Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Pilihan yang Sulit
"Kenapa kamu bicara begitu, Ra?" desis Bastian seraya menatap tajam ke arah Maura.
"Aku sangat mengenalmu, Bastian Fernando Malik. Kamu tak mungkin melakukan pembunuhan itu. Apalagi korban itu adalah seorang wanita. Memukul wanita saja tak pernah,"
Bastian masih dalam kondisi berdiri dan terdiam mendengar dengan seksama ucapan Maura tersebut.
"Pasti ada orang lain yang coba menjebak mu," lanjutnya.
"Jadi, pikiranmu sama denganku. Ada orang lain yang sengaja menjebakku," ucap Bastian.
"Hem,"
"Apa kamu tau siapa orangnya?" tanya Bastian.
"Saat ini aku belum tau. Tapi sedikit banyak sudah ada gambaran," jawab Maura.
"Siapa?"
"Aku seorang pebisnis dan kamu juga sama sepertiku. Sama-sama berkecimpung dalam dunia bisnis. Kamu pasti paham bahwa tak ada hal yang gratis di dunia ini," jawab Maura seraya tersenyum menyeringai penuh makna.
"Kamu ingin dapat timbal balik dariku, Ra?"
"Sudah pasti,"
"Apa yang kamu mau?"
"Aku akan bantu kamu dalam mengungkap kasus pembunuhan Rossa dan membersihkan nama baikmu. Kamu bebas dan tak dipenjara," ucap Maura sejenak menjeda kalimatnya.
"To the point saja," desak Bastian menyahutinya.
"Tinggalkan istrimu dan menikah denganku. Kita bisa kembali merajut tali cinta kita bersama di masa depan. Jadi keluarga kecil yang bahagia. Kamu pasti tau kalau aku masih sangat mencintaimu," pinta Maura.
Rahang Bastian mengeras. Kedua telapak tangannya mengepal. Sungguh, ia tak menyangka Maura akan memanfaatkan kondisinya yang sedang terjepit kali ini.
"Tapi sayangnya aku udah gak mencintaimu!" sahut Bastian dengan tegas.
Kini giliran hati Maura yang meradang usai mendengar ucapan Bastian barusan. Namun, Maura tetap berusaha bersikap santai di depan mantan kekasihnya itu.
"Terserah kamu. Aku hanya berusaha memberikan pilihan yang terbaik untukmu,"
"Apa seperti itu pilihan terbaik, Ra?"
"Ya," jawab Maura penuh keyakinan. "Kamu selamat dan terbebas dari belenggu jeruji besi penjara. Aku dan kamu menikah setelah perceraianmu dengan Seruni," imbuhnya.
"Bagaimana nasib istriku ke depannya? Apa sesama wanita kamu gak memikirkannya?" cecar Bastian.
"Aku tak mau punya madu atau dijadikan madu dalam sebuah pernikahan. Pastinya aku menolak poligami. Aku yakin cinta dia padamu tak sebesar rasa cintaku untukmu. Apalagi kita sudah lama mengenal dan saling mencintai,"
"Seruni juga punya perasaan, Ra."
"Pergilah! Katamu ingin bekerja!" usir Maura yang begitu jengkel karena Bastian terus membela Seruni. Bastian menghela nafas beratnya.
"Baiklah, saya mohon pamit Bu Maura Hadinata."
Saat tangan Bastian berada di handle pintu ruangan Maura, mendadak langkah kakinya berhenti. Lagi-lagi akibat seruan dari Maura.
"Segera buat keputusan! Kamu paling tau diriku termasuk orang yang tak sabaran. Aku bisa saja dengan mudah mengatakan pada pihak berwajib bahwa kamu ada di sini,"
"Kamu mengancam ku, Ra?" desis Bastian tanpa sedikit pun menoleh ke belakang untuk menatap wajah mantan kekasihnya itu.
"Sedikit mendesak karena wanita butuh kepastian, Bas."
"Aku tetap gak akan menceraikan Seruni!" tegas Bastian yang akhirnya ikut terpancing emosi setelah mendengar ancaman Maura tersebut.
"Pikirkan baik-baik. Jangan mudah gegabah mengambil keputusan yang nantinya ke depan akan kamu sesali, Bas."
"Satu hal yang penting lagi. Beberapa hari yang lalu aku sempat mengunjungi Tante Elsa di rumah sakit," lanjutnya.
"APA ??" Bastian sontak terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya ke belakang untuk menatap Maura.
"Mama sakit apa, Ra?" pekik Bastian yang terlihat meminta jawaban pada Maura.
"Sakit karena memikirkan kasus yang menjerat putra semata wayangnya,"
"Bagaimana kondisi mama, Ra?"
"Ceraikan Seruni dan aku akan melindungimu dengan segala koneksi yang ku punya. Kamu juga bisa kembali ke Jakarta dengan aman. Yang paling penting, kamu bisa berjumpa dengan mamamu lagi. Tante Elsa sangat merindukanmu, Bas."
☘️☘️
Dengan langkah gontai, Bastian keluar dari ruangan Maura. Hari ini Bastian mengerjakan sisa pekerjaannya dengan sering melamun dan tak fokus.
