(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 118: Manipulasi Ruang
Di markas bawah tanah Sekte Langit Asura, tumpukan cincin penyimpanan hasil rampasan dari Pasukan Penegak Darah Klan Yao menggunung di atas meja batu.
Namun, alih-alih suasana rapat militer yang serius, aura di ruangan itu justru terasa seperti sirkus mematikan.
"Tuan Asura! Perhatikan!" Tie Ba (Pemimpin Paviliun Fisik) tiba-tiba merobek bajunya sendiri dan melakukan pose yang sangat berlebihan di depan meja. Ototnya berkedut-kedut memantulkan cahaya obor. "Pukulan semalam membuat serat otot dadaku tumbuh! Jika aku terus meninju kultivator, aku bisa memantulkan bola api hanya dengan mengencangkan perut!"
Di sebelahnya, Mu Bai (Pemimpin Paviliun Alkimia) membetulkan tubuhnya sambil memegang sempoa kayu, terlihat sangat stres. "Tie Ba, secara logika, merobek bajumu setiap lima menit menghabiskan 12% anggaran kain sekte kita! Dan tolong jangan bernapas terlalu dekat dengan tumpukan batu spiritual ini, keringatmu bisa menurunkan kemurnian Qi."
"Ada yang mau minum teh?"
Suara manis dan polos menyela pertengkaran itu. Xin'er (Pemimpin Paviliun Racun) berjalan berkeliling membawa nampan berisi cangkir-cangkir kayu. Cairan di dalamnya berwarna hijau neon dan mengeluarkan gelembung-gelembung yang mendesis hingga melelehkan pinggiran cangkir. "Ini teh daun persik campur bisa kelabang raksasa. Sangat segar! Kalau diminum, usus kalian akan mencair menjadi kaldu dalam tiga detik lho! Hihihi!"
Mu Bai mundur tiga langkah dengan wajah pucat pasi. Tie Ba malah terlihat tertarik, "Apakah itu mengandung racun?"
Sementara itu, Jian Yi (Pemimpin Paviliun Pedang) sedang berdiri mematung menghadap dinding batu di sudut ruangan. Ia tidak bergerak. Ia tidak berkedip. Ia hanya menatap seekor lalat yang menempel di dinding dengan tatapan seolah lalat itu adalah musuh bebuyutannya dari kehidupan lalu.
"Jian Yi, kau sedang apa?" tanya Mu Bai bingung.
"Membunuh," bisik Jian Yi dengan suara sangat pelan dan serak, tangannya memegang gagang pedang kayunya dengan dramatis. "Lalat ini... auranya tidak harmonis dengan jalan pedang."
Di tengah kekacauan itu, Jue Ying (Pemimpin Paviliun Assassin) menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menghela napas yang terdengar seperti jeritan putus asa. "Kalian semua... kumohon, jaga wibawa kalian! Tuan Asura dan Nona Xiao Mei sedang melihat kita! Coba bersikap seperti pembunuh bayaran yang bagus sedikit!"
Zhao Xuan duduk di singgasana batunya dengan ekspresi datar yang sudah mencapai tahap pencerahan (kesabaran). Ia menatap lima anggota pembunuhnya yang mematikan namun memiliki kelakuan layaknya pelawak jalanan.
Di sebelahnya, Xiao Mei menutupi mulutnya dengan lengan gaun sutranya, menahan tawa kecil melihat wajah pasrah tuannya.
"Cukup," suara Zhao Xuan bergema pelan, namun mengandung tekanan gravitasi dari Roda Bintang pertamanya yang langsung membuat kelima anak itu diam mematung. "Kerja bagus malam ini. Mu Bai, bawa semua rampasan senjata ke tungku. Xin'er, jangan racuni teman-temanmu. Kalian semua, bubar dan berlatih."
"Sesuai kehendak Tuan!" kelimanya mengganguk serempak (dengan Tie Ba yang masih flexing otot punggungnya), lalu melesat pergi meninggalkan ruang utama.
Keheningan yang menenangkan kembali menyelimuti ruangan. Kini, hanya tersisa Zhao Xuan dan Xiao Mei.
Sang dewi Soul Transformation yang ditakuti di Benua Tengah itu menatap pintu keluar, lalu tersenyum lembut. "Mereka anak-anak yang unik, Tuan. Mereka memiliki Niat Membunuh yang murni, tapi hati mereka... masih sangat manusiawi."
"Mereka adalah cerminanku di dunia fana ini," Zhao Xuan bersandar di kursinya, mengusap pelipisnya. "Di kehidupan lalu, aku hanya tahu cara membunuh. Di kehidupan ini, aku belajar bahwa orang bodoh yang setia jauh lebih berbahaya daripada jenius yang berkhianat."
Xiao Mei melangkah maju, jarak di antara mereka menyusut. Ia perlahan berlutut dengan satu kaki di samping kursi Zhao Xuan. Aroma bunga teratai bercampur darah segar aroma khas Xiao Mei yang selalu membuat musuhnya merinding kini terasa begitu menenangkan bagi Zhao Xuan.
Tanpa meminta izin, jari-jari Xiao Mei yang seputih salju dan sedingin es terulur lembut, menyentuh pipi Zhao Xuan. Ia membersihkan sedikit noda debu dari wajah remajanya. Tatapan mata zamrud Xiao Mei dipenuhi kasih, kerinduan, dan sebuah keintiman yang melampaui batas pelayan dan majikan.
"Tubuh fana ini pasti sangat lelah menanggung pikiran seorang Kaisar," bisik Xiao Mei parau, wajah cantiknya kini berada hanya beberapa inci dari wajah Zhao Xuan. Napasnya yang dingin menerpa bibir Zhao Xuan.
