Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Lydia terkejut saat Arion tiba-tiba saja menyerahkan kartu ATM padanya. Yang lebih mengejutkannya lagi, ternyata kartu itu pemberian ibu Arion.
"Kenapa Mamah kamu tiba-tiba memberi Kakak kartu ATM?" tanyanya bingung.
Namun, kebingungannya tidak bertahan lama, karena pikirannya kembali tertuju pada Arion yang katanya dijodohkan oleh ibunya.
"Jadi maksudnya ini uang kompensasi supaya aku mau melepaskan Arion?" batinnya, sambil memandangi kartu ATM di tangan Arion.
Ia tidak mengerti bagaimana Arion bisa begitu polos menyerahkan kartu ATM itu padanya. Arion tidak mungkin tidak tahu tentang perjodohannya sendiri, lalu apa maksudnya semua ini?
"Kamu kembalikan saja ke Mamah kamu," ujar Lydia sambil beranjak dari tempat duduknya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Arion. Ia tidak bisa berada di sana setelah Arion melakukan ini padanya.
Bisa-bisanya laki-laki itu memberi kartu ATM yang merupakan kompensasi atas perasaannya. Ia pikir selama ini mereka saling mencinta, tapi ternyata ia sedang dipermainkan.
Arion tampak kebingungan di tempatnya. Ia berniat menahan tangan Lydia, tapi yang ia tangkap hanyalah angin. Lydia terlalu cepat menghindar hingga Arion tidak sempat menahannya.
"Tunggu, Kak," ujar Arion bergegas mengejar Lydia.
Arion benar-benar bingung melihat reaksi Lydia. Ada kilatan emosi yang terlihat saat perempuan itu meninggalkannya.
Sepertinya ada kesalahpahaman di sini, dan Arion harus segera meluruskannya. Ia tidak bisa membiarkan Lydia berlama-lama salah paham terhadapnya.
***
Lydia berjalan tanpa memperdulikan Arion yang terus memanggilnya di belakang. Air matanya tampak membasahi pipinya karena pikirannya sudah mulai kemana-mana.
"Kak Aletta bilang Arion menyesal, lalu apa maksud semua ini?" batinnya, menahan sesak.
Lydia mempercayai perkataan Aletta waktu itu karena ia pikir mereka bersahabat. Namun, tampaknya hanya dirinya yang berpikir seperti itu.
Sekarang, tidak ada yang bisa ia percayai selain dirinya sendiri. Laki-laki yang sudah bersamanya bertahun-tahun, sahabatnya, bahkan Arion—semua seolah mengkhianatinya.
"Lydia."
Langkah Lydia tertahan oleh seseorang yang memanggil namanya dan menahan pergelangan tangannya begitu saja.
Tanpa menoleh, Lydia tahu siapa yang memegang tangannya itu, Marvin. Semesta seakan sengaja menunjukkan betapa menyedihkan dirinya malam ini.
Setelah diselingkuhi Marvin, kini ia dipermainkan oleh Arion, dan kedua laki-laki itu ada di tempat yang sama sekarang.
"Singkirkan tangan kamu," ucap Arion menepis tangan Marvin yang memegang tangan Lydia.
Lydia berbalik dan menatap Arion yang memberikan tatapan tajamnya pada Marvin. Ia tidak mengerti mengapa Arion bisa terlihat marah, padahal laki-laki itu hanya bersandiwara mencintainya.
"Oh, lihat siapa ini. Bukankah kamu orang yang sudah memecat Lydia dari Adhivara Grup?" tanya Marvin dengan tatapan mengejek.
Marvin tahu Arion dekat dengan Lydia, namun ia sengaja mengatakan itu agar Lydia mengingat siapa laki-laki yang belum lama ini berada di sisinya.
"Kamu tidak pantas berkomentar di sini," seru Arion.
Keduanya hampir bersitegang jika Aurora tidak datang menghampiri dan menarik tangan Marvin menjauh dari sana.
"Kamu tidak perlu ikut campur urusan Lydia. Kalian sudah berakhir," ucap Aurora mengingatkan Marvin bahwa saat ini laki-laki itu sudah menjadi miliknya.
Namun, selingkuhan akan tetap menjadi pilihan kedua. Bahkan, meskipun sekarang Aurora berstatus sebagai pacar satu-satunya Marvin.
Tanpa memperdulikan perkataan Aurora, laki-laki itu menepis tangan yang menariknya, lalu berbalik menuju Lydia. Ia tidak peduli statusnya dengan Lydia saat ini, ia tetap ingin ikut campur.
"Heh, bocah. Apa hak kamu membuat Lydia menangis?" teriak Marvin saat Arion hendak mendekati Lydia.
Arion tidak memperdulikannya. Ia sendiri tidak mengerti mengapa Lydia tiba-tiba menangis. Ia hanya menyerahkan kartu ATM pemberian ibunya kepada Lydia, tapi entah kenapa perempuan itu begitu emosional dan tampak marah.
