Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: KONFRONTASI
Perjalanan dari kantor ke rumah biasanya memakan waktu dua puluh menit.
Hari ini, Ardi menghabiskan empat puluh menit di jalan. Bukan karena macet—tapi karena dua kali dia berhenti di bahu jalan, mematikan mesin, duduk dengan tangan di setir, mencoba menenangkan napas yang terasa seperti tidak pernah cukup.
Pertama kali dia berhenti di pom bensin dekat Bundaran Senayan. Dia membeli air mineral, meminumnya cepat, lalu membuang botolnya tanpa habis. Di kaca spion, dia melihat wajahnya sendiri—pucat, mata merah, kerah kemeja basah oleh keringat meskipun AC menyala penuh.
Dia menyalakan mesin, melaju lagi.
Kedua kali dia berhenti di jembatan penyeberangan di Thamrin. Hujan mulai turun—gerimis tipis yang membuat kaca depan buram. Ardi menurunkan kaca, menghirup udara dingin yang bercampur bau aspal basah. Ponselnya bergetar di dashboard.
Maya: Bram sudah sampai. Aku di ruang keluarga.
Ardi membaca pesan itu, membiarkan layarnya mati, lalu membaca sekali lagi. Tiga belas kata. Tidak ada emosi. Tidak ada permintaan tolong. Tidak ada kata-kata manis. Hanya fakta: Bram sudah sampai. Aku di ruang keluarga.
Dia membayangkan Maya duduk di sofa yang sama tempat mereka biasa nonton TV bersama, di ruang yang sama tempat tangan mereka bersentuhan untuk pertama kali, di rumah yang sama yang sekarang terasa seperti medan perang.
Ardi menyalakan mesin, masuk ke jalur cepat, menginjak gas lebih dalam dari yang seharusnya.
---
Ketika mobil masuk ke jalan Menteng, hujan sudah turun lebih deras.
Daun-daun berguguran dari pohon-pohon besar di sepanjang jalan, menempel basah di aspal. Rumah-rumah besar di kanan-kiri terlihat buram di balik tirai air. Ardi memperlambat laju, matanya mencari gerbang rumahnya—rumah yang selama ini dia anggap aman, tempat dia bisa kembali kapan saja tanpa perlu menjelaskan apa-apa.
Sekarang, dia harus menjelaskan semuanya.
Di depan gerbang, Pak Rustam berdiri dengan payung, menunggu. Wajahnya datar, tidak ada senyum seperti biasa. Ardi menurunkan kaca, dan Pak Rustam mendekat.
“Selamat siang, Mas Ardi.”
“Pak Bram sudah masuk?”
“Sudah, Mas. Sekitar setengah jam yang lalu.” Pak Rustam ragu sebentar. “Beliau kelihatan... marah.”
Ardi mengangguk, menaikkan kaca, dan mobil masuk ke garasi.
Di dalam, suasana berbeda dari biasanya.
Biasanya, ketika Ardi pulang, Yuni akan menyapa dari dapur, Pak Rustam akan membuka pintu, dan Maya akan muncul dari suatu tempat dengan senyum tipis yang selalu membuat dadanya berdebar.
Hari ini, tidak ada suara. Tidak ada sapa. Rumah itu sunyi, seperti rumah kosong yang sudah lama tidak dihuni.
Ardi masuk melalui pintu samping, melepas sepatu di lorong. Jasnya sudah dia lepas sejak dari kantor, kemeja putihnya basah oleh keringat dan gerimis. Dia berdiri di lorong, mendengar suara dari ruang keluarga.
Suara Bram. Datang, tegang, seperti sedang berbicara pada seseorang yang tidak mau mendengar.
“—kau tahu apa yang akan terjadi kalau ini bocor? Perusahaan, nama keluarga, masa depan Ardi—semuanya hancur dalam satu malam. Dan kau diam saja? Kau tahu sejak kapan?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas Maya yang terdengar berat, bahkan dari kejauhan.
Ardi berjalan ke ruang keluarga.
Bram berdiri di dekat jendela, punggungnya membelakangi pintu, tangannya di saku celana. Tubuhnya tegang, bahunya naik turun cepat. Di depannya, Maya duduk di sofa kecil dekat rak buku—bukan sofa utama tempat mereka biasa duduk berdua, tapi sofa kecil di sudut yang jarang dipakai. Tangannya di pangkuan, jari-jarinya memilin ujung rok, wajahnya pucat, matanya tertuju ke lantai.