Meskipun tubuh fisiknya baru berusia dua belas tahun, jiwa Lin Xuan di dalamnya adalah seorang pria dewasa yang menguasai alam semesta. Ia tidak menepis sentuhan itu. Sebaliknya, tangan kecil Zhao Xuan naik, menyusuri rahang Xiao Mei, dan ibu jarinya mengusap lembut bibir bawah sang dewi yang bergetar.
"Selama kau ada di sini menjaga punggungku, Mei'er, kelelahan ini bukan apa-apa," suara Zhao Xuan berat dan mendominasi, membalas tatapan intens itu.
Wajah Xiao Mei merona merah sebuah pemandangan langka yang bisa membuat para tetua klan kuno terkena serangan jantung. Ia memiringkan kepalanya, menyandarkan pipinya ke telapak tangan Zhao Xuan dengan penuh kasih sayang, menikmati kehangatan yang telah hilang selama dua belas tahun.
"Mei'er akan membakar alam semesta ini jika itu bisa menghangatkan Tuan," janjinya dengan suara berbisik, Niat Membunuhnya yang absolut berbalut cinta yang mendalam.
Setelah momen hening yang intim itu, Zhao Xuan menarik tangannya perlahan. Mata hitamnya kembali menatap puluhan ribu Batu Spiritual hasil rampasan yang telah ia pisahkan di atas meja altar.
"Waktunya bekerja. Jaga pintu, Mei'er. Aku akan membuka kunci yang kedua."
Xiao Mei segera bangkit, ekspresinya kembali berubah menjadi dewi es yang mematikan. Ia berdiri membelakangi Zhao Xuan, mengunci seluruh ruang bawah tanah itu dengan Domain Soul Transformation-nya. Tidak ada satu nyamuk pun yang bisa masuk.
Zhao Xuan melangkah ke altar. Ia mengulurkan tangannya di atas tumpukan batu spiritual tersebut. Kesadarannya langsung melesat jauh ke dalam jiwanya, melewati Roda Bintang Pertama yang berputar memancarkan cahaya perak gravitasi, menuju ke bola hitam kedua yang masih tertidur.
Buka, perintah jiwa sang Asura.
WUUUUUSSH!
Sama seperti sebelumnya, Roda Bintang Kedua bertindak layaknya lubang hitam primordial yang kelaparan. Ribuan batu spiritual dari Klan Yao seketika hancur menjadi debu. Aliran energi yang sangat menderu tersedot masuk, mengupas lapisan kegelapan dari bola kedua tersebut.
Namun kali ini, rasa sakitnya berbeda. Jika Roda Pertama menghancurkan dan menyusun ulang kepadatan tulangnya, Roda Kedua terasa seperti merobek ruang di dalam kulitnya!
KRAAAK!
Darah segar menetes dari sudut bibir Zhao Xuan. Di sekeliling tubuhnya, udara tidak hanya bergetar, tetapi mulai retak seperti cermin yang dipukul palu. Ruang dimensi fana menolak eksistensi kekuatan ini.
Roda Bintang Kedua akhirnya menyala, memancarkan cahaya biru kehampaan yang sangat pekat.
Seketika, rasa sakit itu lenyap. Zhao Xuan membuka matanya. Tidak ada angin, tidak ada ledakan sihir. Ruang bawah tanah itu tampak biasa saja.
Namun, saat Zhao Xuan mengangkat tangan kanannya, ia bisa melihat benang-benang dimensi yang mengikat ruang di sekitarnya. Ini bukan sihir teleportasi biasa yang meminjam kekuatan alam. Ini adalah manipulasi.
Roda Bintang Kedua: Retakan Dimensi Ruang, batin Zhao Xuan tersenyum puas.
Untuk mengujinya, Zhao Xuan menatap sebuah cangkir kayu di atas meja sejauh lima meter darinya. Ia tidak berjalan, juga tidak menggunakan Qi untuk menariknya. Ia hanya menjentikkan jarinya, secara harfiah melipat "ruang" antara tangannya dan meja itu menjadi nol.
Trang.
Cangkir itu tiba-tiba sudah berada di dalam genggamannya, sementara ruang di antara mereka kembali normal dengan suara letupan kecil.
"Teleportasi instan tanpa jejak Qi, dan kemampuan untuk merobek ruang hampa," gumam Zhao Xuan. Matanya berkilat tajam. "Jika Roda Pertama memberiku kekuatan fisik untuk menahan pedang, Roda Kedua memberiku kemampuan untuk memasukkan belatiku langsung ke dalam jantung musuh tanpa perlu menembus kulit mereka."
Zhao Xuan menoleh ke arah Xiao Mei yang sedang menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Mei'er," panggil Zhao Xuan. "Kemasi barang-barang di markas ini. Beritahu Jue Ying dan yang lainnya untuk bersiap."
"Kita akan pindah, Tuan?" tanya Xiao Mei.
"Tidak. Kita akan berperang," Zhao Xuan menghancurkan cangkir kayu di tangannya menggunakan distorsi spasial. "Klan Yao telah kehilangan satu kapten dan seratus elitnya. Yao Yan bukanlah orang yang sabar. Besok pagi, ia pasti akan mengerahkan tetua inti atau bahkan meratakan Ibukota Zhao ini."
Zhao Xuan tersenyum dingin. "Daripada menunggu mereka membakar istana ibundaku, aku lebih suka kita yang mendatangi kapal pesiar mereka malam ini, dan membuang kepala Yao Yan ke laut."