akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 – Dua Jalan yang Berbeda
Kota berubah menjadi lautan manusia yang bergerak tanpa arah.
Bus-bus militer berbaris panjang di jalan utama. Truk pengangkut logistik mondar-mandir membawa persediaan. Warga sipil digiring menuju zona aman yang dibangun tergesa-gesa di pinggiran kota.
Di layar besar yang dipasang di beberapa sudut jalan, pengumuman darurat terus diputar.
“SELURUH WARGA DIMOHON SEGERA MENGUNGSI KE TITIK EVAKUASI TERDEKAT.
PEMERINTAH AKAN MEMBERIKAN PERLINDUNGAN.”
Rey berdiri di depan rumahnya yang kini setengah rusak, memeluk Sila yang masih terlihat pucat.
“Kita ikut evakuasi dulu,” kata Rey pelan.
“Untuk sementara.”
Sila mengangguk.
“Aku ikut kakak.”
Leoni berdiri di samping mereka, membawa tas kecil berisi perlengkapan.
“Kalau nggak ikut, kita malah dicurigai,” katanya.
“Pemerintah pasti mau mengawasi semua superhuman.”
Rey tahu itu benar.
Dalam hidup sebelumnya, superhuman yang menolak bekerja sama akan dicap berbahaya.
Mereka naik ke salah satu bus bersama puluhan warga lain.
Di dalam bus, suasana hening. Tidak ada obrolan. Hanya suara mesin dan isak tangis pelan.
Sila menatap tangannya sendiri.
“Ini… listriknya masih terasa,” katanya lirih.
Rey menepuk bahunya.
“Itu kekuatanmu. Kamu harus belajar mengendalikannya.”
Bus berhenti di sebuah kompleks besar yang dulunya adalah pusat pelatihan militer.
Spanduk besar terbentang di gerbangnya:
PUSAT EVAKUASI DAN PELATIHAN KHUSUS
Di dalam, tenda-tenda darurat berdiri rapi. Beberapa gedung lama diubah menjadi barak.
Dan di lapangan tengah…
puluhan superhuman berdiri dalam barisan.
Seorang pria berseragam dengan lambang khusus berdiri di depan mereka.
“Mulai hari ini,” katanya lantang,
“semua individu yang telah membangkitkan kemampuan akan berada di bawah perlindungan dan pengawasan pemerintah.”
“Tujuan kami satu:
melindungi umat manusia dari ancaman monster.”
Mata para superhuman berbinar—antara bangga dan takut.
Leoni berbisik ke Rey,
“Rasanya kayak masuk akademi militer.”
Rey tidak menjawab.
Ia hanya memperhatikan kamera-kamera pengawas di setiap sudut.
Tempat ini bukan hanya kamp…
tapi juga penjara tanpa jeruji.
Pelatihan dimulai keesokan harinya.
Boy sudah mengenakan seragam latihan hitam, berdiri di barisan depan.
“Api siap!” teriak instruktur.
Boy mengangkat tangannya.
NYAAAR!
Api menyala lebih besar dari sebelumnya, membentuk lidah api sepanjang lengan.
“Bagus!” teriak instruktur.
“Daya serang meningkat!”
Boy tersenyum puas.
“Kalau aku kuat, aku bisa bantu Rey dan yang lain…”
Ia sama sekali tidak tahu bahwa Rey sedang berlatih di tempat yang berbeda.
Di dalam kamar barak, Rey menutup pintu rapat-rapat.
“Sila, Leoni… ikut aku.”
Mereka bertiga berdiri di sudut ruangan.
Rey mengangkat tangannya.
Layar transparan muncul, lalu berubah menjadi pintu bercahaya.
Leoni membelalakkan mata.
“Ini… ruang dimensimu?”
Sila terpana.
“Kayak dunia lain…”
Mereka melangkah masuk.
Sekejap kemudian, mereka berdiri di padang rumput luas dengan sungai mengalir tenang.
Udara segar menyambut mereka.
“Di sini kita bisa latihan tanpa diawasi,” kata Rey.
“Dan tanpa takut melukai siapa pun.”
Leoni menghela napas lega.
“Jauh lebih enak daripada lapangan beton.”
Latihan pertama: mengendalikan kekuatan.
Sila berdiri di tepi sungai.
“Kak… aku takut nyetrum kamu.”
Rey tersenyum.
“Ada tamengku.”
Ia membentuk tameng kecil di depan tubuhnya.
“Coba keluarkan listrik sedikit saja.”
Sila mengangkat tangan ragu-ragu.
BRZZT…
Percikan listrik kecil keluar dan menghantam tameng Rey.
Tidak sakit.
Tidak meledak.
Sila tersenyum lega.
“Aku bisa…”
Leoni mengaktifkan sniper otomatisnya.
“Kalau aku?”
“Tembak bukit itu,” kata Rey.
Leoni membidik sebuah batu besar di kejauhan.
DUAARR!
“Tenaganya naik,” gumam Leoni.
“Di dunia nyata aku nggak bisa lepas tembakan sebesar ini.”
Rey mengangguk.
“Di ruang dimensi ini, tubuh kita terasa lebih ringan.
Lebih cepat berkembang.”
Ia menatap mereka berdua.
“Kalian akan jadi lebih kuat dari versi masa depan yang pernah aku lihat.”
Hari demi hari berlalu.
Di kamp pemerintah, Boy terus berlatih.
Api di tangannya kini bisa membentuk bola besar.
“Target berikutnya!” teriak instruktur.
Boy melempar bola api.
BOOM!
Target besi meleleh.
“Hebat!” seru teman-teman barunya.
Boy tertawa.
“Kalau Rey lihat ini, pasti kaget.”
Namun diam-diam…
Boy mulai merasa ada jarak.
Rey dan Leoni sering menghilang dari barak di malam hari.
“Ke mana mereka?” gumamnya.
Di ruang dimensi, Sila mulai bisa membentuk petir kecil yang menyambar tepat sasaran.
Leoni bisa menembak sambil bergerak cepat.
Dan Rey…
tamengnya kini bisa membungkus mereka bertiga sekaligus.
“Kak,” kata Sila,
“kalau pemerintah tahu tempat ini…”
“Mereka akan mengambilnya,” jawab Rey tegas.
“Karena itu, ini rahasia.”
Leoni mengangguk.
“Termasuk dari Boy?”
Rey terdiam sejenak.
“Iya. Untuk sekarang.”
Suatu malam, layar besar di kamp menyala.
PENGUMUMAN:
REGU SUPERHUMAN PERTAMA AKAN DIBENTUK BESOK PAGI.
Sorak kecil terdengar.
Boy mengepalkan tangan.
“Kalau aku masuk regu itu…”
Ia menatap langit malam.
“Aku bisa melindungi lebih banyak orang.”
Di sisi lain kamp, Rey berdiri di luar barak bersama Sila dan Leoni.
Ia menatap bangunan-bangunan militer itu.
“Mereka mulai membentuk pasukan…”
Leoni menyipitkan mata.
“Dan kita akan dipanggil cepat atau lambat.”
Sila menggenggam baju kakaknya.
“Kak… aku takut perang.”
Rey mengusap rambut adiknya.
“Aku juga, tapi kita juga akan semakin kuat.”
Namun dalam hatinya, Rey tahu:
Jika pemerintah mulai menggerakkan superhuman sebagai tentara…
maka dunia akan memasuki fase baru.
Fase di mana manusia tidak lagi hanya bertahan…
tetapi saling memburu.
Dan di antara dua dunia itu,
Rey harus bisa:
menjadi senjata…
ataupun menjadi pelindung.