Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMANA AJA SIH ?
Sepanjang hari ini Deya mendadak menjadi pendiam, bolak balik ia mengecek ponsel hanya untuk sebuah notif pesan. Hingga beberapa saat kemudian dua orang dengan pakaian serba hitam menuju mejanya.
“Selamat siang, apa yang bisa saya bantu ?” Salamnya ramah.
“Siang mbak, ini kami mau ambil uang.” Ucap salah seorang darinya.
“Coba saya liat dulu kertas dan buku tabungannya pak.”
“Deyandra.” Seloroh seorangnya lagi.
“Iya, bagaiamana pak ?” Tanyanya pada orang yang satunya.
“Oh tidak mbak, saya hanya membaca papan nama ini. Mbak baru menikah ya ?”
“Oh iya pak.”
“Waah selamat ya mbak, menantunya pak Handoko kan ya. Suami dari Samuelirico.” Ucapnya lagi, seperti sangat mengenal dengan keluarga Rico.
“Bapak kenal suami saya ?” Deya bertanya di sela pekerjaannya.
“Siapa yang tidak mengenal keluarga itu, keluarga yang dulunya terseok-seok malah sekarang menjadi begitu sukses. Mbak Deya mau menikah dengannya salah satunya karena hartanya kan.” Tebaknya lagi yang seperti tidak tahu tempat, hingga beberapa mata memandang ke arah Deya yang memperlihatkan wajah tersinggung.
“Ini uangnya pak dan ini buku serta bukti terima. Silahkan di cek kembali buku dan uangnya.” Deya berusaha terlihat tetap tenang dengan tak menggubris salah satu dari mereka.
“Mbak, saya ini ngomong sama kamu. Jawab.” Teriaknya karena tak di gubris oleh Deya.
Setelah mendengar keributan, sontak satpam menghampiri meja Deya dan bertanya tentang kekacauan yang terjadi.
“Maaf bapak, mengenai urusan pribadi dan keluarga. Saya berhak untuk tidak menyampaikan kepada sembarang orang.” Jelas Deya tenang.
“Anda berdua sudah selesai ?” Tanya Satpam. “Jika sudah, mari pak saya antarkan keluar.” Lanjutnya kembali.
“Awas kamu mbak, kamu akan liat nanti.” Orang yang membentak Deya mengancam.
Sekeluarnya kedua orang itu, seketika badan Deya luruh di atas kursi kerja. Semburat wajah lega sekaligus cemas memenuhi wajah ayunya. Selfi yang berada di sampingnya berusaha menenangkan.
“Itu siapa sih De ?”
“Nggak tau Sel, tiba-tiba ngomong gitu.” Ucap Deya terpatah-patah.
“Nanti pulang kami antar kamu bareng-bareng ya De. Aku takut kamu kenapa-kenapa.” Tawar Selfi yang khawatir akan keadaan rekannya.
“Nanti liat Sel, aku juga nggak mau ngerepotin kalian.” Tolak Deya dengan halus.
Sebelum melanjutkan pekerjaannya, Deya menenangkan diri sejenak. Tanpa sadar setetes cairan bening lolos dari matanya. “Aku butuh kamu.” Batinnya sedang membayangkan seseorang yang kini sedang beradu dengan api dan panas juga tekanan yang semakin tak tertahankan.
***
Seperti yang di ucapkan Selfi siang tadi, sore ini mereka beramai-ramai mengantarkan Deya. Moment itu di manfaatkan oleh Deya untuk mengajak rekan-rekan kerjanya makan malam di rumah barunya dan Rico.
Sebelum acara itu berlangsung ia telah lebih dulu meminta ijin pada Rico. Namun sayang, pesannya tak kunjung terkirim apalagi terbaca.
“Dee, ini rumah kalian ?” Tanya salah satu dari mereka yang mengagumi rumah yang baru beberapa hari ini Deya tempati.
“Hmm bukan rumahku sih. Tapi rumah Rico.”
“Iya tapi kan kalian tinggal berdua disini De.” Celetuk yang lainnya.
“Iya, tapi ini atas nama Rico.” Elak Deya sambil menyiapkan beberapa kudapan untuk rekan-rekannya.
“Terus kamu berdua doang di rumah sebesar ini De ? Apalagi sekarang kan suami mu keluar kota.” Timpal yang lainnya kembali.
“Nggak kok, nanti malam ada bi Tum adeknya bi Darmi yang kerja sama keluargnya Rico.” Jelas Deya kembali dan menyodorkan beberapa makanan. “Ini kan beberapa dibuat sama beliau, tadi pergi ke rumah mertua untuk antar makanan. Sekalian ke rumah juga.” Tambahnya kembali.
Beberapa di antaranya mengangguk paham dan beberapa lagi sibuk menikmati makanannya sembari mengagumi interior yang di desain sendiri oleh Rico.
“Kayaknya suami mu desain interior deh De. Gokil ini bagus banget sih.” Ucap Hendy di sela kunyahannya.
