NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERITA MENGEJUTKAN

Suasana yang sudah memanas itu mendadak menjadi kaku ketika sebuah bayangan muncul di ambang pintu. Freya berdiri di sana, bersedekap dengan keanggunan yang dingin, seolah ia adalah penonton setia yang baru saja menyaksikan babak paling menarik dari sebuah drama.

​Penampilannya selalu tanpa cela—setelan kasual yang pas di tubuh, rambut yang tertata rapi, dan seulas senyum tipis yang sulit diartikan. Ia tidak tampak terkejut, justru matanya berkilat jenaka namun tajam, seolah informasi tentang "calon istri" itu adalah senjata baru yang baru saja jatuh ke tangannya.

​"Calon istri?" Freya mengulang kata itu dengan nada yang merdu namun sarat akan sarkasme. ​Ia mulai melangkah masuk ke dapur, mendekati Mbok Sari yang masih gemetar dan Bik Erna yang langsung menepi memberi jalan.

"Sa-saya gak tahu apa-apa ya, Non." Tergagap Bik Erna segera berbalik dan berlalu dengan cepat.

Hingga kini, hanya ada Mbok Sari yang masih berani mematung di hadapan anak majikannya yang nampak murka.

"Coba Mbok ulang pernyataan Mbok tadi?!" Kata Freya dengan telak.

"A-anu, Non. I-Itu..."

"Mbok saya gak salah dengar lho, itu!" Desak Freya tajam. "Mbok bilang Yasmin itu calon istri Arya?!"

Mbok Sari membisu.

"Mbok, jawaaaab?!"

"I-Iya, Non." Angguk Mbok Sari pasrah. "Non Yasmin sempat cerita sama Simbok kalau... Den Arya itu mau melamar Non Yasmin jadi calon istrinya, Non... pendamping hidup Den Arya."

Mendengar konfirmasi itu keluar langsung dari mulut Mbok Sari, rahang Freya mengeras. Matanya yang tajam berkilat penuh amarah yang tertahan. Baginya, kabar ini bukan sekadar kejutan, melainkan penghinaan bagi martabat keluarganya.

​"Bener-bener ya, si Arya. Dia sudah gila!" geram Freya. Suaranya rendah namun bergetar hebat. "Gadis tanpa asal-usul itu mau jadi nyonya di sini? Mimpi!"

​Tanpa berkata apa-apa lagi, Freya berbalik dengan sentakan kasar. Suara sepatunya yang menghantam lantai marmer terdengar seperti genderang perang yang ditabuh di koridor rumah yang sunyi.

Langkahnya panjang dan terburu-buru, membawa hawa dingin yang mencekam saat ia mendaki anak tangga menuju lantai atas.

"Maaa!"

Suara teriakan Freya membelah keheningan lantai atas yang biasanya tenang dan berwibawa. Suara itu melengking, sarat akan kepanikan sekaligus kemarahan yang meluap-luap.

​"Maaa! Mama di mana?!" teriaknya lagi sembari menghentakkan kakinya di koridor panjang yang dilapisi karpet bulu mahal.

Tak lama, ​pintu kamar utama terbuka dengan sentakan pelan. Maura muncul dari balik pintu, masih memegang botol parfum kristalnya. Dahinya berkerut melihat putri kesayangannya tampak begitu kacau dengan napas yang memburu.

​"Ada apa, si? Kenapa teriak-teriak kayak itu?!" tegur Maura, meski matanya menyiratkan rasa ingin tahu.

​Freya segera menghambur ke hadapan Ibunya, wajahnya merah padam. "Mama harus tahu sekarang!" Dengusnya sambil menarik lengan wanita itu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu di belakangnya. "Si Arya... dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya!"

Maura berjalan menuju meja riasnya dan meletakkan botol parfum itu sambil menatap Freya di balik cermin rias mewahnya. "Maksud kamu?!"

"Arya udah ngelamar Yasmin sebagai calon istrinya, Ma!"

"Oh." Tanggap Maura dengan anggukkan melambat.

Freya ternganga, matanya membulat tidak percaya menatap reaksi ibunya yang begitu tenang—terlalu tenang untuk kabar yang seharusnya meledakkan amarah.

