Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 21 - Banyak Mata
Alexa menarik nafas panjang - panjang keluar dari restoran selepas mengikuti interview kerja. Karena tak bisa hanya menunggu kabar dari satu tempat saja, Alexa banyak melamar pekerjaan di tempat lain.
Tabungannya sudah benar - benar menipis karena sudah menganggur selama beberapa hari. Dan kondisi itu membuatnya khawatir bagaimana me depannya nanti.
"Alexa," panggil seseorang.
Alexa yang merasa terpanggil menoleh. Seorang laki - laki mendekat padanya—itu bukan Steven, tapi penampilannya cukup mirip dengan yang biasa Steven gunakan.
"Bisa bicara sebentar?" tanyanya membuka tudung hoodie-nya.
Alih - alih menjawab, Alexa justru tertegun tak berkutik ketika melihat Abi berdiri di hadapannya. Kepalanya mendongak terus menatap mata Abi yang jauh lebih tinggi darinya.
Sejujurnya, Alexa takut Abi datang untuk menghinanya lagi meski semua hinaannya itu adalah fakta yang sebenarnya.
"Hey!" Abi mengibaskan tangannya di depan wajah Alexa yang lamunannya seketika buyar.
"I - iya." Alexa sontak melangkah mundur, menciptakan jarak.
Abi kembali memakai tudungnya ketika menyadari ada beberapa orang yang lalu lalang di antara mereka.
"Punya waktu? gue mau bicara." Abi kini sedikit berbisik.
"Aku... aku sebenarnya ada interview di—"
"Kalau 'gitu, gue anter. Gue tungguin sampai selesai," sela Abi tak menyerah.
Seketika Alexa menjadi canggung. Dia tidak bisa membuat seseorang menunggunya. Tapi tubuhnya benar - benar ingin lari dari Abi karena takut Abi meledeknya di hadapan banyak orang.
Alexa tak punya cukup yang untuk kabur ke tempat yang tak seorang pun tahu tentang kisah kelam di kehidupannya.
"Silakan kalau mau bicara," pupus Alexa mengalah.
"Nggak. Kalau lo sibuk, gue nggak masalah kok nunggu."
"Itu masih satu jam lagi."
Abi mengangguk kecil. "Oke. Mau bicara sambil jalan ke tempat interview lo?" tawarnya tak mau membuat Alexa terlambat.
Alexa langsung menggeleng cepat. Berhadapan dengan Abi saja sudah membuatnya tremor—apalagi kalau benar - benar cuman berduadi ruang tertutup seperti mobil.
"Di sini saja," tolak Alexa.
"Tapi nggak akan nyaman."
Pandangan Alexa mencari - cari tempat yang cukup jauh dari keramaian.
"Kita masuk ke restoran aja. Gue yang traktir." Abi menunjuk ke restoran di mana Alexa baru saja keluar dari sana.
"Ya. Tidak perlu mentraktirku. Aku akan membayar sendiri." Alexa mengikuti Abi masuk ke restoran itu.
Abi kemudian duduk di salah satu bangku, diikuti Alexa yang duduk dengan menggeser kursi ke samping agar tidak terlalu berhadapan dengan Abi yang menyeramkan itu.
Beberapa menit pertama, Abi hanya membaca buku menu sementara Alexa celingukan tak tahu bagaimana cara menghilangkan rasa canggung yang menerpanya.
Sampai seorang pelayanan datang ke meja mereka.
"Aku mau pasta dan salad buah, Kak." Abi memesan, "lo mau apa?" tanyanya pada Alexa sambil memberikan buku menu itu.
Tak mau membuat orang menunggu lama, Alexa hanya memilih satu dessert untuk mempercepat waktu dan bisa cepat pergi dafi hadapan Abi.
"Cuman pesan itu?" tanya Abi memastikan.
Alexa mengangguk kecil. Tak ada rasa lapar sana sekali di panik. Alexa mulai memainkan kukunya di bawah meja agar bisa menahan kepanikannya. Kakinya juga tak bisa tenang.
"Lo udah tahu soal Steven yang mau keluar dari NOVA?" Kini Abi membuka pembicaraan soal Steven.
Aktivitas seluruh tubuh Alexa seketika terhenti. Dia memandang Abi cukup lama tak mengerti kenapa Abi menanyainya soal itu. Alexa juga sempat syok mendengar kabar yang Abi bawa.
Sadar kalau dia mungkin sedang dituduh terlibat atas pernyataan Steven yang keluar dari NOVA, di langsung menggeleng cepat.
"Aku tidak tahu apa pun soal itu," aku Alexa.
