Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 KEMBALI KE KAMPUS.
Pagi itu rumah besar Revan kembali terasa hidup setelah semalam dipenuhi keheningan yang canggung. Sinar matahari menembus jendela-jendela tinggi, memantul di lantai marmer, menciptakan kilau lembut yang membuat suasana tampak hangat sesuatu yang jarang Khay rasakan di rumah semegah ini.
Usai sarapan, Revan berdiri dari kursinya dan menatap Khay yang masih duduk sambil mengaduk teh hangatnya perlahan. Tatapan itu tenang, namun penuh makna.
“Siap-siap ke kampus,” ucap Revan datar, tapi nada suaranya terdengar berbeda dari biasanya. Lebih lembut. “Pagi ini aku yang antar.”
Sendok di tangan Khay berhenti bergerak. Ia mengangkat wajahnya pelan. “Mas yang antar?” ulangnya, sedikit tak percaya.
Revan mengangguk singkat. “Iya. Sekalian aku berangkat kerja.”
Khay mengiyakan dengan senyum kecil, lalu bangkit. Ada perasaan aneh yang menggelitik dadanya antara gugup dan senang. Ia melangkah kembali ke kamar tamu untuk bersiap. Namun belum sampai pintu, suara langkah Revan terdengar dari belakang.
“Pakai yang nyaman saja,” kata Revan. “Tidak perlu terlalu ribet.”
Khay tersenyum kecil. “Iya, Mas.”
Tak butuh waktu lama bagi Khay untuk bersiap. Ia memilih kemeja putih sederhana dan jins panjang. Rambutnya diikat setengah, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajah. Ia menatap bayangannya di cermin, menarik napas panjang. Ini cuma diantar ke kampus, batinnya, mencoba menenangkan diri.
Saat ia keluar kamar, langkahnya mendadak terhenti.
Revan berdiri di ruang tengah.
Untuk pertama kalinya Khay melihat Revan dalam balutan jas kerja yang benar-benar rapi. Setelan hitam pas di tubuhnya yang tinggi tegap, kemeja putih bersih, dasi terpasang rapi. Rambutnya tertata klimis, membuat wajahnya terlihat semakin tegas dan dewasa.
“Mas…” Khay memanggil tanpa sadar.
Revan menoleh. “Iya?”
Khay tidak berkedip. Ada rasa kagum yang sulit disembunyikan. Tampan, mapan, dan Khay menelan ludah. Tajir. Pikirannya langsung menertawakan dirinya sendiri.
“Gak apa-apa,” jawab Khay canggung, buru-buru mengalihkan pandangan.
Revan menyadari perubahan itu. Ia melangkah mendekat, jarak di antara mereka menyempit. Dengan gerakan lembut, Revan mendekap pipi Khay, ibu jarinya mengusap pelan.
“Jika ada yang ingin kamu katakan,” bisiknya, napasnya hangat menyentuh telinga Khay, “katakan saja.”
Bulu kuduk Khay seketika berdiri. Jantungnya berdegup tak beraturan, seakan ingin meloncat keluar. Ia menatap mata Revan yang teduh namun tajam, lalu
buru-buru menunduk.
“A-aku… tidak,” ucapnya pelan.
Revan tersenyum tipis. Ia menjauh, lalu meraih dompet dari meja. “Ini,” katanya sambil mengulurkan sebuah kartu.
Khay mengerutkan kening. “Apa ini?”
“Kartu,” jawab Revan singkat. “Kamu bisa gunakan untuk memenuhi kebutuhan kamu. Tiap bulan akan aku isi.”
Mata Khay membesar. Ia mengenali kartu itu. Bukan kartu biasa. Kartu langka, pikirnya. Tangannya sedikit gemetar saat menerima.
“Mas…” Khay menelan ludah. “Ini terlalu_”
Revan menoel hidung Khay pelan, membuat gadis itu refleks mundur setengah langkah. “Belilah apa pun yang kamu mau dengan kartu itu.”
Khay terdiam sejenak. Ada rasa sungkan, tapi juga kehangatan yang menyusup pelan. Ia mengangguk kecil, lalu tersenyum tulus. “Baiklah. Karena Mas sendiri yang bilang aku bisa menggunakannya, aku akan gunakan sebaik mungkin.”
Revan mengangguk puas. “Itu yang aku mau.”
Mobil hitam Revan melaju meninggalkan halaman rumah. Khay duduk di kursi penumpang, tangannya menggenggam tas dengan gugup. Ini kali pertama ia pergi ke kampus dengan diantar suaminya.
