NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Ratapan Ngarai dan Terobosan di Dalam Gelap

​Angin di Ngarai Angin Melolong tidak sekadar bertiup; ia meratap.

​Suaranya melewati celah-celah tebing batu merah yang menjulang tinggi, menghasilkan dengungan panjang yang terdengar seperti ribuan arwah penasaran yang menangisi nasib mereka. Tidak ada pohon pinus atau salju putih di sini. Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah bebatuan tandus berwarna merah karat, seolah bumi di tempat ini pernah berdarah dan lukanya menolak untuk mengering.

​Empat hari telah berlalu sejak pembantaian di Hutan Kabut Menangis.

​Kuda hitam kurus yang ditunggangi Shen Yuan akhirnya jatuh tersungkur di pintu masuk ngarai, mulutnya mengeluarkan busa putih. Binatang malang itu telah berlari melampaui batas fisiknya, didorong oleh aura menakutkan yang memancar dari penunggangnya.

​Shen Yuan turun dari pelana. Ia tidak menoleh pada kuda yang sekarat itu, melainkan menatap lurus ke arah sebuah perkemahan kumuh yang didirikan di mulut sebuah gua raksasa.

​Itulah Tambang Besi Darah.

​Kondisi Shen Yuan saat ini jauh dari kata baik. Wajahnya pucat pasi, dan urat-urat biru menonjol di lehernya. Jubah sutra putihnya telah tertutup debu jalanan. Selama empat hari empat malam tanpa henti, ia memaksakan tubuhnya untuk menahan lautan energi Lapisan Ketujuh yang mengamuk di dalam Dantian-nya. Benih Hitam di perutnya bekerja tanpa lelah, menggiling esensi dari tiga pembunuh keluarga Lin, namun kapasitas Dantian Lapisan Keenamnya telah mencapai titik nadir. Ia ibarat sebuah kendi tanah liat yang dipaksa menampung air bah. Satu benturan kecil saja, kendi itu akan meledak.

​"T-Tuan Kultivator!"

​Sebuah suara parau memecah lamunan Shen Yuan. Dari balik barikade kayu yang dibangun seadanya di depan tambang, seorang pria paruh baya berlari tertatih-tatih menghampirinya. Pria itu mengenakan pakaian compang-camping yang dipenuhi noda hitam dan karat. Telinga kirinya hilang, menyisakan bekas luka bakar yang mengerikan.

​Di belakang pria itu, belasan penambang mengintip dari balik tenda-tenda robek. Mata mereka cekung, memancarkan ketakutan yang begitu pekat hingga bisa dirasakan di udara.

​"Saya Wang, Kepala Mandor tambang ini," pria itu langsung berlutut di tanah berdebu, membenturkan dahinya dengan keras. "Langit akhirnya mengasihani kami! Sekte Langit Berkabut mengirim utusan untuk menyelamatkan nyawa kami yang tidak berharga ini!"

​Shen Yuan melangkah mendekat, auranya sengaja ditekan agar tidak membuat pria fana ini pingsan ketakutan. "Berdirilah, Mandor Wang. Ceritakan situasinya padaku. Singkat dan jelas."

​Mandor Wang bangkit dengan lutut gemetar. Ia menatap Shen Yuan, dan sejenak, raut kekecewaan melintasi matanya. "H-Hanya... hanya Anda sendiri, Tuan? Dua utusan sekte sebelumnya datang berdua, dan mereka... mereka hilang tanpa jejak di malam ketiga."

​"Satu pedang yang tajam jauh lebih baik daripada sepuluh pedang yang berkarat," jawab Shen Yuan tenang, nada suaranya tidak memberikan ruang untuk keraguan. "Apa yang ada di dalam sana?"

​Mandor Wang menelan ludah, menunjuk ke arah mulut lorong tambang terbesar yang gelap gulita dengan jari bergetar.

​"Kami tidak tahu, Tuan. Awalnya, hanya beberapa penambang di Lorong Nomor Empat yang hilang saat sif malam. Kami mengira ada lorong yang runtuh. Tapi kemudian... kami menemukan sisa-sisa mereka di dekat gerbang. Bukan mayat yang utuh, Tuan. Hanya... hanya kulit dan pakaian. Daging dan darah mereka seperti dihisap habis oleh sesuatu."

​Mata Shen Yuan sedikit menyipit di balik topi bambunya. Dihisap habis? Ini bukan pola serangan binatang buas normal. Binatang buas mengoyak dan memakan daging, bukan menyedot darah dan meninggalkan kulit utuh. Ini adalah ciri khas yang sangat spesifik.

​"Lalu kedua murid pengawas dari sekte?" tanya Shen Yuan.

