NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Zira tidak lagi hanya menulis di balik layar. Dengan dukungan finansial Nathan dan manajemen yang rapi dari Maura, mereka mendirikan Yayasan Cahaya Arshaka, sebuah pusat rehabilitasi dan bantuan hukum bagi korban kekerasan serta kecelakaan yang mengalami trauma fisik maupun mental.

Aryan, yang kini telah menyelesaikan studi psikologinya, menjadi kepala konselor di sana. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada orang yang merasa sendirian saat dunianya hancur, seperti yang ia rasakan dulu saat terbaring di rumah sakit.

Pertemuan Tak Terduga di Sebuah Panti

Suatu sore, saat Zira sedang meninjau salah satu program pemberdayaan wanita di pinggiran kota, ia melihat sesosok wanita yang sedang mengajar anak-anak panti asuhan membaca Al-Qur'an. Wanita itu berpakaian sangat sederhana, jilbabnya lebar, dan wajahnya menunduk khusyuk.

Zira tertegun. Langkahnya terhenti.

"Mbak Zira? Ada apa?" tanya Maura yang berjalan di sampingnya.

Zira tidak menjawab. Ia mendekat perlahan. Saat wanita itu mendongak untuk membetulkan bacaan seorang anak, matanya bertemu dengan mata Zira.

Itu Clara.

Tidak ada lagi tatapan tajam yang penuh dengki. Tidak ada lagi bibir yang bergetar karena amarah. Yang ada hanyalah genangan air mata yang seketika tumpah saat ia menyadari siapa yang berdiri di depannyaa

Clara segera berdiri, namun ia tidak berani mendekat. Ia menunduk dalam, bahunya terguncang hebat karena tangis yang ditahan.

"Zira..." suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Aku... aku hanya mencoba menebus waktu yang terbuang. Aku tidak berharap kamu sudi melihatku lagi."

Zira diam sejenak, memori tentang kecelakaan Aryan dan surat provokasi di masjid dulu sempat melintas. Namun, ia melihat ketulusan di mata Clara yang sekarang. Zira melangkah maju, lalu melakukan sesuatu yang membuat Maura dan orang-orang di sana terperangah.

Zira memeluk Clara.

"Sudah, Clara. Semua sudah selesai," bisik Zira lembut. "Kamu sudah pulang ke jalan yang benar. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Clara terisak di bahu Zira. "Terima kasih... terima kasih karena tidak membiarkanku mati dalam kebencian."

*Kabar dari Hendra*

Di sisi lain, keadilan langit bekerja dengan caranya sendiri. Nathan mengabarkan bahwa Hendra telah mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit beberapa bulan setelah mendapatkan izin perawatan.

Sebelum meninggal, Hendra sempat menuliskan surat wasiat yang menyerahkan seluruh sisa hartanya untuk yayasan milik Zira. Ia menyadari bahwa harta yang ia kejar mati-matian ternyata tidak bisa menunda ajalnya satu detik pun.

"Dia pergi dengan penyesalan, Zira. Dan itu adalah hukuman sekaligus rahmat baginya," ujar Nathan saat mereka berziarah singkat.

*Malam Penghargaan: "Nana" yang Sesungguhnya*

Tahun itu, Zira menerima penghargaan sebagai tokoh literasi paling berpengaruh. Di atas panggung megah, ia tidak lagi mengenakan masker atau bersembunyi di balik nama pena. Ia berdiri sebagai Zira Anindya.

Di barisan depan, Nathan memangku putri kecil mereka, Zunaira, yang baru berusia dua tahun, sementara Arshaka yang sudah gagah duduk di samping pamannya, Aryan.

"Saya menulis bukan untuk dikenal," ujar Zira dalam pidatonya yang disiarkan nasional. "Saya menulis karena saya percaya bahwa kata-kata adalah doa yang bisa menyembuhkan luka. Jika hari ini Anda sedang hancur, jangan menyerah. Karena seringkali, Allah menghancurkan rencana kita hanya untuk menggantinya dengan takdir yang lebih indah dari apa yang bisa kita tuliskan sendiri."

