Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Demam Beku
Aroma anyir darah dan belerang yang ditinggalkan oleh longsoran es sebelumnya kini berganti dengan bau kematian yang lebih merayap: aroma napas yang mendingin dan keringat yang membeku. Elara melangkah keluar dari tenda utamanya, disambut oleh pemandangan yang membuat jantungnya berdenyut nyeri. Perkemahan itu bukan lagi pusat logistik yang gagah, melainkan bangsal raksasa di mana rintihan para prajurit terdengar seperti gesekan bilah es di atas batu.
"Nyonya, mohon jangan mendekat ke area tenda medis luar tanpa masker kain yang tebal," Tabib Istana menghampiri Elara, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam satu malam. "Wabah ini... ini bukan sekadar kedinginan. Ini adalah kutukan."
Elara menatap sang tabib melalui uap napasnya yang memutih. "Kau menyebutnya kutukan karena kau tidak bisa menjelaskan strukturnya dengan obat-obatan kekaisaran yang terbatas itu, Tabib. Katakan padaku, berapa banyak yang sudah menunjukkan gejala uap abu-abu?"
"Hampir tiga perempat dari pasukan yang selamat, Nyonya," suara tabib itu bergetar. "Obat-obatan herbal kita membeku sebelum sempat diseduh. Bahkan api unggun tidak bisa menghangatkan darah mereka. Mereka membeku dari dalam, dan saya... saya tidak punya jawaban lagi."
Elara mengalihkan pandangannya ke arah barisan tenda di mana para prajurit terbaring. Ia mengaktifkan Void, memfokuskan sirkuit jiwanya hingga mencapai level 1.9. Penglihatannya bergeser; dunia fisik yang putih perlahan memudar, digantikan oleh jalinan energi Mana yang berdenyut di udara. Di sana, ia melihatnya dengan jelas—partikel-partikel halus berwarna hitam keunguan yang melayang rendah, masuk ke dalam saluran pernapasan setiap manusia yang bernapas di sana.
"Ini adalah spora Mana dari Gua Kristal Biru yang baru saja kita hancurkan segel sekundernya," gumam Elara. "Sekte Void tidak hanya ingin mengubur kita dengan salju, mereka ingin kita menjadi wadah bagi residu energi purba ini."
"Apa yang harus kita lakukan? Jika utusan kaisar tiba dan melihat pasukan dalam kondisi seperti ini, mereka akan menghabisi kita semua untuk mencegah wabah merambat ke ibu kota," bisik Kaelen yang baru saja muncul dari arah kandang kuda, salju menempel di bahunya yang lebar.
"Kita akan melakukan apa yang tidak berani dilakukan oleh pengecut di istana," Elara menatap tangan kirinya yang kini mati rasa hingga ke siku, sebuah harga yang ia bayar setelah menyerap energi gudang mana Asteria untuk menahan longsoran semalam. "Rina, bawa sisa kantong garam Asteria itu ke sumber air utama perkemahan sekarang."
"Nyonya... garam itu tinggal sedikit sekali," Rina muncul dari balik tenda, wajahnya tampak pucat dan ia sesekali terbatuk kecil. "Jika kita menggunakannya sekarang, kita tidak akan punya simpanan lagi jika Anda atau saya jatuh sakit lebih parah."
Elara mendekati Rina, meletakkan tangan kanannya yang masih hangat di pipi pelayan setianya itu. "Garam itu tidak akan berguna jika kita hanya menyimpannya untuk diri sendiri sementara seluruh pasukan ini musnah. Jika mereka mati, kita tidak punya tameng lagi untuk melawan Valerius. Loyalitas mereka adalah satu-satunya mata uang yang tersisa bagi kita, Rina."
Rina menatap mata Elara yang dingin namun tegas, lalu mengangguk pelan. "Baik, Nyonya. Saya akan membawanya."
"Kaelen, kawal Rina. Aku butuh area sumber air dikosongkan dari siapa pun dalam radius sepuluh langkah," perintah Elara.
Mereka berjalan menuju sungai kecil yang mengalir di balik benteng pelindung es. Airnya tampak hitam dan kental, membawa serpihan es yang tajam. Elara berdiri di tepiannya, merasakan dingin yang menggigit menembus sepatu botnya. Ia mengambil kantong kain merah dari tangan Rina. Di dalamnya terdapat kristal garam Asteria—harta karun terakhir dari tanah airnya yang hancur.
