Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Emrys, Gaby, Melvin, dan Kupu-kupu
Drama kepulangan Gaby meninggalkan jejak kecemasan yang samar di mata Emrys. Ia tidak membiarkan ada jarak yang tercipta, memaku pandangannya pada sosok Gaby seolah sang wanita adalah poros dunianya yang baru saja kembali. Di bawah siraman cahaya matahari pagi yang menembus jendela kaca penthouse, Emrys memilih untuk menyibukkan diri di dapur. Ia meramu sarapan dengan tangannya sendiri, sebuah penebusan bisu sekaligus cara untuk memastikan bahwa Gaby tetap tinggal Di sisinya.
Gaby meremas jemarinya yang dingin, tatapannya jatuh pada lantai marmer yang berkilat. "Kakak... Aku takut jika Melvin kembali menemukanku," bisiknya dengan suara bergetar, sebuah pengakuan yang sarat akan trauma yang belum usai.
Gerakan tangan Emrys yang sedang menata piring seketika terhenti. Ketegangan menjalar di bahu tegapnya sebelum ia berbalik sepenuhnya, menghapus jarak di antara mereka. Ia meraih dagu Gaby, memaksa netra yang gelisah itu untuk beradu dengan tatapannya yang sedalam jelaga dingin, namun penuh proteksi yang mutlak.
"Tidak akan kubiarkan," desis Emrys, suaranya rendah namun setajam sembilu. Ada janji yang tak terucapkan dalam nada bicaranya bahwa ia lebih baik membakar seluruh kota ini daripada membiarkan Melvin menyentuh seujung rambut Gaby lagi.
Tanpa menunggu izin, ia menarik tubuh ringkih itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Satu tangannya melingkar kuat di pinggang Gaby, sementara tangan lainnya menekan tengkuk gadis itu agar bersandar sepenuhnya di bahunya.
"Bernapaslah, Gaby. Kamu aman di sini," bisiknya tepat di telinga Gaby, suaranya kini melunak namun tetap memiliki ketegasan yang tak terbantahkan.
Gaby bisa merasakan detak jantung Emrys yang tenang dan konstan melalui kemeja tipis pria itu. Sebuah ritme yang perlahan meredam gemuruh ketakutan di dadanya. Emrys mengecup puncak kepala Gaby lama, sebuah penegasan bisu bahwa penthouse ini bukan sekadar bangunan mewah, melainkan benteng yang tak akan bisa ditembus oleh siapa pun, termasuk Melvin.
"Jika dia berani melangkah satu jengkal saja ke arahmu," Emrys menjeda kalimatnya, mempererat pelukannya seolah sedang mengunci Gaby dari dunia luar, "dia tidak akan pernah punya kesempatan untuk melakukannya lagi. Aku janjikan itu padamu."
.
.
.
Emrys meletakkan piring berisi sarapan hangat di depan Gaby, aroma bumbu yang menguar lembut seharusnya bisa membangkitkan selera, namun pikiran Gaby justru berkelana jauh ke luar jendela penthouse.
Sambil mengaduk makanannya pelan, bayangan wajah Melvin tiba-tiba melintas. Pria itu... Gaby bergidik dalam hati. Ia membayangkan bagaimana reaksi Melvin saat mendapati kamar kosong, atau saat menyadari bahwa Gaby benar-benar telah hilang dari jangkauannya. Apakah Melvin akan mengamuk? Menghancurkan seisi ruangan? Ataukah pria itu justru sedang menyusun rencana yang lebih gelap untuk menjeratnya kembali?
Ketakutan itu sempat membekukan jemari Gaby di atas sendoknya. Namun, ia segera tersadar saat merasakan tatapan tajam namun teduh milik Emrys yang duduk tepat di hadapannya.
Gaby buru-buru menggeleng kecil, berusaha mengusir kabut kelam Melvin dari benaknya. Ia tidak boleh membiarkan bayangan pria itu merusak suasana. Dengan napas yang sedikit dipaksa agar tetap teratur, Gaby menyuapkan sesendok kecil makanan ke mulutnya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa untuk saat ini, dinding penthouse ini cukup kuat untuk melindunginya.
_____
Di sisi lain, jauh dari kemewahan penthouse yang hangat, keheningan yang mencekam menyelimuti pulau terpencil milik Melvin. Atmosfer di sana terasa statis, seolah waktu ikut membeku bersama hilangnya sang penghuni.
Robot-robot lalat kecil ciptaannya masih berdengung rendah, menyisir setiap jengkal vegetasi dan sudut tersembunyi pulau dengan presisi mekanis. Layar-layar di ruang kendali kini telah jernih. Kamera CCTV yang sempat malfungsi sudah kembali berfungsi normal, menampilkan visual beresolusi tinggi dari setiap sudut pelarian. Namun, di antara ribuan piksel itu, bayangan Gaby benar-benar telah raib.
Melvin tidak mengamuk. Tidak ada barang yang pecah, tidak ada teriakan yang membelah udara. Ia justru berdiri dengan tubuh tegak yang terlalu kaku di tepi danau, membiarkan angin sepoi memainkan ujung kemejanya. Ketenangan itu terasa janggal.. Sebuah ketenangan yang dipaksakan, seperti permukaan air danau yang tampak diam namun menyimpan palung yang mematikan di bawahnya.
Netranya yang dingin sesekali melirik ke arah seekor kelinci putih yang merumput dengan tenang tak jauh dari kakinya. Kelinci itu, makhluk kecil tak berdosa yang dulu sering berada di pangkuan Gaby, kini menjadi satu-satunya saksi bisu yang tersisa. Melvin teringat bagaimana Gaby sering terdiam kosong saat memberi makan hewan itu, tepat sebelum gadis itu lenyap ditelan pendar kupu-kupu magis di malam yang terkutuk tersebut.
Melvin hanya menatap kelinci itu tanpa ekspresi, namun jemarinya yang tersembunyi di balik saku perlahan mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Keheningan pria itu jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah mana pun. Itu adalah tanda bahwa ia sedang menghitung setiap detik, setiap jengkal jarak, dan setiap kemungkinan untuk menarik kembali miliknya.
"Akan kucari," bisik Melvin rendah, sebuah janji yang lebih terdengar seperti kutukan daripada sekadar ucapan.
Angin pagi yang dingin menyapu pulau itu, mempermainkan helai-helai rambut putihnya yang kontras dengan cakrawala yang terang benderang. Netra birunya, yang biasanya tajam dan sedingin es, kini meredup bukan karena kesedihan, melainkan karena fokus yang kini menyempit pada satu titik koordinat yang belum ia temukan.
Ia berbalik perlahan, meninggalkan tepi danau dan kelinci putih yang masih sibuk merumput. Langkah kakinya yang mantap bergema saat ia berjalan kembali menuju kediaman. Bangunan itu masih berdiri kokoh, angkuh di tengah isolasi pulau, namun atmosfer di dalamnya kini terasa hampa.
Pintunya terdorong pelan, sang tuan masuk ke dalam lorong-lorong sunyi yang biasanya dihiasi suara langkah kecil atau gumaman ragu dari Gaby. Meskipun sekarang tidak ada lagi Gaby di sana, Melvin melangkah masuk seolah-olah wanita itu hanya sedang bersembunyi di salah satu sudut ruangan. Baginya, ketiadaan Gaby hanyalah gangguan sementara dalam algoritma kepemilikannya. Sebuah teka-teki yang akan segera ia pecahkan dengan ketenangan yang mematikan.