Garis Takdir yang Sempurna

Malam itu, saat pulang ke rumah, Arshaka bertanya pada Zira sambil melihat bintang dari jendela mobil.

"Bunda, kenapa bintang itu bersinar sangat terang?"

Zira memeluk putranya, lalu melirik Nathan yang sedang menyetir sambil tersenyum melalui spion tengah.

"Karena ia berani berada di tengah kegelapan tanpa takut kehilangan cahayanya, Sayang. Seperti kita."

Kendaraan itu melaju membelah malam, membawa keluarga yang telah melewati badai hebat menuju rumah yang penuh dengan cinta, kedamaian, dan keberkahan yang tak putus-putus.

Rahasia di Balik Warisan Hendra

Beberapa bulan setelah wafatnya Hendra, Nathan mulai mengurus proses pengalihan aset yang diwasiatkan sepupunya itu untuk yayasan Zira. Namun, saat menelusuri dokumen-dokumen lama di brankas pribadi Hendra, Nathan menemukan sebuah map berwarna cokelat tua yang tersegel rapi.

Di dalamnya bukan sertifikat tanah atau saham, melainkan sebuah akta kelahiran anak laki-laki dan sebuah foto usang.

Wajah anak di foto itu sangat familiar. Nathan terduduk kaku di kursi kerjanya. Anak itu memiliki tanda lahir yang identik dengan... Aryan.

"Tidak mungkin," bisik Nathan. Jantungnya berdegup kencang. Jika dokumen ini benar, maka silsilah keluarga mereka selama ini menyimpan kebohongan besar yang melibatkan orang tua mereka yang sudah tiada.

Badai di Tengah Kebahagiaan

Nathan pulang dengan wajah mendung, sesuatu yang jarang terjadi sejak kelahiran Zunaira. Zira yang sedang menyuapi Arshaka langsung menyadari perubahan suaminya.

"Ada apa, Mas? Wajahmu seperti melihat hantu," tanya Zira cemas.

Nathan memberikan map itu pada Zira tanpa kata. Zira membacanya perlahan. Tangannya mulai gemetar. Di sana tertulis bahwa Aryan sebenarnya bukan adik kandung Zira. Aryan adalah anak dari hasil pernikahan siri Hendra di masa muda dengan seorang wanita yang merupakan sahabat mendiang ibu Zira.

Saat ibu kandung Aryan meninggal karena persalinan, ibu Zira yang saat itu baru saja kehilangan bayinya sendiri memutuskan untuk mengadopsi Aryan dan mencatatnya sebagai anak kandung demi menutupi aib keluarga besar.

"Artinya... Aryan adalah anak Hendra? Orang yang mencoba membunuhnya sendiri?" Zira menutup mulutnya, syok.

Zira merasa dunianya berputar. Bagaimana ia harus mengatakannya pada Aryan? Adiknya itu baru saja pulih secara mental dan fisik. Aryan sangat membenci Hendra atas apa yang terjadi di jalan raya itu. Bagaimana jika ia tahu bahwa pria yang ia benci adalah ayah kandungnya?

"Jika kita diam, kita membohonginya seumur hidup, Zira," ujar Nathan berat. "Tapi jika kita bicara, aku takut mentalnya hancur lagi. Apalagi Hendra sudah tiada. Aryan tidak punya kesempatan untuk bertanya langsung."

Tiba-tiba, suara pintu terbuka. Aryan berdiri di sana, membawa beberapa dokumen pasien dari yayasan. Ia membeku melihat ekspresi kakak dan kakak iparnya.

"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Dan... map apa itu?" tanya Aryan curiga.

Pengakuan yang Meruntuhkan

Zira tidak bisa berbohong. Ia selalu mengajarkan kejujuran dalam setiap tulisannya. Dengan suara bergetar, ia menceritakan semuanya.

Suasana ruangan menjadi sangat dingin. Aryan membaca akta itu berulang kali. Tawanya pecah sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan.

"Jadi... orang yang menabrakku, yang ingin aku mati agar dia dapat warisan, adalah ayahku sendiri?" suara Aryan meninggi. "Dan kalian baru memberitahuku sekarang?"

