Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.
×××××××
"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng di Atas Salju
Setelah tiga hari perjalanan sunyi di bawah permukaan air, kapal siluman Yasha akhirnya merapat di sebuah dermaga bawah tanah yang tersembunyi di balik tebing es Semenanjung Kamchatka, Rusia. Udara dingin yang menusuk segera menyambut mereka saat pintu palka terbuka. Aira, yang dibungkus mantel bulu tebal oleh Aristhide, hampir kehilangan keseimbangan saat kakinya menyentuh daratan yang stabil untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
"Selamat datang di Object 77," ujar Yasha dengan suara rendah. "Tempat ini dulunya adalah stasiun penelitian rahasia era Perang Dingin. Sekarang, ini adalah satu-satunya tempat di dunia yang memiliki enkripsi biometrik yang cukup kuat untuk menangani apa yang ada di dalam darah Anda, Nona."
Aristhide memegang tangan Aira, matanya waspada menyisir setiap sudut ruangan beton yang luas itu. "Ayahmu benar-benar punya koneksi yang tidak masuk akal, Aira."
Adipati Narendra hanya mengangguk tipis. "Di dunia bisnis, kau membangun gedung. Di dunia kekuasaan, kau membangun lubang persembunyian."
Mereka dibawa menuju sebuah laboratorium medis yang terlihat seperti berada di masa depan, kontras dengan dinding luar bangunan yang usang. Alat-alat canggih dengan lampu indikator biru neon berdengung halus. Di sana, seorang wanita paruh baya dengan jas putih dan tatapan mata sedingin es menunggu mereka.
"Dokter Volkov," Yasha memperkenalkan. "Dia adalah ahli genetika terbaik yang pernah dimiliki intelijen Rusia. Dia yang akan membantu proses ekstraksi data."
Dokter Volkov menatap Aira, lalu beralih ke perutnya yang membuncit. "Darah murni Sofia. Menarik. Prosedur ini sangat berisiko, Nona. Data digital itu terikat pada protein dalam darahmu yang hanya diproduksi selama masa kehamilan. Jika kita salah mengambilnya, protein itu bisa rusak dan menyebabkan penggumpalan darah yang fatal bagi bayi Anda."
Aristhide menegang. "Katakan sekali lagi tentang risikonya."
"Risiko kematian bagi keduanya adalah tiga puluh persen," sahut Volkov tanpa ekspresi. "Tapi jika dibiarkan, data itu akan terus bereplikasi dan mulai menyerang sistem saraf Nona Aira dalam waktu dua minggu. Kakek Anda tidak merancang ini untuk disimpan selamanya. Dia merancangnya sebagai 'bom' yang harus segera diledakkan atau dikeluarkan."
Aira menatap Aristhide. Ia melihat ketakutan yang nyata di mata suaminya—ketakutan yang lebih besar daripada saat menghadapi moncong senjata.
"Lakukan saja, Dokter," ujar Aira mantap. "Aku tidak ingin anak ini lahir sebagai tempat penyimpanan data korporat. Aku ingin dia bebas."
Prosedur dimulai. Aira dibaringkan di atas tempat tidur medis yang dikelilingi oleh layar monitor yang menampilkan struktur DNA-nya yang bercahaya keemasan—kode-kode digital yang terselip di antara untaian biologis. Aristhide berdiri tepat di sampingnya, mengenakan pakaian steril, tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Aira.
"Aku ada di sini, Aira. Aku tidak akan membiarkanmu pergi," bisik Aristhide.
Saat jarum pertama menusuk pembuluh darah Aira, alarm di pusat kendali tiba-tiba berbunyi. Layar monitor beralih menampilkan radar luar.
"Tuan Adipati!" teriak Yasha dari ruang kendali. "Dua pesawat kargo tanpa tanda pengenal baru saja memasuki ruang udara kita. Mereka meluncurkan unit terjun payung!"
"Marcus Vane," desis Adipati. "Bagaimana dia bisa tahu secepat ini?"
"Dia tidak butuh pelacak," sahut Volkov sambil terus memantau proses ekstraksi. "Dia hanya perlu mengikuti jejak panas dari kapal siluman yang melewati perbatasan Rusia. Dia punya satelit militer sendiri."
