apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pangeran Yuan Ru
Cahaya rembulan tipis merayap di antara celah dedaunan, menyinari wajah mungil yang pucat pasi. Di balik dekapan hangat seorang pria, gadis kecil itu gemetar hebat.
" hei Buka matamu, gadis Kecil. kita berhasil kau dan aku sudah aman di sini," bisik suara itu, rendah dan menenangkan seperti aliran sungai di musim semi.
Gadis itu, Xiao Mei, perlahan membuka kelopak matanya yang basah oleh sisa air mata.
Ia menatap sosok di hadapannya dengan keraguan yang nyata. "Pa... Paman, ini di mana? Ayah bilang dunia luar itu berbahaya.
Paman bukan orang jahat yang ingin menyakiti Xiao Mei, kan?"
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyembunyikan beban berat di pundaknya.
"Namaku Yuan Ru. Paman datang untuk menjemputmu, membawamu kembali ke pelukan ayah dan ibumu."
Mata Xiao Mei berbinar seketika, mengalahkan redupnya malam. "Benarkah? Apa Ayah yang mengutus Paman untuk menjemput Mei Mei?"
Yuan Ru terpaku sejenak, menatap binar polos itu. "Jadi, namamu Mei Mei?"
Gadis kecil itu menggeleng pelan, rambut hitamnya yang halus ikut bergoyang. "Bukan, Paman. Namaku sebenarnya adalah Xiao Mei, tapi hanya keluarga terdekat yang boleh memanggilku Mei Mei biasanya orang luar akan memanggil ku nona Xu. Nama panjangku adalah Xu Xiao Mei."
Yuan Ru, yang sebenarnya adalah Pangeran Yuan Ru, mengangguk takzim. Belum sempat ia membalas, telinganya yang tajam menangkap suara yang paling ia hindari
derap langkah kaki kuda dan gemerincing zirah yang membelah keheningan hutan.
"Sstt..." Yuan Ru menempelkan telunjuk di bibir, isyarat bisu yang penuh ketegangan.
"Mereka datang."
"Siapa mereka, Paman?" bisik Xiao Mei, suaranya nyaris hilang ditelan angin. "Apa mereka suruhan Kaisar yang kejam itu?"
Yuan Ru terdiam sebentar.
Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa Kaisar—ayahandanya—bukanlah monster seperti yang dibayangkan rakyat? Semua penangkapan ini hanyalah bidak catur, sebuah sandiwara untuk memancing para pengkhianat keluar dari bayang-bayang.
Tak akan ada darah keluarga Xu yang tumpah selama dekrit suci belum diketuk.
"Kaisar adalah pria yang bijak, Xiao Mei. Ia hanya ingin melindungi negerinya," jawab Yuan Ru lembut,
meski ia tahu kata-katanya sulit dicerna oleh logika seorang anak kecil. "Sekarang, berjanjilah untuk tidak bersuara dan jangan menangis.
Kita harus bersembunyi hingga bayangan mereka menghilang. Setelah itu, Paman berjanji akan membawamu pulang. Bolehkah Paman memanggilmu Xiao Mei juga?"
Xiao Mei menatap mata Yuan Ru yang teduh, mencari ketulusan di sana. "Karena Paman adalah orang baik yang menolongku, Paman boleh memanggilku begitu."
Namun, takdir nampaknya ingin menguji keberanian mereka.
Saat mereka mencoba menyelinap keluar dari balik rimbunnya semak, seorang prajurit Kerajaan Gloria dengan mata elang menangkap siluet mereka.
"TANGKAP MEREKA!" teriakan itu memecah kesunyian, disusul kepungan pedang yang mengilap tertimpa cahaya bulan.
Yuan Ru berdiri tegak, memasang badan di depan Xiao Mei. Wajahnya yang semula lembut kini mengeras seperti batu karang.
"Berani sekali kalian menghalangi jalan pangeranmu!"
Sang kapten prajurit membungkuk sesaat, namun matanya tetap haus akan buruan.
"Maafkan kami, Pangeran Yuan Ru. Kami hanya menjalankan titah. Barang siapa yang berhasil membawa putri dari keluarga Xu ke istana, Kaisar akan menjanjikan kejayaan bagi mereka."
Salah satu prajurit maju, jemarinya yang kasar nyaris menyentuh pergelangan tangan Xiao Mei yang mungil. "Lepaskan!" bentak Yuan Ru, pedangnya kini terhunus, memancarkan aura dingin yang mematikan.
"Aku sendiri yang akan membawanya ke hadapan Kaisar."
"Kalau begitu, mari kita pulang bersama, Pangeran," ujar sang kapten dengan nada menantang.
Yuan Ru berlutut, mensejajarkan tingginya dengan Xiao Mei yang sudah terisak dalam diam. "Xiao Mei, tutup matamu rapat-rapat. Jangan membukanya sebelum Paman yang memintamu, mengerti?"
"Paman... mereka orang jahat, ya?" tanya Xiao Mei dengan suara bergetar, air matanya kini luruh membasahi pipi.
"Percayalah pada Paman. Tutup matamu, dan segalanya akan segera berakhir."
Xiao Mei memejamkan mata. Dunianya seketika gelap, hanya menyisakan suara logam yang beradu keras—cring! jash!—diikuti erangan kesakitan yang menyayat malam.
Udara tercium anyir oleh aroma besi dan tanah basah. Tak lama kemudian, hening kembali meraja. Xiao Mei merasakan tubuhnya terangkat ke atas, didekap erat oleh seseorang.
"Paman!" teriak Xiao Mei histeris, takut jika sosok yang mendekapnya bukanlah pria yang ia percayai.
"Ini Paman... tetaplah menutup mata, sebentar saja..." Yuan Ru berbisik dengan napas yang memburu, dadanya naik turun karena sisa pertarungan yang sengit.
Jleb!
Suara itu begitu tajam. Sebuah anak panah melesat menembus kegelapan, menghujam perut Yuan Ru dengan telak.
Pangeran itu tersentak, rasa panas membakar menyebar ke seluruh tubuhnya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menurunkan Xiao Mei ke tanah dengan sangat perlahan, seolah gadis itu adalah porselen yang mudah pecah.
Dengan satu sentakan berani, ia mencabut anak panah itu, membiarkan jubahnya basah oleh warna merah yang pekat.
"Paman?" Xiao Mei membuka matanya karena merasa pegangan itu melonggar.
Ia mempekik ngeri saat melihat Yuan Ru bersandar pada batang pohon dengan darah yang merembes di sela jari-jarinya.
"Tidak apa-apa... Paman hanya sedikit lelah," lirih Yuan Ru. Pandangannya mulai mengabur, wajah mungil Xiao Mei tampak berganda di matanya yang meredup.
"Paman! Paman, bangun! Jangan tutup mata Paman!" teriak Xiao Mei sambil mengguncang tubuh tegap itu, namun Yuan Ru perlahan mulai kehilangan kesadaran di bawah naungan rembulan yang kian mendingin.
"Hei, Mei... bangun. Thalia, bangun!"
Suara berat itu merobek tabir mimpi buruknya.
Xiao Mei—atau kini dikenal sebagai Thalia—tersentak bangun dengan napas tersengal. Di hadapannya, bukan lagi hutan gelap atau darah, melainkan wajah cemas Cavin yang menatapnya dalam.
" kak Cavin..." gumam Thalia, berusaha mengumpulkan kembali jiwanya yang seolah tertinggal di masa lalu yang kelam.