Deya hanya mengangkat bahu sebagai jawabannya. Ia tak berani menjawab karena memang dia tak pernah bertanya tentang pekerjaan Rico bahkan setelah mereka menikah.
***
Malam kini kembali dengan membawa gemintang yang menyinari langit. Bulan terlihat separuh. Namun cahayanya begitu terang menggantung seperti lampu yang disediakan alam. Di dalam rumah yang bergaya modern klasik itu, Deya sibuk merapikan kembali peralatan-peralatan yang digunakannya tadi.
Bi Tum yang baru saja kembali juga terlihat sibuk mencuci beberapa piring yang ditemani dengan musik dangdut kesukaannya.
“Bi Tum, tadi ketemu ibu nggak pas ke rumah ?” Tanya Deya yang sibuk mengelap meja.
“Iya mbak, oh iya Ibu Kia sama Nyonya Ani titip salam buat mbak. Katanya maaf belum bisa menemani mbak saat den Rico ke luar kota, soalnya masih sibuk. Kok bisa sama gitu ya mbak ucapan ibu sama mertuanya mbak.”
‘Iya ya bi, janjian mungkin. Hehehe.” Timpal Deya asal.
“Mbak De, mbak sayang kan sama den Rico ?” Tanya Bi Tum mendekati Deya.
“Bi Tum kenapa ngomong gitu ?” Deya bertanya dan menghentikan kerjaannya.
“Den Rico, ngorbanin cita-citanya dan masa kecilnya untuk keluarga mbak. Mbak tau nggak, kalau den Rico pergi keluar kota gini, kita nggak tau kapan baliknya mbak.” Jelas bi Tum dan mengusap lembut punggung tangan Deya.
“Iya bi saya tau.”
“Bibi tau, mungkin mbak De belum mencintai den Rico. Tapi temani dia ya mbak, dia hanya mencintai mbak di tengah banyaknya perempuan yang ingin datang padanya.” Ucap bi Tum kembali.
Deya hanya tersenyum dan memegang tangan bi Tum, “Doakan rumah tangga kami ya bi.”
Anggukan kepala dengan tulus bi Tum tunjukkan.
***
Deya merapikan sajadah yang dijadikan alas sujudnya, ia bersiap-siap untuk mengistirahatkan tubuhnya. Namun, sebelumnya ia merogoh isi tas kerja dan melihat layar benda pipih itu menampilkan beberapa pesan singkat juga beberapa panggilan tak terjawab.
Dengan segera Deya membaca pesan singkat itu, dan mengirim stiker yang berderai air mata. Tak sampai satu menit setelah pesan itu terkirim, sebuah panggilan video memenuhi layar ponselnya.
Ia menekan lingkaran berwarna hijau itu dan seketika panggilan itu terhubung.
“Kemana mana aja sih ? seharian nggak ada kabar.” Tanya Deya tanpa basa basi.
Sedangkan sosok laki-laki yang ada di seberang telepon hanya tersenyum singkat dan mengamati wajah manis Deya tanpa polesan make up.
“Malah ketawa.”
“Maaf sayang, baru sempat ngabarin. Baru selesai kerjaannya gimana dong.” Jawabnya setengah berbohong. “Teman-temannya sudah pulang ?” Tanya Rico kembali.
Deya hanya mengangguk, perempuan itu diam dan menangis dalam diam.
Panik Rico melihat sang istri menangis tiba-tiba. “Heey, kenapa ? Ada yang nyakitin kamu ? Atau lagi sakit perut karena siklus.” Tanyanya dengan air muka yang khawatir. “Ah nggak mungkin siklus, kan lagi pake mukenah.” Ucapnya kembali pada diri sendiri.
“Tadi di kant or.” Suaranya terputus karena isakan.
“Dikantor kenapa, kamu di bercandain sama mereka. Atau di bully atau disakitin ?” Tanya Rico yang mulai tak sabaran.
Deya menggeleng dan berusaha untuk menenangkan diri, kemudian dia mulai menceritakan apa yang terjadi padanya.
Rico memicingkan matanya dan mengingat-ingat, apakah dia pernah berselisih paham dengan orang hingga harus melibatkan Deya sang istri.
“Sekarang tenang ya sayang, aku nggak kenapa-kenapa kok disini. Besok aku akan minta seseorang buat awasin kamu dari jauh. Nanti aku kirimkan fotonya. Udah yah kamu jangan khawatir, jangan nangis lagi ya.” Rayu Rico lembut dan berusaha menenangkan sang istri.
Deya hanya mengangguk paham dan memilih merebahkan dirinya di tempat tidur.
Rico yang melihat Deya begitu kelelahan, membuat laki-laki itu berpikir jahat. Ia ingin sang istri untuk berhenti bekerja dan menjadi IRT serta mengurusi toko fotocopyan nya saja. Namun itu pasti tak akan di setujui oleh Deya, karena baginya kantor itu bukan hanya tempat bekerja melainkan tempat bertemu teman-teman yang sefrekuensi dengannya.