Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Sadar
Dua hari berlalu dengan sunyi di rumah sakit yang tetap ramai oleh lalu lalang pasien dan tenaga medis. Di koridor, beberapa perawat berjalan cepat membawa berkas, sementara seorang pria berbaju jas terlihat menyusuri lorong dengan langkah tergesa. Kebetulan, ia berpapasan dengan Tari yang baru saja keluar dari kamar Melinda. Melihat ekspresinya yang buru-buru, Tari langsung menyapanya.
"Permisi—ada apa sampai terburu-buru begitu?" tanyanya, membuat pria itu berhenti mendadak dan memberi hormat.
"Nyonya Tari," ucapnya sopan, lalu meluruskan postur tubuhnya sebelum menjelaskan. "Saya dapat kabar bahwa penyelamat Nona Melinda sudah sadar dari koma. Saya diperintahkan Tuan Anton untuk memantau keadaannya dan memastikan berita ini tidak bocor ke media."
Tari terkejut. Ia sama sekali tidak mendengar kabar dari suaminya tentang hal ini. Tapi rasa syukur segera menyergapnya—pria yang menyelamatkan putrinya akhirnya terbangun. "Dia sadar? Syukurlah…" gumamnya sambil menghela napas lega. "Kalau suamiku datang nanti, tolong beri tahu aku, ya?"
"Baik, Nyonya." Pria itu membungkuk singkat sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah—ke arah kamar intensif tempat Gerard dirawat.
Sementara itu, Tari kembali masuk ke kamar Melinda. Gadis itu masih duduk di ranjang dengan tatapan kosong, tapi begitu melihat ibunya, matanya sedikit berbinar. "Ada apa tadi, Bunda?" tanyanya, suaranya lemah namun penuh rasa ingin tahu.
Tari tak langsung menjawab. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Melinda dengan lembut. Senyum hangat mengembang di wajahnya. "Penyelamatmu… pria yang menolongmu itu… sudah sadar," ucapnya pelan, memperhatikan perubahan ekspresi putrinya.
Melinda terdiam sejenak, lalu napasnya terdengar sedikit tersendat. Tapi perlahan, kekosongan di wajahnya mulai mencair—digantikan senyum kecil yang tulus. Matanya berbinar, seperti kembali menemukan secercah cahaya.
"Beneran, Bun?" suaranya terdengar lebih hidup, lebih bersemangat. Saat Tari mengangguk, Melinda menghela napas lega. "Syukurlah…"
Selama ini, Melinda selalu menolak untuk pulang meski dokter menyatakan kondisi fisiknya sudah membaik. Ia beralasan masih merasa kurang enak badan, padahal sebenarnya ia hanya ingin tetap berada dekat—ingin tahu kabar tentang pria yang menyelamatkannya. Kini, setelah mendengar kabar itu, dadanya terasa lebih plong, detak jantungnya yang selama ini kerap tak beraturan mulai tenang.
Aku harus berterima kasih padanya… batin Melinda, senyum tipis tersembunyi di balik helaian rambutnya yang terjuntai.
...*•*•*...
Di ruangan yang mulai ramai oleh bisik-bisik perawat dan langkah cepat dokter, Gerard terbaring dengan mata setengah terbuka. Seorang dokter tengah memeriksa refleks matanya dengan senter kecil, sementara perawat di sampingnya mencatat tanda-tanda vital yang stabil.
“Ini luar biasa…” sang dokter berbisik pelan, suaranya penuh kagum sekaligus tak percaya. “Anda mengalami cedera serius di beberapa titik vital, tetapi hanya butuh dua hari untuk pulih sepenuhnya. Secara medis, seharusnya Anda butuh waktu lebih lama untuk mencapai kondisi ini…”
Itu bukan omong kosong. Berdasarkan diagnosis awal, Gerard mengalami gegar otak kategori berat, perdarahan internal, serta retak pada tulang lengan dan rusuk. Namun dalam waktu dua hari, semua luka itu pulih dengan tingkat penyembuhan yang nyaris mustahil—bahkan dengan peralatan medis tercanggih sekalipun.
Mendengar penjelasan dokter, Gerard hanya tersenyum lemah. Kepalanya masih terasa berat, tubuhnya lunglai tak bertenaga, tapi satu hal yang pasti: rasa sakit yang menusuk itu sudah hilang. Lagi-lagi Sistem yang menolongku… batinnya, sambil merasa berutang budi sekali lagi.