​"M-Mereka masuk ke Lorong Nomor Empat tiga hari yang lalu untuk membunuh makhluk itu. Kami mendengar suara ledakan dan jeritan yang sangat mengerikan... lalu hening. Mereka tidak pernah kembali," suara Mandor Wang diakhiri dengan isak tangis tertahan. "Jika Anda tidak datang hari ini, kami berencana melarikan diri malam ini, meski tahu sekte akan menghukum mati kami karena meninggalkan pos."

​Shen Yuan mengangguk pelan. Logikanya memproses setiap informasi. Makhluk atau entitas di dalam sana mampu membunuh dua murid Lapisan Kelima tanpa membiarkan mereka melarikan diri. Artinya, makhluk itu minimal berada di Puncak Lapisan Keenam, atau bahkan Lapisan Ketujuh.

​Ini adalah kabar buruk bagi murid luar biasa, namun ini adalah surga bagi Shen Yuan.

​Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menusuk perutnya. Energi di dalam Dantian-nya kembali memberontak, meminta untuk segera dilepaskan.

​"Mandor Wang," ucap Shen Yuan, menahan suaranya agar tetap stabil. "Kumpulkan semua penambang di luar barikade. Jangan ada satu pun yang mendekati mulut tambang malam ini. Aku akan masuk ke Lorong Nomor Empat."

​"S-Sekarang, Tuan?! Matahari sudah hampir tenggelam!"

​"Justru di dalam kegelapanlah monster sesungguhnya akan keluar," jawab Shen Yuan.

​Tanpa membuang waktu lagi, ia melangkah maju, meninggalkan perkemahan yang ketakutan itu, dan masuk ke dalam mulut Tambang Besi Darah yang menganga layaknya rahang iblis.

​Udara di dalam tambang terasa sangat lembap dan berbau besi tua yang menyesakkan napas. Cahaya matahari memudar dengan cepat saat Shen Yuan menyusuri lorong yang diterangi oleh lumut bercahaya redup di dinding-dinding batu.

​Ia berjalan sejauh setengah mil ke dalam Lorong Nomor Empat, menajamkan pendengarannya. Sepi. Terlalu sepi. Tidak ada suara kelelawar, tidak ada suara tetesan air. Seolah-olah seluruh kehidupan alami di tempat ini telah dihisap kering.

​Ketika ia merasa jaraknya sudah cukup aman dari perkemahan luar, dan lorong mulai bercabang ke arah yang lebih dalam, Shen Yuan berhenti.

​"Di sini cukup," gumamnya. Suaranya terdengar bergema.

​Ia duduk bersila di tengah lorong yang kotor. Debu tebal menempel di jubah sutra putihnya, namun ia tidak peduli. Ia harus melakukan terobosan sekarang, atau tubuhnya yang akan hancur sebelum ia sempat bertemu dengan musuhnya.

​Shen Yuan memejamkan mata dan mengambil napas dalam-dalam.

​Lepaskan.

​Dengan satu perintah mental, belenggu yang menahan lautan energi di dalam Dantian-nya hancur.

​BOOM!

​Gelombang energi emas gelap meledak dari dalam tubuh Shen Yuan. Udara di sekitarnya seketika terdistorsi. Debu dan kerikil di lantai tambang terhempas ke dinding akibat tekanan angin spiritual yang brutal.

​Rasa sakit yang ribuan kali lebih parah dari sebelumnya menghantam kesadarannya. Esensi dari pembunuh Lapisan Ketujuh itu telah dimurnikan, namun volumenya terlalu masif. Energi itu memaksa dinding Dantian Shen Yuan untuk meregang, merobek batasan kultivasinya secara paksa.

​Urat-urat nadi di leher, lengan, dan pelipis Shen Yuan menonjol keluar, berwarna keemasan redup. Tulang-tulangnya berderit hebat. Jika Pembersihan Sumsum sebelumnya hanya membersihkan kotoran, terobosan ke Lapisan Ketujuh ini sedang memadatkan tulangnya hingga ke tingkat yang menyamai kualitas baja spiritual.

​"Jangan hanya diam, Benih Hitam! Bantu aku menelannya!" raung Shen Yuan di dalam benaknya. Darah segar kembali menetes dari sudut bibirnya.

​Benih Hitam di tengah Dantian berputar dengan kecepatan yang tidak bisa lagi ditangkap oleh mata batin. Ia tidak lagi berbentuk retakan kecil. Benih itu kini merekah, membuka semacam "inti" kecil di tengahnya, yang berfungsi layaknya tungku pembakaran.

​Energi asing itu dibakar habis-habisan. Keringat yang mengucur dari pori-pori kulit Shen Yuan kini berwarna abu-abu kusam, membawa serta sisa-sisa kotoran terakhir dari tubuh fananya.

​Ledakan demi ledakan tanpa suara terjadi di dalam tubuhnya. Lapisan demi lapisan perlawanan fisik runtuh.