"Pengetahuan Asteria tidak pernah tentang penghancuran, tapi tentang keseimbangan," bisik Elara.
Ia menumpahkan garam itu ke telapak tangan kirinya yang hitam dan mati rasa. Ia mulai mengalirkan energi Void, bukan untuk menyerap, melainkan untuk memecah. Dengan Void level 1.9, ia memaksakan kesadarannya masuk ke tingkat molekuler kristal garam tersebut. Di bawah pengaruh energinya, kristal-kristal itu mulai berpendar biru keemasan, bergetar begitu cepat hingga seolah-olah menguap di udara.
"Void... Dispersi Molekuler!"
Elara menghantamkan tangannya ke permukaan air sungai. Ledakan energi yang dihasilkan tidak menciptakan suara besar, melainkan riak cahaya yang merambat cepat mengikuti aliran air. Tangan hitamnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas saat bersentuhan dengan air yang terkontaminasi spora. Ia mengerang pelan, tubuhnya berguncang hebat saat ia memaksakan sisa-sisa Mana-nya untuk menetralisir racun di dalam sumber air tersebut.
"Nyonya Elara! Berhenti! Wajahmu sudah biru!" Kaelen mencoba menariknya, namun Elara menahan posisi tubuhnya dengan keras kepala.
"Sedikit lagi... aku harus memastikan frekuensinya stabil," napas Elara tersengal, darah segar mulai menetes dari lubang hidungnya, jatuh ke atas salju putih dan membeku seketika.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, air sungai yang tadinya kental dan keruh perlahan menjadi jernih kembali. Cahaya keunguan yang tadinya menghantui permukaan air lenyap, digantikan oleh pantulan langit kelabu yang tenang. Elara menarik tangannya, tubuhnya lunglai dan hampir jatuh ke dalam sungai jika Kaelen tidak segera menangkapnya.
"Selesai... Katakan pada tabib... semua orang harus meminum air ini dalam satu jam ke depan," Elara berbisik di pundak Kaelen.
"Kau mempertaruhkan nyawamu untuk prajurit-prajurit yang beberapa minggu lalu masih merantai tanganmu, Elara," suara Kaelen terdengar serak, dipenuhi campuran kekaguman dan kemarahan.
"Aku tidak mempertaruhkan nyawaku untuk mereka, Kaelen," Elara mendongak, matanya yang redup menatap Kaelen dengan intensitas yang mengerikan. "Aku sedang membeli jiwa mereka. Seseorang yang menyelamatkanmu dari kematian yang tak terlihat akan selalu memiliki tempat lebih tinggi di hatimu daripada seorang kaisar yang hanya mengirimmu untuk mati."
Kaelen terdiam. Ia melihat transformasi Elara yang semakin jauh dari sosok Aurelia yang ia kenal dulu—permaisuri yang lembut dan penuh belas kasih. Wanita di pelukannya ini adalah seorang komandan yang dingin, yang menghitung setiap tetes darah dan kristal garam sebagai investasi politik.
"Bawa aku kembali ke tenda Rina," kata Elara pelan. "Dia mulai terjangkit. Aku harus memastikannya meminum dosis pertama."
Di dalam tenda medis darurat, suasana mulai berubah. Para prajurit yang sebelumnya hanya bisa merintih kini mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran setelah meminum air yang telah dinetralkan. Sersan Juna, yang sebelumnya hampir kehilangan warna iris matanya, mulai bisa duduk tegak meskipun tubuhnya masih sangat lemah.
"Nyonya... apakah itu benar-benar Anda?" Juna bertanya saat melihat Elara masuk ke tenda dengan dipapah oleh Kaelen.
Elara melepaskan diri dari pegangan Kaelen dan berjalan menuju tempat tidur Rina. Ia mengambil cangkir berisi air sungai tadi dan membantunya meminumnya. "Minumlah, Rina. Jangan biarkan racun itu menetap di paru-parumu."
Rina meminumnya dengan rakus, lalu terbatuk hebat, mengeluarkan lendir abu-abu yang sama seperti yang dialami Juna di akhir badai longsoran sebelumnya. "Terima kasih... Nyonya. Rasanya... rasanya seperti es di dadaku mulai mencair."
Elara mengusap dahi Rina yang basah oleh keringat dingin. "Istirahatlah. Tugasku belum selesai."