Selama berada di alam bawah sadar, ia memang sempat berkomunikasi lebih intens dengan Sistem. Percakapan mereka tak panjang, tapi dari situ ia tahu bahwa “waktu” di sana berjalan berbeda. Kini, setelah mendengar ia koma selama dua hari, Gerard hanya bisa menghela — tak sepenuhnya terkejut, tapi tetap terheran-heran.
“Kondisi Anda memang sudah stabil, tapi Anda tetap perlu istirahat total beberapa hari ke depan untuk pemulihan maksimal,” jelas dokter dengan suara tenang namun tegas. “Kami juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan, tapi untuk sekarang—istirahatlah. Jangan dulu banyak bergerak atau memaksakan diri.”
Gerard mengangguk pelan, lalu menutup matanya kembali. "Baik…" jawabnya lemah.
Setelah dokter dan perawat pergi, sebuah panel biru tiba-tiba muncul di hadapannya—bukan pesan dari Sistem kali ini, melainkan konfirmasi misi yang selama ini tertunda.
[Menyelamatkan Seseorang Dari Penculikan]
[Status: Selesai]
[Hadiah: 1.600.000.000 IDR + Kemampuan Baru]
Mata Gerard terbelalak sebentar. Segitu banyak? pikirnya dalam hati, hampir tak percaya. Uang yang ia miliki sebelumnya saja masih sangat besar, kini bertambah lagi—sampai bingung mau dipakai untuk apa.
Gerard merasa Sistem memang terlalu murah hati. Ia tersenyum kecil, lalu mengesampingkan sejenak bagian hadiah uang dan membuka penjelasan mengenai kemampuan barunya.
[Si Jenius]
• Setiap perkembangan akan meningkat dengan pesat.
• Pemahaman, analisis, dan adaptasi terhadap informasi baru berlangsung secara eksponensial.
Gerard mengangguk pelan. Jadi sekarang mirip superhero ya? Hampir saja ia terkekeh, tapi tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka.
Seorang pria paruh baya dengan aura kuat masuk, diikuti dua orang lain di belakangnya. Hati Gerard langsung berdebar—siapa mereka? Apakah ada masalah? Dalam kondisinya yang masih lemah, ia tak bisa lari. Ia hanya bisa terdiam, waspada, menunggu.
Melihat kewaspadaan di wajah Gerard, Anton merasa perlu menenangkannya. “Maaf mengganggu istirahatmu,” ucapnya dengan suara rendah namun jelas, sambil mengambil langkah mundur sedikit untuk memberi jarak. “Kami di sini ingin membicarakan sesuatu—tentang apa yang telah kau lakukan beberapa hari lalu.”
Gerard menyimak dengan saksama, sesekali matanya melirik ke dua pria yang mengiringi Anton—postur mereka tinggi dan berisi, seolah siap bertindak jika diperlukan. Jika mereka berniat jahat, Gerard bisa kembali terbaring di ranjang ini tanpa perlu banyak kata. Tapi justru karena itu, ia memilih untuk tenang dan mendengarkan sampai akhir.
Anton menarik napas dalam, lalu menatap Gerard dengan pandangan yang lebih teduh. “Saya dan seluruh keluarga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” ujarnya, suaranya terdengar tulus namun berwibawa. “Kau telah menyelamatkan nyawa anak satu-satunya kami. Itu adalah tindakan yang sangat berani.”
Mendengar itu, Gerard sedikit terkejut. Jadi wanita yang kuselamatkan itu anak orang penting? pikirnya dalam hati. Tapi entah mengapa, ia tak merasa heran—mungkin karena aura Anton sendiri yang memang terasa berbeda dari orang kebanyakan. Yang ia rasakan justru kehangatan, sebuah ketulusan yang jarang ia temui.
Gerard hanya mengangguk pelan, matanya berkedip perlahan. Sikap tenangnya itu justru membuat Anton merasa lega—ia sempat mengira Gerard akan menuntut atau bersikap sinis, tapi ternyata tidak.
Setelah jeda sebentar, Anton kembali berbicara. “Kami tidak hanya datang untuk berterima kasih,” ucapnya, memperhatikan reaksi Gerard yang tetap diam. “Sebagai balas budi atas nyawa anak kami yang kau selamatkan—saya ingin menawarkan sesuatu. Apapun permintaanmu, selama berada dalam batas kemampuan saya, akan saya penuhi.”