​"O-oh doang, Ma?" Freya mendekat, suaranya naik satu oktav karena gemas. "Mama nggak salah dengar? Arya! Anak Mama itu mau kasih marga keluarga kita ke perempuan yang bahkan nggak punya rumah buat pulang! Mama nggak mau cegah ini?!"

​Maura perlahan meletakkan sisir peraknya, lalu berbalik menatap putrinya dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang lebih mirip sayatan tipis di atas es.

​"Cegah?" Maura mengulang kata itu dengan nada rendah yang berwibawa. "Freya, sayang... berteriak-teriak seperti yang kamu lakukan tadi hanya akan membuat Arya semakin melindunginya. Laki-laki itu kalau sedang jatuh cinta, logikanya sedang pindah ke telapak kaki."

Maura menghela napas panjang dan berbalik menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar disana. Dan, Freya pun ikut duduk di sofa lain tepat di hadapan ibunya. Ia memajukan tubuhnya, menumpu kedua siku di atas lutut, menuntut penjelasan yang lebih konkret.

​"Ma, jangan main teka-teki. Arya itu keras kepala. Kalau dia sudah bilang mau melamar, berarti persiapannya sudah jalan. Mama mau diam saja melihat perempuan itu menempati kamar utama?" cecar Freya, suaranya naik satu oktav karena bayangan Yasmin menjadi nyonya rumah benar-benar mengganggu tidurnya.

"Yasmin, dengar..." kata Maura dengan tenang, meski hatinya memang sedang bertalu-talu saat kabar itu akhirnya sampai. "... sejak awal Mama sudah menebak bahwa hal ini akan terjadi. Dan mencegah Arya untuk menghentikan kemauan bodoh ini, hanya akan membuat Mama lelah!"

"Lelah?" Ulang Freya. Bibirnya terkatup, lalu tertawa pahit dan sedikit kikuk. "Ma! Mama itu punya kuasa di rumah ini. Apa yang buat Mama lelah?! Arya itu cuma anak angkat yang bisa Mama..."

"Enggak!" Potong Maura pelan, namun penuh penekanan. "Arya itu keras kepala! Dia gak bisa lagi untuk Mama kendalikan."

"Kenapa? Mama takut kalah dengan perdebatannya dengan Arya seperti kemarin?!" tebak Freya dengan nada kesal yang Tak terbendung. Ia menghentakkan kakinya ke karpet bulu, tidak puas dengan sikap diam ibunya. "Mama mau menyerah begitu saja? Membiarkan perempuan itu duduk di meja makan ini sebagai nyonya?"

Maura menoleh perlahan, menatap Freya dengan sorot mata sedingin es. "Kalah berdebat bukan berarti kalah dalam permainan, Freya. Arya mungkin bisa memenangkan argumen, tapi dia tidak bisa menjaga Yasmin setiap detik di rumah ini."

​Maura menegakkan duduknya, wajahnya kini menunjukkan ketenangan yang mengerikan. "Kalau Mama melarang Arya secara terang-terangan, dia akan semakin melindungi Yasmin. Dia akan membawa Yasmin pergi dari jangkauan kita. Dan Mama tidak mau itu terjadi."

​Freya mengerutkan kening, mulai menangkap sesuatu yang lebih gelap di balik ucapan ibunya. "Maksud Mama?"

Maura hanya berpaling, membuang tatapannya ke arah jendela besar yang menampilkan hamparan taman belakang yang luas. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya—bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum hampa yang menyimpan kedinginan sedalam palung samudra.

Tatapan kosong itu seolah sedang menembus dinding-dinding istana ini, merancang skenario yang jauh lebih rapi daripada sekadar adu mulut.

​"Ma..." Freya berbisik, sedikit merinding melihat ekspresi ibunya yang sulit ditebak. "Kenapa Mama malah senyum-senyum kayak gitu?"

​Maura perlahan menoleh, matanya berkilat tajam meski senyumnya masih tertahan. "Freya, kamu tahu apa yang paling menyakitkan bagi seseorang yang sedang merasa di puncak bahagia?"

​Freya menggeleng pelan, terpaku pada ketenangan ibunya yang mencekam.

Maura mencondongkan tubuhnya ke arah sang anak. ​"Memberinya harapan setinggi langit, lalu membiarkan gravitasi yang menghancurkannya!"

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!