50, remang-remang, dan dipenuhi alunan musik jazz yang seharusnya menenangkan. Namun bagi Jingga, setiap dentuman saksofon terdengar seperti lonceng kematian.
Dia duduk di pojok kanan restoran, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik buku menu yang lebarnya hampir menutupi seluruh tubuhnya. Dia sengaja memilih meja yang paling tersembunyi, di balik pilar besar dan tanaman hias yang rimbun.
"Jingga, kamu kenapa sih? Dari tadi menunya cuma dilihatin terus, nggak dipesan-pesan. Kamu sakit?" tanya Luna sambil tertawa kecil. Luna terlihat sangat manis malam ini, kontras sekali dengan Sinta yang selalu terlihat seperti singa betina siap menerkam di rumah.
"Eh, anu... aku lagi... lagi menghafal harganya, Lun. Biar tahu tingkat inflasi bahan pangan tahun depan gimana buat bahan meeting besok," jawab Jingga asal-asalan. Matanya bergerak liar ke arah pintu masuk lift yang terus berdenting.
Dan benar saja. Di sana, Adrian melangkah masuk dengan gagah, menggandeng tangan Sinta. Mereka berdua berjalan melewati lorong utama. Sialnya, pelayan restoran mengarahkan mereka menuju meja yang hanya berjarak satu pilar dari meja Jingga dan Luna!
Deg! Jantung Jingga serasa mau melompat keluar dari tenggorokan. Dia segera menurunkan posisi duduknya sedikit agar kepalanya tertutup vas bunga besar di tengah meja.
Di meja sebelah, Sinta pun sama membekunya. Saat dia hendak duduk, matanya menangkap siluet punggung pria yang sangat dia kenal. Dari lipatan kemeja flanel di bagian bahu hingga cara pria itu memegang gelas air putih—itu jelas-jelas suaminya. JINGGA?! Ngapain si Anjing itu di sini?!
Sinta hampir saja berteriak kalau saja Adrian tidak menarikkan kursi untuknya dengan sangat sopan.
"Silakan duduk, Sinta. Kamu suka pemandangannya?" ucap Adrian lembut, suaranya sangat jelas terdengar oleh Jingga.
"I-iya, Mas. Bagus banget. Sampai aku ngerasa... agak pusing lihat ketinggiannya," sahut Sinta kaku. Dia segera mengambil serbet dan menutupi separuh wajahnya, pura-pura bersin berkali-kali agar tidak dikenali oleh Luna yang duduk membelakanginya.
Suasana menjadi sangat mencekam bagi dua orang yang sedang melakukan "spionase" tersebut. Jingga berusaha keras agar tidak menoleh, tapi telinganya tajam mendengar setiap kata yang diucapkan Adrian kepada Sinta.
"Sinta, kamu cantik banget malam ini. Aku senang kita bisa punya waktu berdua tanpa gangguan laporan atau revisi dari kantor," suara Adrian terdengar begitu memuja.
Jingga mendengus pelan, hampir tidak terdengar. Halah, basi banget gombalannya. Adrian pasti pakai template itu ke semua cewek, batinnya ketus. Ada rasa panas yang aneh menjalar di dadanya saat membayangkan Sinta tersenyum malu-malu pada pria itu.
"Jingga? Kamu barusan bilang apa? 'Basi'?" tanya Luna heran, menghentikan ceritanya tentang hobi barunya berkebun.
"Hah? Oh, enggak! Maksud aku... nasi! Iya, nasi di sini kayaknya agak basi aromanya, mungkin beras organik," sahut Jingga panik, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Sayang, ini restoran Italia-Perancis, mana ada nasi di menu pembuka," Luna mengernyitkan dahi, mulai merasa pacarnya sedang tidak waras.
Di sisi lain, Sinta juga mulai merasa tertekan. Dia melihat dari pantulan kaca jendela besar di sampingnya, Luna mulai merapikan rambut Jingga dengan sangat mesra. Sinta merasa dadanya sesak. Bukan karena dia cinta pada Jingga—tentu saja tidak, menurutnya—tapi karena dia merasa "wilayahnya" sedang diinvasi. Walaupun status mereka hanya kontrak, melihat Jingga bermanja-manja dengan wanita lain di depan matanya terasa seperti penghinaan terhadap harga dirinya.
"Mas Adrian, aku ke toilet bentar ya! Tiba-tiba perut aku nggak enak, mungkin karena AC-nya terlalu dingin," Sinta berdiri dengan terburu-buru sebelum Adrian sempat menawarkan bantuan.
"Oh, oke. Perlu aku temani sampai depan?" tanya Adrian khawatir.
"Nggak usah, Mas! Diam di sini aja, jagain meja!" Sinta berjalan cepat, hampir berlari.
Saat Sinta melewati belakang meja Jingga, dia sengaja menjatuhkan sapu tangannya tepat di bawah kaki Jingga. Saat membungkuk untuk mengambilnya, dia berbisik dengan nada mengancam yang sangat rendah di telinga Jingga, "Kalau lu sampai berisik atau ketahuan, gue bakar semua koleksi sepatu lari lu besok pagi!"
Jingga tersentak, garpunya berdenting keras menabrak piring porselen. Dia melirik punggung Sinta yang menghilang di balik lorong toilet. Tanpa pikir panjang, Jingga juga berdiri dengan gerakan mendadak.
"Lun, aku... aku mau cuci tangan bentar ya. Tiba-tiba perut aku mendadak melilit, efek sambal tadi siang kayaknya baru kerasa."
