Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 12
Gema langkah kaki di aula utama perlahan memudar seiring dengan berakhirnya upacara yang penuh ketegangan tersebut.
Para kerabat keluarga Eldersheath membubarkan diri dengan membawa topik pembicaraan baru yang hangat:
keajaiban ganda Leo dan misteri gelar kosong Ilwa.
Di tengah kerumunan bangsawan yang berjubel menuju pintu keluar, Ilwa berjalan dengan tenang di samping Martha yang masih tampak linglung.
Tiba-tiba, *brukk!*
Seorang pria dewasa yang tampak terburu-buru tanpa sengaja menabrak bahu kecil Ilwa.
Tubuh mungil Ilwa sempat terhuyung, namun dengan keseimbangan yang terlatih dari memori otot masa lalunya, ia tetap berdiri tegak.
"Ah! Maafkan aku, Nak. Aku benar-benar tidak melihatmu karena tubuhmu yang begitu kecil," ucap pria itu sambil tertawa kecil. Ia membungkuk sedikit untuk menyejajarkan wajahnya dengan Ilwa.
Pria itu memiliki rambut cokelat berantakan dan mata yang berkilat jenaka, mengenakan seragam perwira tinggi tanpa atribut lengkap. "Kau tidak apa-apa, kan?"
Ilwa mendongak, menatap pria itu dengan tatapan datar yang menusuk. "Aku baik-baik saja," jawabnya singkat.
Pria itu tersenyum lebar, jemarinya sempat mengacak rambut putih Ilwa sebelum berdiri tegak kembali. "Baguslah. Sampai jumpa lagi, anak kecil.
" Pria itu kemudian melenggang pergi, menghilang di balik pilar-pilar besar menuju lorong sayap kiri kediaman utama.
Ilwa menyipitkan matanya, memperhatikan punggung pria itu.
"Sentuhan tadi... dia tidak sengaja menabrakku, tapi dia memeriksa sirkulasi manaku melalui kontak kulit. Siapa pria itu?"
---
Sementara itu, di lantai atas yang kedap suara, Robert Eldersheath sedang duduk di balik meja kerja kayu jati hitamnya yang masif. Cahaya lilin berpendar,
menerangi tumpukan dokumen militer dan laporan pajak wilayah.
Terdengar ketukan pintu yang tidak beraturan—ketukan yang tidak sopan bagi standar kediaman Duke.
"Masuk," perintah Robert tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di depannya.
Pintu terbuka dan pria yang menabrak Ilwa tadi masuk dengan gaya yang sangat santai, bahkan cenderung kurang ajar.
Ia adalah **Aris**, Kepala Instruktur Pelatihan Militer klan Eldersheath sekaligus kawan lama Robert sejak masa perang lima puluh tahun silam.
"Sore yang sibuk, Robert? Kau terlihat sepuluh tahun lebih tua dari terakhir kali aku melihatmu," sapa Aris sambil menarik kursi di depan meja Robert tanpa dipersilakan.
Robert menghela napas panjang, meletakkan penanya. "Apa yang kau lakukan di sini, Aris? Bukankah seharusnya kau sedang mengawasi barak?"
Aris meletakkan sebuah map tebal di atas meja. "Aku di sini untuk memberikan laporan final mengenai daftar anak-anak keluarga yang akan mengikuti **Training Dasar Musim Gugur** bulan depan. Semuanya sudah kuseleksi berdasarkan potensi mereka setelah melihat upacara tadi."
Robert mengambil laporan itu, membolak-baliknya dengan cepat. "Tahun ini memang lumayan banyak anak berbakat. Leo akan menjadi sorotan utama. Bakat gandanya akan sangat berguna bagi prestise keluarga."
Namun, gerakan tangan Robert terhenti. Matanya terpaku pada sebuah nama yang tertulis di urutan terbawah.
Ia menatap nama itu selama beberapa detik sebelum melemparkan map tersebut kembali ke arah Aris.
"Kenapa kau memasukkan nama **Ilwa** ke dalam daftar training ini, Aris?" tanya Robert, suaranya mengandung nada rendah yang mengancam.
Aris mengangkat bahu, wajahnya masih menunjukkan senyum santai. "Kenapa? Apakah ada yang salah? Dia sudah berumur delapan tahun. Menurut aturan klan, setiap anak yang sudah melalui upacara Aptitudo berhak mengikuti pelatihan dasar."
"Kau sudah gila!" Robert berdiri, kedua tangannya menumpu pada meja. "Jobdesk miliknya saja tidak jelas! *Omni-Overlord*? Itu hanyalah istilah sampah untuk menutupi kenyataan bahwa dia tidak punya bakat spesifik! Mengirimnya ke training hanya akan membuang-buang sumber daya klan dan mempermalukanku di depan instruktur lain. Dia anak yang sakit-sakitan, Aris!"