Di atas meja kopi, amplop coklat itu sudah terbuka. Foto-foto berserakan di atas kaca, tidak rapi seperti di kantor. Seperti Bram baru saja melemparkannya dengan marah.
Ardi melangkah masuk, dan lantai kayu berdecit pelan.
Bram berbalik. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena amarah yang tertahan. Wajahnya tegang, urat di leher menonjol, tapi mulutnya mengerucut rapat—berusaha mengendalikan diri.
“Kau datang,” katanya. Suaranya datar, tapi ada getar di ujung kalimat.
“Aku—” Ardi berhenti. Kata-kata yang sudah dia susun di perjalanan lenyap semua. “Aku minta maaf.”
“Maaf.” Bram mengulang kata itu seperti sedang mencicipi racun. “Kau minta maaf. Kau kira maaf cukup?”
“Tidak. Aku tahu tidak cukup.”
Bram mendekat, berdiri di depan Ardi, menatapnya dari jarak sangat dekat. Ardi bisa mencium bau kopi dan keringat dari ayahnya, bisa melihat garis-garis halus di wajah yang tidak pernah dia perhatikan sebelumnya.
“Kapan?” tanya Bram. Suaranya rendah. “Kapan ini mulai?”
Ardi menunduk. “Beberapa bulan setelah pernikahan.”
“Setelah pernikahan?” Bram tertawa. Bukan tertawa lucu, tapi tertawa pendek, pahit, seperti batuk kering. “Berarti dia belum setahun jadi istriku, kau sudah—kau sudah—” Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Dia berbalik, berjalan ke jendela, menekan kedua telapak tangan ke kaca. Di luar, hujan mengguyur deras, daun-daun berguguran, angin menderu.
“Empat tahun,” kata Bram tanpa menoleh. “Empat tahun aku bekerja membangun perusahaan ini. Membesarkan kau sendirian setelah ibumu pergi. Aku korbankan waktu, kesehatan, kebahagiaan—semua untuk keluarga ini. Dan kau balas dengan ini.”
“Ayah—”
“Jangan panggil aku ayah.” Bram berbalik, matanya menyala. “Ayah itu didengar anaknya. Ayah itu dihormati anaknya. Kau bukan anakku. Anakku tidak akan tidur dengan istriku.”
Ardi merasakan dadanya sesak. Kata-kata itu menusuk, tapi dia tahu itu benar. Dia bukan anak yang baik. Dia bukan anak yang bisa dibanggakan.
Bram mengalihkan pandangan ke Maya, yang masih duduk diam di sudut, tidak bergerak, tidak berbicara, hanya memilin ujung rok dengan jari-jari yang gemetar.
“Dan kau.” Suara Bram berubah—bukan marah lagi, tapi sesuatu yang lebih rumit. Kecewa. Sakit. “Aku bawa kau ke rumah ini. Aku kasih kau hidup yang nyaman. Aku—aku sayang kau, Maya. Aku pikir kau juga sayang aku.”
Maya tidak menjawab. Matanya tetap tertuju ke lantai, bahunya bergetar.
“Lihat aku,” perintah Bram.
Perlahan, Maya mengangkat wajah. Matanya basah, tapi tidak menangis. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar, tapi dia tidak berkata apa-apa.
“Kenapa?” tanya Bram. Suaranya pelan, nyaris berbisik. “Apa yang kurang dari aku?”
Maya membuka mulut, menutup lagi, lalu membuka sekali lagi. “Aku—”
“Jangan.” Bram mengangkat tangan, menyuruhnya berhenti. “Aku nggak mau dengar alasan. Alasan nggak akan mengembalikan apa yang sudah kau hancurkan.”
Dia berjalan ke meja kopi, mengambil satu foto—foto Ardi dan Maya di dapur, tangan mereka bertaut, wajah mereka tersenyum. Dia menatap foto itu lama, lalu melemparkannya kembali ke meja dengan gerakan kasar.
“Yuni sudah pergi,” kata Bram. “Sebelum dia pergi, dia minta uang. Banyak. Aku kasih. Tapi itu nggak cukup. Rekaman sudah beredar di internal perusahaan. Dalam hitungan jam, semua orang akan tahu.”