​Hingga akhirnya, sebuah suara retakan yang sangat nyaring—seperti kaca tebal yang dipukul palu—terdengar langsung di jiwanya.

​PRAAANG!

​Dinding Lapisan Keenam hancur total. Lautan Dantian meluas hingga tiga kali lipat. Warna Qi emas gelapnya kini tidak lagi berbentuk uap atau kabut tebal, melainkan perlahan mencair, membentuk tetesan-tetesan cairan Qi yang sangat murni di dasar perutnya.

​Lapisan Ketujuh Kondensasi Qi—Tahap Pemadatan Cair.

​Shen Yuan membuka kedua matanya secara perlahan. Dalam kegelapan mutlak lorong tambang tersebut, sepasang matanya memancarkan cahaya emas yang mengintimidasi, menerangi dinding batu di depannya selama beberapa detik sebelum kembali menggelap menjadi warna obsidian.

​Ia menghela napas panjang. Udara busuk di tambang itu kini terasa biasa saja. Indra penciuman, pendengaran, dan penglihatannya meningkat drastis. Ia bahkan bisa merasakan aliran udara tipis yang masuk dari celah-celah batu yang berjarak ratusan tombak darinya.

​Shen Yuan mengepalkan tangan kanannya. Tidak ada rasa sakit yang tersisa. Kekuatan yang mengalir di lengannya sekarang begitu mengerikan, ia yakin satu pukulan Tinju Runtuh Gunung dalam kondisinya saat ini tidak hanya akan menghancurkan batu besi, tapi bisa meratakan setengah dari lorong ini menjadi debu.

​"Akhirnya," gumam Shen Yuan, mengusap darah di sudut bibirnya. "Lapisan Ketujuh. Ranah yang membedakan murid kelas bawah dan elit sekte luar. Lin Feng... jika kau melihatku sekarang, apakah kakimu masih sanggup berdiri?"

​Ia tersenyum dingin. Namun, senyum itu perlahan memudar saat indra barunya yang baru saja dipertajam menangkap sebuah anomali.

​Dari arah kedalaman Lorong Nomor Empat—tempat yang lebih gelap dari malam tanpa bintang—telinga Shen Yuan menangkap sebuah suara.

​Dug... Dug... Dug...

​Bukan suara detak jantung. Itu adalah suara langkah kaki yang sangat lambat, menyeret sesuatu yang berat di lantai batu.

​Seiring dengan suara langkah itu, udara di lorong mendadak berubah menjadi sedingin es. Bau amis darah yang sangat tua dan menyengat merayap masuk ke hidung Shen Yuan, mengalahkan bau karat dari tambang besi.

​Shen Yuan perlahan bangkit berdiri. Ia tidak mundur, apalagi bersembunyi. Dengan kultivasi Lapisan Ketujuh dan Kitab Penelan Surga di pihakanya, ia adalah pemangsa di puncak rantai makanan.

​Dari balik kegelapan berjarak tiga puluh tombak di depannya, sesosok siluet ganjil mulai terlihat berkat penglihatan malamnya.

​Itu adalah makhluk yang menyerupai manusia, namun tubuhnya setinggi hampir tiga meter. Kulitnya berwarna merah gelap, dipenuhi oleh urat-urat hitam tebal yang berdenyut-denyut. Mulut makhluk itu sobek hingga ke telinga, memamerkan deretan taring tajam yang meneteskan air liur berbau bangkai. Di tangan kanannya yang raksasa, makhluk itu menyeret separuh tubuh seorang pria berseragam Sekte Langit Berkabut—salah satu murid pengawas yang hilang.

​Iblis Darah Mutasi, benak Shen Yuan dengan cepat mengenali makhluk dari literatur sekte yang pernah ia baca di Paviliun Kitab. Entitas menjijikkan yang tercipta saat binatang buas tingkat tinggi mengonsumsi terlalu banyak mayat kultivator dan bermutasi oleh Qi negatif.

​Makhluk itu berhenti menyeret mayatnya. Kepala cacatnya menoleh perlahan, menatap tepat ke arah Shen Yuan. Sepasang matanya yang tidak memiliki pupil menyala dengan warna merah darah yang lapar.

​"Satu lagi mangsa yang wangi," suara makhluk itu terdengar seperti dua batu giling yang bergesekan, berbicara dengan bahasa manusia yang terbata-bata.

​Shen Yuan tidak mengeluarkan pedang, karena ia memang tidak punya. Ia hanya mengibas pelan debu dari jubah sutranya, melonggarkan persendian lehernya, dan membalas tatapan Iblis Darah itu dengan ketenangan absolut.

​"Kebetulan sekali," balas Shen Yuan, suaranya bergema di lorong batu. "Perutku baru saja kosong, dan kau terlihat sangat mengenyangkan."

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!