NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjemput Sisa Diri yang Hilang

Toronto di musim dingin adalah sebuah kanvas putih yang bisu. Bagi Takara, setiap langkahnya di atas salju yang menderu adalah upaya untuk mengubur jejak masa lalu. Ia bekerja dengan intensitas yang menakutkan, datang ke kantor saat matahari belum terbit dan pulang ketika jalanan sudah sepi. Ia butuh kelelahan fisik untuk membungkam kebisingan di kepalanya.

Namun, dunia modern tidak mengizinkannya menghilang sepenuhnya.

Pernah suatu sore, saat ia sedang mengantre kopi di sebuah kafe di kawasan Bloor Street, matanya tanpa sengaja melirik layar besar di sudut ruangan. Di sana, wajah Jake muncul dalam iklan parfum mewah dengan tatapan tajam yang seolah menembus kaca. Di lain waktu, saat ia membuka media sosial untuk riset arsitektur, algoritma seolah mengejeknya dengan menampilkan cuplikan konser ENHYPEN yang sedang melakukan tur dunia.

Takara akan segera mengalihkan pandangan atau menutup aplikasinya dengan jari yang gemetar.

"Jangan lihat, Ra. Jangan masuk ke sana lagi," perintahnya pada diri sendiri.

Ia sadar, ia tidak bisa benar-benar menghapus keberadaan Jake dari muka bumi. Jake adalah bintang, dan cahaya bintang itu menjangkau hingga ke utara dunia. Tapi Takara punya satu kendali: ia tidak lagi membalas. Ia tidak lagi mencari tahu di mana Jake berada, sedang dengan siapa dia, atau apakah dia sudah makan.

Di apartemennya yang hangat, Takara memiliki sebuah kotak kayu kecil di bawah tempat tidurnya. Di dalamnya, ada beberapa carik kertas berisi coretan perasaannya yang ia tulis setiap kali rasa sesak itu memuncak.

"Jake, di sini saljunya tebal. Dinginnya beda sama Seoul. Di sini, nggak ada yang manggil gue dengan sebutan yang cuma lo tahu. Gue mulai terbiasa sama kesunyian ini, meski kadang gue masih refleks noleh pas denger suara yang mirip sama ketawa lo."

Ia tidak pernah mengirim surat-surat itu. Baginya, menulis adalah cara untuk mengeluarkan racun dari hatinya, bukan untuk menyambung kembali tali yang sudah ia putus dengan paksa.

Suatu pagi di kantor, atasan Takara memanggilnya ke ruang rapat utama.

"Takara, kita baru saja mendapatkan kontrak besar untuk desain paviliun di ajang World Expo yang akan diadakan di Seoul tahun depan," ucap atasannya dengan bangga.

"Karena kamu paham budaya dan bahasanya, saya ingin kamu menjadi ketua tim desainnya."

Takara membeku. Jantungnya berdegup kencang, memberikan reaksi fisik yang tidak bisa ia kendalikan. Seoul. Kembali ke kota tempat ia hancur berkeping-keping.

"Sir, apa tidak ada orang lain?" tanya Takara, suaranya sedikit parau.

"Kamu yang terbaik untuk ini, Takara. Kamu sudah di sini setahun, kinerjamu luar biasa. Ini saatnya kamu menunjukkan hasil kerjamu di panggung internasional."

———

Stella menuangkan kopi panas ke dalam cangkir Takara, uapnya membumbung tinggi di antara mereka. Di luar sana, badai salju Toronto sedang berada di puncaknya, menciptakan suasana isolasi yang sempurna.

Stella adalah satu-satunya orang di firma itu, mungkin satu-satunya di benua ini, yang tahu bahwa di balik sikap profesional Takara yang dingin, terdapat luka yang dalam akibat ulah seorang bintang besar dari Korea.

"Ra, dengar aku," ucap Stella, menatap Takara dengan intensitas seorang sahabat yang protektif. "Kamu sudah bangun hidup yang hebat di sini. Dalam setahun, kamu bukan lagi 'asisten' atau 'sahabat seseorang'. Kamu adalah Takara, arsitek dari Toronto."

Takara mengaduk kopinya perlahan, matanya menatap kosong ke luar jendela. "Tapi kembali ke Seoul... itu seperti masuk kembali ke kandang singa, Stel."

Stella memegang tangan Takara yang terasa dingin. "Itu bukan kandang singa kalau kamu tidak membiarkan dirimu menjadi mangsa. Kamu sudah membuktikan kalau kamu bisa hidup tanpa dia. Kamu bisa bangun tanpa mengecek kabarnya, kamu bisa tidur tanpa menangisi dia."