Ardi mengepal tangannya. “Aku akan tanggung jawab.”
“Tanggung jawab?” Bram mendekat, berdiri di depan Ardi, menatap matanya. “Kau mau tanggung jawab bagaimana? Mundur dari perusahaan? Kabur ke luar negeri? Menikahi Maya?”
Ardi diam.
“Itu yang kau mau, kan?” Bram tersenyum, tapi senyum itu pahit. “Kau mau menikahi Maya. Membawa kabur istri ayahmu. Memulai hidup baru dengan uang yang kau dapat dari perusahaan yang aku bangun.”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?” Suara Bram meninggi. “Katakan, Ardi. Jelaskan. Karena aku nggak mengerti. Aku nggak pernah mengerti kenapa kau selalu melakukan hal yang paling menyakitkan.”
Ardi menunduk. Di sudut ruangan, Maya menutup wajah dengan kedua tangan, bahunya terisak tanpa suara.
“Aku nggak bermaksud menyakitkan,” kata Ardi pelan.
“Tapi kau tetap melakukannya.” Suara Bram turun, tiba-tiba terdengar lelah. “Kau tahu, aku selalu berpikir kesalahan terbesar aku adalah terlalu sibuk bekerja. Aku pikir kalau aku kasih kau semua yang kau mau—sekolah terbaik, mobil, uang, perusahaan—itu cukup. Tapi ternyata tidak.”
Dia berjalan ke sofa utama, duduk dengan tubuh yang tiba-tiba terlihat tua. Tangannya di pangkuan, menggenggam kosong.
“Sekarang, semua akan hancur,” katanya. “Perusahaan, nama keluarga, masa depan kau—semua karena satu kesalahan yang bisa kau hindari kalau kau punya sedikit pengendalian diri.”
Ardi berdiri di depan ayahnya, tidak tahu harus berkata apa. Kata maaf terlalu kecil. Janji tidak akan berarti.
Maya tiba-tiba berdiri dari sofa kecilnya. Langkahnya goyah, wajahnya pucat, tapi matanya—matanya berbeda. Tidak takut. Tidak menyesal. Hanya kosong.
“Aku yang salah,” katanya. Suaranya datar, seperti sedang membaca berita. “Aku yang mendekati Ardi. Aku yang—aku yang tidak bisa berhenti. Dia hanya—dia hanya kebetulan ada.”
Bram menatap Maya, lalu menatap Ardi. “Kau dengar itu? Dia bilang kau hanya kebetulan ada.”
Ardi merasakan ada yang salah dengan kata-kata Maya, tapi dia tidak tahu harus merespons bagaimana.
Maya melanjutkan, suaranya tetap datar. “Aku nggak layak di sini. Aku akan pergi. Aku nggak akan minta apa-apa.”
Dia berjalan ke pintu, langkahnya cepat, seperti orang yang takut berhenti.
“Maya.” Ardi meraih pergelangan tangannya, menghentikannya. “Kamu nggak perlu—”
“Lepas.” Maya menatap Ardi, dan untuk pertama kalinya, dia melihat sesuatu di matanya. Bukan cinta. Bukan kepanikan. Tapi sesuatu yang lebih dingin. “Ini salahku. Biar aku yang pergi.”
“Tidak ada yang pergi.” Suara Bram dari belakang tegas, memotong. “Kalian berdua nggak akan kemana-mana sebelum ini selesai.”
Ardi melepaskan tangan Maya. Maya mundur selangkah, menjauh.
Bram berdiri, berjalan ke meja kopi, mengumpulkan foto-foto itu dengan gerakan cepat, memasukkannya kembali ke amplop. Tangannya gemetar, tapi dia tetap melakukannya sampai semua foto masuk.
“Ini nggak akan selesai hari ini,” katanya. “Ada terlalu banyak yang harus diurus. Rekamannya, media, investor, dewan komisaris.” Dia menoleh ke Ardi. “Kau akan hadapi semuanya. Kau yang buat, kau yang tanggung jawab.”
Ardi mengangguk. “Aku siap.”
