Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolak Penawaran Budi
"Duh, Man! Bumbu soto ini kurang gurih! Harusnya kita tes dulu porsi kecil sebelum buat sekalian!" teriak Rani dari dapur, suaranya penuh ketegangan. Uap panas dari panic besar membuat wajahnya merah padam, rambut yang terlepas dari ikatan menempel di keningnya yang berkeringat.
"Tadi kan udah kita cicipin, Ran! Rasanya oke," bantah Arman, yang sedang kesulitan melipat lipatan kertas minyak di dasar wadah styrofoam. Tangannya yang biasa memegang tuas gas motor, canggung menghadapi pekerjaan yang membutuhkan ketelitian ini.
"Oke buat lo, belum tentu oke buat pelanggan! Ini pesanan Arisan ibu-ibu kompleks, Man! Mereka punya lidah yang tajam!" Rani mengaduk-aduk kuah soto dengan gusar.
"Dan lihat nih, potongan ayamnya kurang rapi. Kayak abis dibantai."
Arman menahan napas. Mereka sudah bertengkar kecil sejak pagi: soal jumlah bawang yang dibeli (menurut Rani kurang), soal keterlambatan Arman membeli daun salam (karena harus anterin Aldi ke sekolah), dan sekarang soal rasa.
Ini adalah dinamika baru dalam kerja sama mereka. Bukan lagi pertengkaran tentang ketidakpercayaan atau fantasi poligami, tapi tentang standar kerja. Dan itu, anehnya, terasa lebih melelahkan namun juga lebih… normal. Mereka berdebat untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk saling melukai.
"Oke, oke. Aku tambahin kaldu bubuk lagi," akhirnya Arman menyerah, menyodorkan bungkus kaldu. "Yang penting kita kompak, Ran. Jangan sampai kita ribut, pesanan jadi telat."
Rani mendesah, mengambil kaldu bubuk. "Iya. Maaf. Aku lagi tegang aja. Pesanan 20 kotak aja udah kayak gini."
Itu adalah minggu-minggu pertama "Katering Ranni". Orderan kecil-kecilan masuk dari tetangga dan kenalan subscriber YouTube. 10 nasi kotak untuk arisan, 15 paket pesanan kue basah, 25 porsi sambal goreng ati. Setiap order adalah sebuah pertempuran kecil. Rani yang perfeksionis seringkali stres dengan deadline dan kekonsistenan rasa.
Arman yang kurang detail kadang salah hitung jumlah atau lupa menyertakan sendok. Tapi perlahan, mereka menemukan ritme. Arman belajar bahwa "siap jam 10" di dunia katering berarti makanan harus sudah dikemas dan siap antar jam 9.45. Rani belajar bahwa terkadang, "cukup enak" lebih penting daripada "sempurna" agar ongkos produksi tidak membengkak.
Suatu sore, saat mereka sedang membereskan dapur usai mengantar pesanan 30 nasi bungkus ke sebuah acara kelurahan, ponsel Rani berbunyi. Bukan pesan pribadi, tapi notifikasi pesan dari Instagram bisnis mereka yang baru mereka buat.
Seorang pengirim bernama "Bpk. Andi - Ruko Mutiara 27, Cikarang" mengirimkan direct message. Isinya pendek dan jelas: "Mau pesan katering rapat bisnis. 50 orang. Menu prasmanan sederhana: nasi putih, ayam goreng tepung, sambal terasi, sayur asam, telur balado, kerupuk. Budget 25rb/orang. Bisa? Besok pagi, jam 9."
Arman membacanya berulang kali. Lima puluh orang. Budget 1,25 juta. Ini orderan terbesar mereka.
"Besok pagi? Itu cuma kurang dari 24 jam, Ran!" sahutnya.
Rani membacanya, wajahnya pucat lalu merona. "Ini gila. Tapi… gila juga kalau kita tolak."
"Tapi… lokasinya. Ruko Mutiara 27. Itu… itu di wilayah Budi. Deket showroom furniturnya," gumam Arman, jantungnya berdebar kencang. Janji mereka terngiang: Tidak ada komunikasi atau kerja sama dalam bentuk apapun dengan Budi Wijaya.
"Kita nggak tahu itu punya Budi atau bukan. Namanya Bpk. Andi," kata Rani, matanya berbinar. Arman bisa melihat di sana: ada tantangan, ada kesempatan membuktikan diri. "Ini ujian buat kita, Man. Kalau kita bisa handle ini, kita bisa handle yang lebih besar."
