NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2 kehidupan di jalanan

# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA

## BAB 2: Kehidupan di Jalanan

Senin pagi, Alek bangun kesiangan—lagi. Alarm di hapenya sudah berbunyi sejak setengah jam lalu, tapi dia membiarkannya. Tubuhnya masih pegal dari balapan semalam. Matanya sembab, kepala pusing.

"Alek! Sudah jam tujuh! Kamu terlambat lagi!" suara ibunya dari luar kamar.

"Iya, Ma!" jawabnya malas sambil meraih jaket sekolah yang tergeletak di lantai.

Dia keluar kamar dengan wajah kusut. Di ruang makan, ayahnya—Pendeta Daniel Panjaitan—sudah duduk membaca Alkitab sambil sarapan. Pria paruh baya itu menatap Alek dengan tatapan kecewa yang sudah sangat familiar.

"Kamu pulang jam berapa semalam?" tanya ayahnya dingin.

"Jam dua belas," bohong Alek. Sebenarnya jam tiga pagi.

"Bohong. Ibu bilang motor kamu baru masuk jam tiga. Kamu kemana?"

Alek mengambil roti isi, menghindari tatapan ayahnya. "Nongkrong sama temen."

"Teman yang mana? Yang geng motor itu?" nada ayahnya meninggi. "Alek, kamu itu anak pendeta. Jemaat melihat kamu. Tingkah laku kamu mencoreng nama gereja!"

"Gue nggak peduli sama gereja!" bentak Alek tiba-tiba.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Alek. Ibunya terlonjak kaget. Ayahnya berdiri, wajahnya merah menahan marah.

"Jangan pernah bicara seperti itu di rumah ini," kata Pendeta Daniel pelan tapi menusuk. "Kamu masih tinggal di sini, kamu ikut aturan saya."

Alek menggosok pipinya yang panas. Bukan kali pertama dia ditampar. Tapi rasanya tetap sakit—bukan di pipi, tapi di hati.

"Terserah, Pak," ucap Alek dingin, lalu mengambil tasnya dan keluar rumah.

Di depan rumah, motor R15 hitamnya sudah menunggu. Alek menendang starter, gas pol langsung, meninggalkan rumahnya dengan hati penuh amarah.

***

Sampai di sekolah, Alek sudah terlambat sejam. Satpam langsung menghentikannya di gerbang.

"Alexander, datang lagi jam segini?"

"Iya, Pak. Maaf."

"Langsung ke ruang BK. Pak Hendra mau ketemu kamu."

Alek mendengus kesal tapi tetap berjalan ke ruang Bimbingan Konseling. Di sana, Pak Hendra—guru BK yang sudah muak dengan kelakuannya—duduk dengan wajah tegas.

"Duduk, Alek."

Alek duduk malas, kaki disilangkan, tatapan menantang.

"Ini SP ketiga kamu bulan ini," kata Pak Hendra sambil menunjukkan surat peringatan. "Satu SP lagi, kamu diskors. Kamu tahu kan konsekuensinya?"

"Tahu."

"Lalu kenapa masih terlambat terus? Kenapa masih berantem? Kenapa nilai kamu jeblok?"

Alek diam. Dia tidak punya jawaban. Atau lebih tepatnya, dia malas menjawab.

"Kamu anak pendeta, Alek. Harusnya kamu jadi teladan."

"Gue bukan orang tua gue," jawab Alek datar. "Gue bukan pendeta. Gue cuma anak SMA biasa yang pengen hidup bebas."

Pak Hendra menghela napas panjang. "Kamu pikir hidup bebas itu berarti ngelawan semua orang? Berantem? Balapan? Itu bukan kebebasan, Alek. Itu kebodohan."

Alek tidak menjawab. Dia menatap keluar jendela, ke arah pesantren di seberang. Tanpa sadar, matanya mencari sosok bercadar yang kemarin menolongnya—atau lebih tepatnya, dia yang menolong.

"Alek, kamu dengar saya?"

"Iya, Pak."

"Saya kasih kamu kesempatan terakhir. Perbaiki sikap, atau kamu keluar dari sekolah ini."

"Baik, Pak."

Tapi Alek tahu dia tidak akan berubah. Dia sudah terlalu nyaman dengan kehidupannya yang kacau.

***

Jam istirahat, Alek nongkrong di kantin bareng Riki dan beberapa teman gengnya. Mereka merokok di pojok kantin yang jarang dijamah guru.