Ia berdiri dan menoleh ke arah para prajurit yang kini menatapnya dengan pandangan suci. Tidak ada lagi ejekan tentang 'tawanan Asteria'. Di mata mereka, Elara adalah matahari kecil di tengah musim dingin yang abadi.
"Tabib, berapa lama sampai mereka bisa berdiri kembali?" tanya Elara.
"Mungkin dua belas jam, Nyonya. Tapi mereka butuh nutrisi. Gandum yang tersisa dari longsoran sangat sedikit," jawab tabib dengan ragu.
"Distribusikan gandum itu dalam porsi kecil namun sering. Prioritaskan mereka yang kondisinya paling lemah," Elara memberikan instruksi dengan tegas. "Kaelen, siapkan tim pengintai. Aku ingin tahu apakah ada tanda-tanda utusan kaisar di jalur bawah. Jika mereka datang, kita harus memastikan mereka hanya melihat apa yang ingin kita tunjukkan."
"Aku akan segera berangkat," Kaelen membungkuk hormat, sebuah gerakan yang kini ia lakukan dengan kesungguhan hati, bukan sekadar formalitas ksatria.
Elara kembali ke tendanya sendiri setelah memastikan semua prosedur dijalankan. Keheningan mulai menyelimuti perkemahan seiring dengan meredanya rintihan sakit. Namun, saat Elara duduk di tepi tempat tidurnya, mencoba memijat tangannya yang mati rasa, telinganya menangkap sesuatu.
Sebuah suara. Bukan suara angin, bukan suara api unggun yang berderak. Itu adalah sebuah nada. Rendah, bergetar, dan sangat merdu namun menyayat hati. Suara itu seolah memanggilnya dari balik kegelapan hutan pinus yang mengelilingi perkemahan.
"Nyanyian itu..." Elara membeku.
Ia berdiri dan berjalan menuju pintu tenda, menatap ke arah hutan yang hitam pekat di bawah cahaya bulan yang tertutup awan. Suara itu semakin jelas, sebuah melodi kuno yang membangkitkan memori yang seharusnya tidak ia miliki. Rasa sesak mulai memenuhi dadanya, bukan karena spora, tapi karena ketakutan yang murni.
"Musuhku tidak lagi menunggu di depan pintu," bisik Elara pada kegelapan. "Mereka sudah mulai masuk ke dalam kepala kita."
Elara berdiri mematung di ambang pintu tendanya, membiarkan angin Utara yang tajam menyayat wajahnya yang pucat. Nyanyian itu tidak berhenti; melodi itu merayap di antara pepohonan pinus, terdengar seperti ratapan ribuan jiwa yang membeku dalam es abadi. Suaranya begitu halus, frekuensi yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang memiliki resonansi dengan energi Void. Ia melirik ke arah para penjaga di gerbang perkemahan; mereka tampak tenang, tidak terganggu, seolah dunia sedang dalam keheningan total bagi mereka.
"Hanya aku yang mendengarnya," bisik Elara, jemarinya mencengkeram kain tenda hingga buku jarinya memutih.
Ia kembali masuk ke dalam, terduduk di kursi kayu yang keras di depan meja peta yang berantakan. Tangan kirinya yang menghitam kini mulai menunjukkan pola baru—garis-garis biru tua yang tampak seperti pembuluh darah yang pecah, bercabang-cabang menuju arah nadinya. Elara mengambil sebuah buku catatan tua milik ayahnya yang berhasil ia selamatkan dari reruntuhan Asteria sebelum pengasingannya, membuka halaman yang membahas tentang Resonansi Jiwa.
"Jika spora itu adalah benihnya, maka nyanyian ini adalah airnya," gumamnya, matanya membelalak menyadari polanya. "Sekte Void tidak hanya ingin membunuh prajurit ini. Mereka ingin memicu evolusi paksa."
"Nyonya? Anda bicara dengan siapa?" Suara Kaelen memecah keheningan. Ksatria itu masuk dengan langkah berat, salju masih menempel di janggut tipisnya.
Elara mendongak, mencoba menyembunyikan tangannya di balik jubah. "Kaelen, apakah kau mendengar sesuatu dari arah hutan? Sebuah melodi? Suara wanita yang bernyanyi?"
Kaelen mengerutkan kening, ia berhenti sejenak untuk mendengarkan dengan saksama. "Hanya suara angin yang melolong di celah tebing, Nyonya. Dan rintihan beberapa prajurit yang masih belum pulih benar. Apakah Anda... apakah Anda merasa sakit lagi?"