"Kami baru tahu hari ini, Yan! Sumpah demi Allah," Nathan mencoba mendekat, namun Aryan mundur.

"Jangan sentuh aku! Jadi selama ini aku hanya orang asing di keluarga ini? Aku hanya 'anak titipan' yang nyaris mati di tangan ayah kandungnya?"

Aryan melemparkan dokumen itu ke lantai, lalu berlari keluar rumah menuju mobilnya. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengabaikan teriakan Zira.

Hujan deras tiba-tiba mengguyur kota, seolah ikut merasakan duka keluarga itu. Nathan segera mengambil kunci mobil untuk mengejar Aryan, sementara Zira yang sedang hamil muda (anak ketiga yang baru terdeteksi beberapa minggu lalu) bersikeras ikut.

"Mas, aku tidak bisa membiarkan dia sendirian! Dia sedang dalam kondisi emosi yang sama seperti saat kecelakaan dulu!"

Di jalanan yang licin, mereka melihat mobil Aryan terparkir di pinggir tebing tempat kejadian kecelakaan tiga tahun lalu. Aryan berdiri di tepi jalan, membiarkan tubuhnya basah kuyup, menatap jurang di bawahnya.

"Aryan! Berhenti!" teriak Zira saat keluar dari mobil.

Aryan menoleh, wajahnya penuh air mata yang menyatu dengan air hujan. "Mbak... kenapa takdir 'Nana' selalu indah di buku, tapi takdirku selalu seperti sampah? Aku tidak punya siapa-siapa sekarang!"

Kekuatan Kata-Kata

Zira berjalan perlahan mendekati adiknya, meski Nathan menahan bahunya.

"Kamu punya aku, Aryan! Darah mungkin berbeda, tapi kasih sayang ibu yang membesarkanmu itu nyata! Kamu adalah adikku, selamanya adikku!" Zira berteriak di tengah gemuruh guntur.

"Aku anak seorang pembunuh, Mbak! Darahnya mengalir di tubuhku!"

"Lalu kenapa?!" balas Zira tegas. "Kamu yang memutuskan siapa dirimu, bukan darahmu! Kamu telah menyelamatkan ratusan orang di yayasan, kamu adalah kebanggaan kami! Jika Hendra memilih jalan kegelapan, itu pilihannya. Kamu... kamu adalah cahaya Arshaka, cahaya kami!

Zira jatuh terduduk karena kakinya lemas, ia memegangi perutnya yang mulai terasa kram. Nathan panik dan segera merangkul Zira.

Melihat kakaknya kesakitan, amarah Aryan seketika luruh berganti rasa khawatir yang luar biasa. Ia berlari mendekati Zira, berlutut di depannya.

"Mbak... Mbak maafkan aku..."

Sebuah Pesan Rahasia yang Terlewat

Di tengah kepanikan itu, dari dalam saku map cokelat yang dibawa Nathan (yang ternyata terbawa di tangannya), jatuh sebuah surat kecil yang terselip di balik foto. Nathan mengambilnya dan membacakannya untuk mereka semua.

Surat itu ditulis Hendra sesaat sebelum meninggal:

"Aryan, anakku... Jika kamu membaca ini, artinya aku sudah tiada. Aku menabrakmu bukan karena aku tidak tahu siapa kamu.

Justru karena aku tahu kamu adalah anakku, aku ingin 'menghancurkanmu' agar kamu tidak perlu menanggung malu memiliki ayah sepertiku. Aku gila, aku salah. Tapi ketahuilah, harta yang kuberikan untuk yayasan Zira adalah satu-satunya caraku meminta maaf padamu dari kejauhan. Hiduplah sebagai adik Zira, karena dia adalah kakak yang jauh lebih baik daripada ayah manapun di dunia ini."

Aryan terdiam, memeluk lutut kakaknya di tengah hujan. Isak tangisnya pecah, namun kali ini bukan karena benci, melainkan karena akhirnya ia menemukan titik akhir dari pencarian identitasnya.

1
Kim Taehyung
lanjut lagi thor, aku menunggu mu... gak sabar dengan kelanjutan cerita ini
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!