"Eh, Lex, besok malam ada balapan lagi. Lo ikut kan?" tanya Riki sambil meniup asap rokok.

"Ikut lah. Di mana?"

"Pasteur. Lawan Blackjacket dari Cimahi."

"Gue siap."

Bagas, si tangan kanan Dimas, datang dengan cengiran lebar. "Eh, tadi gue lewat depan pesantren sebelah. Ada cewek-cewek baru kayaknya. Cantik-cantik, cuma tutup aja."

Riki nyengir. "Lo ngintip pesantren sekarang, Gas?"

"Bukan ngintip. Cuma lewat aja. Emang lo nggak pernah penasaran gimana sih wajah cewek-cewek di balik cadar itu?"

Alek terdiam. Dia ingat wajah—atau lebih tepatnya mata—Khansa. Mata yang membuatnya gelisah tanpa alasan.

"Eh, Alek, lo kok diem aja? Jangan-jangan lo udah pernah liat salah satu dari mereka?" ledek Bagas.

"Nggak. Gue nggak tertarik," jawab Alek cepat.

Tapi bohong. Dia tertarik. Sangat tertarik. Tapi bukan tertarik seperti cowok biasa tertarik sama cewek. Ini berbeda. Dia penasaran dengan kehidupan di balik tembok putih itu. Penasaran kenapa orang bisa hidup tertutup, tenang, damai—sementara hidupnya berantakan.

"Udah ah, gue mau ke kelas," kata Alek sambil membuang puntung rokok.

"Kelas? Lo serius? Biasanya bolos," Riki heran.

"Lagi pengen aja."

Sebenarnya, Alek cuma pengen menyendiri. Pikiran-pikiran aneh mulai mengganggu kepalanya sejak kemarin.

***

Sore harinya, Alek langsung ke markas Venom Crew di Cibaduyut. Di sana, Dimas dan sekitar sepuluh anggota geng lainnya sudah berkumpul. Mereka sedang merencanakan "kunjungan balasan" ke wilayah Scorpions.

"Kemarin kita menang, tapi belum cukup," kata Dimas sambil meletakkan peta di meja. "Kita harus pastikan Scorpions nggak berani masuk wilayah kita lagi."

"Kapan, Bang?" tanya Kevin, anggota yang paling agresif.

"Sabtu malam. Kita datangi markas mereka. Tapi jangan bawa senjata tajam. Gue nggak mau ada yang mati. Cukup kasih pelajaran."

Alek duduk di pojok, mendengarkan tapi tidak berkomentar. Biasanya dia yang paling semangat kalau ada rencana tawuran. Tapi kali ini, entah kenapa, dia merasa... hampa.

"Lex, lo setuju kan?" tanya Dimas.

"Setuju, Bang."

"Lo kok lemes? Masih sakit dari kemarin?"

"Nggak. Gue baik-baik aja."

Tapi Alek tidak baik-baik saja. Sejak kemarin, ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Sesuatu yang dia sendiri tidak mengerti.

***

Malam itu, Alek pulang larut lagi. Rumahnya sudah gelap. Orang tuanya tidur. Dia masuk diam-diam ke kamarnya, merebahkan tubuh di kasur.

Hapenya berbunyi. Pesan dari Riki: "Lex, tadi Dimas bilang lo aneh. Lo beneran gak apa-apa?"

Alek tidak membalas. Dia menatap langit-langit kamar, pikiran melayang kemana-mana.

Kenapa dia merasa kosong? Padahal hidupnya seru. Balapan, tawuran, nongkrong—itu semua yang selama ini dia cari. Kebebasan. Kesenangan. Tapi kenapa sekarang rasanya... tidak cukup?

Bayangan mata Khansa muncul lagi. Mata yang teduh, penuh kedamaian.

"Gue pengen ketemu dia lagi," gumam Alek tanpa sadar.

Tapi untuk apa? Mau ngapain? Mereka beda dunia. Dia cowok badboy Kristen, dia cewek shalihah Muslim. Tidak mungkin.

Alek menutup mata, mencoba tidur. Tapi tidurnya gelisah. Di mimpinya, dia melihat dua jalan—satu gelap penuh kabut, satu terang penuh cahaya. Dan di ujung jalan yang terang, ada sosok bercadar yang memanggilnya.

Tapi sebelum dia bisa menyentuhnya, dia terbangun.

***

**Bersambung ke Bab 3...**

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!