NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 32 Mulut Orang Lebih Tajam dari Pisau

Gang kecil itu belum benar-benar bubar.

Orang-orang yang tadi keluar rumah masih berdiri di tempatnya masing-masing.

Ada yang pura-pura menyapu.

Ada yang memegang ember kosong.

Tapi sebenarnya semua hanya satu tujuan:

ingin mendengar kelanjutannya.

Bu Rukmini yang tadi paling berisik sekarang berdiri dengan dahi berkerut.

Matanya menatap wanita yang baru datang itu.

“Nara… siapa tadi namanya?”

Nara tidak menjawab.

Ia hanya berdiri tenang di depan Bagas.

Sikapnya rapi.

Berbeda jauh dengan suasana gang yang sempit dan penuh bisik-bisik.

Namun justru itu membuat Bu Rukmini semakin tidak nyaman.

Ia mendecakkan lidah.

“Lho ini orang ditanya malah diam saja.”

Ia menoleh ke Pipit.

“Pipit, ini teman kamu?”

Pipit menggeleng pelan.

“Tidak Bu.”

Bu Rukmini langsung tertawa kecil.

“Tidak kenal? Tapi datang cari suami kamu? Aduh Pipit… Pipit… kamu ini ya. Hidup sudah susah begini masih saja dikelilingi urusan yang aneh-aneh.”

Ia menatap Nara dari ujung kepala sampai kaki.

“Mbak… saya tidak tahu Anda ini siapa. Tapi kalau datang ke sini cuma mau bikin orang tambah bingung, ya jangan begitu caranya.”

Tetangga lain mulai mendekat.

Bu Sari ikut bicara.

“Iya juga. Dari tadi kami dengar katanya mau menghancurkan hidup segala. Ini gang kecil, Mbak. Bukan tempat orang bicara besar-besar begitu.”

Beberapa orang mengangguk.

Suasana kembali riuh.

Namun Nara tetap tenang.

Ia memandang Bagas.

“Pak Bagas, saya sebenarnya ingin bicara di tempat yang lebih… tenang.”

Belum sempat Bagas menjawab—

Bu Rukmini sudah menyela lagi.

“Tenang bagaimana? Dari tadi kami juga tenang kok sebelum Mbak datang membawa kata-kata besar begitu.”

Ia melipat tangan.

“Lagipula, kalau memang ada urusan dengan suami Pipit, ya bicara saja di sini. Kami ini tetangga. Tidak mungkin kami pura-pura tidak dengar.”

Kalimat itu langsung disambut beberapa orang.

“Betul juga.”

“Iya, kalau rahasia begitu kenapa datang ke gang kecil.”

Bu Rukmini semakin percaya diri.

Ia menghela napas panjang, lalu menatap Pipit lagi.

“Pipit, kamu ini ya… dari pertama datang sudah bikin orang penasaran. Suami kamu mukanya murung terus, kerja tidak jelas, sekarang tiba-tiba ada perempuan datang cari dia sambil bilang hidupnya mau dihancurkan.”

Ia menggeleng pelan.

“Kalau aku jadi kamu ya, Pipit… aku sudah duduk dari tadi minta penjelasan.”

Pipit menggigit bibirnya pelan.

Bagas akhirnya membuka suara.

“Bu, ini urusan saya.”

Namun kalimat itu malah membuat Bu Rukmini semakin panjang bicaranya.

“Lho ya memang urusan kamu, Gas. Tapi kalau urusan kamu itu sampai dibawa ke depan rumah orang, didengar satu gang, ya jangan harap orang tidak ikut bertanya.”

Ia mendekat satu langkah.

“Dari kemarin aku sudah bilang sama Pipit… laki-laki kalau hidupnya jatuh biasanya bukan cuma jatuh sekali. Ada saja masalah yang mengikuti.”

Ia menunjuk Nara dengan dagunya.

“Nah sekarang buktinya.”

Bu Sari ikut menyahut lagi.

“Benar juga sih. Kadang orang yang kelihatannya dulu hebat begitu kalau jatuh malah lebih repot dari orang biasa.”

Bu Rukmini langsung mengangguk.

“Nah itu dia!”

Ia kembali menatap Bagas.

“Gas… kamu jangan tersinggung ya. Tapi aku ini cuma bicara apa adanya. Dari kemarin aku lihat kamu duduk di rumah itu saja. Pagi minum kopi, siang keluar sebentar, sore balik lagi.”

Ia mengangkat bahu.