Di sepanjang perjalanan, mereka lebih banyak diam. Namun diam itu tidak lagi terasa menekan. Justru ada kenyamanan yang perlahan tumbuh.
“Kampus kamu tidak jauh dari kantor,” ujar Revan akhirnya. “Kalau kamu butuh apa-apa, hubungi aku.”
“Iya, Mas.”
Revan meliriknya sekilas. “Jangan sungkan.”
Khay tersenyum kecil. “Aku akan mencoba.”
Mobil berhenti di depan gerbang kampus. Beberapa mahasiswa melirik penasaran ke arah mobil mewah itu. Khay menarik napas, bersiap turun.
Revan menghentikannya dengan memanggil pelan,
“Khay.”
“Iya?”
“Belajar yang rajin,” ucap Revan. “Dan jaga diri.”
Khay mengangguk. “Mas juga hati-hati.”
KAMPUS.
Khay mendorong koper kecil miliknya memasuki lorong asrama yang sudah sangat ia kenal. Lantai keramik berwarna kusam, dinding putih yang dipenuhi tempelan poster motivasi dan jadwal piket, serta aroma khas pewangi murah bercampur sabun cuci semua itu terasa begitu akrab. Berbeda jauh dengan rumah megah Revan yang sunyi dan serba berkilau.
Ternyata aku masih di sini, batin Khay.
Tadi Revan sempat bersikeras ingin mengantarkannya sampai depan asrama. Bahkan mobil sudah melambat saat mendekati gerbang.
“Mas tunggu di sini saja,” pinta Khay waktu itu. “Aku gak enak kalau sampai teman-teman lihat.”
Revan menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Kalau itu maumu.”
Khay tersenyum lega, lalu turun dengan koper kecilnya. Ia tidak ingin hidupnya langsung jadi pusat perhatian. Ia masih Khay yang sama mahasiswi biasa, penghuni asrama, bukan nyonya dari rumah semewah istana.
Begitu pintu kamar asrama terbuka, suara cempreng yang sangat ia kenal langsung menyambut. “Cieee~ yang dianterin mobil bagus.”
Khay mendongak. Vani berdiri dengan tangan bersedekap, senyum jahil terpasang lebar di wajahnya. Rambutnya diikat asal, kaos longgar, celana pendek penampilan khas penghuni asrama yang sudah menyerah pada kata rapi.
“Is apaan sih,” sahut Khay cepat. Wajahnya langsung memerah, membuat Vani makin senang.
“Eh, eh, eh,” Vani mendekat, mencondongkan badan.
“Gue beneran lihat, ya. Mobilnya hitam, kinclong, kayak mobil pejabat. Jangan bilang itu mobil rental.”
Khay mendorong kopernya ke sudut kamar, lalu berbalik menghadap Vani. “Jangan kepo,” jawabnya sambil tersenyum tipis senyum khas Khay yang sering jadi tanda bahaya.
Vani menaikkan alis. “Tumben. Biasanya lo paling depan kalau urusan gosip.”
“Gosip orang lain, bukan hidup gue,” balas Khay santai.
Vani mendecih. “Peliiiiit.”
Khay hanya tertawa kecil. Walaupun sikapnya sering bar-bar, tertawa keras, dan ceplas-ceplos, ada batas yang selalu ia jaga. Tidak semua hal harus diceritakan. Apalagi soal Revan… dan pernikahan yang bahkan masih terasa seperti mimpi setengah sadar.
Saat Khay dan Vani masih saling tatap dengan ekspresi penuh arti, pintu kamar kembali terbuka.
“Khay! Kamu sudah kembali!”
Suara itu membuat Khay spontan menoleh. Dua gadis masuk hampir bersamaan Rika dan Sinta, dua teman sekamarnya yang lain. Rika dengan kacamata bulat dan senyum hangatnya, sementara Sinta yang kalem dengan rambut panjang tergerai.
“Ya ampun, Khay!” seru Rika sambil menjatuhkan tasnya. “Kita kira kamu baru balik minggu depan.”
Sinta langsung mendekat dan memeluk Khay tanpa banyak bicara. “Kamu kurusan,” ucapnya pelan.
Entah kenapa, pelukan itu membuat dada Khay menghangat. Ia membalas pelukan mereka satu per satu.
“Kalian lebay,” katanya, meski matanya sedikit berkaca-kaca. “Aku cuma pulang sebentar.”
“Sebentar tapi rasanya kayak sebulan,” sahut Vani sambil ikut nimbrung, lalu ikut memeluk dari samping.
“Kamar sepi tanpa suara toa lo.”