"Tapi kalau ternyata dia yang pesen…"
"Kita urus via admin rukonya aja. Lo jangan kontak Budi. Titik. Kita kerjain, ambil uangnya, pulang. Itu pembuktian buat kita sendiri. Bahwa kita bisa dapat rezeki dari jalur kita, tanpa jadi jongosnya dia."
Argumen Rani masuk akal. Dan api di mata istrinya itu menulari Arman. Ia menganggap. "Ayo kita kerjain."
Malam itu, rumah mereka berubah jadi medan perang. Arman buru-buru ke pasar sore, membeli ayam, telur, dan sayuran dalam jumlah besar. Rani membuat perhitungan biaya dengan ketat, memastikan margin mereka tetap ada.
Mereka begadang. Rani menggoreng ayam dan telur balado hingga larut. Arman membantu menumbuk bumbu, memotong sayuran, dan membersihkan.
Suasana tegang, namun penuh dengan tujuan yang sama. Sesekali mereka saling menyemangati.
"Ayamnya udah berapa, Ran?" "Masih 30, cepat beli lagi yang bagian dada!" "Aku udah siapin bumbu sayur asamnya."
Pagi hari, dengan mata berkantung dan badan pegal, mereka mengemasi semua makanan ke dalam box-box besar. Arman menyewa motor tetangga untuk membantu mengangkut. Pukul 8.30, mereka berangkat dengan motor mereka yang dimuati hingga over.
Ruko Mutiara 27 ternyata adalah sebuah ruko dua lantai yang cukup megah. Lantai bawah adalah showroom alat-alat kesehatan. Di lantai dua, itulah tempat rapat. Seorang perempuan muda berkerudung—sang admin—menyambut mereka di bawah.
"Mas Arman dari Katering Ranni? Pesanan Bapak Andi?" tanyanya ramah.
"Iya, Bu. Ini kami antar."
"Silakan bawa ke atas. Ruang rapat di lantai dua."
Mereka bekerja cepat, membongkar muatan, menyusun makanan di meja prasmanan yang sudah disediakan. Rani mengatur tampilan dengan cermat, menaburi bawang goreng di atas sayur asam, memastikan sambal dalam wadah yang rapi. Arman mondar-mandir mengangkut box.
Tengah mereka sibuk, suara yang sangat familiar terdengar dari tangga.
"Wah, rame betul di sini!"
Arman membeku. Dari balik punggungnya, datanglah Budi Wijaya, dengan kaus polo dan celana jeans, senyum lebar terpampang di wajahnya.
"Budi… loe?," sapa Arman, lidahnya terasa kaku.
"Lagi ada rapat sama beberapa investor buat perluasan showroom. Kebetulan ruko ini punya gue," ujar Budi, dengan santainya. Matanya kemudian beralih ke Rani yang sedang membenahi nasi. "Ini… istri lo? Salam kenal, Mba. Wah, masakannya enak nih, aromanya udah nyampe bawah."
Rani hanya mengangguk kaku, wajahnya berusaha netral. "Salam kenal."
Budi mencicipi sedikit telur balado yang sudah di piring sample. "Enak! Pedesnya pas. Lihai juga ya, Man. Jadi tukang katering sekalian." Ia menepuk punggung Arman. Tapi nada selanjutnya berubah, lebih rendah, lebih intim hanya bisa di dengar oleh arman dan Budi. "Tapi lo tetep cocok jadi sopirku. Lo tahu, gaji bisa gue naikin lagi. 5,5. Plus bonus kalau lagi rame. Nggak perlu repot-repot gini, kan?"
Arman merasa berkeringat dingin. Di depannya, admin dan beberapa karyawan lalu lalang. Di sampingnya, Rani yang sedang sibuk dengan telinga yang mungkin sekarang sangat tajam, bisa saja mendengar tawaran Budi.
"Sudah, Bud. Aku… kami seneng jalanin ini," jawab Arman lemah.
Budi tidak menyerah. Ia menarik Arman sedikit ke pinggir, seolah berbisik. "Oh iya, soal calon istri kedua yang gue ceritain… sempet gue kasih tau dia soal lo. Dia tertarik.
Katanya menghargai laki-laki yang mau usaha, sekecil apapun. Dia janda muda, punya usaha thrift shop online, mandiri banget. Omsetnya per bulan bisa 10-15 jutaan, bro. Nggak akan ngebebanin lo. Malah…" Budi menyeringai, "bisa jadi partner.
Bisa nemenin lo ngembangin usaha katering ini juga. Dia jago marketing online. Bayangin, dua perempuan hebat di samping lo. Satu jago masak, satu jago jualan. Lo mah tinggal jadi bosnya."