Stella menghela napas panjang, sorot matanya berubah menjadi penuh kekhawatiran. "Aku cuma berharap satu hal, Ra. Hadapi proyeknya, selesaikan paviliunnya, lalu pulanglah ke sini. Jangan sampai kamu bertemu dia lagi. Satu kali pun."

"Dunia itu sempit, Stel. Apalagi kalau proyeknya melibatkan pemerintah dan agensi besar," bisik Takara ragu.

"Maka buatlah dunia itu terasa luas dengan caramu sendiri," tegas Stella. "Jangan pergi ke tempat-tempat lama kalian. Jangan buka celah sekecil apa pun. Ingat apa yang kamu bilang saat pertama kali sampai di sini? Kamu mau pulih. Dan pulih berarti berhenti mencari penawar dari orang yang sama yang meracunimu."

Keyakinan dari Stella memberikan sedikit kekuatan tambahan bagi Takara. Ia sadar bahwa melarikan diri terus-menerus bukanlah cara untuk menang. Toronto telah memberinya "jarak", tapi Seoul akan memberinya "penutup".

Takara membereskan berkas-berkas di mejanya. Ia memutuskan untuk menerima proyek itu. Bukan untuk mencari Jake, tapi untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa nama "Jake Brisbane" tidak lagi memiliki kuasa atas hidupnya.

"Aku akan berangkat minggu depan," ucap Takara mantap.

"Bagus," jawab Stella, meski hatinya masih cemas. "Dan kalau dia muncul... anggap saja dia salah satu pajangan di pajangan kota yang nggak sengaja kamu lihat. Jangan berhenti melangkah."

Stella hanya bisa mendesah pasrah sambil menyandarkan punggungnya di kursi kafe. Ia menatap Takara yang tetap terlihat menawan meskipun gurat lelah dan kesedihan tipis masih sering hinggap di matanya.

"Aku sudah tawarkan untuk mengenalkanmu dengan setidaknya tiga cowok tampan di kantor pusat, tapi kamu nggak mau juga," gumam Stella, setengah bercanda namun terselip niat tulus untuk melihat sahabatnya itu kembali berkencan.

Takara tersenyum tipis, jenis senyum yang tenang namun menutup pintu diskusi lebih lanjut. "Aku lebih senang seperti ini, Stel. Sendiri bukan berarti aku nggak bahagia. Aku cuma butuh ruang untuk napas tanpa harus mikirin perasaan orang lain."

Stella terdiam. Sebagai seorang penggila idol K-Pop, Stella awalnya adalah orang yang paling skeptis saat pertama kali Takara bercerita. Dahulu, Stella sering menganggap bahwa memiliki sahabat seperti Jake adalah mimpi semua wanita di dunia. Bagi Stella, bagaimana mungkin seseorang bisa melepaskan kedekatan dengan pria sepopuler dan sehangat itu?

Namun, setelah melihat Takara hancur secara perlahan selama setahun terakhir, melihatnya mimisan karena stres, melihatnya gemetar tiap kali mendengar nama Jake, dan melihat pelariannya yang nekat ke benua lain, Stella sadar bahwa menjadi "orang terdekat" sang bintang hanyalah sebuah penjara emas.

"Kamu tahu kan, Ra? Dulu aku pikir kamu gila karena meninggalkan pria seperti dia," Stella berbisik sambil memainkan sedotan minumannya. "Tapi melihat kamu sekarang... melihat betapa tangguhnya kamu di Toronto, aku sadar. Persahabatan kalian itu bukan lagi tentang dukungan, tapi tentang obsesi Jake untuk tetap menjadikanmu 'rumah' sementara dia sendiri terus berkeliling dunia."

Takara mengangguk pelan. "Jake nggak jahat, Stel. Dia hanya nggak sadar kalau kehadirannya itu mematikan buat aku."

"Itu justru yang paling bahaya," sahut Stella tegas. "Makanya, saat kamu nanti di Seoul, jangan pernah biarkan dia tahu kalau kamu masih punya hati yang bisa dia ketuk. Bersikaplah seperti arsitek hebat dari Canada. Dingin dan profesional."

Malam itu, Takara mulai mengemas barang-barangnya untuk perjalanan ke Seoul. Ia mengambil paspor Canada-nya yang baru, menyentuh sampulnya seolah itu adalah jimat pelindung.

Di dalam laci meja riasnya, masih ada sebuah foto kecil yang terselip, foto box yang diambil di Brisbane sepuluh tahun lalu. Jake sedang merangkul bahunya sambil tertawa lebar ke arah kamera. Takara menatap foto itu cukup lama, lalu dengan gerakan pasti, ia membaliknya sehingga wajah mereka tidak terlihat lagi.

"Aku berangkat bukan untuk kembali padamu, Jake. Aku berangkat untuk menjemput sisa diriku yang tertinggal di sana," bisiknya pada keheningan kamar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!