Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Meluangkan Waktu
Siang hari setelah selesai bersiap, Samira mendekati Samudra yang sedang duduk di karpet ruang tengah bersama Binar. Gadis kecil itu baru saja bangun tidur siang dan kini kembali tenggelam dalam dunianya sendiri menyusun balok-balok kecil sambil sesekali berceloteh pada boneka kelincinya. Sesekali mengajak Samudra berbicara.
Samira berdiri beberapa langkah dari mereka, memperhatikan sejenak. Ada rasa hangat yang tak bisa ia jelaskan setiap kali melihat Samudra duduk di samping anak mereka seperti itu tanpa ponsel, tanpa distraksi, hanya benar-benar hadir.
Hari ini sebenarnya Samira berniat menitipkan Binar pada Samudra. Ia harus pergi ke supermarket karena saat memasak makan siang tadi ia baru sadar persediaan bahan dapur sudah mulai habis. Mau tak mau ia harus membeli sendiri. Bi Surti, asisten rumah tangga yang bekerja di sana, tidak pernah ia minta berbelanja karena wanita itu tidak tinggal di rumah dan hanya bekerja dari pagi sampai sore.
Samira menarik napas pelan lalu mendekat.
“Mas, aku nitip Binar sebentar ya. Kamu keberatan nggak?” tanyanya hati-hati.
Samudra menoleh. “Mau ke mana?”
“Aku mau ke supermarket. Belanja bulanan.”
Samudra terdiam sebentar, lalu berkata singkat, “Tunggu.”
Samira mengernyit. “Kenapa?”
“Aku antar. Sekalian aku mau ajak Binar jalan-jalan.”
Kalimat itu sederhana. Nadanya datar seperti biasa. Tapi efeknya membuat Samira sedikit tertegun.
“Kamu… beneran mau ikut?” tanyanya memastikan.
“Iya,” jawab Samudra singkat, seolah itu hal biasa.
Sebelum Samira sempat merespons, Binar sudah lebih dulu berseru riang.
“Jalan-jalan?! Bibi ikut! Bibi ikut!”
Samudra menoleh ke arahnya. “Iya. Kita mau jalan-jalan.”
Binar langsung berdiri, wajahnya berseri-seri. “Bibi mau pakai sepatu pink!”
Samira tak bisa menahan senyum. “Ya sudah, ambil dulu sepatunya.”
Binar berlari kecil ke kamar sambil tertawa sendiri.
Hening sejenak tersisa di antara Samira dan Samudra.
Samira menatap pria itu, masih sedikit tidak percaya. “Kamu yakin mau ikut? Nggak capek? Kan ini waktunya kamu libur buat istirahat."
Samudra menggeleng pelan. “Nggak.”
Lalu setelah jeda singkat, ia menambahkan dengan suara lebih rendah—
“Sekalian… nemenin Binar.”
Kalimat itu terdengar ringan. Tapi Samira tahu itu bukan sekadar alasan.
Dadanya menghangat. Tak lama kemudian Binar kembali berlari dengan sepatu pink di tangan. “Papa pakaiin!”
Samudra langsung berjongkok. Tanpa diminta dua kali, ia mengambil sepatu itu dan memakaikannya pada kaki kecil anaknya. Gerakannya masih belum terbiasa, tapi jauh lebih luwes dibanding pagi tadi saat ia mengikat rambut Binar.
“Udah,” katanya setelah selesai.
Binar menghentakkan kakinya kecil. “Siap jalan!”
Samudra berdiri lalu melirik Samira. “Kamu juga siap?”
Samira mengangguk pelan. “Iya.”
Mereka bertiga berjalan menuju pintu depan. Binar berada di tengah, tangannya menggenggam jari Samudra dan Samira sekaligus. Langkahnya kecil tapi penuh semangat, seolah perjalanan ke supermarket adalah petualangan besar.
Saat pintu rumah terbuka dan angin sore menyapa wajah mereka, Samudra menoleh sekilas ke arah Binar.
Anak itu sedang tersenyum lebar.
Dan tanpa sadar sudut bibir Samudra ikut terangkat.
Senyum tulus seorang ayah yang tak pernah memperhatikan tumbuh kembang anaknya. Samudra benar-benar menikmati momen sederhana seperti ini.