Godaan itu begitu halus, begitu rasional, dan menyentuh tepat di titik kelemahan Arman: ketakutan akan kegagalan usaha ini dan keinginan untuk punya "partner" yang bisa mengangkatnya. Ini bukan lagi soal nafsu, tapi tentang kemitraan strategis. Tentang solusi. Kata-kata Budi melukiskan gambaran yang hampir sempurna.
"Budi, aku…" Arman terbata-bata.
"Gak usah jawab sekarang. Lo pikir-pikir. Tapi kerjaan sopir, jangan ditolak ya. Ini peluang bagus." Budi kembali ke suara normal, lalu berbicara ke Rani. "Mba, makasih ya kateringnya. Transferannya nanti lewat admin aja."
Dengan senyum terakhir yang penuh arti, Budi naik ke lantai dua, meninggalkan Arman yang seperti terkena pukulan.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Arman berkelabat. Angka 5,5 juta. Bonus. Dan sosok perempuan mandiri berpenghasilan 15 juta sebulan yang "bisa jadi partner". Itu seperti mimpi yang dihidangkan di piring perak. Lalu ia melihat Rani di spion motornya.
Istrinya duduk membelakangi, diam. Tubuhnya terlihat lelah sekali. Ia ingat Rani tadi pagi, dengan mata berkantung, dengan tangan yang sedikit gemetar mengupas bawang tetapi dengan tekad yang membara.
Ia ingat kata-kata Mira: "Saya dapat keamanan finansial dan kemandirian. Itu 'kompensasi' yang saya minta." Bukankah yang ditawarkan Budi adalah "kompensasi" yang serupa? Sebuah kemandirian yang dibeli dengan harga menjadi bagian dari sistem kehidupan orang lain? Sebuah kemitraan yang dasarnya adalah pembagian jatah kasih sayang dan waktu?
Sampai di rumah, mereka membongkar sisa peralatan dalam kelelahan yang hebat. Rani langsung duduk di lantai ruang tamu, mengambil kalkulator dan secarik kertas.
"Ayo kita hitung," katanya, suaranya serak. Ia memasukkan angka-angka: modal, penghasilan kotor, sisa.
Setelah beberapa saat, wajahnya yang lelah itu merekah. "Kita… kita dapet laba bersih hampir 400 ribu, Man. Untuk sekali order."
Itu bukan angka besar. Tapi itu adalah uang yang mereka cetak bersama, dari keringat mereka sendiri, tanpa campur tangan siapa pun.
Arman melihat cahaya di wajah Rani. Itu adalah cahaya kepuasan yang murni, yang tidak bisa dibeli dengan gaji 5,5 juta dari Budi. Itu adalah cahaya seorang perempuan yang melihat hasil jerih payahnya dihargai.
Tanpa berkata apa-apa, Arman mengambil ponselnya. Ia membuka chat dengan Budi. Dua pesan terakhir Budi masih ada: tawaran gaji dan tawaran perjodohan. Dengan napas dalam, ia menekan lama pesan itu, lalu memilih "Hapus". Kemudian, ia membuka info kontak Budi, dan menekan "Blokir Kontak". Hati terasa lebih plong, meski ada sedikit degup ketakutan kehilangan peluang besar.
Lalu, ia mengambil buku catatan pembukuan sederhana yang ia beli di toko alat tulis. Ia buka di halaman order hari ini, dan dengan tulisan yang rapi (untuk ukurannya), ia menuliskan pemasukan dan pengeluaran. Ia sodorkan pada Rani.
"Lengkap, kan? Semua tercatat."
Rani menerima buku itu. Matanya membaca baris per baris. Lalu, perlahan, kepalanya terangkat. Ia menatap Arman. Di dalam tatapan itu, ada kejernihan yang lama tidak ia lihat. Ada pengakuan. Ada rasa terima kasih. Dan akhirnya, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu—bahkan mungkin beberapa bulan—sebuah senyum tulus, tanpa sisa kecurigaan, tanpa bayangan poligami, mekar di bibir Rani. Senyum yang sampai mengerlingkan mata sebelahnya.
"Iya. Lengkap. Good job, suamiku."
Dua kata itu, "suamiku", terdengar seperti sebuah gelar baru yang ia dapatkan kembali. Bukan dari sebuah kontrak pernikahan, tapi dari sebuah pertempuran di dapur dan sebuah pilihan sulit di sebuah ruko. Arman tersenyum balik, lelah, namun lega. Mereka baru saja memenangkan satu pertempuran kecil. Pertempuran melawan godaan jalan pintas, dan pertempuran membangun kepercayaan kembali, satu catatan pembukuan pada satu waktu.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.