"Lho, Jing? Kamu kok aneh banget sih malam ini? Ya udah deh, jangan lama-lama ya."
Jingga menyelinap menuju lorong arah toilet. Di sana, di dekat wastafel luar yang sepi, Sinta sudah menunggunya dengan wajah merah padam dan mata yang seolah ingin mengeluarkan api.
"Lu ngapain di sini, hah?! Lu sengaja ngikutin gue buat ngerusak kencan gue sama Mas Adrian?!" semprot Sinta sambil menunjuk-nunjuk dada Jingga.
"Ngapain gue ngikutin cewek sinting kayak lu? Gue yang reservasi tempat ini tiga hari yang lalu sama Luna! Lu yang ngikutin gue karena pengen pamer kalau pacar lu manajer, kan?!" balas Jingga tak kalah sengit, meskipun volumenya dijaga agar tetap berbisik.
"Gue nggak tahu lu bakal ke sini! Mas Adrian yang kasih kejutan tempat ini! Lagian, lu lihat nggak tadi? Luna mesra-mesraan sama lu, geli banget gue lihatnya!"
"Lah, daripada lu? Disuapi Adrian kayak anak TK lagi makan bubur! Najis!"
Mereka berdua beradu argumen dengan wajah yang hanya berjarak beberapa sentimeter. Bau parfum Sinta yang tadi sempat dihirup Jingga di rumah kini terasa lebih nyata dan memusingkan. Di tengah kemarahan itu, entah kenapa mereka malah terlihat seperti pasangan yang sedang bertengkar hebat karena urusan asmara, bukan karena urusan benci.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu pantofel yang berat mendekat. "Sinta? Kamu lama banget di toilet? Semuanya oke? Kamu nggak pingsan, kan?" Itu suara Adrian yang menyusul karena merasa pacarnya terlalu lama pergi.
Mata Sinta membelalak horor. Dengan gerakan refleks yang luar biasa gila, dia menarik kerah kemeja flanel Jingga dan mendorong pria itu masuk ke dalam satu-satunya bilik toilet wanita yang pintu plastiknya sedang terbuka sedikit.
CEKLEK!
"Sinta?" Adrian sudah sampai di depan cermin wastafel.
Di dalam bilik yang sangat sempit, Jingga dan Sinta berdiri berdempetan secara paksa. Dada Jingga menempel pada bahu Sinta. Karena bilik itu kecil, Jingga harus merangkul pinggang Sinta agar mereka berdua bisa muat di balik pintu tanpa terlihat dari bawah celah pintu.
"I-iya, Mas! Bentar lagi keluar! Masih... anu... benerin dandan!" teriak Sinta dari dalam bilik dengan nada yang dibuat-buat ceria, sementara tangan kirinya membekap mulut Jingga sekuat tenaga agar pria itu tidak mengaduh karena kakinya terinjak sepatu hak tinggi Sinta.
"Oh, oke. Aku tunggu di depan pintu lorong ya, biar aman," jawab Adrian dari luar.
Jingga melepaskan tangan Sinta dari mulutnya dengan paksa begitu dia mendengar langkah kaki Adrian menjauh sedikit. "Lu gila ya?! Kalau ada pelayan atau cewek lain masuk dan lihat gue di toilet cewek, gue bisa dilaporkan ke polisi sebagai predator!" bisik Jingga gusar.
"Diem lu, Anjing! Ini demi keselamatan harga diri kita berdua! Lu mau kita kehilangan warisan gara-gara ketahuan nikah kontrak tapi kencan sama orang lain?" desis Sinta, matanya menatap tajam mata Jingga.
Dalam jarak sedekat itu, di dalam bilik toilet yang pengap, Jingga mendadak merasa ada yang salah dengan denyut jantungnya. Dia bisa melihat keringat kecil di dahi Sinta dan mencium aroma manis lipstiknya. Untuk beberapa detik, mereka berdua terdiam, hanya saling menatap dalam remang-remang lampu bilik.
"Udah aman," ucap Sinta pelan, suaranya sedikit serak. Dia mendorong dada Jingga agar menjauh.
Saat suasana dirasa sunyi, mereka keluar dari bilik satu per satu dengan kewaspadaan tingkat tinggi layaknya agen rahasia.
"Inget, Jingga," Sinta menunjuk wajah pria itu sebelum mereka berpencar. "Habiskan makan lu secepat mungkin, bayar, terus bawa Luna pergi dari sini! Gue nggak mau kencan gue hancur karena gue harus terus-terusan sembunyi di toilet!"
"Cih, harusnya lu yang pergi! Gue bayar reservasi ini pakai keringat sendiri!"
Mereka kembali ke meja masing-masing dengan akting yang sangat meyakinkan. Luna menyambut Jingga dengan wajah khawatir, sementara Adrian menyambut Sinta dengan senyum tulus. Namun bagi Jingga dan Sinta, sisa malam itu adalah siksaan.
Setiap kali Adrian memegang tangan Sinta, Jingga akan memotong steaknya dengan tenaga ekstra sampai piringnya berderit ngilu. Dan setiap kali Luna bersandar di bahu Jingga, Sinta akan mengaduk minumannya dengan sedotan sampai es batunya hancur berkeping-keping.
Malam itu berakhir dengan mereka berdua pulang di waktu yang berbeda, masuk ke apartemen dengan wajah yang sama-sama lelah namun menyimpan amarah yang tak terjelaskan. Rahasia mereka aman untuk sementara, tapi kencan ganda ini meninggalkan satu bekas permanen: rasa kesal yang luar biasa melihat pasangan hukum mereka bahagia di tangan orang lain.