Elara menggeleng pelan, meski kepalanya terasa seperti ditusuk jarum panas setiap kali nyanyian itu mencapai nada tinggi. "Tidak. Jika kau tidak mendengarnya, artinya frekuensi ini ditujukan untuk mereka yang sudah memiliki jejak Void di dalam tubuhnya. Aku, Rina, dan mungkin beberapa prajurit yang infeksinya paling parah."
"Aku akan memperketat penjagaan di perbatasan hutan," Kaelen berkata dengan nada waspada. "Jika itu serangan mental, kita harus memastikan tidak ada prajurit yang berjalan keluar dari perkemahan dalam keadaan tidak sadar."
"Sudah terlambat untuk sekadar berjaga, Kaelen," Elara berdiri, berjalan menuju meja yang berisi sisa larutan garam Asteria. "Kita harus memperkuat filter mental mereka. Panggil Tabib Istana kembali. Aku ingin setiap orang yang sudah meminum air penawar tadi diberikan tanda di dahi mereka menggunakan jelaga dari kayu pinus yang telah dibakar dengan energi Void-ku."
"Itu terdengar seperti ritual klenik Asteria, Elara. Jika utusan kaisar melihatnya, mereka akan menuduhmu melakukan praktik sihir hitam," Kaelen memperingatkan dengan nada rendah.
"Keadilan adalah milik pemegang kartu, Kaelen. Jika aku bisa membuat mereka tetap hidup dan patuh, kaisar bisa menuduhku sesuka hatinya dari atas singgasananya yang jauh. Di sini, di tanah yang beku ini, akulah satu-satunya dewi yang mereka miliki," Elara menatap Kaelen dengan tatapan absolut yang membuat ksatria itu terdiam.
Elara kemudian melangkah menuju tenda di mana Rina sedang beristirahat. Ia menemukan pelayannya itu sedang duduk tegak, menatap kosong ke arah dinding tenda. Bibir Rina bergerak-gerak kecil, seolah mengikuti irama nyanyian yang sedang didengar Elara.
"Rina? Kau mendengarnya, bukan?" Elara menyentuh bahu Rina.
Rina tersentak, matanya kembali fokus dan ia mulai menangis tanpa suara. "Indah sekali, Nyonya... suara itu menceritakan tentang taman-taman di Asteria yang penuh bunga matahari. Rasanya sangat hangat... aku ingin pergi ke sana."
Elara mencengkeram bahu Rina dengan tegas, mengguncangnya sedikit. "Itu palsu, Rina! Itu adalah manipulasi frekuensi Void untuk menarik jiwamu keluar dari tubuhmu yang sedang lemah. Jangan dengarkan! Fokus pada suaraku!"
Ia mulai membisikkan kata-kata dalam bahasa kuno Asteria, sebuah mantra penenang saraf yang biasa digunakan oleh para pendeta untuk menyembuhkan trauma perang. Sambil berbisik, Elara menggunakan tangan kanannya untuk menggambar simbol perlindungan di dahi Rina. Energi biru samar mengalir dari ujung jarinya, membakar spora-spora sisa yang masih mencoba beresonansi dengan nyanyian sirene tersebut.
"Nyonya... maafkan saya. Saya hampir saja berjalan keluar," Rina berbisik, napasnya kini lebih teratur.
"Jangan meminta maaf. Musuh kita kali ini menyerang dari dalam batin," Elara berdiri, wajahnya menunjukkan kelelahan yang luar biasa. "Tetaplah di sini. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali Kaelen."
Malam semakin larut, namun Elara tidak bisa memejamkan mata. Ia menghabiskan sisa malam itu dengan berpindah dari satu tenda ke tenda lain, melakukan hal yang sama pada setiap prajurit yang mulai menunjukkan tanda-tanda halusinasi. Setiap kali ia menggunakan energinya, rasa sakit di tangannya semakin meluas, merambat hingga ke bahunya. Namun, ia melihat hasilnya. Para prajurit yang tadinya tampak seperti mayat hidup mulai mendapatkan kembali kesadaran mereka. Mereka menatap Elara dengan rasa syukur yang hampir mendekati pemujaan.