Aris tidak gentar.
Ia justru tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memenuhi ruangan. "Ayolah, Robert. Kau mengenalku sejak kita masih merangkak di parit peperangan. Mana mungkin aku merekomendasikan seseorang tanpa aku tahu kemampuannya? Aku baru saja berpapasan dengannya di bawah."
"Lalu?" gertak Robert.
"Bocah itu punya 'sesuatu'," ucap Aris, matanya berubah menjadi serius sesaat. "Ada ketenangan di matanya yang tidak dimiliki anak umur delapan tahun. Dan jangan lupa silsilahnya. Ibunya, Elara, adalah seorang *Sword Magic* tingkat 8 di usia muda. Dan ayahnya, Rovelt... bukankah dia adalah seorang—"
"Cukup!" potong Robert dengan amarah yang meledak. Ia memukul meja hingga vas bunga di sudutnya bergetar.
"Hal tersebut tidak ada hubungannya sama sekali! Bakat orang tuanya tidak berarti apa-apa setelah kenyataan bahwa dia menderita penyakit terkutuk itu! Penyakit yang bahkan para tabib terbaik pun tidak tahu dari mana asalnya! Memasukkannya ke dalam pelatihan ksatria adalah sebuah penghinaan bagi ksatria lainnya!"
Robert berjalan menuju jendela, menatap ke arah halaman luar dengan napas memburu. "Dia hanyalah pengingat akan kegagalan Elara. Aku tidak ingin melihatnya di barak latihanmu."
Aris berdiri, mengambil kembali mapnya dengan tenang. "Kau terlalu buta oleh rasa malumu, Robert. Kau membenci penyakitnya, tapi kau lupa bahwa terkadang kekuatan yang paling besar lahir dari ketidaknormalan. Aku akan tetap memasukannya ke dalam daftar. Jika dia memang sampah seperti yang kau katakan, biarkan dia hancur di hari pertama latihan. Tapi jika dia bertahan... kau berhutang satu botol minuman terbaik padaku."
Aris berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa menunggu izin.
Robert hanya bisa terdiam, rahangnya mengeras. Di dalam benaknya, ia masih tidak habis pikir kenapa rekannya yang paling jenius itu begitu tertarik pada bocah berambut putih yang ia anggap cacat tersebut.
---
Semburat cahaya keemasan dari matahari yang mulai tergelincir ke cakrawala mewarnai atap-atap paviliun yang sepi.
Kereta kuda yang membawa Ilwa kembali dari rumah utama baru saja berhenti dengan derit yang halus di depan pelataran.
Ilwa turun dari kereta dengan langkah yang tenang, sementara Martha menyusul di belakangnya dengan raut wajah yang masih tampak kelelahan secara emosional setelah kejadian di aula utama tadi.
Baru saja kereta kuda itu berbalik arah untuk kembali ke kandang pusat, deru langkah kaki kuda lain yang lebih cepat terdengar mendekat.
Seorang kurir berseragam ringan dengan lencana burung merpati perak di dadanya—tanda pengantar pesan resmi klan—berhenti tepat di depan mereka.
Tanpa sepatah kata pun, kurir itu menyerahkan sebuah gulungan perkamen yang diikat dengan pita sutra berwarna biru tua, warna yang menandakan perintah administratif klan.
Martha menerima surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar, sementara sang kurir segera memacu kudanya pergi, meninggalkan debu yang berterbangan di udara sore.
"Ada apa, Martha? Surat dari siapa itu?" tanya Ilwa sambil menepis debu di bajunya. Matanya yang abu-abu menatap tajam pada segel lilin yang ada di tangan pengasuhnya.
Martha menatap surat itu dengan tatapan kosong, seolah benda itu adalah bom yang siap meledak. "Ini... ini memiliki segel Departemen Pelatihan Ksatria, Tuan Muda. Ini surat resmi dari keluarga besar."
Ilwa mengerutkan dahi. Ia mengulurkan tangan mungilnya. "Berikan padaku. Biar aku yang membacanya."
Martha memberikan perkamen itu dengan ragu. Ilwa segera memecah segel lilinnya dan membentangkan kertas kulit yang beraroma wangi kayu cendana tersebut.
Matanya bergerak cepat menyisir baris demi baris tulisan tangan yang rapi dan tegas.