“Kalau laki-laki hidupnya seperti itu, wajar kalau orang mulai bertanya-tanya.”

Bagas tetap diam.

Namun omelan itu belum berhenti.

Bu Rukmini malah mulai mengingat-ingat sesuatu.

“Eh Pipit… aku baru ingat.”

Ia menepuk tangannya sendiri.

“Kamu itu waktu pertama datang ke sini bilang cuma mau tinggal sebentar kan?”

Pipit menatapnya pelan.

“Iya Bu.”

“Sebentar itu maksudnya berapa lama?”

Pipit tidak menjawab.

Bu Rukmini langsung melanjutkan sendiri.

“Dulu aku juga pernah dengar orang bicara begitu. Katanya cuma numpang sebentar, nanti kalau keadaan sudah baik pindah lagi. Tapi kenyataannya? Bertahun-tahun tidak pindah juga.”

Ia menatap Pipit dengan mata menyipit.

“Jangan sampai begitu ya Pipit. Gang ini kecil. Orang hidup di sini dari hasil kerja keras. Kalau ada yang datang cuma bawa masalah, lama-lama semua ikut pusing.”

Tetangga lain mulai berbisik.

Suasana semakin tidak enak.

Pipit tetap berdiri di depan pintu.

Tangannya menggenggam ujung bajunya.

Namun Bu Rukmini masih belum puas.

Ia malah mulai mengungkit lagi.

“Dan satu lagi ya Pipit… jangan marah kalau aku ingatkan. Dari dulu aku ini orangnya tidak suka melihat perempuan yang terlalu diam kalau hidupnya dipermainkan.”

Ia menunjuk Bagas lagi.

“Suami kamu itu dulu katanya orang besar. Banyak uang. Banyak proyek.”

Ia mendengus.

“Sekarang lihat saja. Hidup di kontrakan kecil, didatangi orang yang bicara soal kehancuran.”

Ia menghela napas panjang.

“Kalau dulu kamu hidup enak karena dia, ya sekarang kamu juga harus berani bertanya kenapa semua itu hilang.”

Pipit akhirnya berkata pelan.

“Bu… cukup.”

Namun kalimat itu malah membuat Bu Rukmini tersenyum tipis.

“Cukup bagaimana? Aku ini belum selesai bicara.”

Ia kembali memutar tubuhnya ke arah tetangga lain.

“Kalian ini jangan kira aku senang ngomong begitu. Tapi hidup itu harus jelas. Kalau orang datang ke lingkungan kita membawa masalah, ya kita juga harus tahu.”

Ia menatap Pipit lagi.

“Apalagi kalau masa lalu orang itu tidak benar-benar jelas.”

Kalimat itu membuat suasana makin dingin.

Nara yang sejak tadi diam akhirnya berkata.

“Cukup.”

Suara itu tidak keras.

Tapi entah kenapa semua orang langsung menoleh.

Nara memandang Bu Rukmini.

“Bu… saya paham Ibu hanya ingin tahu.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi apa yang saya bicarakan tadi bukan gosip.”

Ia menatap Bagas lagi.

“Armand tidak akan berhenti.”

Nama itu membuat Bagas mengerutkan dahi.

Nara melanjutkan.

“Dia sudah mengambil semuanya dari Anda.”

Ia menarik napas.

“Sekarang dia ingin memastikan Anda tidak pernah bisa bangkit lagi.”

Gang kecil itu kembali sunyi.

Bu Rukmini yang tadi paling berani bicara sekarang hanya mengerutkan dahi.

“Armand siapa lagi ini?”

Nara tidak menjawabnya.

Ia menatap Bagas dengan serius.

“Pak Bagas… kalau Anda tetap tinggal di sini tanpa melakukan apa-apa, orang itu akan datang.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan saat dia datang… yang diserang bukan cuma Anda.”

Matanya beralih ke Pipit.

“Tapi juga istri Anda.”

Pipit terdiam.

Bagas menggenggam tangannya pelan.

Sementara di belakang mereka—

bisik-bisik tetangga mulai muncul lagi.

Namun kali ini nadanya berbeda.

Lebih pelan.

Lebih khawatir.

Karena untuk pertama kalinya mereka sadar—

masalah Bagas mungkin memang lebih besar dari sekadar laki-laki yang kehilangan uang.

Dan di sudut gang sempit itu…

sebuah mobil hitam lain berhenti tanpa suara.

Seseorang di dalam mobil sedang memperhatikan semuanya.

Tanpa ada yang menyadari.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!