"Nyonya Elara... Anda tidak pernah tidur," ujar Sersan Juna yang kini sudah bisa berdiri tegak di depan tenda medis. "Anda menyelamatkan kami dari longsoran, dari demam es, dan sekarang dari kegilaan ini. Kami berhutang nyawa yang tidak akan pernah bisa terbayar."
Elara menatap Juna, seorang prajurit faksi Vane yang seharusnya membencinya. "Bayarlah dengan tetap hidup dan pastikan pedangmu tidak pernah ragu saat aku memberikan perintah, Sersan. Dunia yang kita hadapi setelah ini tidak akan lebih hangat dari malam ini."
"Sampai mati, Nyonya," Juna membungkuk dalam, sebuah janji yang diikuti oleh beberapa prajurit lain di sekitarnya.
Menjelang fajar, nyanyian itu perlahan memudar, digantikan oleh suara derap kaki kuda yang mendekat dari arah selatan. Kaelen segera menghampiri Elara dengan wajah tegang.
"Mereka datang, Elara. Utusan kaisar. Pasukan berkuda elit dengan panji matahari emas," lapor Kaelen.
Elara menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya. "Aktifkan rencana kita. Pastikan semua prajurit yang sakit tetap berada di dalam tenda yang tertutup. Biarkan hanya mereka yang terlihat paling sehat berjaga di depan, namun perintahkan mereka untuk tetap bersikap lesu dan putus asa. Kita harus terlihat seperti sisa-sisa pasukan yang hancur, bukan pasukan yang baru saja terlahir kembali."
"Vane?" tanya Kaelen.
"Biarkan dia tetap di tempat persembunyiannya. Jika utusan itu melihatnya masih hidup, rencanaku akan berantakan," Elara merapikan jubahnya yang kotor dan compang-camping, sengaja tidak membersihkan noda darah di wajahnya.
Ia berjalan menuju gerbang perkemahan saat rombongan berkuda itu tiba. Pemimpin utusan itu, seorang pria angkuh dengan baju zirah yang mengkilap, turun dari kudanya dan menatap perkemahan dengan pandangan jijik.
"Di mana Panglima Vane?" tanya utusan itu tanpa basa-basi.
"Panglima Vane telah kembali ke pelukan es bersama sebagian besar pasukannya, Tuan Utusan," Elara menjawab dengan suara yang dibuat terdengar lemah dan gemetar, meskipun matanya tetap menatap tajam di balik helai rambutnya yang berantakan.
Utusan itu menatap Elara dari atas ke bawah. "Dan kau... tawanan Asteria yang masih hidup. Kaisar bertanya-tanya mengapa kau belum mati tertimbun longsoran."
"Mungkin karena kaisar belum selesai menyiksaku, Tuan," Elara menyunggingkan senyum tipis yang penuh subteks. "Silakan periksa bangkai perkemahan ini. Namun berhati-hatilah, udara di sini membawa penyakit yang tidak mengenal baju zirah emas."
Utusan itu tampak ragu sejenak, ia melihat ke arah tumpukan mayat (yang sebenarnya adalah tumpukan salju yang ditutupi pakaian prajurit) di pojok perkemahan. Ketakutan akan wabah jauh lebih besar daripada rasa ingin tahunya.
"Aku akan membawa laporan ini kepada Yang Mulia. Siapkan dirimu, Putri. Kaisar mungkin akan memanggilmu pulang lebih cepat dari yang kau duga," ujar utusan itu sebelum memacu kudanya pergi meninggalkan debu salju yang berterbangan.
Elara menatap kepergian mereka dengan perasaan lega yang pahit. Ia berhasil membeli waktu, namun ia tahu bahwa kebohongannya tidak akan bertahan selamanya. Di belakangnya, Kaelen mendekat.
"Mereka percaya?"
"Untuk saat ini, ya. Tapi Valerius akan curiga saat laporan ini sampai ke telinganya. Dia tahu aku tidak mudah mati," Elara berbalik, menatap pasukannya yang kini berdiri diam, menunggunya. "Kita harus bergerak sekarang. Hutan pinus itu... suara nyanyian itu tidak akan berhenti hanya karena matahari terbit."
Ia meraba dadanya, di mana jimat kecil pemberian mendiang ibunya berada. Rasa dingin dari tangan hitamnya kini telah mencapai jantungnya, memberikan kekuatan sekaligus kehampaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aku bukan lagi putri yang menangis," bisik Elara pada dirinya sendiri. "Aku adalah badai yang akan menghancurkan istana emas itu."