Perihal: Pemanggilan Calon Ksatria untuk Training Dasar Musim Gugur Tahun 1501.*
Berdasarkan hasil Upacara Aptitudo, Ilwa Eldersheath diwajibkan untuk hadir di Barak Latihan Pusat pada bulan depan. Pelatihan ini bersifat mandatori bagi setiap keturunan yang telah membangkitkan Jobdesk, tanpa pengecualian.
Ilwa terdiam sejenak.
Ia teringat akan aturan klan yang pernah ia baca sekilas di perpustakaan—bahwa setiap anak berusia delapan tahun harus melalui penempaan fisik dan mental untuk membuktikan apakah gelar yang mereka dapatkan dari Kristal Aptitudo benar-benar berguna atau hanya sekadar hiasan.
"Tuan Muda... apa isinya? Kenapa wajah Anda terlihat begitu serius?" Martha bertanya dengan nada cemas yang kental.
Ilwa melipat kembali surat itu dan menyerahkannya kepada Martha. "Kata mereka, aku harus ikut training bulan depan. Ternyata ini adalah kewajiban bagi setiap anak di keluarga ini."
Martha segera menyambar surat itu, membacanya dengan panik seolah-olah ingin memastikan bahwa mata Ilwa salah membaca.
Setelah menyadari kebenarannya, wajah pelayan tua itu mendadak pucat pasi.
"Ini... ini tidak masuk akal! Ini gila!" seru Martha dengan suara yang meninggi. "Bagaimana mungkin mereka menyuruh Anda ikut pelatihan militer? Anda baru saja mulai membaik! Training dasar klan Eldersheath dikenal sangat kejam, bahkan untuk anak-anak yang sehat sekalipun! Mereka akan dipaksa berlari berkilo-kilometer, mengangkat beban, dan bertarung satu sama lain di bawah terik matahari!"
Martha memegang bahu Ilwa, matanya berkaca-kaca karena rasa khawatir yang meluap. "Apakah Anda benar-benar akan ikut, Tuan Muda? Saya bisa mencoba mengirim surat permohonan keberatan kepada Nyonya Elisa atau meminta bantuan Saint Benedictus untuk mengeluarkan surat keterangan sakit. Anda tidak perlu memaksakan diri masuk ke tempat pembuangan energi seperti itu!"
Ilwa melihat kegelisahan yang tulus di mata Martha.
Ia menghela napas panjang, bukan karena lelah, melainkan karena ia menyadari betapa besarnya kasih sayang wanita ini padanya.
Ia meletakkan tangan kecilnya di atas tangan Martha yang berkerut, mencoba menyalurkan ketenangan.
"Tentu saja aku akan ikut, Martha," jawab Ilwa. Kali ini suaranya tidak sedingin biasanya; ada nada keyakinan yang hangat di sana. "Lagi pula, percuma saja jika aku menolaknya, bukan? Ini adalah perintah resmi. Jika aku menghindar, mereka akan punya alasan lebih kuat untuk mencapku sebagai aib dan mungkin akan membuang kita berdua lebih cepat."
"Tapi Tuan Muda, tubuh Anda..." Martha terisak kecil.
Ilwa tersenyum kecil, sebuah senyuman yang tampak tulus meski menyimpan makna yang dalam. "Tenang saja, Martha. Aku tidak akan membiarkan diriku hancur hanya karena latihan fisik. Aku akan baik-baik saja. Percayalah padaku, aku jauh lebih kuat daripada kelihatannya."
Ilwa menatap ke arah matahari yang mulai tenggelam, memikirkan pria tadi yang menabraknya tadi.
Ia yakin pria itulah yang berada di balik surat pemanggilan ini. Bagi orang lain, ini mungkin adalah hukuman atau beban, namun bagi Ilwa, ini adalah laboratorium hidup.
Di barak latihan nanti, ia bisa melatih otot-ototnya yang selama ini kaku akibat *Aura-Lock* dan menguji seberapa jauh *Omni-Overlord* miliknya bisa memanipulasi energi dalam pertarungan nyata.
"Ayo masuk, Martha. Udara mulai dingin dan aku cukup lapar setelah hari yang panjang ini," ucap Ilwa sambil melangkah mendahului Martha masuk ke dalam rumah.
Martha berdiri terpaku sejenak di halaman, menatap punggung kecil tuan mudanya yang berjalan dengan tegak.
Ia merasa ada sesuatu yang berubah pada diri Ilwa.
Bocah itu tidak lagi tampak seperti pasien yang harus dilindungi, melainkan seperti seorang ksatria yang sedang berjalan menuju medan perangnya sendiri.
Dengan berat hati namun penuh rasa kagum, Martha mengikuti Ilwa masuk, menutup pintu paviliun seiring dengan kegelapan malam yang mulai menyelimuti dunia.
Bersambung...