"Jangan bohong! Steven keluar gara gara lo!"
"M - mungkin itu benar. Tapi aku nggak pernah tahu soal Steven yang mau keluar dari NOVA." Alexa sempat terkejut ketika Abi membentaknya.
Abi menarik nafas dalam merasa muak dengan semuanya.
NOVA jelas terdiri dari lima anggota, dan Alexa sadar kalau Abi adalah satu - satunya yang terlihat sangat ingin mempertahankan grub band - nya sampai rela menemui Alexa secara langsung, yang dia pikir satu - satunya penyebab Steven ingin keluar dari NOVA.
Beberapa saat mereka dalam keheningan sampai makanan pesanan mereka datang—namun keduanya tak menyentuh sedikit pun makanan mereka.
"Gue udah berjuang mati - matian untuk band gue." Setelah cukup lama hening, Abi akhirnya kembali berbicara. "Tolong, jangan rusak semuanya," lirihnya.
Alexa menggeleng pelan. "Aku tidak berniat merusak apa pun," katanya—merasa bersalah.
"Kalau gitu, hidup jauh - jauh dari sini."
"Tapi tempat tinggalku di sekitar sini."
Tiba - tiba Abi memberikan kartu kredit miliknya sekaligus kertas kecil yang bertuliskan pin transaksi di sana.
"Pergilah sejauh mungkin dari sini. Biaya hidup lo, gue tanggung," ucap Abi.
Melihat kartu itu, Alexa mendorongnya mengembalikannya pada Abi. Dia tidak mau berhutang budi atau apa pun. Terlalu menakutkan jika suatu hari nanti Alexa bergantung pada kartu itu, dan jika tiba - tiba Abi datang untuk menagih semuanya.
"Tubuhku masih sehat untuk mencari uang," tolaknya—merasa sedikit tersinggung.
"Gue niat bantu."
"Tidak perlu. Aku tidak akan terlibat lagi dengan siapa pun. Jangan khawatir."
Abi menyeringai kecil, mendorong kartu itu ke hadapan Alexa lagi sambil berkata, "nggak usah sombong dan sok jual mahal." Dia bangkit.
Alexa membuka mulutnya hendak.mengembalikan kartu itu lagi, tapi Abi langsung beranjak pergi merapatkan tudung dan juga maskernya meninggalkan Alexa yang masih berhadapan dengan makanan yang belum disentuhnya itu.
Dengan gugup Alexa beranjak untuk mengejar. Tapi kemudian dia ingat kalau makanan yang dipesannya belum dibayar—dia berbalik menuju kasir.
"Boleh minta bill-nya, Kak? Untuk meja nomor 12," ucap Alexa menoleh ke arah mejanya memastikan nomor meja yang dia duduki tadi.
"Oh, bill sudah dibayar, Kak, melalui QRIS yang ada di buku menu," ucap Sang Kasir.
Kedua mata Alexa membulat sama dengan bibirnya membentuk huruf O. Dia baru tahu kalau restoran itu memiliki sistem yang cukup canggih untuk memudahkan costumer.
"Kalau begitu, terima kasih, Kak," ungkap Alexa sambil berlari pergi mengejar Abi.
Dia celingukan di luar mencari - cari keberadaan Abi yang mungkin masih di sana. Tapi, Abi sudah tak terlihat.
Memutuskan untuk pergi ke gedung Agensi di mana dia pernah berbicara dengan Abi, jalan Alexa justru dihadang oleh seorang pria bertubuh besar. Alexa pikir, mereka hanya berpapasan sehingga dia bergeser memberikan jalan pada pria itu.
Namun pria itu terus mengikutinya menutup celah yang bisa Alexa lewati—Alexa mendongak memberanikan diri melihat wajah orang itu.
"Selamat siang," sapa pria itu ramah.
Alexa mundur tiga langkah dengan wajah panik melihat pria yang sama yang datang bersama dengan Ibu Steven waktu itu.
"Jangan takut. Aku Daffa, manajer Steven." Pria itu mengerti wajah ketakutan Alexa sehingga memperkenalkan dirinya.
Entah kenapa, perasaan Alexa menjadi tidak enak. Memang wajar Daffa yang bertubuh besar itu tidak menakutkan. Tapi Alexa merasa kalau pria itu membawa hal buruk bersamanya untuk diberikan pada Alexa.
Sesaat, justru bayangan - bayangan traumanya melintas lagi di pikirannya membuat bahunya seperti menciut. Dia benci karena banyak mata kini menatapnya dengan berbagai arti. [ ]
(Kemaren banyak bet typo - nya karna ngetik setengah sadar gara2 ngantuk haha...)