Adipati segera mengambil senapan serbu dari rak senjata. "Yasha, siapkan pertahanan luar! Aristhide, kau tetap di sini. Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruangan ini!"
"Tapi Tuan Adipati—"
"Ini tugasmu, Aristhide! Lindungi istri dan anakmu, biar aku yang menangani monster dari masa laluku!" Adipati berlari keluar, jubahnya berkibar di antara lorong-lorong beton yang dingin.
Di luar, badai salju mulai mengamuk, namun itu tidak menghalangi tentara bayaran The Consortium untuk mendarat. Pertempuran sengit pecah di permukaan salju yang memutih. Suara tembakan dan ledakan granat merambat masuk melalui dinding-dinding tebal laboratorium, menciptakan getaran yang mengganggu proses ekstraksi.
"Sial! Tekanan darah Nona Aira naik!" seru Dokter Volkov. "Aristhide, kau harus menenangkannya! Jika detak jantungnya terlalu cepat, data itu akan terenkripsi ulang secara otomatis dan kita harus mulai dari nol!"
Aira mengerang kesakitan. Rasanya seperti ada ribuan jarum panas yang mengalir di nadinya. "Aris... sakit sekali..."
Aristhide mendekatkan wajahnya ke wajah Aira, mencoba menghalangi suara ledakan dari luar dengan suaranya sendiri. "Tatap mataku, Aira. Ingat pantai di Bali? Ingat warna jingga yang kau lukis? Pikirkan tentang itu. Jangan dengarkan suara di luar. Fokus padaku."
Aira menatap mata Aristhide. Di sana, ia melihat seluruh dunia yang ingin ia tempati. Perlahan, napasnya mulai teratur. Monitor menunjukkan grafik yang mulai stabil.
"Proses mencapai delapan puluh persen," lapor Volkov.
Tiba-tiba, pintu laboratorium meledak.
Sesosok pria dengan setelan taktis hitam melangkah masuk melalui asap. Marcus Vane—The Lion. Ia tidak membawa senjata berat, hanya sebuah pistol genggam berlapis krom. Wajahnya yang mirip dengan Sofia memberikan kesan mengerikan bagi Aira.
"Berhenti, Dokter," ujar Marcus dengan suara tenang yang mematikan. "Lepaskan jarum itu. Data itu adalah hak milikku. Sofia mencurinya, dan sekarang aku mengambilnya kembali."
Aristhide berdiri, menutupi tubuh Aira dengan tubuhnya sendiri. Ia tidak memegang senjata, namun matanya memancarkan niat membunuh yang jauh lebih tajam daripada peluru.
"Kau harus melampaui mayatku dulu, Marcus," desis Aristhide.
Marcus tersenyum sinis. "Mayatmu bukan masalah bagiku, Aristhide Malik. Kau hanyalah serangga yang mencoba melindungi bunga."
Marcus mengarahkan senjatanya, namun sebelum ia sempat menembak, Aira berteriak dengan tenaga terakhirnya.
"Dokter! SEKARANG!"
Volkov menekan tombol terakhir. Sebuah cahaya biru terang melesat dari tabung reaksi menuju sebuah cakram keras kecil. Ekstraksi selesai. Namun di saat yang sama, Aira jatuh pingsan, detak jantungnya di monitor berubah menjadi garis datar yang panjang.
"AIRA!" jerit Aristhide.
Marcus melihat cakram keras itu dan mencoba menerjang, namun sebuah peluru menghantam bahunya dari arah pintu. Adipati Narendra masuk dengan luka di lengan, matanya penuh amarah.
"Sudah cukup, Marcus!" teriak Adipati.
Di tengah kekacauan itu, Aristhide tidak mempedulikan Marcus atau cakram keras bernilai miliaran dolar itu. Ia segera mengambil alat pacu jantung dan menempelkannya ke dada Aira.
"Jangan tinggalkan aku, Aira! Bangun! DEMI ANAK KITA, BANGUN!"
Suara dentuman alat pacu jantung menggema di ruangan itu, beradu dengan suara badai salju di luar. Dunia seolah menahan napas, menunggu apakah kehidupan akan menang di atas takhta es ini.
"(Apakah Aira akan selamat dari henti jantung tersebut? Dan siapa yang akhirnya akan menguasai "Mahkota Digital" yang baru saja dikeluarkan?)"