@@@
Mobil melaju tenang memasuki area parkiran supermarket. Samira turun lebih dulu sambil merapikan tas belanjanya, sementara Samudra membukakan pintu belakang untuk Binar.
“Pegang tangan Papa, ya,” ucapnya pelan.
Binar langsung menyelipkan jemarinya ke tangan Samudra tanpa ragu. Sentuhan kecil itu lagi-lagi membuat dada Samudra terasa hangat dengan cara yang aneh perasaan yang dulu tak pernah ia sadari karena ia tak pernah benar-benar hadir.
Samira memperhatikan sekilas, lalu tanpa sadar tersenyum tipis.
Di dalam supermarket, mereka berjalan menyusuri lorong rak. Samira fokus mengambil bahan dapur: beras, minyak, telur, sayur, bumbu dapur. Sesekali ia membaca daftar di ponselnya. Sementara itu, Binar sibuk menunjuk benda-benda dengan mata berbinar.
“Papa… itu apa?” tanyanya menunjuk rak sereal warna-warni.
“Itu makanan sarapan. Mau coba?”
Binar mengangguk cepat.
Samira menoleh. “Jangan kebanyakan yang manis, nanti dia susah makan.”
“Iya,” jawab Samudra singkat, tapi tetap mengambil satu kotak kecil dan memasukkannya ke troli. “Cuma satu.”
Samira tak membalas. Anehnya, ia tidak keberatan.
Sepanjang belanja, Samudra justru yang mendorong troli. Binar duduk di kursi kecil depan troli sambil menggoyangkan kaki, tertawa setiap kali Samudra sengaja membelokkan troli sedikit cepat seperti wahana permainan.
Di kasir, Samira hendak mengambil dompet, tapi Samudra lebih dulu menyerahkan kartu.
“Aku bayar,” ucapnya.
Samira menoleh. “Nggak usah—”
“Aku bilang aku bayar.” Ucap Samudra mutlak.
Nada suaranya datar, tapi bukan dingin. Lebih seperti keputusan yang tak ingin diperdebatkan.
Samira akhirnya diam.
@@@
Selesai belanja, Samira mengira mereka akan langsung pulang. Namun mobil justru berbelok memasuki area parkiran sebuah mall.
Samira mengernyit. “Kita mau ke mana?”
Samudra mematikan mesin. “Kan aku tadi bilang mau ajak Binar jalan-jalan.”
Ia menoleh ke belakang. “Binar, mau main?”
“Mauuu!” seru Binar langsung, matanya berbinar cerah.
Samira menatap Samudra sebentar. Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu hari ini. Tidak kaku. Tidak menjaga jarak. Tidak seperti Samudra yang selama ini ia kenal.
Di dalam mall, langkah kecil Binar hampir berlari karena terlalu antusias. Ketika lampu warna-warni Timezone terlihat dari kejauhan, ia langsung menunjuk.
“Papa itu! Itu! Itu!”
Samudra tersenyum tipis. “Iya, kita ke situ.”
Mereka masuk. Suara mesin permainan, musik elektronik, dan tawa anak-anak memenuhi udara. Mata Binar berkilau seolah baru masuk dunia ajaib.
Samudra menukarkan uang dengan kartu permainan, lalu berjongkok di depan Binar.
“Mau main?”
Binar mengangguk kuat.
Permainan pertama adalah balap mobil. Binar duduk di kursi, tangannya memegang setir kecil. Samudra berdiri di samping, membimbing.
“Belokin pelan… iya gitu…”
Binar tertawa keras saat mobil di layar menabrak pembatas.
Samira berdiri agak jauh, memperhatikan.
Sejak mereka menikah… Samira baru melihat Samudra tertawa tulus.
Bukan senyum sopan. Bukan ekspresi formal. Tapi tawa sungguhan.
Dan entah kenapa… dadanya terasa sesak.
Sementara itu, di sisi lain—
Oh… jadi gini rasanya nemenin anak main.
Samudra menatap Binar yang masih sibuk memutar setir.
Selama ini… gue ke mana aja?
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Gue tinggal serumah sama dia… tapi gue nggak pernah benar-benar ada di masa pertumbuhannya.
Tangannya tanpa sadar mengusap puncak kepala Binar.
Anak sekecil ini aja bisa ngerasa senang cuma karena ditemenin.
Dadanya terasa berat.