“Kau nggak siap.” Bram menggeleng, meletakkan amplop di dada, menekannya erat. “Kau nggak tahu apa yang akan kau hadapi. Media akan mengorek kehidupan kita. Investor akan menarik diri. Teman-teman bisnis akan menjauh. Dan kau—” dia menatap Ardi, “—kau akan kehilangan semuanya. Perusahaan, nama, masa depan.”
“Aku nggak peduli.”
“Kau akan peduli.” Suara Bram pelan. “Suatu hari, ketika semua sudah hilang, kau akan peduli. Dan kau akan menyesal.”
Dia berjalan ke pintu, amplop coklat di tangannya. Di ambang pintu, dia berhenti tanpa menoleh.
“Maya, kau tetap di sini. Untuk sementara. Sampai semua ini selesai. Aku nggak mau kau pergi dan membuat skandal lebih besar.”
Maya tidak menjawab.
“Ardi.” Bram menoleh sedikit, setengah wajahnya terlihat. “Kau tidur di kamar tamu. Sampai ada keputusan selanjutnya.”
Pintu ditutup, dan Bram menghilang di baliknya.
---
Ruang keluarga sunyi.
Ardi berdiri di tengah, Maya di dekat pintu yang mengarah ke dapur. Mereka berjarak tiga meter, tapi terasa seperti tiga mil.
Maya adalah yang pertama berbicara. “Kamu seharusnya biarkan aku pergi.”
“Ke mana?”
“Entahlah. Jauh. Supaya semua ini selesai.”
Ardi mendekat, tapi Maya mundur.
“Jangan,” katanya. “Jangan sekarang. Aku nggak bisa—aku nggak bisa berpikir kalau kamu dekat.”
Ardi berhenti. “Apa yang kamu katakan tadi? Tentang aku yang hanya kebetulan ada?”
Maya menunduk. Tangannya memegang ujung rok, meremasnya erat. “Aku hanya—aku ingin melindungi kamu. Kalau Bram tahu ini juga keinginan kamu, dia akan lebih marah.”
“Tapi itu bohong.”
“Aku tahu.” Suara Maya pelan. “Tapi kadang bohong lebih mudah.”
Ardi menatap Maya, melihat wajah yang selama ini dia pikir dia kenal. Ternyata, dia tidak mengenalnya sama sekali. Atau mungkin dia sengaja tidak mau mengenal.
“Kita bohong terlalu sering,” kata Ardi pelan. “Ke Sari. Ke Bram. Ke diri kita sendiri. Mungkin ini saatnya berhenti.”
Maya mengangkat wajah, matanya basah. “Kamu mau berhenti?”
Ardi tidak menjawab. Dia tidak tahu jawabannya.
Maya menunggu sebentar, lalu berjalan ke pintu dapur. Di ambang pintu, dia berhenti.
“Aku ke kamar. Aku butuh sendiri.”
Dia pergi, meninggalkan Ardi sendirian di ruang keluarga yang besar dan sunyi.
Ardi duduk di sofa—sofa utama, tempat mereka biasa duduk berdua. Di atas meja kopi, hanya tersisa bekas amplop, lingkaran debu di kaca yang licin. Foto-foto sudah tidak ada. Bukti sudah di tangan Bram.
Tapi rasa bersalah masih ada. Menempel di dada, di tenggorokan, di setiap tarikan napas.
Ponselnya bergetar di saku celana.
Dia mengeluarkannya, membaca layar.
Nomor tidak dikenal:
Mas Ardi, saya dengar Pak Bram sudah tahu. Bagaimana, masih mau main-main? Saya punya rekaman yang lebih lengkap dari yang Bapak kira. Hubungi saya kalau mau negosiasi. Kalau tidak, semua orang akan lihat.
Ardi membaca pesan itu sekali, lalu dua kali. Jari-jarinya gemetar saat menekan balas.
Siapa kamu?
Tiga titik di layar. Mengetik. Berhenti. Mengetik lagi.
Yang penting, saya punya apa yang Bapak takutkan. Saya akan hubungi lagi. Sampai jumpa, Mas Ardi.
Pesan itu diakhiri dengan emotikon senyum.
Ardi mematikan ponsel, membantingnya ke sofa. Di luar, hujan turun lebih deras, angin menderu di celah-celah jendela, dan di lantai atas, tidak ada suara apa pun.
Rumah yang dulu terasa hangat, sekarang terasa seperti kuburan.
---