"Kakak kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Arion sambil mengangkat tangannya, berniat menghapus air mata di wajah Lydia.
Lydia menahan tangan itu sebelum benar-benar menyentuh wajahnya. Ia tidak ingin terjebak dengan perasaan yang tidak bisa ia mengerti.
Arion bersikap seolah mencintainya, tapi di sisi lain laki-laki itu juga berniat meninggalkannya dan membiarkan ibunya menghina dengan uang.
Mungkin jika ibu Arion yang langsung memberi uang itu, Lydia akan lebih bisa menerimanya. Tapi ini Arion sendiri yang memberikannya.
"Apa yang sudah kamu lakukan, hah?" tanya Marvin, lalu tanpa aba-aba menarik kerah baju Arion dan meninju wajahnya.
Lydia terkejut dengan apa yang baru saja Marvin lakukan pada Arion. Ia menarik tangan Marvin agar menjauh dari Arion. Ia tidak membiarkan siapapun menyakiti Arion, meski hatinya tersakiti oleh laki-laki itu.
"Lepaskan Arion, Marvin. Kamu tidak berhak ikut campur," ucapnya, lalu refleks menampar wajah Marvin sebagai balasan atas apa yang laki-laki itu lakukan pada Arion.
Marvin menatap Lydia tidak percaya.
"Seharusnya kamu menampar dia. Dia kan yang sudah membuat kamu menangis?" tanyanya sambil menunjuk Arion, yang tampak sedang menghapus darah di sudut bibirnya.
"Aku bilang jangan ikut campur," ujar Lydia menekan setiap kata agar Marvin mengerti.
Ia tidak suka Marvin terlalu ikut campur dengan urusannya. Mereka sudah memutuskan untuk berjalan masing-masing, dan Marvin tidak berhak ikut campur.
"Bagaimana aku tidak ikut campur kalau itu kamu, dan kamu menangis karena dia," balas Marvin sambil menunjuk Arion, seakan tidak memperdulikan perkataan Lydia.
"Kita sudah berakhir," Lydia kembali menekankan supaya Marvin paham posisinya.
Namun, Marvin masih tidak peduli dengan itu. Yang ia pedulikan hanyalah Lydia yang menangis di hadapannya karena Arion. Meski ia tidak tahu apa yang terjadi, setidaknya ia bisa memberi Arion pelajaran.
"Kita memang sudah berakhir, tapi aku masih peduli sama kamu," balas Marvin.
"Baiklah, terserah kamu," Lydia menutup perdebatan dengan menarik tangan Arion dan pergi dari sana.
Ia bisa saja meninggalkan Arion bersama Marvin, tapi ia tidak melakukannya karena khawatir Marvin akan kembali menyakiti Arion.
Arion tersenyum penuh kemenangan saat Lydia menariknya pergi.
"Apa kamu pikir kamu akan menang hanya karena kamu masa lalu Kak Lydia?" batinnya, seolah Marvin bisa mendengarnya.
Bukan hanya tangan Marvin yang terkepal menyaksikan itu, Aurora pun mengepalkan tangannya, karena ternyata Marvin masih sangat memperdulikan Lydia.
"Sepertinya kamu harus mati agar Marvin bisa melupakan kamu," ucap Aurora dalam hati. Tatapan matanya tidak lepas dari Lydia, seolah ia serius ingin Lydia mati agar Marvin bisa menjadi miliknya seutuhnya.
***
Arion mengira Lydia menarik tangannya untuk mengajaknya pulang. Namun ternyata ia salah. Setelah mereka menjauh dari tempat Marvin berada tadi, Lydia melepaskan tangannya begitu saja.
“Pulanglah. Pakai saja mobil Kakak, Kakak akan naik taksi,” ujar Lydia yang tidak bisa Arion mengerti.
Mereka pergi ke restoran itu bersama. Bagaimana mungkin Arion pulang sendiran?
"Kenapa Kakak harus naik taksi?" tanya Arion mengungkap kebingungannya.
Ia tidak bisa memikirkan alasan yang tepat, yang membuat Lydia tiba-tiba saja berubah dan tampak seperti orang yang sedang marah padanya.
"Kakak mau menghirup udara segar," jawab Lydia asal.
Ia hanya tidak ingin satu mobil dengan laki-laki yang sengaja masuk ke dalam hidupnya hanya untuk bermain-main. Namun, ia tidak bisa terang-terangan mengatakan itu.
"Apa menurut Kakak keberadaan aku bisa membuat udara tercemar?" tanya Arion spontan.
Ia benar-benar membutuhkan penjelasan yang masuk akal yang bisa mengubah Lydia dalam sekejap. Ia tidak sanggup jika terus-terusan menghadapi Lydia yang seperti ini.