Binar menoleh. “Papa?”
“Iya?”
“Kita main lagi ya?”
Samudra mengangguk pelan.
“Iya. Kita main lagi.”
Dan untuk pertama kalinya… kata kita terdengar begitu hangat di telinganya sendiri.
@@@
Samira masih berdiri di tempatnya, memperhatikan dua orang itu dari kejauhan.
Ada perasaan aneh yang perlahan muncul di hatinya perasaan yang selama lima tahun terakhir tak pernah ia izinkan tumbuh.
Harapan kecil.
Ia sendiri tidak tahu… apakah harapan itu sesuatu yang harus ia syukuri, atau justru ia takuti.
@@@
Lampu warna-warni arena permainan masih berkedip riang, suara musik elektronik berpadu dengan tawa anak-anak lain di sekeliling. Namun bagi Samudra, dunia seolah meredup dan hanya menyisakan satu pusat perhatian yaitu pada Binar.
Anak itu sedang berdiri di depan mesin permainan lempar bola, lidahnya sedikit menjulur karena fokus. Tangannya yang kecil berusaha melempar bola ke arah keranjang digital, meski berkali-kali meleset. Setiap gagal, ia tertawa sendiri, lalu mencoba lagi dengan penuh semangat.
Samudra berdiri di belakangnya.
Menatap.
Diam.
Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan.
Papa nggak nyangka, Nak… kamu sudah sebesar ini.
Pandangan Samudra turun ke punggung kecil itu.
Maafin Papa… selama ini Papa nggak pernah benar-benar merhatiin kamu tumbuh.
Ingatan-ingatan kecil mulai muncul bukan kenangan yang ia jalani, tapi justru yang ia lewatkan.
Langkah pertama Binar.
Kata pertama Binar.
Hari pertama sekolah Binar.
Tangisan Binar saat sakit.
Tawa Binar saat belajar bicara.
Semua itu… kosong.
Bukan karena tak terjadi.
Tapi karena ia tak ada di sana lebih tepatnya ia menjauh dari itu semua.
Tangannya mengepal pelan di sisi tubuh.
Gue tinggal serumah… tapi gue cuma jadi bayangan. Bukan ayah.
“Papa!”
Suara Binar memecah lamunannya.
Samudra tersentak kecil. “Iya?”
“Liat! Masuk!” seru Binar bangga menunjuk layar yang menampilkan skor.
Samudra tersenyum kali ini bukan tipis, bukan dipaksakan.
Senyum hangat.
“Hebat.”
Binar tertawa puas, lalu tanpa ragu memeluk kaki Samudra sebentar sebelum berbalik lagi ke mesin permainan.
Pelukan singkat itu terasa seperti sesuatu yang menghantam langsung ke dada Samudra.
Hangat.
Tulus.
Justru itu yang membuat hatinya terasa perih.
Anak ini… masih mau deket sama gue.
Padahal ia sadar betul—
Ia belum pernah jadi ayah yang pantas.
Samudra menelan ludah pelan.
Kalau nanti gue sama Samira beneran pisah…
Matanya turun lagi menatap Binar.
Apa dia masih bakal meluk gue kayak gini?
Sejak keputusan tentang surat itu muncul kembali di pikirannya…
Samudra ragu.
@@@
Dari kejauhan, Samira melihat ekspresi itu.
Ekspresi yang belum pernah ia lihat selama lima tahun menikah dengan Samudra.
Wajah seorang ayah yang sedang bangga pada anaknya.
Melihat itu justru membuat hati Samira bergetar pelan.
Karena ia sadar satu hal.
Perubahan ini… bukan pura-pura.
Samudra benar-benar sedang belajar menjadi ayah.
Dan mungkin…
baru sekarang ia menyadarinya.
Di depan mesin permainan, Binar tiba-tiba menoleh lagi.
“Papa.”
“Iya, Nak?”
“Besok kita main lagi?”
Pertanyaan sederhana itu membuat napas Samudra tertahan sesaat.
Ia mengangguk.
“Iya, kalau Papa libur nanti kita main lagi."
Binar tersenyum lebar.
Dan tanpa sadar, Samudra ikut tersenyum lebih tulus dari sebelumnya.
Di dalam hatinya, sebuah suara berbisik pelan.
Kalau masih ada waktu…
Gue mau benerin semuanya.
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!