Hal ini membuat beberapa rekan kerjanya didera penasaran atas apa yang terjadi ketika Bastian bertemu Maura di ruangan bos.
"Tadi pagi kamu semangat kali kerja, Bas. Kok sekarang melamun terus? Ati-ati kesam_bet loh," ledek salah satu rekan kerjanya.
Bastian hanya terdiam mendengar celotehan kawan-kawannya itu. Pikirkan dan hatinya sedang gundah perihal ucapan Maura tadi. Saat ini yang ada di otak Bastian adalah Seruni.
Sungguh, entah mengapa ia tak tega menyakiti Seruni jika harus pergi dengan Maura ke Jakarta. Akan tetapi di sisi lain, Bastian tak ingin sampai nama baik serta bisnis orang tuanya hancur karena dirinya. Sungguh dilema.
"Apa ada masalah sama bos baru waktu kau dipanggil tadi, Bas?" tanya rekan kerja Bastian yang didera penasaran karena melihat perubahan sikap suami dari Seruni tersebut.
"Gak ada," jawab Bastian terpaksa berbohong.
"Kau pasti bohong, Bas. Gak mungkin gak terjadi sesuatu," tebak rekan Bastian. "Apa kau dipecat sama anak bos baru itu?" pancingnya.
"Enggak," jawab Bastian.
"Terus kenapa kau melamun dan tak fokus begini setelah dari sana tadi?"
"Aku kangen istriku," jawab Bastian refleks.
"Astaga, Bastian. Sabar, jam kerja tinggal satu jam lagi. Setelah ini kau pulang dan kel0ni istrimu itu sampai besok Subuh. Hehe..." ujarnya seraya terkekeh sendiri.
Bastian pun ikut tertular tertawa kecil mendengar celotehan lucu dari rekannya tersebut.
"Aku hari ini ada lembur. Masih dua jam lagi di pabrik,"
"Sudah, kau pulang saja. Biar nanti si Paijo yang gantikan jatah lemburmu,"
"Tapi_" ucapan Bastian seketika terpotong.
"Gak ada tapi-tapian. Kerja itu pikiran harus fokus. Kalau lagi banyak pikiran, kamu bisa libur dulu. Jangan dipaksa daripada nanti pekerjaanmu salah dan menyebabkan teman yang lain ikut terkena imbasnya dimarahi bos karena merugikan perusahaan," potong teman Bastian seraya memberikan nasehat bijak.
"Makasih, Bro." Ucap Bastian yang akhirnya mengerti dan membenarkan penuturan rekannya tersebut.
"Hem,"
☘️☘️
Satu jam kemudian.
Jam pulang kerja tiba. Bastian dan semua pekerja pabrik pulang ke rumah masing-masing. Terutama yang tidak mendapat jatah lembur.
Seruni cukup terkejut melihat kepulangan Bastian lebih cepat dari jadwal. Sebagai istri, ia tau jadwal kerja Bastian. Terlebih bila ada lembur yang sudah diagendakan dari pabrik, bukan lembur dadakan.
"Tumben abang pulang cepat hari ini. Katanya ada jadwal lembur?" sapa Seruni menyambut sang suami yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Abang gak jadi lembur. Udah digantikan sama si Paijo," jawab Bastian apa adanya.
"Kenapa? Abang lagi gak enak badan?" cecar Seruni yang mendadak cemas seraya telapak tangannya berusaha menyentuh kening Bastian. Mengecek suhu tubuh sang suami. Dikhawatirkan terkena demam atau flu.
"Aku baik-baik saja, Run. Kamu gak perlu khawatir. Aku cuma kangen kamu. Jadi, pengin cepet pulang ke rumah." Ucap Bastian seraya memeluk tubuh Seruni.
Bastian mendekap erat Seruni. Tampak jelas rasa rindu dan seakan takut kehilangan atau entah Bastian merasa bersalah pada istrinya itu. Hanya Bastian yang tau kondisi perasaannya saat ini.
"Ading juga kangen abang," balas Seruni seraya mengelus punggung Bastian penuh kelembutan. Menumpahkan rasa cinta dan rindu melebur jadi satu dalam pelukan hangat sore itu.
"Run,"
"Iya, Bang."
"Abang lagi pengin,"
"Bentar lagi mau masuk waktu Maghrib, Bang. Apa gak sebaiknya kita melakukan habis salat Maghrib saja, Bang?" tawar Seruni.
"Masih ada waktu setengah jam lagi. Abang lagi butuh kamu, Run."
Terdengar sebuah permintaan Bastian dengan suara beratnya di telinga Seruni. Ia merasa cukup aneh dengan permintaan hubungan ranjang kali ini dari Bastian.
Namun, Seruni berusaha untuk berpikir positif bahwa Bastian sedang lelah di pabrik dan butuh disenangkan di atas peraduan.
"Baiklah. Ayo..." jawab Seruni mengiyakan.
Tanpa basa-basi setelah mengucap doa, Bastian segera membungkam bibir Seruni dengan luma_tan nikmat hingga kaki sang istri sedikit terdorong ke belakang menyentuh tepian ranjang mereka, sebelum akhirnya rebah telentang.
Bersambung...
🍁🍁🍁